Adrian Maulana
Setelah memarkirkan motor, aku bergegas menyusul Tio dan Ricky yang agaknya berjalan ke arah kantin. Ah ... sial. Ini pertama kalinya aku datang ke kampus dalam keadaan yang nggak banget. Baju yang acak-acakan, rambut yang semerawut, juga tubuh yang lengket karena nggak sempat mandi.
Sebenarnya bukan tak sempat mandi. Awalnya aku tidak memiliki rencana untuk berlama-lama di kampus. Jadi aku berniat akan mandi di tempat ku sendiri, setelah mengantarkan Shera. Tapi rupanya takdir berkata lain. Meskipun begitu, aku masih yakin kalau pesona aura Adrian tidak akan hilang. Atau mungkin malah semakin terpancar, karena dinovel-novel yang pernah k*****a, pria ganteng biasanya akan semakin ganteng saat baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan.
Jangan bertanya kenapa pria sepertiku malah membaca Novel berisikan pria ganteng. Semua itu milik Shera. Saat bosan dan berada di kamarnya, kadang aku membaca beberapa buku novel milik Shera yang membosankan. Bisa dibilang, mungkin benda itu juga yang dijadikan acuan bagi Shera untuk memilih pasangan hidup yang seperti Tama misalnya. Aku mengakui, Tama adalah tipikal pria romantis seperti yang ada di dalam bacaan milik Shera. Tapi bagaimanapun juga, setiap manusia pasti memiliki celah.
Dari kejauhan aku bisa melihat Tio dan Ricky yang berada di kantin. Aku bergegas menyusul kedua kawanku itu. Tampak Ricky sedang mengoceh sementara Tio hanya dia dengan wajah tak acuh. Mungkin jalan ceritanya begini ... Tio marah-marah dan kesal lalu Ricky mengikuti sampai ke kantin dan membujuk agar Tio memaafkannya. Tunggu ... ke arah mana pikiran ini terbentuk. Astaga ... kenapa aku jadi geli sendiri.
"Udah gue bilang. Mendingan kita bubarin aja band ini. Kita emang nggak serius sejak awal. Oke ralat. Kalian yang nggak serius sama semua ini."
Wajahnya memang datar, ia tidak nampak sedang emosi. Tapi jelas di dalam hatinya,ia sedang merasa kesal. Aku tidak menyalahkan Tio. Bagaimanapun juga, jika aku menjadi dia, pasti akan kesal juga karena menunggu kami yang tidak memberikan kabar apapun.
"Janganlah ... Lu baperan amat sih. Lagian kita udah nggak mungkin mundur. Semua orang tahu kalau kita bakal tampil di acara kampus nanti. Ayolah maafin gue sama Rian ya," Ricky masih berusaha memohon. Dan Tio masih juga bersikap tak acuh. Ahh ... ini menyebalkan. Kini, aku juga harus ikut memohon padanya.
"Oke bubarin aja kalau gitu!" jawabku dengan santai, sembari bersidekap, melipat tangan di depan d**a.
Tio dan Ricky sontak melotot ke arahku.
"Apa!" jawab mereka bersamaan dengan ekspresi terkejut pula. Loh, kenapa saat aku yang mengatakan akan membubarkan band ini, mereka seperti tidak terima. Dan Tio juga, bukannya dari tadi dia yang bersikeras ingin membubarkan band ini?
"Kenapa pada kaget gitu. Dan Lo Tio?" ujarku sambil menunjuk ke arah Tio.
"Bukannya lo yang tadi ngebet banget pengen bubarin ini band. Sekarang gue bantuin nih, biar cepet kelar. Kalian nggak usah repot-repot, nanti gue yang bakal bilang sama panitia kampus, band kita nggak jadi manggung," jelasku panjang lebar.
Kami bertiga jadi seperti pejabat kampus yang sedang rapat paripurna. Aku, Tio dan Ricky, duduk mengelilingi meja bundar.
"Lo nggak bisa kaya gini donk, Yan. Kenapa malah jadi sebelas dua belas sama si Tio," protes Ricky.
Aku menghela nafas panjang, lalu beralih menatap pada Tio. Pria itupun terdiam. Sudah kuduga, dia juga pasti tidak rela kalau band yang kami bentuk dengan susah payah ini, bubar begitu saja. Dia hanya perlu menunjukkan pada kami, bahwa dia ini kesal. Dia ingin membuat aku dan Ricky merasa bersalah lalu memohon padanya.
"Tio ... Lo nggak mau ngomong sesuatu? atau lo setuju, Band kita bubar?" tanyaku mendesak.
"Ya nggak lah, gimana sih. Oke-oke, ini semua karena kalian nggak konsisten. Please lah, kita susah payah buat ikut audisi, dan sekarang kalian malah bikin seolah ini tuh cuma main-main. Padahal baru langkah awal. Terus gimana dengan kedepannya nanti?" ujarnya.
"Sorry lah, Ti. Gue sama Ricky beneran nggak ada maksud buat mangkir dari latihan. Ya kita emang salah. Gue akui itu, Lo juga kan, Ki?" aku melirik pada Ricky. Si kampret itu mengiyakan penuturanku dengan beberapa kali menganggukan kepala.
"Jadi gimana? masih mau lanjut kah?" tanyaku memastikan.
"Ya masih lah anjir. Gila aja kalau sampe bubar. Kesempatan gue buat tebar pesona bisa hilang. Gimana kalau kita latihan, abis ngampus nanti," usul Ricky.
"Gue sih oke. Asal nggak bikin gue jadi penunggu studio lagi aja, balas Tio.
"Nah bagus. Gini donk. Jangan bikin drama. Gue yakin nih, kita bertiga bakal bikin geger seluruh kampus. Semua junior, bakal mengenal kita. Ricky, Tio dan Adrian, sebagai angkatan paling kece sepanjang sejarah."
Tingkat kepercayaan diri milik Ricky, ternyata sudah memasuki level yang mengerikan. Tapi syukurlah, ternyata ini lebih mudah dari perkiraan.
"Kalau gitu, gue balik dulu lah. Hari ini nggak ada kelas juga sih. Lengket banget badan gue, nggak sempat mandi di kosant Sher," jelasku.
"Lu tidur di kamar Shera tadi malem?" Ricky bertanya seolah ini adalah hal yang aneh. Ayolah, mereka tahu benar kalau aku sering sekali tidur dan menginap di kamar Shera. Tapi kenapa kali ini sepertinya agak berbeda.
"Iya ... emang kenapa? kok kaya kaget gitu. Bukannya lo semua juga tahu. Gue emang sering tidur di kamar dia?" tanyaku agak heran.
"Sekarang beda, Yan. Si Shera kan jomblo. Dia lagi patah hati. Orang kalau lagi patah hati biasanya kan gampang tergoda. Ia nggak Ti?" Ricky meminta pembenaran atas asumsinya. Biasanya Tio akan membantah tapi kali ini ...
"Bener juga sih. Jadi ... Lo sama Shera udah ngapain aja?" Wajah Tio ini memang datar, tapi saat bertanya, malah bikin orang emosi.
"Gue nggak pernah dan nggak akan pernah ngapa-ngapain sama Shera. Ini kalian kenapa malah jadi kepo banget sama hidup gue dan Shera? Nggak ada bedanya, antara dia masih jomblo atau nggak. Tetap sama, gue udah anggap Shera itu kaya Ade gue sendiri."
"Betul ... Ade ketemu gede, iya kan Tio?"
"Yoi," balas Tio membenarkan Ricky.
Semakin aku mengelak, maka Ricky dan Tio akan semakin menjadikanku bulan-bulanan mereka. Ah ... aku memalingkan pandangan ke arah lain.
Ehm ... ada yang aneh. Sepertinya, anak-anak kampus sedang berkerumun. Mengelilingi sesuatu disudut yang tak jauh dari tempatku berkumpul. Ada apa ya?
"Eh ... eh. Kalian liat disana? Itu anak-anak pada kumpul, nontonin apa sih?"
"Wah ... jangan-jangan mau pada demo," celetuk Ricky.
"Jangan suka ngadi-ngadi ah. Bikin gosip mulu hidup lu?" protes Tio.
"Eh ... ini seriusan. Kemaren gue denger issue soal ini. Ayo buruan kita samperin kesana."