Bab 20. Shera 12

1058 Kata
Shera Fuji Lesmana Seseorang yang kini tertangkap jelas dalam penglihatanku, membuat langkah ini meragu untuk berlanjut. Ini kali pertama aku melihatnya lagi. Pria itu semakin kurus. Tatapannya kosong, ia berdiri bersandar pada pintu kamarku. Waktu pernikahannya dan Mawar berduri itu sudah semakin dekat. Biasanya pria itu datang dengan penampilan yang rapi, tapi kali ini bisa dikatakan, ia agak sedikit berbeda. Lebih mirip dengan pria yang sedang frustasi. Ya ... aku tidak bisa mengelak. Menikah atas dasar paksaan yang tidak di sengaja, pastilah membuatnya hampir gila. Nama baik dia dan keluarganya benar-benar di pertaruhkan. Membuat Mawar hamil dan mengandung anaknya, pastilah bukan bagian dari rencananya untuk bahagia. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan. Kuatkan dirimu Shera. Kamu tidak selamanya bisa menghindar. Tama pastilah sudah tahu kalau aku begitu membencinya sekarang ini. Tapi dia malah dengan sengaja menungguku disana. Bukankah itu artinya, ada hal penting yang harus ia bicarakan padaku? Lama aku terdiam mematung sembari memandangi sosoknya. Hingga saat ia menoleh, aku bisa menyadari sosoknya yang terkejut begitu pandangan kami saling bertemu. Tidak ada pilihan untuk mundur apalagi sebuah drama kabur-kaburan bodoh yang akan terjadi jika aku pergi. Jadi ... ku putuskan untuk melangkah. Ku biarkan kaki ini membawaku ke arahnya. Ke arah kamarku, juga ke arah pria dari masa lalu ini. "Shera ...!" panggilnya padaku, begitu aku sampai dan kini tepat berada di hadapanya. Jantung ini sama sekali nggak bisa diajak berkompromi. Dia berdetak tak beraturan, lebih cepat daripada saat aku jatuh cinta. Ternyata aku belum melupakannya. Tama masih memiliki pengaruh yang cukup besar untuk perasaanku. "Shera ... aku ...!" Tama mendekat ke arahku dengan tangan terbuka. Sementara aku mundur tak ingin memberinya kesempatan. "Sebaiknya, apa yang membuat kamu ada disini adalah hal penting Tam!" seruku dengan datar. Tama menatapku dengan lesu, sepasang matanya berkaca-kaca. Andai Axel tidak buru-buru pulang tadi, apa yang akan di lakukan pria itu jika melihat Tama ada disini? Apakah dia akan marah? Atas dasar apa dia marah, karena Tama yang datang dan kembali menggangguku, atau karena dia telah merebut pacarnya? "Nggak baik ngomongin ini di luar Sher!" "Memangnya sejak kapan lo punya hal baik buat diomongin?" "Benar sekali ... aku nggak memiliki kebaikan apapun. Dengan nggak tahu malunya aku malah datang kesini. Menemui kamu ... menemui orang yang justru paling sakit disini. Aku benar-benar bodoh karena berharap bisa bicara dengan kamu Sher. Walapun hanya sebentar." Ada yang bilang, laki laki selalu mengandalkan otak dan logika di dalam hidupnya. Sedangkan perempuan hanya bisa mengandalkan hati dan perasaan. Entah kenapa, melihatnya seperti ini, malah membuatku tak tega. Apa sebegitu menyedihkannya pernikahan dengan Mawar berduri itu, hingga ia masih sempat berkunjung ke tempat ini. Bukankah seharusnya Tama ini sibuk menyiapkan segala sesuatu menyangkut urusan pernikahannya. "Minggir ...!" perintahku pada Tama, sembari mencari sesuatu di dalam tas. Dan saat aku mendapatkan apa yang ku cari, Tama masih diam ditempat menatapku dengan penuh harap. Aku tidak tahu. Harapan macam apa yang ada di dalam otaknya. "Minggir gue bilang ..." ulangku. Barulah setelah itu, Tama bergeser. Aku membuka pintu dengan kunci yang baru saja ku dapatkan di dalam Tas kemudian masuk kedalam kamar kos. Melewati Tama yang tampak bingung akan sikapku. Mungkin dia bingung karena kali ini aku nggak ngamuk dan malah bersikap lebih santai dari sebelumnya. Kamarku berantakan banget. Tapi pagi, aku terburu-buru berangkat kuliah dengan Adrian, sampai tidak sempat merapikan tempat ini. "Bukannya tadi nggak mau ngomong diluar. Ngapain lo masih bengong!" protesku tanpa menoleh. Aku meletakan tas di atas meja, lalu mengambil air dari dispenser. Bertemu dengan Tama, sepertinya membuatku mulai kehausan. Saat aku berbalik, mantan pacarku itu sudah masuk dan masih tetap berdiri dengan canggung. Well ... hanya orang yang memiliki rasa bersalahlah yang akan merasa gugup saat berhadapan dengan korbannya. Aku tidak akan memulai obrolan lebih dulu. Membawanya masuk lagi untuk pertama kalinya ke dalam kamar ini, adalah sebuah pengorbanan yang besar. Pun, menahan tangis juga amarah yang ingin keluar ini, adalah sesuatu yang amat menyiksa. Tapi aku tidak ingin tampak lemah dihadapannya. Akan lebih baik, jika aku menonjolkan sisi dimana Shera baik-baik saja. Aku duduk di atas ranjang, dan Tama mengikuti jejaknya. Ia duduk di sampingku sembari mengepalkan kedua tangannya seperti tengah menahan sesuatu. Lucu sekali, aku tidak tampak seperti korban dan dia juga tidak nampak seperti pelaku untuk saat ini. "Shera ... aku minta maaf! Aku minta maaf untuk segalanya. Aku sudah mendapatkan hukuman yang pantas saat ini." Akhirnya aku berhasil tidak mengucapkan apapun hingga Tama yang memulainya terlebih dahulu. "Dimaafkan. Ada lagi?" "Aku nggak cinta sama Mawar. Kamu tahu betul itu. Sekarang dia benar-benar jadi cewek yang posesif. Permintaannya aneh-aneh dan menyulitkan. Aku nggak bisa bebas kemana-mana atau melakukan apapun. Kami sering kali bertengkar untuk hal-hal yang receh. Dan setiap kali begitu, Mawar akan menggunakan kehamilannya untuk mengancam, atau menekanku Sher. Aku sudah hampir gila. Kami belum menikah, tapi dia sudah bersikap seperti ini!" jelasnya. Tama mengacak rambutnya frustasi. Jujur saja, aku membencinya. Mendengarnya menceritakan hal ini membuatku semakin sakit dan benci. Atas dasar apa dia malah curhat padaku. Tapi bagaimanapun juga, aku kasihan padanya. Aku tidak menyangka, kalau dia akan sefrustasi ini. "Lo datang jauh-jauh cuma mau curhat kalau kehidupan lo, sama selingkuhan lo itu nggak bahagia?" Apa yang dia harapkan? Dengan curhat seperti ini, bukankah penilaianku terhadapnya akan semakin buruk. "Aku menyesal Sher. Aku nyesel karena hubungan kita malah jadi kaya gini. Dan itu semua karena kebodohanku." "Ya ... kalau kamu sadar, itu memang bagus. Tapi semua sudah terlambat," ucapku. Aku beranjak dari ranjang tempaku dan Tama duduk. Bermaksud untuk sedikit menjauh, karena berada terlalu dekat dengan pria ini, aku takut ingin membunuhnya. Tapi siapa sangka, dia malah menarik tanganku, membuat keseimbangan goyah, sehingga Brug ... aku jatuh terduduk tepat di atas paha sembari membelakangi Tama. Sebuah adegan tak asing yang biasa ku lihat di dalam komik. Tangannya bergerak melingkar diantara pinggang ini. Kemudian memeluknya dengan erat. "Tama ... lepas!" protesku. Ya ... tentu saja aku protes. Posisi ini sangatlah tidak nyaman, apalagi menguntungkan. Bisa-bisanya Tama mencuri kesempatan pada wanita lemah tak berdaya sepertiku. "Aku bukan mau mencuri kesempatan dari wanita lemah Sher. Aku hanya kebingungan. Semua jalan ku buntu dan pandanganku sekarang begitu gelap. Aku ketakutkan Sher!" Astaga, aku pasti mulai bicara tanpa sadar lagi barusan. Karena itu Tama mengetahui apa yang baru saja ku pikirkan. Aku tidak boleh berpikir macam-macam lagi, atau bisa-bisa mulutku ini akan berkata sembarangan lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN