Bab 30. Adrian 14

1511 Kata
Adrian Maulana Ricky memang orang yang paling bersemangat dalam perihal gosip dan keributan. Tak heran, jika pria itu akhirnya tergesa-gesa menghampiri kerumunan itu tanpa melibatkan aku dan Tio. Dia seolah menemukan dunianya sendiri. "Ayo lah kita kesana juga, jangan sampe si Ricky bikin masalah atas nama kita," ujar Tio seraya beranjak dari kursi. Ya ... benar juga, aku dan Tio tidak bisa membiarkan Ricky terlibat dalam masalah. Bagaimanapun juga, aku dan Tio harus mengakui kalau diantara kami bertiga, Ricky bisa dikatakan adalah orang yang paling bodoh dan juga ceroboh. Mau tidak mau, aku harus mengikutinya juga. Namun, alangkah terkejutnya aku begitu sampai ditempat yang dimaksud, pemandangan yang amat luar biasa kini terpampang dengan nyata di hadapanku. "Ayo Sher ... Terus Sher. Jangan kasih ampun. Ayo semuanya kasih semangat. Shera ... Shera ... Shera." Ini benar-benar gila. Shera kini sedang berkelahi dengan seorang gadis yang amat sangat ku kenal. Bukan berkelahi dengan adu jotos atau saling tonjok. Tapi mereka kini saling menjambak rambut, menarik satu sama lain. Gaya khas cewek yang ribut, rata-rata memang seperti itu, kan? Incarannya kalau bukan wajah, pasti rambut. Dan bisa-bisanya Ricky malah memberikan semangat atas kebrutalan mereka. Pantas saja dia begitu bersemangat. Dan kerumunan ini, tentu saja bukan untuk membahas demo seperti apa yang dikatakannya tadi. Memang kurang ajar kawanku yang satu ini. "Woi ... woi udah woi ... Tio, buruan pisahin itu. Anjir lo malah diem aja!" sentakku sembari meminta bantuan pada Tio. Karena jika pada Ricky, sepertinya bukan ide yang bagus. Sudah cukup Ricky saja yang kurang pintar. Tio jangan sampai ikut-ikutan. Aku dan Tio akhirnya turun tangan melerai perkelahian yang entah apa motifnya ini. Di sisi kiri, Tio memegangi Shera dan di sisi kanan, aku memegangi mantan pacar yang baru saja kuputuskan kemarin, alias Nadia. "Lepasin gue ... Biar gue kasih pelajaran tuh orang gila!" tampak Tio sedang berusaha memegangi Shera yang tidak ingin dilerai. "Aduhh, Shera ... Udah donk udah!" samar-samar, aku bisa mendengar Tio yang sedang berusaha menenangkan Shera. "Lo tuh ... Dasar cewek munafik, udik, kampungan. Bilangnya cuma temen, tapi diembat juga, lepasin aku, Yan. Lepasin!" Astaga ...! Dari sekian banyak kejadian Shera berkelahi dengan mantan pacarku. Ini adalah yang paling parah dan paling banyak mengundang perhatian. Pasti bakal jadi trending topik kampus nih. "Kalian semua bubar! Apa yang perlu di tonton? Bubar semua, ini bukan urusan kalian. Bubar, bubar, bbbuuubbaarrr!" teriakku dengan kesal. Sembari bersorak, mereka semua bubar. Menyisakan aku, Tio, Shera, Nadia dan kedua kawannya. Oh ... Dan jangan lupakan Ricky yang raut wajahnya kecewa karena perkelahian ini telah bubar. "Kalian berdua, mau ribut terus atau gue aduin ke Dewan Kampus!" ancamku. Seharusnya Shera paling takut kalau menghadapi hal-hal berbau peraturan kampus. Kalau Nadia, aku tidak tahu, apakah dia masih nekat. "Ayo pilih sekarang!" tambahku sambil berteriak lagi l. Amukan Shera dan Nadia berangsur-angsur melemah. Aku dan Tio melepaskan masing-masing gadis yang kami pegang. Nadia kemudian bergegas mengapit lenganku. Tangannya lalu menunjuk ke arah Shera dengan cepat. Agaknya ia terlalu tergesa-gesa. Mungkin takut Shera akan bicara