Adrian Maulana
"Lama banget sih, Sher. Buruan lah ... hooammm!" perintahku pada Shera sembari kembali menguap. Sejujurnya, mataku ini masih lengket. Aku juga masih ngantuk. Semalam, kualitas tidurku terganggu. Jika bukan karena pagi ini Shera ada kelas, aku pasti akan memilih untuk tetap terpejam.
Sembari memainkan game online di ponsel, aku menunggu Shera yang masih berada di dalam kamar mandi. Aku tidak ada kelas hari ini. Tapi entah kenapa firasat buruk mengatakan, kalau hari ini aku harus mengikuti Shera ke kampus.
"Bawel banget sih. Ini gue udah beres kok!" keluhnya begitu pertama kali membuka pintu. Aku masih tetap fokus pada ponsel. Karena yang dia bilang beres itu, belum termasuk menyiapkan buku dan lain-lain.
"Kamu itu kalau numpang di rumah orang, mustinya tahu diri. Beresin kasur kek," sindirnya.
"Cih ... emang yang tidur di kasur siapa? nggak inget apa? tidurmu yang udah kaya orang mati itu nggak ngasih aku peluang buat sekedar ikut nyelip disana?" balasku balik.
Aku melirik, kemudian mendapati Shera yang memasang wajah cemberut. Baiklah, aku sudah cukup baik dengan mengalah dan membiarkan tulangku remuk karena berusaha tidur sambil duduk di kursi yang nggak ada empuk-empuknya sama sekali. Jadi ... jangan sampai perihal melipat selimutpun akan jadi masalah.
Setelah beberapa saat, aku mematikan ponsel. Shera juga sepertinya telah siap untuk pergi. Tapi keningku mendadak berkerut, begitu Shera berbalik setelah menenteng tas punggungnya.
"Aku udah siap, ayo berangkat," ajaknya.
"Eh tunggu dulu," ujarku seraya menahan tangannya, yang baru saja hendak keluar.
"Kamu ngapain pake kacamata item segede jengkol kaya gini?" tanyaku agak heran. Ini aneh, karena biasanya dia akan protes saat aku menggenakan benda tersebut. Katanya, aku ini seperti tukang pijat. Tapi sekarang, malah dia sendiri yang menggunakannya.
"Dan ini ...?" Aku memandangi Shera dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Celana jeans hitam, kaos hitam, jaket jeans hitam. Ya ampun, kehidupan Shera bener-bener suram.
"Lo yakin mau ke kampus? bukan mau ke pemakaman?"
"Ihhh rese lo. Cek .... lagian udah berapa hari ini, tiap ke kampus mata gue selalu bengkak. Masa hari ini masih harus bengkak lagi. Kesannya tuh, kaya gue orang yang nggak pernah bahagia tahu nggak. Meeewekkk terus," gerutunya.
"Ya, nggak salah. Kamu kan kerjanya emang mewek terus," balasku lagi. Bibirnya yang sudah maju itu, kini semakin mengerucut. Membuatku gemas untuk ... untuk apa ya?
"Ya udah buruan kita berangkat. Terserahlah, kamu mau pake apa. Aku pengen cepet-cepet pulang. Masih ngantuk banget," tambahku lagi.
"Oke. Kamu duluan, aku ngunci pintu dulu," perintahnya. Aku menurut saja, kemudian mendahului Shera menuju parkiran motor. Sunyi sekali. Hampir seluruh pintu, tertutup rapat di jam-jam segini. Sepertinya, mereka semua masih lelah, karena melakukan olahraga malam.
Sebelum ke kampus, aku dan Shera sempat mampir disalah satu warung nasi uduk pinggir jalan. Shera belum sarapan, dia perlu tenaga yang banyak untuk menghadapi kenyataan hidup. Selesai sarapan, barulah kami menuju kampus.
Aku hanya mengantarkan Shera sampai ke depan pintu gerbang. Karena setelahnya, aku juga harus melanjutkan, tidurku yang sangat tidak nyaman tadi malam. Seperti biasa, helm buluk yang dikenakan oleh Shera, membuatku harus mematikan mesin motor terlebih dahulu, untuk membantunya membuka benda itu.
"Hheeuuhh nyusahin banget sih Lo. Suruh ganti helm doank aja ngeyel. Masa gue harus bukain helm tiap hari," gerutu ku.
"Kalau nggak ikhlas ya gampang, nggak usah bantuin," jawabnya dengan santai. Setelah mengerahkan sedikit perjuangan, akhirnya aku berhasil membuka helm milik Shera. Sepertinya, satu-satunya cara agar dia mau mengganti helm ini adalah, dengan membuangnya. Ingatkan aku, agar melemparkan benda ini saat melewati jembatan nantinya.
"Nanti kalau udah pulang, jangan lupa WA aku. Biar ku jemput. Sekarang aku mau balik dulu. Ngantuk banget!"
Shera mengangguk, kemudian menggunakan kaca mata hitamnya. Berjalan dengan pede melewati gerbang kampus. Memang kadang-kadang dia ini ajaib. Baiklah, aku harus cepat cepat pulang, sebelum cuaca jad panas, dan jalanan lebih macet.
"Woy ... kampret!"
Ada suara tak asing yang tertangkap oleh pendengaranku. Tapi pada siapa panggilan itu tertuju. Tepat disaat aku ingin menoleh, kepala ini sudah lebih dulu menerima sebuah toyoran mendadak.
"Heehhh, apa-apaan ... sih?" ucapku dengan kesal saat belum menyadari kalau yang saat ini ada di hadapanku adalah.
"Eheh ... Rick, Tio. Kenapa muka lu pada. Kayanya lagi kesel?" tanyaku dengan santai. Yang sebenarnya adalah, berpura-pura santai. Karena ternyata, aku baru saja ingat dengan satu kesalahan yang pastinya membuat mereka kesal. Kedua kawanku itu terlihat jelas ingin menelanku hidup-hidup.
"Lo bisa ya masih santai. Emang dasar temen nggak ada akhlaknya ni anak!" sentak Ricky.
Aku turun dari motor dan tak jadi untuk buru-buru pulang. Wajahku memelas dengan pandangan yang super memohon.
"Aduh ... Rick, Tio. Sorry gue minta maaf. Gue beneran ada urgent banget semalem, jadi nggak bisa ikut latihan. Ya ... jujur gue juga lupa ngasih tahu kalian," kilahku.
Aku memang benar-benar lupa dengan janji kami untuk latihan. Karena hal itu bertepatan dengan kepanikan ku yang mendapati Shera sedang menangis. Selain memang lupa, aku juga tidak bisa memasukan Shera dalam daftar pilihan, karena dia sudah pasti akan selalu menjadi pilihan pertama.
"Arrkhhh .... emang dasar bangke lu. Heeehhh gue hajar juga ni anak!" sergah Ricky.
"Lu nggak malu ngomong kaya gitu? Udahlah kalian berdua itu sama. Nggak ada serius buat band kita. Atau mendingan kita bubarin aja deh sekalian. Daripada cuma bikin emosi terus," tegas Tio panjang lebar.
"Tunggu dulu. Ini emangnya si Ricky kenapa?" tanyaku heran. Di saat seperti ini, kenapa Tio juga menyalahkan Ricky.
"Lo sama Ricky tuh nggak ada yang dateng ke studio. Gue nunggu kalian sendirian. Sengaja kalian nggak gue ingetin! Nggak gue telpon. Kirain bakal sadar diri, ternyata malah makin parah. Udahlah gue mau ke kelas!" tukas Tio sembari berlalu meninggalkan ku dan Ricky. Dan kini giliran ku yang menoyor kepala pria itu. Sialan!
"Sialan lu, lempar batu sembunyi tangan. Lu juga salah ternyata ...!"
"He he he, ya Sorry. Tadinya gue cuma pengen supaya si Tio nih nggak marah-marah amat. Eh malah kaya gitu. Ya udah gue susul si Tio dulu. Lo mendingan parkirin dulu dah ni motor. Terus susul gue sama Tio. oke!"
Belum selesai aku melampiaskan emosi, si kampret satu itu malah pergi. Rencanaku untuk pulang gagal sudah. Aku tidak bisa kehilangan impian dan Band yang sudah ku bentuk dengan susah payah ini. Karena itu, dengan tergesa-gesa aku memasuki area parkir. Sepertinya aku akan menunggu sampai Shera pulang dikampus.