Axel Yudhistira
"Ma ... Mama bangun Mah. Mama," teriakku sambil menggerak-gerakkan tubuh Wanita yang saat ini tengah terbaring di atas tempat tidur. Tangannya yang semula tengah membelai pipiku dengan lembut terjatuh begitu saja, matanya kini tertutup dengan rapat. Tangannya yang semula hangat, kini jadi dingin. Apa yang terjadi? Kenapa begini? Seseorang, adakah yang bisa menjelaskan perkara apa yang saat ini ada di depan mataku?
"Suster! Suster tolong Suster. Di mana kalian!" Aku berteriak membuka pintu, berharap ada yang mendengarnya. Lalu bergegas kembali lagi ke dalam saat ingat ada tombol bel darurat yang bisa di tekan. Ku tekan berkali-kali benda itu, hingga hampir copot. Dan setelahnya, semua itu membuahkan hasil.
Tak lama kemudian Dokter dan Suster datang. Aku menuruti permintaan mereka berdua untuk menunggu di luar. Jika mengikuti ego sendiri, pastilah aku lebih memilih untuk menunggunya di dalam. Tapi kurasa ini lebih baik. Aku tidak ingin menggangu usaha apapun yang sedang mereka lakukan di dalam. Mereka pasti akan melakukan yang terbaik, tanpa melebih-lebihkan yang tidak ada, atau mengurangi apa yang sudah ada.
Ada kursi tepat di samping pintu masuk. Tapi aku bahkan nggak memiliki niat sama sekali untuk duduk. Aku sendirian di sini. Papa pasti masih ada di kantor. Lisa juga baru saja pulang. Karena sudah berhari-hari kami berdua berada di sini menunggui Mama yang kondisinya sempat drop tepat di saat Lisa pulang pada malam itu. Ingat saat aku menyusul Lisa ke club malam, saat itu pula Papa menelpon kalau kondisi Mama kian memburuk.
Tanganku terlalu gemetar untuk menekan tombol yang terhubung pada nomor Papa ataupun Lisa. Aku harus mengstabilkan Nafas dan kesadaran ini lebih dulu. Tidak-tidak! Mama akan baik-baik saja. Ia harus baik-baik saja.
Setelah sekian lama aku menunggu beliau mengatakan itu, aku tidak ingin kehilangannya lagi. Aku tidak mau kasih sayang yang baru saja ku dapatkan, menghilang begitu saja. Ku mohon, jangan pergi ya Ma! Aku mencintaimu, aku menyayangimu Ma, meski aku bukan anakmu. Kamu tetaplah Mamaku. Maafkan, karena aku telah lahir dari rahim yang berbeda. Tapi itu bukan salahku Ma. Bertahanlah, aku mohon bertahanlah!
Belum ada kabar apapun, tapi aku tidak bisa membendung air mata ini lagi. Siapa yang harus ku hubungi sekarang. Aku tidak ingin ada banyak orang yang bertanya ada apa, kenapa dan juga bagaimana. Aku butuh tempat untuk bersandar, karena aku sedang tidak bisa menjadi sandaran.
Satu-satunya nama yang saat ini terlintas dalam pikiranku hanya Shera. Aku sudah sangat lama tidak menghubungi gadis itu. Entah bagaimana kondisinya sekarang. Aku tidak pernah menanyakan kabarnya, atau apa yang dia lakukan akhir-akhir ini. Tapi memang hanya dia. Aku tahu, Shera tidak akan banyak bertanya. Hanya dia yang bisa menenangkan ku saat ini.
Maka dari itu, aku menekan speed dial yang terhubung ke nomornya, meski dengan tangan yang begitu gemetar. Tak butuh waktu lama, aku bisa mendengar suaranya yang ceria itu lagi. Ya Tuhan, aku sungguh merindukannya, namun ini bukanlah waktu yang tepat untuk bernostalgia.
Bibirku terkatup rapat. Aku bingung harus berkata apa, sehingga yang terjadi hanya ada suasana hening. Dia mulai marah karena aku tak kunjung bicara. Jika seperti ini terus, gadis itu akan kesal.
Saat aku akan bicara, Dokter dari dalam ruangan keluar. Ia memberi tahu sebuah berita mengejutkan yang memang sudah kuduga sejak awal. Tapi aku berusaha mengelak sebuah kenyataan.
Telponku masih menyala saat Dokter bicara. Aku yakin Shera mendengarnya dengan jelas. Tanpa perlu ku jelaskan, dia menjanjikan sebuah kedatangannya. Padahal aku belum menyebutkan, ada di mana aku sekarang ini. Maka setelah telpon tertutup, aku meng share lock lokasiku melalui aplikasi si hijau.
Mengingat tempat tinggal Shera yang jauh dari sini. Aku tidak bisa berharap banyak. Dia tidak akan datang secepat itu. Maka dari itu, aku mengirimkan alamat lain. Yaitu rumah utamaku yang harus ia datangi. Dan setelahnya, aku bergegas menghubungi Lisa juga Papa.
***
"Lisa kemana, Xel?" tanya Mama begitu aku masuk ke dalam kamarnya. Sejak tadi aku menunggu di luar ruangan. Ku pikir Mama masih tertidur. Tapi sepertinya, beliau sudah lama bangun.