yang iya iya soalnya. "Dia ... Dia yang mulai duluan. Dia yang cari gara-gara! Dia, Yan. Shera yang duluan bikin masalah!" "Iya ... Emang gue yang cari masalah. Apa lo ...?" "Apa lo!" "Apaan lo!" "Udah cukup. Lo berdua nggak malu apa, ribut diliatin sama satu kampus! Jangan kekanak kanakan gitu lah!" sentaknya. Bukan aku! Yang baru saja menyentak itu Tio. Aku belum kebagian peran untuk bicara. "Hisshh ... Ngapain sih kalian pisahin mereka, lagi seru padahal," ujar Ricky dengan nada kecewa. Benar-benar no komen untuk kawanku yang satu ini. Temennya pada ribut bukanya dipisahin malah di dukung. "Please deh Rick. Lo sama sekali nggak ngebantu. Dan kalian berdua, temen kalian bikin keributan dan kalian diem aja?" Kini giliranku yang menunjuk ke arah dua kawan dari Nadia yang sala satunya adalah Vina. Mereka berdua tidak ada yang berani menjawab dan malah menundukan kepala. "Ada apa sebenernya sih Sher?" tanya Tio pada Shera. "Ada apa? Kalian tolong bisa tanya aja sama orang gila itu. Gue masih banyak urusan. Gue udah muak kaya gini terus. Ini terakhir kalinya gue harus berurusan sama cewek-cewek yang ada hubungannya sama lo. Gue ccaappekk!" Shera berteriak dan tampak sangat kesal. Ia berbalik, pergi setelah menerobos, dan menabbrak bahu Tio yang ada di belakangnya. "Sher ... Shera tunggu Sher!" Aku ingin mengejar Shera. Tapi Nadia yang mengapit lengan ini, telah membatasi ruang gerakku. Ini salah! Ricky dan Tio mengerdikan bahu sembari menggelengkan kepala mereka. Aku mengerti. Ini masalahku, meski Tio dan Ricky adalah sahabatku. Mereka juga tidak bisa terlalu kut campur. Apalagi, ini adalah masalah pribadi. "Lo berdua mending beresin urusan dulu. Biar gue kejar Shera ...! tanpa menunggu persetujuan, Tio berbalik menyusul Shera. Aku benar-benar kesal dan sedih. Karena bukannya aku yang mengejar gadis itu. Tapi Tio benar, setidaknya aku harus membereskan dulu masalah dengan Nadia. Tidak kusangka, pacar paling lembut. Oke ralat ... Mantan pacar yang paling lembut dan baik, ternyata memiliki sifat yang tidak mudah di tebak. Penampilan, memang benar-benar bisa menipu. "Kita harus ngomong. Sekarang!" Aku menarik lengan Shera untuk menjauh. Terutama dari kedua temannya. Aku yakin, mereka juga berniat untuk membantu Nadia dalam memberi pelajaran. Kawan sejati yang indah. So ... Apapun yang akan kukatan, kedua orang itu pasti akan membela Nadia nantinya. "Aww ... Pelan-pelan sakit donk, Yan," keluh Nadia. Aku memang berjalan cepat sembari menarik tangannya. Tak peduli dengan ringisan yang keluar dari mulutnya, aku terus berjalan sampai berada dalam jarak yang tidak bisa dipandang oleh kedua kawannya tadi. Barulah setelah itu, aku melepaskan tangannya. "Kamu kasar banget sih Yan. Sakit tahu," ucapnya dengan manja. Ohhh ayolah. Aku bahkan nggak tertarik sama sekali denga segala keluhannya. Yang mau saat ini hanyalah ... "Kamu jauhin Shera. Dan jangan cari masalah sama dia!" tegasku. "Atas dasar apa kamu larang-larang aku. Dia yang udah bikin hubungan kita renggang, Yan. Apa kamu nggak sadar, semuanya tuh baik-baik aja sebelum ..." "Sebelum aku jadian sama kamu!" selahku. "Aku udah bilang. Itu aturan mainnya. Kamu jadi pacarku, maka kamu juga harus terima Shera. Tapi kamu nggak bisa!" tambahku lagi. Aku menatap sepasang matanya yang berkaca-kaca. Hadeehh kenapa sih cewek selalu punya jurus ini agar kami para kaum cowok jadi merasa bersalah dan kasihan. "Kamu seriusan ngomong kaya gitu, Yan?" tanyanya. Aku mengangguk. Dalam kasus seperti ini, segala seuatunya harus jelas Bagaimanapun juga, aku tidak bisa memberi harapan berlebih. Lebih baik aku tampak jahat saat ini kan? Baiklah-baiklah ... Aku memang jahat. "Aku nyesel, Yan. Aku nggak bermaksud kaya gini ... Aku ... Aku cuma cemburu, Yan. Kamu pacarku, tapi kamu lebih peduli sama Shera." Aku tidak suka mengulang bahasan, tapi keadaan memaksaku untuk kembali memberikan pengertian. Sejujurnya ini sangat memakan waktu. Aku ingin sekali buru-buru menemui Shera. Gadis jelek itu pasti sedang marah-marah sendiri karena aku tidak sempat membelanya secara langsung tadi. "Kita balikan ya ... Maafin aku. Atau kalau perlu, aku akan minta maaf sama Shera. Demi kamu, Yan. Ya ... Aku nggak bisa putus sama kamu, Yan. Tolong." Ah ... Sial! Sekarang Nadia mengeluarkan jurus tangisan buaya yang lebih mujarab dari buaya darat. Tapi hal ini bukannya justru menggoyahkan keputusanku. Aku merasa ini adalah keputusan yang tepat. Nadia harus bersanding dengan pria yang juga mau berkorban dengannya, yang mencintainya dengan tulus. Bukan sepertiku. Lagipula ... Pantang bagi seorang Adrian, untuk meminta rujuk kembali pada mantan pacar. Aku meraih tubuhnya yang lunglai, lalu membawanya dalam dekapanku. Ini yang terakhir kalinya. Aku berjanji, ini yang terakhir kalinya, aku mempermainkan hati seorang perempuan. Aku tidak bisa membuat Nadia berlarut-larut menaruh harapan. "Kamu cewek yang baik Nad. Dan cantik juga. Semua orang di kampus tahu, kalau kamu itu populer. Dan siapapun yang akan dapetin kamu adalah orang yang beruntung. Aku pernah menjadi salah satu orang yang beruntung itu," jelasku. Kemudian melepaskan tubuhnya dari pelukanku. Dia menatapku lekat-lekat. Aku berusaha mencari sesuatu dalam dirinya, yang mungkin saja, bisa membuatku berubah pikiran. Tapi ternyata tidak. Dari awal, tidak ada getaran apapun yang membuat aku dan Nadia bisa kembali bersatu. "Lalu kenapa, kamu putusin aku?" suaranya mulai melemah. "Please ... Kamu tahu alasannya. Jangan tanya itu lagi. Pokoknya aku mohon sama kayu. Ke depannya, jadilah cewek yang bahagia tanpa aku. Da jangan ganggu Shera lagi. Dia nggak salah apapun. Tolong maafin aku ya," jawabku dengan tegas. Ku harap dia mengerti. Ku harap Nadia tidak memperkeruh suasana. Tak kusangka wajah lesu dan kecewanya perlahan berubah menjadi senyum. Aku tidak tahu alasannya. Ini masih tampak seperti pemaksaan, tapi mungkin Nadia juga mulai lelah. "Kamu masih tetap bela dia. Melindungi dia di saat-saat terakhir. Udahlah ... Aku nggak peduli lagi. Setelah ini ... Anggaplah kita nggak punya hubungan apapun. Jangan pernah sapa aku. Dan aku juga nggak akan pernah nyapa kamu. Meskipun kita nggak sengaja berpapasan. Tolong buat semuanya jadi mudah, dengan cara pura-pura nggak kenal sama aku. Karena kamu, nggak akan tahu bagaimana rasanya jadi aku, yang masih cinta!" Aku tidak menahan Nadia saat ia pergi dan kembali berucap. Toh memang ini yang terbaik. Tidak setiap perpisahan harus selalu diakhiri dengan air mata. Aku juga berharap agar Nadia bisa lebih baik tanpaku. Sepertinya, aku harus mulai berhenti berbuat onar. Dan sekarang ... Aku harus mencari Shera.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN