Axel Yudhistira
"Mama nggak pernah beda-bedain kamu!"
"Nggak!" bantahku dengan keras. Reflek aku bangun dari dudukku. Berdiri di samping tempat tidur Mama.
"Mama nggak pernah nanya apa aku udah makan atau belom. Mama nggak dateng waktu aku perpisahan di sekolah. Mama nggak pernah telpon dan nanyain kabarku gimana, setelah pindah dari rumah. Bahkan saat kemarin aku bilang mau nikah. Mama nggak ambil pusing. Mama tetap lebih khawatir sama anak perempuan Mama yang sempurna itu, dan bla-bla-bla."
Ku sebutkan satu-persatu segala hal, yang selama ini menjadi unek-unek di dalam hati ku. Segala hal yang didapatkan oleh Lisa secara perhatian juga financial yang nggak ku dapatkan selama ini. Rasanya puas, aku bisa memberi tahu pada Mama, betapa nggak adilnya perlakukan beliau padaku. Aku puas, karena bisa membuktikan kalau selama ini Mama selalu membuatku menjadi seorang figuran di rumah.
Tapi hatiku sakit. Kepuasan sesaat itu, kini berganti menjadi rasa perih tatkala sepasang mata yang sayu itu menatapku dengan lekat. Mama sudah tak muda lagi. Aku salah! Ia sedang sakit, ia membutuhkan dukunganku sebagai anaknya. Tapi aku malah menambahkan beban pikiran tak terhingga, yang pasti telah menorehkan luka di hatinya.
Ahh ... Mengapa aku begitu ceroboh. Harusnya aku tidak mengikuti emosi ini. Anak macam apa aku ini?
"Mama ... Mama minta maaf!"
Air mata itu keluar dari sudut matanya. Aku tak tega melihat pemandangan ini. Hatiku melemah. Aku mendekat pada wajah Mama. Ku usap air mata yang jatuh itu dengan lembut. Astaga, tidak ku sangka aku bisa jadi sejahat ini.
"Waktu kecil, Axel itu pemalukan?" tanya Mama. Iya, aku ingat. Waktu kecil bahkan hingga sekolah SMA, aku ini adalah anak yang pemalu.
"Axel nggak berani minta atau bilang soal makanan apa yang Axel suka. Tapi Mama tahu, Axel paling suka makan sop buntut, sama makanan yang berkuah bening. Mama sering nyuruh Bibi masak itu buat supaya Axel makan banyak. Mama juga tahu, Axel nggak suka sama kulit ayam. Makanya setiap masak ayam, Mama juga sering ingetin sama Bibi buat pisahin kulitnya dulu. Mama nggak nawarin Axel buat makan, karena takut Axel malu dan malah nggak makan."
Apa? Kok bisa? Kenapa aku tidak menyadari itu? Kenapa aku bisa tidak tahu. Selama ini ku pikir makana kesukaanku yang selalu ada di atas meja makan, hanyalah sebuah kebetulan. Ku pikir, mungkin Bibi di rumah kasihan padaku, karena itu beliau begitu sering menyiapkan makanan kesukaanku. Jadi itu semua karena Mama? Mama nggak lupa denganku. Mama bahkan lebih mengerti aku daripada siapapun? Aku kehabisan kata-kata untuk menanggapi itu semua. Dan sekarang, aku mulai merasa bersalah.
"Mama tahu, Lisa sering ke kamar Axel, buat ngerokok."
Deg ... Jantungku sekarang jadi mau copot. Apa yang dengan yakin ku sembunyikan, ternyata Mama tahu itu.
"Mama ... jadi Mama tahu?" tanyaku untuk meyakinkan.
"Mama tahu. Makanya Mama selalu nanyain Lisa sama kamu. Karena Mama tahu, Lisa cuma berani jujur sama kamu."
Jadi begitu? Itulah sebabnya Mama selalu bertanya soal Lisa padaku. Aku sudah salam paham dan sempat mengira, kalau Mama hanya memanfaatkan ku untuk menjadi bodyguard dari anak perempuannya. Otakku cetek banget sih?
"Mama ... juga datang di perpisahan sekolah kamu. Mama lihat waktu kamu di panggil sama kepala sekolah, naik ke atas panggung, sebagai siswa dengan nilai tertinggi waktu ikut PKL. Mama tahu itu, Mama tahu."
"Terus kenapa Mama nggak samperin aku Ma. Mama nggak ada di samping aku kaya anak-anak lain!" Protesku.
"Mama mau, tapi Mama sibuk ribut sama salah satu orang tua siswa yang bilang kalau penilaian sekolah terhadap kamu itu nggak benar. Selesai ribut Mama jadi kesal dan langsung pulang ke rumah!"
"Hah, ribut?" ujarku tak percaya. Ada kebenaran apalagi disini yang luput dari hati dang penglihatan ku. Kenapa sekarang semuanya terasa terbalik.
Aku coba mengingat-ngingat lagi apa yang terjadi beberapa tahun lalu pada acara perpisahan Sekolah. Saat itu, acara diadakan di sebuah hotel. Aku mendapatkan nilai terbaik saat Praktek Kerja Lapangan, sehingga Kepala Sekolah dengan hormat memberikanku piagam penghargaan. Perasaanku memang sangat senang ketika itu. Tapi aku juga sedih, mengingat saat itu tidak ada orang tua yang mendampingi.
Dari atas panggung, aku lihat memang ada keributan di luar dekat pintu masuk. Saat itu ada banyak sekali orang tua siswa yang hadir dan tidak ku kenal. Tapi sama sekali tak kusangka kalau itu Mama. Dan saat itu, dia sedang membelaku. Membela namaku yang ternyata bukan anak kandungnya.
Mama lanjut menceritakan kenyataan dan realita hal lain. Semua kejanggalan dan perhatian yang ku pikir hanya berlaku untuk Lisa, saat ini juga di sanggah mentah-mentah oleh beliau. Aku tidak habis pikir. Ada apa denganku? Selama 26 tahun aku hidup, otakku dipenuhi segala asas praduga tak baik soal Mama. Padahal, Mama justru orang yang berdiri paling depan saat ada yang sedikit saja menggoreskan luka pada tubuhku.
Kenapa bisa begini? Kenapa mataku buta, kenapa telingaku tuli, kenapa hatiku juga jadi tidak berperikemanusiaan? Aku kembali terdiam, lalu duduk lagi di samping Mama. Tidak berani protes, bahkan menatap sepasang matanya yang sendu dah menyedihkan itu.
"Mama sudah tanya sama karyawan kamu di Cafe."
Kepalaku terangkat kembali, begitu Mama berucap soal Cafe. Cafe yang di maksud Mama ini, Cafe milikku bukan?
"Mama, tanya apa?" Aku jadi penasaran sekarang.
"Mama tahu perempuan yang saat ini lagi kamu suka. Namanya Shera kan?"
Astaga dragon. Ada apalagi ini? Sekarang bahkan Mama juga tahu soal Shera? Ini adalah sebuah ketidak mungkinan yang mendadak jadi serba mungkin.
"Kok bisa, Mama sampai tahu soal Shera, Ma?" tanyaku lagi.
"Mama nggak mau kamu sakit hati lagi karena ditinggal nikah sama Mawar. Mama nggak ambil pusing sama pernikahan kamu, karena karyawan kamu bilang, Shera itu anaknya baik. Jadi Mama lebih tenang."
"Stop, Ma, stop. Udah cukup, Ma. Mama udah ceritain semuanya sama Axel. Axel nggak sanggup lagi dengar semua kenyataan kalau Axel itu salah. Maafin Axel ya Ma. Maaf!"
Aku menciumi tangan Mama berkali-kali dalam rasa haru. Aku malu pada diri sendiri, juga malu pada Mama. Sekarang giliran aku yang menangis. Jikapun benar aku tidak berasal dari rahim wanita ini, aku tidak akan pernah menyesal. Mama adalah orang terbaik yang saat ini ada di dalam hatiku.
"Kamu udah tahu semuanya, Axel. Sekarang janji ya. Jangan benci sama, Mama. Jangan bilang-bilang kalau Mama membendakan kamu dan Lisa lagi. Kalian berdua itu anak kesayangan Mama."
Tidak akan, aku nggak akan pernah benci pada orang yang justru dengan tulus menyayangiku sejak kecil.
"Mama, ngantuk. Mama mau tidur dulu ya sebentar. Mama capek banget!" ucap Mama. Aku mengusap kening Mama, membantunya agar bisa tertidur lebih lelap. Dia pasti lelah karena telah menceritakan segalanya, juga karena punya anak yang nggak berguna sepertiku. Tangannya kini berada di wajahku. Ia membelainya dengan begitu lembut. Tapi kemudian, saat mata itu terpejam, tangan Mama juga ikut terjatuh. Tak ada lagi suara yang terdengar dari bibirnya. Kini, hanya tersisa teriakanku yang memanggil-manggil Dokter dan Suster yang seharusnya bertugas.