"Lisa baru aja pulang, Ma. Ku minta dia ke rumah dulu. Kasian, udah berapa hari dia di sini. Biar kami bisa gantian. Nanti kalau Lisa udah balik kesini, giliran Axel yang pulang dulu ya, Ma," jelasku pada Mama sehalus mungkin. Aku iri sekali, Mama langsung mencari Lisa begitu batang hidungnya menghilang.
Wajah Mama sekarang semakin pias. Dia belum makan sejak tadi pagi. Padahal ini sudah jam minum obat yang kedua. Hari ini, beliau agak rewel, tidak seperti biasanya. Mama itu semangat sekali untuk sembuh. Dia tidak pernah merepotkan dan menolak dengan semua tindakan Dokter. Hanya hari ini saja tingkahnya jadi agak sulit dan berubah menjadi anak kecil.
"Mama makan dulu donk Ma. Ini udah waktunya minum obat yang ke-dua. Gimana Mama bisa cepet pulang kalau Mama nggak makan terus minum obat?" bujukku. Tapi Mama justru meleos dan menggenggam tanganku dengan erat. Tidak seperti biasanya.
"Mama lagi capek. Males ngunyah juga. Kamu aja yang makan ya. Nanti kamu sakit," ucapnya padaku.
Sebenarnya, orang tua yang mengingatkan anaknya untuk makan itu, adalah yang wajar dan biasa. Tapi mendengar ini langsung dari Mama, entah kenapa rasanya begitu aneh. Tapi aku bahagia.
"Ini kan bubur, Mah. Buat apa di kunyah lagi?" bantahku.
"Ya pokoknya Mama lagi males makan. Mama lagi mau ngobrol sama anak laki-laki Mama. Boleh kan, Xel?"
Genggaman tangan Mama jadi semakin erat. Kenapa Mama terasa begitu asing sekarang? Aku mengangguk pelan. Mungkin ini hanya perasaan ku saja. Terlalu lama keluar dari rumah dan hidup sendiri, mungkin membuat aku jadi lupa pada kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh keluarga sendiri.
"Anak Mama sekarang udah dewasa. Tapi kayanya Mama belum pernah liat wajah kamu sedetail ini. Kamu itu ganteng, persis sekali sama Papa."
"Ya iyalah, Ma. Axel kan anak Papa. Masa iya aku malah mirip orang lain. Nanti jadi bahaya donk," balasku.
"Kamu persis dengan Papa, tapi kamu juga mirip sekali dengan Ibu kamu."
Deg ... Kenapa perkataan Mama terdengar agak rancu ya. Kalau yang dimaksud Mama adalah dirinya sendiri. Kenapa seolah beliau sedang membicarakan orang lain. Aku terdiam menunggu kata-kata yang selanjutnya akan keluar dari bibirnya yang memucat.
"Mama tahu apa yang sedang kamu pikirkan Axel."
Mama menarik nafas panjang. Genggaman tangannya yang semula begitu erat kini terlepas. Beliau memalingkan wajahnya, menatap ke arah lain. Sekarang timbul berbagai macam asumsi dan pertanyaan dalam benakku. Tapi begitu ragu untuk ku ungkap. Apa ada yang terlewat? Apakah ada yang kulupakan. Atau sebenarnya aku bukan melupakan. Sebenarnya, mungkin memang ada yang tidak ku ketahui.
"Mama, cuma ingin kamu tahu. Mama nggak pernah membeda-bedakan kamu, apalagi Lisa. Kalian berdua tetap anak Mama. Apapun yang terjadi. Mama sayang banget sama kalian berdua."
Sepertinya, ada yang ingin keluar dari mataku. Tapi aku masih bisa menahannya. Aku harus mendengarkan kisah apa yang akan Mama ceritakan.
"Ma, Axel juga sayang banget sama, Mama," ujarku. Kali ini, Mama menatapku dengan lekat, matanya berkaca-kaca.
"Mama sayang sekali dengan Axel. Meskipun Axel bukan lahir dari rahim Mama."
Belum hilang rasa bingungku, kini ditambah lagi dengan penuturan yang beliau katakan. Jantungku terasa berdetak lebih hebat. Kepalaku pusing, tubuhku gemetar, seolah ada keringan dingin yang keluar dari dalam tubuh ku.
"Axel ... Lahir ... Bukan dari ... Rahim Mama? Maksudnya itu gimana, Ma?" Ku ulang, apa yang baru saja diucapkan oleh Wanita paruh baya, yang saat ini mulai mengeluarkan bulir-bulir airmata. Aku menelan ludah dengan perasaan yang amat tak menentu.
"Jadi ... Maksud Mama. Axel bukan anak kandung Mama?" tanyaku dengan segenap keberanian. Anggukan Mama yang pelan itu, menjadi sebuah isyarat kalau dugaan yang ku tolak dalam hati, justru adalah kenyataan. Tidak, ini pasti tidak benarkan?
"Dan itu juga alasan kenapa Mama selalu membeda-bedakan aku sama Lisa. Itu juga yang bikin Mama memperlakukan Axel kaya anak tiri?"
Sekarang, anggukan kepala itu telah berubah menjadi gelengan. Iya ... Bodoh sekali. Itu dia jawabannya. Dari dulu aku selalu merasa berbeda, jadi ini alasanya. Inilah kenapa meski tinggal di rumah yang sama, hidup dalam naungan yang sama, tapi perlakuan yang kudapatkan dengan Lisa, sangat jauh berbeda. Tapi Mama bilang, aku mirip dengan Papa. Itu artinya aku memang anak Papa. Jadi kalau begitu, siapa ibuku sebenarnya?