Bab 27. Adrian 11

1075 Kata
Adrian Maulana Kesadaran membawaku untuk terbangun dari tidur yang lelap atau lebih tepatnya, ada sebuah panggilan alam yang membuatku terpaksa bangun. Padahal sepasang mata ini masih begitu lengket untuk sekedar terbuka. Tapi daripada aku ngompol di tempat tidur ini, lebih baik aku melawan rasa malas dan segera beranjak menuju kamar mandi. Di sampingku ada Shera yang tidur dengan pulas. Wajahnya tampak lelah. Jangan-jangan dia mimpi buruk. Kasihan ... seharian ini bermain hati dengan Tama, pastilah sudah berhasil menguras emosi dan tenaganya. Yang kutahu, kita tidak bisa meremehkan yang namanya sakit hati. Kadang rasa sakit hati bahkan bisa mengalahkan sakit fisik. Perlahan-lahan aku bangkit dari tempat tidur, lalu melewati Shera. Setelah selesai menunaikan kewajiban, rasa kantuk yang tadinya amat mendera kini tak lagi muncul. Mataku justru terasa amat segar. Ah .... kalau begini, aku harus menjauh dari Shera. Bukan apa-apa. Masalahnya, tingkat kewaspadaan anak itu sangatlah lemah. Aku takut lupa diri dan malah berpikiran kotor, apalagi mengingat sesuatu yang hampir saja menyembul keluar, sempat ku lihat juga. Ah ... ini tidak benar. Sebaiknya aku keluar, hingga rasa kantukku kembali muncul. Setelah mengambil sebungkus rokok dan korek apik, aku keluar dari kamar Shera. Memang ya, kehidupan di kampung dan di kota itu benar-benar berbeda. Kebetulan aku dan Shera tinggal di perkampungan yang memang agak jauh dari peradaban. Maksudnya, akses untuk menuju pasar, atau jalan utama memang agak jauh. Dan di malam hari, suasana disana akan sangat sepi. Hanya ada beberapa orang yang akan lalu lalang seperti petugas ronda misalnya. Tapi disini, aku dan Shera seolah di paksa untuk memahami, bahwa di setiap belahan dunia, akan selalu ada kebiasaan yang berbeda. Kontrakan yang berjajar rapat ini, penuh dengan aktifitas malam. Aku sudah terbiasa dengan pemandangan ini. Begitu pula dengan Shera jika dia masih bangun. Kami sama-sama tahu, kerasnya kehidupan yang dilalui setiap orang, tak ada yang sama. Apapun yang ku pilih, apapun yang Shera pilih, juga apapun yang orang-orang ini pilih, adalah sebuah jalan hidup masing-masing dan kami tidak berhak mengusiknya. Aku hanya bersyukur, meski Shera tinggal disini, ia tidak tergiur untuk ikut-ikutan bekerja seperti mereka. Karena sudah sering datang kesini, aku sudah mengenal beberapa dari tetangga Shera. Mereka tersenyum padaku yang saat ini tengah duduk di atas pagar tembok kecil, setinggi lutut. Lebih tepatnya di depan kamar Shera. Salah satu dari mereka datang menghampiriku. Pakaian minim dan super sexy yang menjadi hal tabu di kampungku. Justru adalah hal biasa disini. Memang beruntung orang sepertiku ini datang ke kota, bisa dapat pemandangan indah yang gratis setiap hari. "Hai, ganteng. Bagi rokoknya boleh?" Seorang gadis dengan wajah yang rupawan meminta berbagi rokok denganku. Suaranya super manja dengan kedipan mata yang seharusnya menggoda. Tapi itu bukan aku, aku tidak tergoda dengan hal seperti ini. Aku lebih tergoda dengan sesuatu yang ada di balik baju tidur Shera sekarang! Shit! Apa yang baru saja telah ku pikirkan. "Nih ambil," ucapku sembari menyodorkan bungkusan rokok yang sudah terbuka pada gadis itu. "Wahhh ... makasih ya ganteng. Aku ngga bakal malu-malu lagi kalau gitu." Masih dalam posisi berdiri, ia mengambil sebatang rokok lengkap dengan koreknya. Bibir mungil yang dihiasi gincu semerah darah itu mulai mengepulkan asap, pada hisapan pertama. Sekali cium, bekasnya pasti akan menempel dengan indah pada bagian yang terkena. "Eh ... Shera udah tidur ya?" "Bukan udah tidur, tapi memang lagi tidur." Apa gadis ini tidak melihat ini jam berapa? Shera itu bukan cewek yang suka begadang. Sehabis pulang kerja, dia akan langsung tidur dengan pulas, bahkan kadang tanpa melepas seragamnya terlebih dahulu. Jikapun dia sampai tidak tidur, itu berarti ada sesuatu yang menggangu pikirannya. Seperti tugas kuliah, atau masalah lain. Contohnya, patah hati mungkin? "Ck ... ck ... ck. Kasian dia, tadi berantem sama cowoknya disini. Sampe nangis-nangis," tutur gadis itu. Reflek, aku menoleh padanya. "Hah? Gimana-gimana?" "Loh kamu nggak tahu. Temenku itu tadi ribut di sini. Gue sama anak yang lain, jelas bantuin Shera lah. Enak aja, anak baik-baik kaya Shera dibikin nangis Bombay. Mana muka cowoknya, culun banget lagi. Ya okelah ganteng dikit. Tapi please deh ya, si Shera ini kepolosan banget. Gue udah duga, dari awal waktu tuh anak sering ngapel kesini, pasti bakal ada yang bikin heboh-heboh gitu. Haaaahhhhh ... Shera ... Shera," ujar gadis itu panjang lebar. Kemudian di tutup dengan helaan nafas, juga gelengan kepala. Aku tidak menemukan ada setitik kebohongan di dalamnya. Dia juga tidak terdengar seperti tengah menggoda ku, atau sedang menjelek-jelekkan nama Shera. Jadi kupikir, apa yang dituturkannya, pastilah benar. "Terus habis itu apa lagi?" tanyaku dengan penasaran. "Ya udah gitu aja. Gue sama anak-anak bantu Shera buat usir cowok itu. Karena Shera yang lagi mewek, kayaknya buat ngomong aja susah," jelasnya lagi, sembari menghisap rokok yang terselip diantara jari-jarinya. "Thanks rokoknya ya ganteng. Ada tamu tuh kayaknya. Doain malam ini, gue bisa laku keras ya, oke!" tambahnya lagi seraya beranjak meninggalkanku. Astaga, doa macam apa yang harus ku panjatkan untuk pekerjaan yang akan dia lakukan? gadis itu akan menjual tubuh, bagaimana mungkin aku berdoa untuk keberhasilannya? teman Shera ini kadang-kadang membuatku tak habis pikir. Sembari melihat gadis itu menghampiri seseorang, aku juga tengah menikmati gulungan nikotin disini. Tapi kini, pikiran kosong ku, telah terisi. Seperti apa yang tadi ku dengar. Tama membuat keributan dan air mata Shera jatuh. Pasti itu bertepatan dengan waktu dimana Shera menghubungiku, tapi Nadia mengacaukan segala. Pantaslah Shera tampak lelah dan berantakan. Aku juga sebagai seorang sahabat, tidak buru-buru ada disampingnya. Dia pasti merasa amat terpuruk dan sendirian. Ya, sepertinya, aku juga ikut andil dalam masalah yang dihadapi Shera. Seharusnya aku tidak mengulur waktu dan segera menemuinya tadi. Untunglah, semua orang disini baik pada Shera. Aku tidak heran, toh Shera juga memang baik pada mereka. Hal-hal kecil seperti sering membagi makanan, atau tidak menghakimi pekerjaan mereka yang jujur saja, tidak baik. Membuat mereka juga tidak memandang Shera sebagai orang lain. Setelah cukup lama bersahabat dengan angin malam. Aku kembali masuk ke kamar. Mataku mengernyit heran, mendapati Shera sudah mengubah posisi tidur dengan kaya terlentang selebar lebarnya. Ukuran tempat tidur yang tidak seberapa besar itu, akhirnya penuh dengan hanya satu tubuhnya. Aku sudah tidak mungkin masuk dan merebah di sampingnya. Pilihan satu satunya saat ini, hanyalah sebuah kursi kecil disamping meja belajar gadis itu. Aku bisa saja memaksa untuk tetap tidur dengan Shera. Tapi berhubung batinnya saat ini tengah terguncang, lebih baik ku biarkan dia menikmati mimpinya sendiri. Tidur di atas kursi, masih lebih baik, daripada aku harus berada di lantai keramik itu. Ah ... Shera-Shera. Andai kamu tahu, apa yang lucu disini. Aku akan selalu kalah darimu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN