Bab 19. Shera 11

1066 Kata
Shera Fuji Lesmana. "Shera tunggu dulu Sher ..." Rupanya Axel nggak menyerah. Saat aku berbalik dan mengacuhkannya, kupikir dia akan pergi. Biasalah, ku pikir tipe-tipe pria macam Axel ini, tidak akan tega menurunkan harga diri hanya demi diriku yang sejatinya orang asing. Tapi ternyata dia menyusul dan menahan lenganku. Aku memutar pandangan, begitu dia beralih berdiri di hadapanku. "Iam Sorry, Sher. Gue nggak maksud kaya gitu. Lo jangan salah paham. Tolonglah!" mohonnya. Tapi bagaimanapun juga aku masih kesal pada Axel. Aku tidak suka dengan pandangan orang yang menyamaratakan keburukan orang lain. Seolah dia juga sempurna. Apa aku berlebihan? Sepertinya tidak. Orang kaya, terkadang harus diberi sedikit pelajaran. Agar mereka tahu, kalau orang kaya, juga membutuhkan orang yang kurang kaya. "Pulanglah ... gue lagi males ribut," ujarku, tak acuh. Aku bermaksud untuk menerobos tubuhnya, dengan berjalan ke samping kiri. Tapi Axel mengikuti langkahku, kini ku coba lewat samping kanan namun agi-lagi Axel mengikuti dan menghalangi jalanku. Dia benar-benar membuang waktu. Tidak tahukah dia, kalau waktu bagi orang-orang sepertiku ini sangatlah berharga? "Lo maunya apa sih Xel. Gue ingetin sama lo ya. Cewek yang tinggal disini itu ganas-ganas. Kalau gue kasih tahu ke mereka, lo udah ngehina tempat ini barusan ..." Aku mengangkat tangan dan mengarahkannya pada leherku sendiri, menirukan gaya orang yang sedang memegang pisau dan ... "Kkkrrreetttt ... abis lo," ancamku. "Oke, oke. Gue salah, Sher. Maafin gue. Gue cuma asal ngomong aja tadi. Maaf kalau semua itu membuat lo tersinggung. Tapi gue nggak ada maksud apa-apa." Aku melirik pada sepasang matanya yang sipit dan sayu. Terlihat ada sebuah ketulusan di dalam tatapannya. Sial banget! Kenapa aku harus selalu berurusan dengan pria-pria bermata sayu yang dengan mudah bisa membuat luluh hati seseorang. Ini sangat berbahaya. Hati Adek nggak sekuat itu, Bang. "Please ... iam sorry for all. Ya ...!" bujuknya lagi. Aku menarik nafas panjang dengan terpaksa. Ah ... sudahlah. Jika dia terus berlama-lama ada disini. Kapan aku bisa istirahat. Bisa-bisa aku ketiduran dan bablas hingga besok pagi. "Iya, iya. Udeh deh sono, buruan pulang!" perintahku. Lama-lama kesal juga. "Bener? Lo udah nggak marah lagi sama gue?" "Lo mau pulang atau bikin gue berubah pikiran lagi?" Axel mengangkat tangannya, jari-jarinya terbuka dan membentuk huruf V. Ia kemudian tersenyum, memamerkan deretan gigi putih yang konyol dan bener-bener minta ditampol. "Iya deh. Gue balik sekarang. Kalau gitu ..." Cup ... Tepat disaat aku tidak memperhatikannya, sebuah kecupan berhasil mendarat di pipiku. Iya dipipi ...! "Axxxxelllll ..." Aku berteriak memanggil namanya dengan geram, karena pria itu sudah lebih dulu berlari, kembali menuju motornya sembari tertawa. Aku mengepalkan tangan, menggerutu serta melompat-lompat tak jelas. Tak ku sangka, kalau aku akan kecolongan. Axel sudah menggunakan helm dan menyalakan motor. Tangan pria itu melambai ke arahku seraya berteriak ... "Makasih ya Sher!" Pria itu kemudian pergi begitu saja. Melajukan motornya, tanpa perduli dengan perasaanku yang kalang kabut. Untunglah, dia hanya mencium pipi. Kecolongan pipi saja masih ku bilang untung. Ya ... karena untung saja dia tidak mencium di tempat lain. Pada bibir misalnya. Ah ... tidak. Mau ku letakan dimana harga diri ini, jika dia berhasil mencium bibirku di pertemuan kedua kami. Untunglah, pokoknya aku masih beruntung. "Cie cie ... ada yang habis dianterin sama pacar baru nih." Suara dari seorang wanita yang baru saja menepuk pundakku sembari berbisik, terdengar amat tidak asing. Haaahh ... siapa lagi memangnya yang berani menegurku terang-terangan kalau bukan ... "Mbak Win, jangan suka bikin gosip ah." Mbak Wina adalah salah satu penghuni kos yang memang lebih sering berinteraksi denganku. Bisa dibilang, mungkin paling akrab. Alasannya sih klasik. Kami sama-sama perantau. Dan Mbak Wina ini sering buka praktek sendiri di kamarnya. Jadi ... dia memang lebih sering ada disini. Maksud dari Praktek di tempat ini adalah ... ehm sudahlah. Harusnya kita sudah tahu, tanpa perlu dijelaskan. "Kalau nggak salah, dia cowok yang malem itu nganterin kamu pulang kan? Wah ada kemajuan. Udah berani cium-cium pipi. Besok-besok berani cium apalagi nih?"celetuk Mbak Wina. "Cium ketek kayanya," jawabku asal. Aku dan Mbak Wina tertawa kecil. Ahh iya, aku jadi teringat pada dua nasi pecel ayam yang dibungkus oleh Axel. Sepertinya aku masih kenyang. Dan nanti malam, aku pasti akan makan di Hotel bersama yang lain. Jadi lebih baik ku berikan saja pada Mbak Wina ya. "Eh ... Mbak Wina udah makan belom?" tanyaku. "Perhatian banget nanyain makan segala. Kalau belom emangnya mau ngasih?" ejek Mbak Wina. Wah .... belum tahu dia. Kalau Shera itu anak ajaib. Mana berani aku menawarkan sesuatu dengan tangan kosong. Aku mengangkat kantong kresek yang sejak tadi ku bawa, tepat didepan wajahnya. Lalu dengan secepat kilat, Mbak Wina menyambar bungkusan itu. Ck ... emang gerak cepat banget cewek satu ini. "Wahh ... apaan nih Sher?" "Pecel ayam, plus nasinya juga. Shera mau kerja entar malem, Mbak. Nggak bakal kemakan. Soalnya ntar di Hotel juga dapet jatah makan," jelasku panjang lebar. "Aduh ... udah jadi kaya tempat sampah nih gue. Tapi nggak apa-apa. Mbak juga lagi males keluar nih buat cari makan. Makasih ya." Aku mengangguk. Senang rasanya bisa berbagi. Meski yang ku bagi itu makanan gratis juga. Untung Mbak Wina tidak menanyakan asal-usulnya. Masalahnya, Mbak Wina ini kan suka kepo. Berawal dari satu pertanyaan, bisa bercabang menuju pertanyaan lain lagi. "Ya udah kamu buruan ke kamar gih. Kasian itu orang udah nungguin dari tadi!" Aku mengernyit heran pada Mbak Wina. Siapa yang dia kasihani dan sedang menunggu itu. Bukankah, Axel sudah pulang dari tadi? "Maksud Mbak Wina ini siapa ya?" "Haduh ... itu loh. Cowok kamu, yang sering banget maen kesini. Tadi Mbak mau bilang tuh nggak enak sama pacar baru kamu itu." Dijelaskan bagaimanapun, Mbak Wina sepertinya akan tetap berasumsi kalau Axel itu adalah pacar baruku. Tapi masa bodohlah. Yang sekarang jadi pertanyaanku adalah, siapa laki-laki yang sedang menungguku. "Siapa sih, Mbak? Adrian?" "Ehhh bukan. Kalau si Rian mah, Mbak juga kenal. Itu cowok kamu. Aduhh ... emang kamu suka bawa siapa sih kesini. Kaya punya banyak cowok aja deh." Ada terselip nada sindiran di dalamnya. Baiklah, aku memang tidak punya kenalan lelaki lain yang berkewajiban dibawa kesini. Sebentar ... jika bukan Adrian. Satu-satunya laki-laki yang sering maen kesini ya cuma ... "Ya udah, Mbak. Shera ke kamar dulu!" Tanpa menunggu tanggapan aku buru-buru berlari menuju kamar kost ku. Langkahku terhenti begitu mendapati sosok pria yang ada di dalam pikiranku ternyata benar-benar ada disana. Dari kejauhanpun aku sudah bisa menebak, penghilatanku juga masih jeli. Pria dari masa laluku itu ... untuk apa muncul lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN