Bab 84. Shera 50

1134 Kata
Shera Fuji Lesmana "Sher, lo nggak ada niat buat minta maaf duluan mungkin. Ngalah sedikit nggak apa-apa kali, Sher. Sumpah, gue kangen banget sama masa-masa kita waktu masih sahabatan dulu," keluhnya dengan nada Lesu. Diantara kami bertiga, Mira itu gadis yang paling ceria. Jarang sekali dia menunjukan ekspresi lelah atau kesal. Namun kali ini, raut wajahnya yang biasa bersinar itu terasa lain. Tapi aku tidak mau. Ini bukan salahku! Kenapa aku harus meminta maaf untuk sebuah kesalahan yang tidak ku lakukan. Ini adalah sesuatu yang ia tuai karena telah menanamnya sendiri. Aku sudah bersikap biasa, dan mencoba untuk berdamai dengannya lebih dulu. Tapi justru dia yang menghindar, dan membuat keadaan seolah kami hanya temen sekelas biasa yang hanya sekedar tahu nama. "No ... Lo tahu kan? Gue nggak mau minta maaf buat sesuatu yang bahkan gue sendiri nggak tahu apa sebabnya. Emang menurut lo bagus apa? Dia ngasih gue pilihan antara Adrian dan dia. Gue bahkan udah sahabatan sama Adrian jauh sebelum kenal kalian. Kenapa coba, dia bisa punya pikiran kaya gitu?" jelasku dengan kesal. Mira lalu menggelengkan kepalanya. Dia pasti kecewa dengan sikapku. Tapi aku juga punya harga dirikan? Ya ... Meskipun disini, aku juga memiliki satu kesalahan karena telah menyembunyikan hubunganku dan Adrian. Tapi ini tidak termasuk dalam merebut pacar orang kan? dari awal dia menjadi pacar Leana, hanya karena merasa tak hati untuk menolak, mengingat Leana adalah temanku. "Ya udah, terserah lo aja deh. Sebenernya, dari sejak gue tahu Leana nembak Adrian, filling gue juga udah jelek, Sher. Tapi ya mau gimana lagi? Semuanya udah terjadi. Tapi yang gue sayangkan sekarang, Leana juga banyak berubah. Dia lebih banyak murungnya. Gue sih curiga, ada sesuatu yang Leana tutupin. Pokoknya sejak dia putus sama Adrian, dia itu kaya sering kagetan, sama diem nggak jelas gitu. Duhh gimana ya jelasinnya?" Tunggu sebentar. Kenapa apa yang dikatakan Mira rasanya nggak asing ya? Jika ku pikir baik-baik, Adrian memang terlalu mudah memutuskan hubungannya dengan Leana. Sebenarnya, apa yang dilakukan Adrian hingga gadis itu bisa luluh begitu saja. "Lo nggak coba nanya?" ujarku pada Mira. "Udah kok. Tapi dia lebih banyak ngelesnya. Gue takut salah ngomong. Sebenernya, udah dari kemaren-kemaren gue pengen ngasih tahu soal ini. Tapi, gue baru sempet punya waktu berdua sama lo, ya sekarang ini. Sorry banget, waktu lo sakit, gue juga sama sekali nggak bisa jenguk," jelasnya lagi. Aku mengangguk paham. Saat itu kondisi Leana jelas lebih membutuhkan Mira dibandingkan aku. Toh, aku masih punya Adrian yang selalu ada untukku. Juga Ricky dan Tio yang sekarang, juga mulai menjadi salah satu sahabatku. "Gue susul Leana dulu ya. Lo nggak apa-apakan gue tinggal. Masalahnya, sekarang Leana itu aneh. Gue jadi takut kalau ninggalin dia sendiri. Gue takut dia jadi gila." Mira membisikkan kalimat terakhir dengan hati-hati, kemudian tertawa cekikikan. Gadis itu lalu meninggalkan ku sendirian di ruang perpustakaan. Aku tahu maksudnya hanya bercanda. Tapi naluriku justru mengatakan kalau itu bisa saja terjadi, melihat sikapnya yang banya berubah. Adrian juga selalu mengelak atau memutar arah pembicaraan, tiap kali aku menanyakan soal Leana. Sepertinya memang ada yang salah disini. Tapi apa? Bagaimana aku bisa konsentrasi menghadapi skripsi dan deadline sidangku yang semakin dekat. Beban pikiranku malah semakin bertambah saja. *** Rutinitasku sehari-hari kian monoton dan padat. Pergi ke kampus, pindah ke hotel, lalu pulang. Pergi ke kampus lagi, ke hotel lagi, lalu pulang. Hanya itu saja yang bisa ku lakukan setiap harinya. Terkadang, Adrian akan mengajakku jalan atau makan di suatu tempat. Dia juga sering mengajakku untuk main ke kosannya. Tapi aku tidak pernah mau. Bukannya kenapa-kenapa. Masalahnya, aku ini, ingat betul saat dia masih sering bergonta-ganti perempuan, dia sering kali membawa mereka kesana. Dan tahulah ya, saat sepasang kekasih apalagi dengan otak piktor alias pikiran kotor seperti Adrian berada di dalam satu ruangan sepi. Pasti ada banyak sekali saksi bisu soal benih-benih yang terbuang di kamar itu. Dia bahkan memintaku untuk pindah, atau mencari kontrakan yang bisa ditinggali berdua dengannya di Jakarta. Itu adalah ide yang benar-benar buruk. Meski hal itu bisa menghemat biaya. Setiap orang itu butuh privasi. Baik aku maupun Adrian, pastinya memiliki rahasia sebagai laki-laki dan perempuan biasa. Lagipula, siapa yang akan menjamin kami tidak akan kebablasan nantinya jika sampai tinggal di satu atap yang sama. Masih ada waktu hingga pergantian shif malam. Aku bisa istirahat dan tidur dulu. Namun tiba-tiba saja, suara dering ponsel terdengar. Aku mengacak rambut dengan kesal. Ini adalah kesekian kalinya, setiap kali akan tidur, selalu saja ada gangguan. Kenapa momentnya selalu bisa pas sekali. Terpaksa aku kembali bangun dan mencari-cari dimana sumber suara itu berasal. Benda itu terus saja berbunyi, sedangkan aku benar-benar lupa, dimana menyimpannya. Setelah ku temukan, mataku langsung melebar dengan sempurna. Ada nama seorang kawan yang saat ini aku hampir saja melupakannya. Seorang pria yang saat itu menemaniku di acara pernikahan mantan. Seorang pria yang pernah sekilas merebut hatiku. Dia muncul setelah sekian lama menghilang. Hingga aku lupa, kalau dia ini masih hidup. "Axel?" lirihku. "Kemana aja ni anak. Bilangnya mau ngelamar. Tapi malah ngilang. Dia masih idup juga ternyata?" ujarku pada diri sendiri. Tidak ada keraguan sama sekali untuk mengangkat telponnya. Aku juga ingin mendengar kabar dari seseorang yang pernah menciumku. Haisshh, ingat Shera, kamu sudah punya Adrian sekarang. Jangan membuka kesempatan lagi untuk orang ketiga. Tapi ini hanya telpon biasa. Dia adalah kawan lama. Bagaimana bisa hatiku akan goyah. Aku berpacaran dengan Tama. Selama tiga tahun, menjaga kesetiaan hingga akhirnya dia yang berkhianat. Jadi, prestasiku ini kurang lebih bisa diperhitungkan. "Hallo Axel. Astaga kemana aja lo? Nggak pernah ngehubungin gue?" Setelah sapaan pertama, aku menunggu, menunggu dan menunggu. Seharusnya ada suara Axel yang mungkin merasa bahagia karena aku menjawab telponnya. Tapi kenapa hanya hening yang tercipta. Aku jadi ngeri sendiri. Ku jauhkan ponsel dari telinga, lalu melihat layar dan panggilan masuk yang masih menyala. Kupikir, mungkin aku berhalusinasi karena terlalu kelelahan. Tapi setelah kupastikan, itu benar-benar nomor Axel. "Hallo, Axel. Lo kenapa sih? Jangan bikin gue takut deh!" sentakku karena tak juga mendapat jawaban. Aku kembali menunggu hingga saat tanganku ingin mematikan telpon barulah terdengar suara. Tapi ... ini suara yang tak ingin ku dengar. "She ... Shera." Aku mengenal suara itu. Tapi aku tak mengenal bicaranya yang kini terasa amat menyedihkan. Suara tangisan yang tertahan itu terdengar jelas di telingaku. Ada apa dengannya? Setelah sekian lama dia menghilang, sekarang Axel kembali dalam sebuah tangisan. "Lo kenapa? Xel. Lo kenapa jawab gue. Jangan kaya gini. Jawab gue sekarang, Xel!" sentakku tak sabar. Semakin lama aku menunggu, suara tangisannya semakin keras, hingga lebih mirip dengan teriakan. Tapi dia tak kunjung menjawab apa penyebabnya. "Xel, kalau lo masih kaya gini juga, gue nggak mau ngomong sama lo lagi!" bentakku. Setelah beberapa saat, akhirnya dia bicara juga. Kini aku tahu, apa masalahnya. Bahkan tanpa terasa, air mataku juga ikut jatuh begitu saja. Padahal dia yang mengalaminya. "Iya. Gue kesana. Sekarang! Secepat yang gue bisa!" jawabku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN