Bab 49. Axel 3

1379 Kata
Axel Yudhistira "Kita pulang sekarang ya. Jangan dipaksain lagi. Udah ... Udah. Kamu lanjut nangisnya di jalan aja ya!" Aku berada diantara bingung dan ingin tertawa dalam hati. Bukan memintanya untuk berhenti menangis tapi, bisa-bisanya malah ku suruh dia untuk melanjutkan tangisannya nanti. Tapi aku memang agak bingung tadi. Bagaimana cara agar membuatnya diam. Aku tahu, rasanya pasti menyakitkan. Karena itu dia sudah tidak perduli lagi dengan orang di sekitar dan memilih untuk menangis. Tidak kusangka, aku bisa melihat sisi lemah dari seorang Shera yang selama ini justru membuatku kuat. Ini pertama kalinya aku membiarkan tubuhku dipeluk wanita lain. Meski yang sebenarnya adalah, aku yang membawanya dalam pelukanku. Dan mungkin, ini juga kali pertama aku merasa bersimpati lagi pada seorang perempuan. Saat aku berhadapan lagi dengan Mawar tadi, sepertinya hanya ada rasa kecewa dan perih yang muncul didalamnya. Cintaku, rasa sayangku, keinginanku untuk memilikinya telah hilang begitu saja. Setiap orang memang memiliki waktu yang berbeda-beda dan proses yang berbeda pula untuk menyembuhkan luka. Lukaku memang belum sepenuhnya sembuh, tapi juga tak separah luka milik Shera. Sekarang aku memapahnya untuk keluar dari gedung, sambil menutupi sebagian wajahnya dengan tanganku. Bukan tanpa sebab, aku hanya khawatir jika Shera bisa saja malu. Dia baru saja bersalaman dengan para mempelai kemudian tiba-tiba saja menangis. Apa kata orang nanti? Sampai di parkiran, ku perhatikan Shera agak celingukan dan seperti tengah mencari sesuatu. Ah ... Kurasa aku tahu, apa yang dia cari. "Ayo masuk, Sher!" Aku membuka pintu mobil dan mempersilahkan gadis itu untuk duduk didalamnya. "Loh ... Tapi ... Ini. Motor kamu ... Aku?" Mental gadis ini rupanya benar-benar terguncang. Bahkan untuk bicara saja susah dan gagap begitu. Astaga Shera ... Kamu seharusnya tidak boleh seperti ini. Terlalu larut dalam kesedihan hingga mengganggu pikiran yang berjalan. "Aku nggak bawa motor. Inget saat ku bilang aku bakal bawa mobil supaya kamu nggak kesusahan?" Shera mengerjap. Mungkin dia juga sedang mengingat-ingat janjiku. Aku juga lupa kapan itu terjadi. Tapi sangat jelas, saat itu dia bercerita tentang penderitaannya yang begitu kesulitan untuk mengendarai motor karena faktor ... Ya kurang tinggi. Aku berjalan memutar setelah menutup pintu dibagian kiri, lalu duduk dibalik kemudi. Tak banyak pertanyaan yang kulontarkan, aku menunggu Shera untuk bercerita sendiri saat dia sudah merasa nyaman. Aku hanya menanyakan ... "Sher ... Lo mau gue anter kemana? Yakin mau pulang. Kita ke cafe gue dulu aja ya. Nanti di ruang vip, lo bisa nyanyi-nyanyi, teriak-teriak karena ruangan kedap suara. Gimana?" Lagi-lagi, Shera hanya mengangguk. Ia bahkan tak melihat padaku. Tatapannya tertuju pada pemandangan di luar jendela. Ya Tuhan, melihatnya sedih dan tak bersemangat seperti ini, kenapa hatiku terasa begitu sakit. Apa yang terjadi denganku? Aku menggunakan kecepatan penuh untuk segera tiba di Cafe. Setelah bicara pada waiter dan mengecek ketersediaan ruang, aku membawa Shera menuju salah satu ruang karaoke yang harusnya cukup nyaman. Tempatnya sangat bersih. Aku memang sengaja, selalu meminta cleaning service untuk membersihkan ruangan ini setiap hari, meskipun sedang tidak ada tamu. Cemilan, minuman bersoda, juga alkohol sudah ku sediakan di dalam kulkas. Tentunya, dengan mengantongi surat izin edar juga. "Jadi ... Mau ku pasang lagu apa?" tanyaku pada Shera. "Heh ... Iya Xel?" Sepertinya Shera masih melamun. Aku curiga yang ada di dalam tubuh Shera sekarang ini adalah dia atau bukan. Sebegitu berartinya Tama didalam hati gadis ini. Aku iri setengah mati, pada laki-laki yang bisa mendapat tangisan juga rasa kehilangan yang begitu dalam ini. "Gue nanya, lo mau lagu apa?" ulangku lagi. "Terserah lo aja deh, Xel. Lagu yang galau juga boleh. Lo kan tahu pikiran gue sekarang kacau banget. Jadi kalau omongan gue agak ngelantur. Jangan terlalu ditanggepin ya," pintanya. Padahal tanpa dimintapun, aku sudah paham dan mengerti. Karena semua terserah padaku, akhirnya aku memilih lagu dari Kotak Band yang judulnya masih cinta. Shera dan aku udah bersiap-siap memegang mic dan kini mulai bernyanyi. Tapi aku mendadak diam saat suara Shera mengalun dengan sedih. Fokusku teralihkan pada air matanya yang lagi-lagi menetes. Harusnya aku tidak memasang lagu ini. Lagu-lagu galau memang akan menambah kesedihan. Tapi, Shera sendiri tadi yang memintanya. Sedangkan aku hanya melaksanakan tugas. Kamu ... Tak tahu. Rasanya, hatiku Saat ber ... Hadapan ... Kamu. Kamu ... Tak bisa ... Bayangkan rasanya Jadi diriku ... Yang masih ... Cin ... Ta. Shera berhenti menyanyi, sementara musik masih menggema. Ia melemparkan mic yang digunakannya tadi ke atas sofa. Tangisannya kini semakin tersedu-sedu. Aku bingung sekali dengan keadaan ini. Apa yang harus ku lakukan. Aku kembali meraih tubuh Shera dalam pelukku dan dia menurut dengan mudab. Sepertinya memang hanya ini yang bisa kulakukan. Memelukknya, mengusapnya, membelainya menghapus air matanya yang masih saja menetes. Sungguh tidak tega melihatnya seperti ini. Kepala gadis itu terangkat, bersamaan dengan wajahku yang tertunduk. Tatapanku dan pandangannya saling bertemu dalam rasa yang gelisah. Dia begitu dekat, sangat dekat hingga mungkin aku bisa mencicipinya sedikit. Bibir merah itu menggodaku untuk bertindak. Tapi kami bukan siapa-siapa. Apa yang akan terjadi jika aku melewati batas. Ada sebuah jarak, norma dan etika yang harus dihormati. "Axel ... Apa gue ... Gue itu terlalu buruk di mata orang. Sampai di sia-siain kaya gini? Hati gue sakit Xel. Sakit banget." Curahan hatinya lagi-lagi terucap begitu saja. Aku tidak tahu apa dia menyadari ini. Sepasang pria dan wanita dalam keadaan bersedih, dan kini saling berpelukan, bertukar tatap dengan jarak yang sudah tak bisa diukur lagi. Naluri lelaki, memaksaku untuk menurunkan kepala dan mendekatkan wajahku padanya. Aku menunggu respon. Kalau saja Shera menolak, aku akan menjauh dan meminta maaf. Tapi gadis itu justru terdiam, perlahan-lahan matanya malah terpejam. Seolah benar-benar memberikan ruang padaku untuk berbuat lebih. Bagian mana yang bisa kutolak, saat ia dengan sengaja memejamkan mata atau ketika membiarkan bibir merahnya yang merekah terbuka. Maka, aku tidak akan merasa sungkan lagi, tatkala akhirnya bibirku mengecap miliknya dengan lembut dan damai. Rasanya manis dan sedikit asin. Aku tahu, ada lelehan air mata didalamnya. Andai saja aku bisa menghapus luka ini. Andai saja aku tidak perlu merasakan asinnya air mata itu, maka aku rela melakukan apa saja. Kupikir, aku hanya penasaran dan ingin mengecupnya sekilas. Tapi ternyata tidak! Semakin aku bergerak, semakin aku ingin merasakan hal yang lebih. Bibir milik Shera seakan menarikku untuk terus menyesapnya dalam-dalam. Membuatku tak ingin berhenti untuk menjelajahi setiap sudut rongga tempatnya mencurahkan isi hati. Pipiku bisa merasakan, air matanya yang masih saja mengalir dengan deras. Jadi ... Sadarkah dia, kalau sekarang ini dia sedang berciuman denganku. Dengan Axel Yudhistira. Kenapa rasanya berbeda, aku tidak pernah merasa begitu b*******h dengan Mawar, meski yang kami lakukan jelas lebih dari sekedar berciuman. Ada yang salah dengan perasaanku. Dan kurasa dia merasakan hal yang sama. Tangan Shera yang semula diam kini mulai naik dan mengalung di leherku. Godaan macam apa ini? Semua perlakuan ini terasa begitu indah. Suara kecapan dan bunyi decakan kini berbaur dengan musik. Mengalun didalam telingaku, saat ada beberapa kali desahan yang berhasil lolos dariku dan Shera. Perlahan-lahan kuturunkan tubuhnya di atas kursi, tanpa melepaskan tautan bibir kami, hingga ia merebah dan aku tepat berada di atasnya. Ada rasa nyeri di bagian bawah tubuh ini yang membuatku tak bisa berhenti bergerak. Karena saat aku terdiam, semuanya menghilang dengan cepat. Aku ingin melepaskan bibir yang membuatku ketagihan ini, agar bisa merasakan bagian yang lain. Tapi aku terlalu takut. Aku takut ada penolakan yang terucap dan membuat semua ini berhenti. Tapi yang terjadi selanjutnya, justru Shera yang melepaskan tautan kami. Nafasnya yang terdengar lelah dan tersengal-sengal membuatku agak kasihan. Akan tetapi ... "Hah ... Hah ... Hah ... Axel ... Maaf ... aku nggak ... Ehmp!" Omong kosong apa ini? Aku apa yang harusnya dimaafkan. Harusnya aku yang meminta maaf karena sudah berperilaku berlebihan. Tapi pikiram dan hatiku mungkin sudah dikusai nafsu sekaligus rasa ingin memilikinya. Aku tidak ingin dia mengoceh, apalagi bercerita soal betapa sakitnya hal yang sudah dilakukan si b******k itu. Aku ada disini, bersamamu Sher. Kami bisa melewati ini berdua. Kamu hanya kehilangan seorang pacar yang tak setia, begitu pula dengank. Jadi berhentilah memikirnya. Karena saat kamu sedang bersamaku, maka kamu adalah milikku. Atas dasar asumsi mana aku bisa menyatakan Shera sebagai milikku. Karena dari awal, aku tahu. Ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Dan aku menyukainya. Selama beberapa hari kami bersama, ternyata Shera telah mengubah semua cara pandangku. Setelah ini, aku berjanji. Kamu akan sepertiku Sher. Tidak ada yang boleh melihat air mata dan tangisan ini kecuali aku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN