Shera Fuji Lesmana
"Aku cinta kamu Sher. Kamu harus tahu itu. Meski aku harus bertanggung jawab pada orang lain. Semua itu nggak akan menghilangkan kenyataan kalau aku tetap mencintai kamu," lirih Tama. Terselip nada sendu dan kesedihan di dalamnya.
Andai saja aku bisa menjawab, kalau aku juga mencintainya. Berpisah dengan cara seperti ini adalah sebuah hal yang amat menyakitkan. Tapi bukankah segala hal sudah di tulis dalam takdir. Meski kami mungkin saling mencintai, kami tetaplah bukan jodoh. Jodohnya bukanlah aku, melainkan Mawar.
Hatiku teriris dengan kenyataan ini. Tanganku terangkat, ikut mendekap tangannya yang tengah memelukku dengan erat, dan tanpa sadar mengusapnya perlahan. Aku merindukan pelukan ini. Aku merindukan dekapan hangatnya yang membuatku nyaman.
"Kamu nggak tahu betapa menderitanya aku sekarang Sher. Terbelenggu diantara keinginan hati dan tanggung jawab yang nggak bisa di lepas. Aku benci diriku sendiri. Aku benci pada takdir, aku benci pada diriku yang nggak bisa berkutik," keluh Tama.
Aku juga benci pada diriku sendiri. Bisa-bisanya membiarkan pria jahat ini masuk, bahkan duduk di atas pangkuannya. Sejujurnya mungkin inilah pertama kali aku dan Tama begitu dekat.
Biasanya aku membatasi diri, apalagi jika sedang berdua di dalam kamar. Kami sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi jika melakukan aktifitas lain. Tama menghargaiku. Kegiatan terpanas kami, mungkin hanya sebatas berciuman dan pelukan yang tak seberapa. Karena saat ada sesuatu yang mulai menjurus pada keabsurdtan, maka kami berdua akan saling menjauh.
Tapi rupanya, siasatku untuk menjadi wanita baik-baik akhirnya kalah. Dia bisa menahan diri denganku, tapi tak bisa menahan diri dengan kekasih dari kawannya. Tukang tikung macam apa dia ini sebenarnya?
Hatiku terenyuh, bulir-bulir setitik air mata mulai berjatuhan. Tiga tahun itu tidak sebentar, ada terlalu banyak kenangan manis di dalamnya. Meski satu kejahatan yang dia lakukan, telah berhasil menghapus segala kebaikannya.
Aku memang tidak melihat secara langsung adegan Axel dan Mawar. Dan pada awalnya, aku juga tidak tahu kalau Mawar itu adalah kekasih dari kawannya sendiri. Aku bahkan tidak mendengarkan dengan baik, saat ia menjelaskan detail kenapa bisa ada malam b*******h bersama Mawar pada saat itu. Jadi aku tidak tahu. Lagipula, untuk apa aku mendengarkan penjelasannya. Toh ... itu tidak akan mengubah kenyataan kalau Tama dan Mawar akan segera menikah.
"Lalu bagaimana denganku. Apa ... kamu nggak mau tahu dengan perasaanku?" keluhku dengan lirih.
Aku tidak mengerti lagi. Tama melepaskan pelukannya, kemudian memindahkan tangannya pada bahuku. Memaksaku untuk berbalik. Hingga akhirnya aku tetap duduk di atas pangkuannya namun dengan posisi terbalik.
Kini kami saling berhadapan. Sial! Tama kini bisa melihat mataku yang berkaca-kaca dan menitihkan air mata. Tangannya yang lembut, mengusap pipiku. Menghapus air mata yang telah meleleh. Dan sayangnya tak bisa ikut menghapus luka di hati ini.
Tatapan kami akhirnya bertemu dalam diam. Sepasang matanya yang sayu, beradu pandang dengan mataku yang resah. Tangannya melingkar diantara ceruk leherku yang sebenarnya sangat sensitif.
"Kamu, masih mencintaiku kan Sher?"
Bibirnya bergetar, menanyakan sebuah perasaan yang seharusnya tak perlu di ragukan lagi. Tapi apa gunanya jika aku menjawab. Yang ku tahu saat ini hanyalah, tubuhku meremang saat akhirnya, ia menekan kepalaku untuk lebih maju lagi. Tubuhku yang lebih pendek darinya, membuat posisiku yang duduk di pangkuannya ini, menjadi sejajar. Padahal biasanya, Tama harus menunduk.
Aku tidak tahu bagaimana awalnya, aku juga tidak tahu siapa yang memulainya lebih dulu, tapi di detik berikutnya sebuah benda kenyal yang basah mendarat tepat di atas bibirku, membuatku kehilangan kendali atas diri sendiri. Semua terjadi begitu saja.
Aku bukannya tidak pernah berci'uman. Tapi kurasa, ini adalah kali pertama, aku dan dia bisa berci'uman sepanas ini. Setiap lumatan dan gigitan yang tercipta, memaksaku untuk terus meminta lebih ... lebih ... dan lebih lagi.
Bagaimana ini? Aku terjebak diantara rasa benci dan hasrat kerinduan yang dalam. Beberapa waktu berlalu, tanganku kini juga melingkar di lehernya. Rasa panas mulai merasuk di antara tubuh ini. Ada sesuatu yang terjadi dengan otak dan kewarasanku. Ada yang salah dengan otak dan batinku. Karena biasanya kami akan langsung berhenti dan saling menjauh setelah sama-sama merasa di atas ambang bahaya. Bukannya menghayati, di selingi desahan-desahan panas.
Aku butuh kamu Shera. Aku butuh kewarasanmu, jangan biarkan semua ini berlanjut. Kamu memang mencintainya, tapi kamu juga tidak bisa memilikinya. Kamu hanya akan menanggung kerugian yang amat besar jika terus diam.
Dan kala itu, saat tangannya mulai beralih kebagian sensitif yang lain. Dengan segera aku tersadar. Ku lepaskan ciu*man kami yang mulai memanas. Tautan kami terlepas, dengan engahan nafasku yang mendominasi. Ini adalah kali pertama aku berci'uman dengan sangat lama. Jujur saja, aku tidak terbiasa. Dan sepertinya tidak akan pernah terbiasa. Karena semua ini bukanlah milikku.
Aku bangkit dari dudukku di pangkuannya, berusaha mengembalikan kenyataan kalau semua ini sudah jelas salah. Aku berdiri bersamaan dengannya. Kami saling berhadapan dalam posisi yang sudah seharusnya seperti. Dan seharusnya aku tidak mengimbangi keinginannya tadi.
"Shera ... kenapa Sher. Kenapa kamu harus berenti?"
"Ini salah! Kamu bukan milikku lagi Tam. Kamu akan menikah. Jangan membuat ini sulit. Pulanglah! Kamu sudah mengatakan apa yang seharusnya dikatakan. Dan sekarang kembalilah."
"Shera dengerin aku. Ini nggak akan bertahan lama. Aku janji sama kamu. Setelah ... setelah anak itu lahir, aku akan ninggalin dia. Dan kita ... kita bisa balikan lagi. Kamu hanya perlu nunggu Sher ... sebentar aja. Kumohon Sher ... kumohon!"
Menunggu? Aku sudah bosan menunggu. Apa lagi yang harus kutunggu. Bahkan jika aku memang bisa menunggu, itu tidak akan menjamin kalau si Tama ini akan datang kembali. Aku tidak ingin menjadi egois. Anaknya tidak bersalah. Yang salah hanya kelakuan orang tuanya. Aku tidak ingin memisahkan dua orang tua dari seorang anak yang tidak berdosa.
"Aku mohoh kamu pergi sekarang Tam!"
"Shera ... aku tahu. Kamu hanya sedang nggak bisa berpikir dengan jernih sekarang. Aku cinta kamu Sher. Dan kamu juga pasti masih cinta kan sama aku!"
"Aku bilang keluar!" Aku berteriak sembari memaksanya, mendorongnya untuk melewati pintu. Tama masih bersikeras, dan kurasa teriakan ini semakin menggila. Hingga beberapa penghuni kamar yang lain keluar. Melihatku dan Tama, menjadikanku sebagai pusat perhatian.
Tangisku sudah tak dapat terbendung lagi. Kenapa orang ini hanya mempersulit keadaan setelah aku berusaha keras untuk melupakan.
"Ada apa nih Sher?" Aku menoleh mendapati salah satu penghuni kamar sebelah yang menghampiri.
"Nggak apa-apa kok, Mbak. Ini Shera cuma ..."
"Heh ... kalau lo disini cuma mau bikin keributan. Mendingan lo balik sekarang!" Dan salah satu tetangga lainnya menunjuk pada Tama.
"Cowok kaya gini lo tangisin Sher ... Sher. Heh ... sebelom semua penghuni kamar disini keluar, ngeroyokin lo, mendingan lo pergi dari sini!" tambah tetanggaku yang lain lagi.
Tama tidak memiliki pilihan lain lagi. Semua orang-orang ini menatap Tama dengan tajam dan mengintimidasi. Meski dia laki-laki, akan tampak buruk jika dia berani melawan perempuan.
"Oke ... oke. Semuanya tenang. Saya pergi sekarang. Tapi Sher ... tolong kamu pikirin baik-baik sekali lagi, tentang apa yang kutawarkan tadi. Aku pergi sekarang!"
Tama pergi bersama dengan hati dan harapanku. Saat ia berbalik, maka di saat itu pula aku sudah bertekad, kalau dia tidak akan pernah ku izinkan untuk mengganggu hidupku lagi.
"Lo tenang aja Sher. Kalau ada apa-apa, bilang sama kita!"
"Itu cowok lo yang sering kesini kan? Lo berantem ya? Putus ya?"
"Cowok kaya gitu doank. Nggak usah dipikirin. Kedipin sedikit juga mental."
Aku mengusap air mata di pipi dengan senyuman begitu mendengar perhatian dari tetangga-tetangga penghuni kamar sebelah. Orang lain mungkin mengecap mereka wanita nakal yang hanya bisa menjual tubuh. Padahal, setiap orang pastilah memiliki sisi baik dan sisi buruk. Yang di sebut dengan teman, bahkan bisa lebih dekat daripada saudara.