Bab 22. Shera 14

1143 Kata
Shera Fuji Lesmana Tama sudah pergi dan beberapa kawan yang sebelumnya mengerubungiku juga telah kembali ke kamar masing-masing. Semua kembali normal kecuali dengan hatiku. Tama berhasil mengorek-ngorek hati dan pikiranku. Menciptakan sebuah kebimbangan dimana air mata tak juga urung untuk berhenti menetes. Bagaimana ini? Pada siapa aku harus mengadu. Pilihan yang Tama berikan sama sekali tak mengungtungkan. Dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri tanpa menyadari bahwa akan ada banyak pihak yang tersakiti disini. Ahh ... kenapa percintaan rasanya begitu rumit. Aku memutuskan untuk tidak bekerja hari ini, dengan konsekuensi gaji harianku di potong. Bekerja dengan mata sembab dan bengkak, rasanya akan terlihat kurang bagus. Semua orang akan menertawakan aku dan bertanya, ada apa Shera, kenapa Shera dan lain-lain terutama Adrian. Aku hampir saja lupa kalau Adrian sudah mengundurkan diri dan tak lagi bekerja di Hotel Berlian bersamaku. Kawanku itu akhirnya menyadari, kalau mencari uang itu melelahkan. Ia sudah memilikinya, harta dari kedua orang tuanya yang juga sudah lebih dari cukup untuk menunjang gaya sebagai anak orang kaya di Jakarta. Jadi untuk apa dia harus ribut-ribut bekerja. Andai saja aku yang terlahir seberuntung itu. Aku menjatuhkan diri di atas kasur. Merebah, menatap langit-langit kamar dengan perasaan tak menentu. Sepertinya, aku butuh anak itu sekarang. Aku butuh Adrian di sampingku. Buru-buru ku ambil ponsel, lalu menekan speed dial untuk memanggil nomor Adrian. Satu panggilan tak di jawab. Dua panggilan, hanya membuatku bertahan, sampai akhirnya dipanggilan yang ketiga aku berhenti. Aneh ... ini seperti bukan Adrian. Pria itu biasanya akan langsung sigap saat aku menelpon. Tapi kali ini sampai tiga kali panggilan, dia tidak menjawab juga. Sialnya! Aku lupa kalau Adrian pastilah sedang tidak sendiri. Bukankah tadi siang ia sudah memberitahu, kalau hari ini pacarnya mengajak kencan. Sebenarnya aku tidak tahu apakah itu kencan atau apa. Tapi yang jelas, pokoknya Adrian bilang ada acara dengan Nadia. Bodoh sekali! Aku tidak seharusnya mengganggu dia. Dan jikapun aku mengganggu, toh Adrian ternyata lebih memilih untuk mengabaikan panggilan ku. Jadi ... begini ya rasanya diabaikan. Mungkin begini perasaan Adrian saat aku tidak memiliki waktu untuk bersama dengannya lagi. Setelah aku menjalin hubungan dengan Tama, hubunganku dan Adrian memang lebih sering terjalin saat di kampus dan tempat kerja saja. Selebihnya, aku selalu berpikir untuk menghargai hubunganku dan Tama, adalah dengan menjaga jarak dengan Adrian. Tapi dunia memang selucu itu. Aku menjaga jarak dengan sahabat, kekasihku justru memutus jarak dengan wanita lain. Bagaimana ini air mataku tak juga bisa berhenti mengalir. Susah payah aku menghilangkan perasaan ini, hingga tak selera makan, tak ingin belajar, juga tak semangat bekerja. Setelah beberapa hari hatiku yang rapuh mendapat kekuatan, dalam waktu tak kurang dari satu jam, Tama berhasil memporak-porandakan hatiku lagi. Ini tidak baik! Untuk diri ini, tolonglah! Jika memang belum bisa menyembuhkan rasa sakit karena dia, paling tidak buatlah agar mataku terpejam. Aku ingin tidur sejenak, melupakan segala rasa gundah yang membuatku lelah. Rasa kantuk kini mulai menyergap. Sepertinya, keinginanku terkabul. Hanya di dalam mimpi aku bisa melupakan segala yang telah terjadi. Terutama apa yang hari ini terjadi. Mataku perlahan-laham terpejam, hingga suara dering ponsel membuatku terlonjak. Sebuah nama yang tertera di layar ponsel itu, membuatku rasa kantukku seketika menghilang. Adrian pasti telah menemukan panggilan tak terjawab dari nomorku. Karena itu, sekarang dia memanggil balik. "Sher ... Shera? Kamu baik-baik aja Sher?" Kenapa Adrian terdengar begitu khawatir. Padahal aku belum menceritakan apapun. Tangisanku yang baru saja mereda tiba-tiba jadi tersulut lagi. "A ... Adri ... Adrian ... hiks ... hiks," ujarku. "Sher ... Shera kamu nangis Sher? Kamu kenapa hah? Dimana kamu sekarang? Cepet jawab aku! Kamu dimana?" "Aku ... aku sekarang ada di kamar. Aku ... ada di kosant," ujarku terbata-bata. "Kamu jangan kemana-mana. Tunggu aku disitu. Aku bakal dateng kesana sekarang!" Bahkan di saat seperti ini, ia tetap saja seperti orang yang begitu senang memaksa juga memerintah. Tapi aku senang. Kadang aku senang saat mendengar Adrian merasakan panik karena mengkhawatirkanku. "Apa! Adrian kamu bercanda kan?" Padanganku langsung tebuka selebar-lebarnya. Baru saja ada suara perempuan. Ah ... sial! Adrian pasti sedang bersama pacarnya. Dia pasti sedang bersama dengan Nadia. Bagaimana bisa aku melupakan itu. "Yan, apa kamu lagi sama Nadia?" tanyaku memastikan. Hariku sudah cukup buruk untuk saat ini. Aku tidak ingin menambah kesialan lainnya dengan memutuskan hubungan orang lain. "Iya Sher," jawabnya. "Yan ... kamu nggak bisa ninggalin aku gitu aja cuma buat Shera!" Dan kali ini, aku mendengar suara bentakan dari seorang wanita yang kuyakini adalah Nadia. Aku pasti telah mengakibatkan masalah untuk Adrian. "Ehm ... Ya ... Yan ... maaf. Aku ngehubungin kamu di saat yang nggak tepat. Nanti ku telpon lagi!" ujarku demikian, sembari menutup panggilan, tanpa tahu jawabannya, juga tanpa tahu Adrian akan berkata apa. Tapi yang jelas aku merasa bersalah sekarang. Ada batasan persahabatan diantara perempuan dan laki-laki yang harus sama-sama kami hargai. Bahkan Adrian sekalipun, tidak boleh melewati batasan itu. Apalagi aku! Tiap kali Adrian memiliki pasangan, aku bagaikan orang ketiga diantara mereka, atau kadang menjadi penyebab mereka berpisah. Well meskipun alasan sebenarnya adalah karena Adrian sendirilah yang tidak pernah serius menjalin hubungan. Tiga atau paling lama empat bulan. Dan jika tidak salah hitung, Nadia memiliki rekor hubungan paling lama dengannya. Artinya, gadis itu tentulah memiliki tempat special di hati Adrian. Dan bisa-bisanya, aku telah mengganggu saat-saat penting mereka. Sudahlah Shera. Seharusnya, kamu tidak perlu berharap terlalu banyak. Mungkin yang saat ini kamu butuhkan hanyalah waktu untuk menyendiri. Waktu untuk menyembuhkan luka, juga waktu untuk menyadari kalau duniamu tidak akan berhenti berputar hanya karena putus cinta. Tok ... tok ... tok "Sher ... Shera buka pintunya. Shera buka pintunya Sher. Shera ..." Tok ... tok ... tok Aku mengerjap beberapa kali. Mengembalikan nyawa yang sempat berpencar kemana-mana di dalam mimpi tadi. Meski aku sama sekali tidak ingat dengan mimpi apa yang baru saja ku alami. Baru saja aku bisa tertidur, setelah berhasil membuat mata ini bengkak. Namun kualitas tidurku terganggu dengan suara ketukan pintu juga suara Adrian yang memanggil-manggil dari luar sana. Tunggu dulu ... Adrian. Itu yang di luar beneran Adrian. Aku meraba-raba tempat tidur, dan menemukan ponsel yang bermaksud di cari. Ada begitu banyak panggilan tak terjawab dari Adrian. Pasti saking lelapnya, aku sampai tidak bisa mendengar ada panggilan masuk. Dan sekarang ternyata sudah malam. Apa dia sudah berada di luar sejak lama? Apa aku tidur seperti orang pingsan? Jelas-jelas dia mengetuk pintu dengan kencang. Astaga Shera, kamu memang payah. Dengan segera aku beranjak dari tempat tidur. Berjalan menuju pintu, memutar kunci, kemudian membuka benda penghalang antara aku dan Adrian. Jangtungku berdebar lebih keras dari biasanya. Ku harap pria ini tidak mendengarnya. Ini bukan karena jatuh cinta. Aku hanya tidak menyangka, Adrian akan berdiri di luar sana. Karena, bukankah tadi dia sedang bersama dengan Nadia. Wajahnya tampak pias dan geram. Dia pasti sudah lama menunggu aku untuk membukakan pintu. Dan sialnya lagi, aku bahkan lupa untuk mencuci muka, atau sekedar berkumur-kumur terlebih dahulu. "Rian ... kamu ... kok bisa ada disini?" tanyaku dengan heran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN