Bab 87. Shera 51

1559 Kata
Shera Fuji Lesmana Debu jalanan menghempas wajahku yang dengan sengaja tak menggunakan kaca helm. Saat ini aku sedang berada di atas motor, bersama dengan tukang ojeg online berseragam hijau guna mencari alamat rumah Axel. Dia bilang, alamat yang harus ku tuju, adalah alamat rumah utamanya. Padahal, rumahnya yang dekat caffepun, aku sama sekali belum tahu. Rasanya aku ingin segera sampai karena khawatir. Aku ingin memastikan keadaannya. Harapanku adalah dia akan menjadi pria yang kuat dan baik-baik saja. Tapi sepertinya, setiap yang ditinggalkan oleh orang terkasih, tidak akan pernah merasa baik-baik saja. "Bang, Bang. Ini jalannya benerkan? Abangnya udah ngikutin arah jalan di gps yang saya kasih kan?" tanyaku memastikan, dengan setengah berteriak. "Iya Nenk. Saya udah ngikutin arahnya kok. Ini nenk bisa liat sendiri. Nggak akan nyasar, tenang aja," jawabnya santai. Bukan apa-apa, masalahnya aku belum pernah mengelilingi Jakarta sejauh ini. Aku juga tidak tahu patokan yang benar akan keberadaan rumahnya Axel. Wajarkan, jika aku takut nyasar. Kalau nyasar, aku jelas harus mencari jalan lain yang akan memakan waktu dan biaya lebih banyak lagi. Bukan mau pelit atau perhitungan disaat darurat seperti ini. Masalahnya, aku belum gajihan. Axel sempat mengirimiku pesan soal keberadaanku, juga tawaran untuk menjemput. Tapi tentu saja ku tolak secara halus niat baik itu. Pria itu sedang berduka, ia sedang membutuhkanku, karena itu dia menghubungiku. Masa aku malah minta jemput. Selain itu, pikiran Axel juga pasti sedang kacau. Dia tidak boleh membawa kendaraan apapun dalam kondisi ini. Nggak lucukan, kalau sampai namaku dan Axel dimuat dalam berita utama soal kecelakaan. Adrian juga sempat menghubungiku, ia bertanya aku akan pergi kemana. Akan tetapi, dengan sangat terpaksa, aku juga berbohong pada pria itu. Adrian tahu, kalau Axel itu sempat menaruh hati padaku. Jadi, dia pasti akan cemburu dan marah besar jika tahu, aku justru dalam perjalanan menuju rumahnya. Sekarang ini, aku sedang berusaha untuk membantu orang lain. Meskipun diriku ini juga sedang butuh bantuan. Ya ... Siapa tahu, Axel memang membutuhkan bantuanku. Kurasa ini adalah buah simalakama dari keluhanku kemarin soal hari-hariku yang monoton karena hanya selalu berakhir di kampus, hotel dan kamar. Hasilnya, takdir memberikan aku satu hari special dimana kesedihan kawanku yang saat ini menjadi sasarannya. Di depan Axel nanti, aku harus berpura-pura menjadi orang waras. Padahal aslinya, gue lagi stress banget! Setelah cukup lama dan kaki serta pantatku mulai pegal, abang ojeg online ini membelokkan motornya, memasuki kawasan perumahan elit yang sepertinya memang hanya di huni oleh orang-orang kaya. Aku nggak merasa terkejut juga sih, Axel kan memang anak orang kaya. Malah akan aneh kalau aku menemukan rumahnya di daerah terpencil yang sepi penghuni. Dugaanku semakin kuat saja, begitu melihat ada bendera kuning dan orang-orang yang ramai berdatangan menggenakan pakaian hitam. Jelas aku ini nggak nyasar sama sekali. Apalagi penyebabnya, kalau bukan karena ada orang yang sedang meninggal. Eh salah, maksudku sudah meninggal. Motor berhenti beberapa langkah dari gerbang masuk rumah itu. Aku bergegas turun, lalu memberikan helm yang kukenakan pada Abang Ojol tersebut. "Udah sampe nenk!" ucap Bang ojol itu. "Sesuai aplikasi kan, Bang?" tanyaku sambil tersenyum. "Ha-ha-ha. Iya nenk. Tapi dilebihin juga boleh," jawabnya sambil bercanda. "Yeeee, emang dasar maunya itu mah," balasku. Aku mengeluarkan uang pas satu lembar yang seharusnya ada kembalian. Tapi sengaja ku minta agar Bang ojol itu mengambilnya. Karena kasihan juga, jarak tempuh yang kami lalui, kurasa lumayan jauh. Dia berkali-kali mengucapkan terimakasih karena hasil bercandanya soal uang lebih malah ku kabulkan, bahkan hingga dia memutar balik, dan menghilang dari pandanganku. Sekarang, tinggal aku yang harus masuk kesana. Tapi bagaimana jika aku salah rumah, atau pemilik rumah tidak mengenaliku. Bagaimana jika aku dikira orang aneh? Ahh tapi, disini ada banyak orang. Aku bisa ikut membaur bersama mereka untuk menyelinap masuk dan mencari Axel dengan segera. Tidak seperti rumah-rumah di sekitarnya yang mewah. Rumah milik Axel ini terlihat lebih sejuk dan luas. Sepertinya, dari pada menghabiskan uang untuk membuat hunian yang berlebihan, keluarga Axel ini lebih suka membuat hunian yang sederhana dan nyaman. Ahh ... Tipe-tipe orang kaya yang baik dan nggak banyak macemnya. Aku suka ini. Aku celingukan saat akan masuk ke dalam rumah itu. Dan tepat saat aku menoleh ke arah taman, kulihat ada sosok seseorang yang tengah duduk sendirian pada sebuah bangku. Entah mengapa, naluri ku mengatakan, kalau aku harus kesana terlebih dahulu. Kuurungkan niat untuk masuk ke dalam rumah itu bersama dengan pelayad yang lain, dan berbelok arah menuju taman. Semakin aku dekat, maka semakin aku yakin kalau sosok yang sedang membelakangiku itu adalah Axel. Selain dari postur tubuh, kupikir mungkin hanya dia yang mau duduk sendirian disini. Aku menepuk bahunya, seraya memanggil ... "Axel," panggilku lirih. Yang dipanggil kemudian menoleh. Ahhh, syukurlah. Ini beneran Axel. Jika dia adalah orang lain, maka aku pasti akan malu setengah mati karena sudah salah. "Sher ... kamu datang. Duduk sini, Sher." Axel langsung menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya, memintaku untuk duduk, tanpa adanya basa-basi. Aku menurut saja lalu di duduk disampingnya. "Maaf ngerepotin kamu, dan malah minta kamu buat datang kesini. Aku ... A ... Aku." Kalimat yang keluar dari mulutnya terbata-bata. Aku tidak tega melihatnya yang seperti ini. Secara reflek, tanganku bergerak ke belakang punggungnya. Aku menarik tubuh pria itu agar lebih merapat padaku. Ku usap punggung kekarnya yang saat ini pasti begitu rapuh. Wajahnya lesu, sepasang matanya merah, kedua tangannya saling terkait dan bergetar. Ini pasti sangat sulit baginya. Aku tidak pernah kehilangan orang yang begitu ku cintai dari dunia ini, dan berharap tidak akan pernah mengalaminya. Tapi aku juga bisa merasakan kesedihan yang ia tularkan tanpa sengaja padaku. Hingga akhirnya, perlahan-lahan tangis pria itu pecah di hadapanku. Kepalanya jatuh di pundakku. Aku tidak tahu harus bagaimana agar bisa menghiburnya. Tapi kurasa, dia hanya membutuhkan sandaran untuk saat ini. Dia pasti sudah menahan tangis ini di depan semua orang, agar dia tidak membuat semuanya khawatir. "Dia ... Dia Mamaku, Sher. Dia ... pergi. Dia pergi, tepat disaat dia bilang, kalau ... kalau dia ... dia sayang aku. Mama sayang aku Sher. Tapi aku ... Aku ... A ... Aku salah paham sama semuanya." "Usshhh udah-udah. Jangan diterusin kalau kamu nggak sanggup ya. Nangis dulu aja, tenangin diri kamu dulu. Aku tahu ini berat. Pasti berat banget. Udah, udah!" ujarku berusaha menenangkan Axel. Dia pasti dilema antara ingin bercerita tapi juga tak sanggup karena masih merasa terpukul dengan semuanya. Baiklah, itu wajar. Sejauh ini, menurutku Axel begitu kuat. Jika aku yang ada di posisinya, aku pasti sudah pingsan. Atau mungkin, berusaha untuk ikut bunuh diri. Di dalam rumah itu, keluarga Axel pasti sedang mengurusi segala keperluan mendiang Ibunya. Pemakaman ditunda hingga besok karena hari sudah malam. "Kamu bisa duduk di samping Mama kamu, kalau kamu mau. Ya ... sebelum Mama kamu besok dimakamkan." Kurasa, Axel mungkin memang perlu untuk menghabiskan sedikit sisa waktu terakhirnya. Jangan sampai dia menyesal di kemudian hari. "Tapi ..." "Mau ku temenin?" tawarku. Axel menghapus air matanya. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum mengiyakan usulanku. Aku membantunya berdiri, dan merangkul tangannya. Niatnya sih, ingin merangkul bahu, namun apa daya, bukan hanya kasih yang bisa tak sampai, tapi tangan ini juga tak mampu sampai di pundaknya. Aku tidak tahu siapa saja keluarga dari Axel. Tapi di samping jenazah sang Ibu, ada seorang gadis yang tengah duduk dengan tatapan kosong. Garis-garis di wajahnya, terlihat mirip dengan Axel. Aku yakin dia adalah adiknya. Nilai agamaku memang buruk. Aku juga manusia yang penuh dengan dosa. Ibadahku bolong-bolong, hatiku juga penuh dengan rasa iri dan dengki. Tapi aku cukup tahu kalau disaat seperti ini yang dibutuhkan oleh Almarhum Mamanya Axel adalah doa. Karena itu, aku mengajaknya untuk mengambil wudhu, lalu duduk bersama membacakan ayat suci Al-Quran. Setelah aku dan Axel memulai, tak lama kemudian gadis yang kulihat tadi pergi. Lalu setelahnya ia kembali dan duduk di sampingku. Dia sempat tersenyum dan aku membalas senyumannya, sebelum akhirnya, ia juga ikut berdoa bersamaku dan Axel. Sekarang aku diapit oleh kedua Kakak beradik itu. Suara yang mulai bergetar, ditambah bulir-bulir air bening berjatuhan dari sudut mata mereka berdua. Aku yang bukan siapa-siapa akhirnya tertular dan ikut menangis juga sekarang. Tapi selanjutnya, aku selesai lebih dulu, diikuti Axel dan juga gadis disampingku. Entah kenapa seperti ada gaya dorong dalam tubuh ini yang memaksa tubuhku untuk bergerak, kemudian reflek merangkul keduanya bersamaan. Tangan kiriku berada di pundak milik Axel dan tangan kananku berada di pundak milik gadis itu. Mereka berdua melihat ke arahku dengan penuh tanda tanya dan bingung. Setelah sadar dengan apa yang kulakukan, akupun jadi malu sendiri. Segera kuturunkan tanganku. Sial! pasti Axel juga gadis itu ilfil dan merasa kalau aku sudah sok akrab. Tapi ternyata tidak. Gadis itu justru menggenggam tanganku dengan erat, sambil melihat ke arah Almarhum Mamanya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Axel mendekat lalu berbisik tepat di telingaku. "Makasih ya, Sher. Aku dan adikku bingung harus melakukan apa. Tapi kamu datang seolah menjadi penerang di dalam kegelapan kami." Aku tertegun tak mengerti dengan kata-kata yang dibisikkan oleh Axel. Padahal aku hanya melakukan apa yang biasa dilakukan saat ada orang yang meninggal pada umumnya. Hanya itu saja. Tapi jika memang kedatanganku bisa membuat hidup Axel lebih baik, maka aku akan sangat bersyukur. Hari semakin larut. Aku sudah tidak mungkin lagi bisa pulang. Sepertinya, malam ini aku akan menginap di rumah Axel. Dan aku juga tak yakin akan tidur dalam keadaan seperti ini. Meskipun mengantuk, aku tidak akan tega membiarka Axel sendirian dengan hati dan pikiran seperti itu. Jika memang aku mampu, aku mau membagi bebannya itu. Asal itu bisa meringankan penderitaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN