Bab 83. Shera 49

1362 Kata
Shera Fuji Lesmana Brugh ... suara tabrakanku dengan seseorang terdengar amat nyaring. Hantamannya begitu keras, bahkan aku sampai terjatuh. Kertas-kertas berhamburan, tersebar ke sekelilingku. "Aduh, maaf ya maaf. Gue nggak sengaja. Tadi kurang fokus jalan, sambil liat hp pula," ujarku seraya memungut kertas yang berserakan di lantai. "Iya, nggak apa-apa. Salah gue juga kok." Aku tertegun sesaat, saat menyadari suara seorang perempuan yang ku tabrak ini terasa tak asing. Panik karena telah menabrak seseorang, aku sampai tidak memperhatikan wajahnya terlebih dahulu. Namun, setelah mendengar suaranya, barulah aku sadar, kalau orang yang ku tabrak itu ternyata ... "Lea, ehh hai," sapaku dengan setengah bengong. Gadis itu kemudian tersenyum. Tapi kurasa senyuman itu palsu dan seolah terpaksa. Sudah sejauh ini dan juga sudah selama ini. Tapi dia seolah masih tak ingin melihatku ada di dalam dunianya. Aku kembali memunguti kertas, sampai semuanya selesai. Kami berdua berdiri berbarengan, aku lalu memberikan kertas-kertas di tanganku pada Leana. "Sorry buat yang tadi," ulangku. Dia mengagguk dengan cepat sambil menjawab ... "Iya nggak apa-apa. Itu tadi gue kurang ati-ati juga kok. Makasih udah bantu beresin kertasnya tadi." Sahabat yang dulunya tempatku berbagi segala macam suka dan duka sekarang kenapa jadi terasa begitu asing begini. Kami berdua seolah sama-sama tak nyaman dengan keadaan. Rasanya begitu canggung, bahkan lebih buruk daripada orang yang tak saling mengenal. Tapi aku lelah, aku merindukannya. Aku ingin gadis ini kembali menjadi Leana yang dulu. Leana sahabatku, yang mau dengan suka rela berbagi kegilaan dengan ku setiap harinya. Ehm ... baiklah. Tapi aku tidak benar-benar gila. Karenanya, aku coba memberanikan diri untuk sekedar bertanya ... "Lo apa kabar, Lea?" Lucu sekali, kami bertemu hampir setiap hari di kelas yang sama, tapi malah bertanya soal kabar. Ah ... Shera, otakmu lepas dan ketinggalan dimana tadi? "Gue baik kok. Lo sendiri gimana?" Kupikir hanya aku yang otakku yang tertinggal, rupanya otak milik Leana juga agaknya ikut terlempar saat bertabrakan denganku. "Baik-baik. Sama kaya lo, gue juga lagi sibuk nyiapin skripsi," jawabku sekenanya saja. Lalu ... Krik-krik-krik. Hanya sebuah hening yang tercipta, dia tidak mengeluarkan suara apa-apa bahkan kentut sekalipun. Dan aku? Ah ... Apalagi aku, jangan ditanya deh. Aku pastilah lebih bingung dari dia ini. Tapi kemudian, keheningan kami pecah begitu saja saat dia berinisiatif untuk pergi lebih dulu Kami memiliki tujuan ruangan yang berbeda. Aku baru saja akan menuju perpustakaan kampus, sedang Leana bilang mau menuju kantor. Karenanya, ku persilahkan gadis itu pergi dengan senang hati. Bukannya aku senang karena dia pergi sebagai musuh, tapi aku memang bingung harus bicara apalagi padanya. Sebuah kerusakan yang telah tercipta, sepertinya tidak bisa diperbaiki dengan cepat. Aku harus tetap sabar, paling tidak, dia sudah mau menegurku walau hanya dengan senyuman tipis yang nyaris dibuat-buat. Untuk kedepannya. Hubungan kami pasti bisa membaik lagi. Meski di kampus, aku dan Mira agak menjauh, anak itu masih sering menghubungi ku melalui ponsel. Tapi kami memang sengaja tidak pernah membahas soal Leana, juga soal mengapa hubunganku dan dia menjadi renggang. Biarkan semua mengalir saja apa adanya. Aku melanjutkan perjalanan menuju perpustakaan kampus. Meski ada yang namanya google, masih tetap saja ada beberapa pekerjaan yang membutuhkan bantuan dari pengetahuan versi cetak. Aku sampai di Perpustakaan yang letaknya berada di sudut kampus. Siang hari, tempat ini biasanya lumayan ramai. Tapi karena masih pagi, sepertinya aku menjadi orang pertama yang menjejakan kaki di sini. Petugas cleaning service sepertinya masih sibuk di tempat lain, dan bagian disini belum terjamah. Mengapa demikian. Karena begitu aku masuk, lampu masih mati dan lantai tampak masih kotor, bangku-bangku yang keluar jalur juga masih berserakan. Hah ... Melihat pemandangan seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa konsentrasi untuk belajar. Karena aku yang pertama datang, kurasa mau tak mau aku harus mengorbankan sedikit waktu dan tenaga untuk meraih pahala. Yup ... Baiklah. Aku pergi ke sudut ruangan, tempat di mana sapu berada. Tidak perlu terlalu bersih atau sampai melakukan semua pekerjaan. Aku hanya perlu menyapu saja, jadi nanti petugas cleaning service, hanya perlu mengepel lantai. Ini akan meringankan pekerjaannya. Heran, kok kalau di rumah aku males banget, untuk membersihkan kamar. Sudahlah! Terlalu lama mengoceh maka pekerjaanku tidak akan selesai. Sapu itu tidak bisa bergerak dengan sendirinya bukan. Dan lagipula, aku pasti akan ketakutan jika benda itu bisa bergerak sendiri. Setelah menyalakan musik dari ponsel, aku mulai menyapu dari bagian belakang terlebih dahulu. Dan di saat seperti ini, aku berharap jangan sampai ada mahasiswa lain yang masuk dulu. Bukan apa-apa, agak repot membersihkan tempat yang dilalui banyak orang. Bukannya jadi bersih, yang ada debu-debu itu akan ikut kembali dalam pijakan mereka. Haisshh, ada sampah bekas makanan yang berserakan disini, bekas puntung rokok dan buku-buku yang diletakan sembarangan di atas meja. Padahal banner berisi aturan-aturan yang harus dipatuhi terpampang begitu jelas. Dilarang merokok, dilarang membawa makanan, buanglah sampah pada tempatnya, letakkan kembali buku pada rak, juga jangan ribut. Tapi itulah namanya aturan, semua itu dibuat untuk dilanggar, dunia ini memang tidak akan seru tanpa adanya aturan. Musik dari speaker ponselnya terdengar lantang dan menggema. Ini karena suasanya masih sepi. Lagu dari salah satu band favoritku kini sedang diputar. Band dengan nama Noah. Tahukan? Yang vokalisnya masih saja tampak keren dan berkharisma di usia yang semakin apa ya ... Ehmm matang. Saat ini, lagu yang diputar judulnya Menghapus Jejakmu. Cocok sekali dengan semua tragedi yang kualami. Biarkan hujan menghapus jejak hubunganku dan Tama. Selang beberapa waktu, aku berhasil membersihkan seisi Perpustakaan. Rasanya lumayan capek juga sih. Fiuuuhh! Aku menarik salah satu kursi untuk duduk melepas lelah. Gawat! Belum mulai belajar, aku sudah terlanjur kelelahan. Akan semakin tak konsen jika begini. Buku yang kubutuhkan juga belum ku cari. "Nih, minum dulu!" Kepalaku yang sempat merebah kini terangkat, mataku yang sempat tertutup kini juga mendadak terbuka. Aku menoleh ke samping dan sontak saja merasa terkejut begitu sosok wanita yang sudah akrab dalam ingatanku kini tiba-tiba saja datang. Ia berdiri tepat disampingku, menyodorkan sebotol air mineral dingin yang tampak menggiurkan. Sontak saja aku terkejut. Bukan hanya karena pada awalnya di tempat ini tak ada siapa-siapa. Terlebih karena dia adalah orang yang sema sekali nggak pernah terduga. "Mira. Lo ngapain disini Mir?" tanyaku heran. Tapi tanganku bergerak, ikut menerima air mineral dari tangannya. Gadis itu ikut menarik kursi lalu duduk di sampingku. "Sama kaya lo. Gue juga perlu nyari bahan buat tugas, disini." Alasan yang buruk. Aku tahu betul kalau Mira itu paling anti dengan yang namanya bacaan. Lagipula, dia salah satu pelanggan tetapku yang biasa membayar untuk mengerjakan tugas, selain itu, uangnya juga banyak. Lebih tepatnya, uang jajan dari pacarnya itu super banyak. Jadi tidak mungkin dia mau repot-repot datang kesini hanya untuk mencari bahan tugas, seperti apa yang baru saja dia katakan. "Oyah? Kok gue rasanya kurang percaya ya?" tanggapku sembari menyipitkan mata. Dia balas menatapku dengan tajam, yang kemudian perlahan-lahan melembut dan akhirnya meledak jadi sebuah tawa. "Ha-ha-ha, sialan! Emang mustahil banget ya, kalau gue keliatan rajin?" ujarnya lagi. Nah kan, sudah kuduga. Semuanya tidak akan sesederhana itu. "Gue liat lo waktu tabrakan sama Leana di koridor tadi. Terus iseng ngikutin lo sampe kesini," jelasnya lagi. "Lo ngeliat gue dari tadi?" tanyaku. Mira mengangguk dengan mantap. "Udah lama?" tanyaku lagi. "Ya lumayan sih, cukup lama sampe kuping gue pengeng karena mesti dengerin lo teriak-teriak plus nyanyi nggak jelas. Beruntungnya belum ada orang yang kesini, cuma gue yang kuat dengernya." "Ha-ha-ha kurang ajar lo. Ini suara emas tahu." "Suara emas bikin kuping gue mau pecah. Lagian lo kerajinan banget sih. Nyapuin ini semua segala. Kan entar juga ada Cleaning service yang bersihin," tambah Mira lagi. "Ya biarin. Biar gue dapet pahala, nggak cuma ngumpulin dosa," celetukku. "Lo nyindir gue yang banyak dosanya?" "Nyindir tanda tak mampu. Ngapain nyindir kalau dosa lu emang banyak!" "Wah, anjir. Udah makin pinter ngeles aja lo ya. Bikin gue makin kangen aja deh. Ahhh, kesel banget. Kenapa sih hubungan kita bertiga jadi begini. Masa cuma karena gue pengen ketemu lo aja, mesti ngumpet-ngumpet. Udah kaya selingkuhan aja tahu nggak?" Mira menggerutu, memasang eskpresi wajah kesal. Dia benar, bukan hanya dia. Aku juga merindukannya, aku juga ingin kami kembali pada masa-masa bahagia seperti dulu. Tapi mau bagaimana lagi? Sekarang semuanya sudah berbeda. Jikapun kami kembali, semuanya tak akan sama lagi. Karena ada beberapa hal yang sekarang tak bisa lagi kuungkap dengan jujur pada mereka seperti dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN