Bab 50. Shera 29

1135 Kata
Shera Fuji Lesmana Sekarang bagian mana lagi yang tidak ku mengerti soal sakit hati. Aku selalu merasa jadi orang sok kuat, yang bisa dengan mudah menasehati orang lain. Teori dan bicara, ternyata tak semudah praktek. Aku sudah berusaha untuk melakukan segalanya, membaca segala macam tips dan trik move on cepat agar tidak perlu lagi merasakan perih. Tapi ternyata, semua nggak ada gunanya. Ternyata, hatiku belum sepenuhnya sembuh. Aku belum juga bisa merelakan dia menjadi milik orang lain dengan begitu mudah. Tapi juga nggak mau melakukan kesalahan yang sama. Apalagi jika harus menunggu hingga ia bercerai seperti apa yang pernah ditawarkan. Untungnya ada Axel yang segera membawaku pergi dari tempat itu. Aku juga tidak ingat, kapan aku setuju dibawa ke Cafenya, dan kini malah berada disalah satu ruang karaoke yang terlihat oke punya. Sepertinya aku terlalu asik melamun dan meratapi nasib, sampai-sampai tidak sadar pergi kesini. Akhir-akhir ini ada banyak hal yang kulakukan tanpa sadar. Ini tuh bahaya nggak sih? Di dalam ruangan yang begitu nyaman juga bersih ini, ada fasilitas yang lumayan lengkap. Dia bahkan mengeluarkan hampir seluruh cemilan dan isi kulkasnya diatas meja. Apa Axel pikir, aku akan mood makan dalam keadaan seperti ini. Sebelumnya, aku memang seringkali melampiaskan rasa sakit dan kesalku dengan banyak makan. Tapi kali ini, selera makanku juga sudah ikut menghilang dengan harapan ini. "Heh ... Iya Xel?" ujarku pada pria itu. Aku agak kurang jelas mendengar ia sempat bicara apa, karena sedang membuka salah satu minuman bersoda. "Gue nanya, lo mau lagu apa?" ulangnya lagi. "Terserah lo aja deh, Xel. Lagu yang galau juga boleh. Lo kan tahu pikiran gue sekarang kacau banget. Jadi kalau omongan gue agak ngelantur. Jangan terlalu ditanggepin ya,"pintaku. Sebab yang ku tangkap sudah beberapa kali, aku tidak fokus, atau memperhatikan apa yang dibicarakan oleh Axel, semua ini benar-benar menggangguku. Ternyata setelah itu, Axel memutar dari Kotak Band yang sempat hitz beberapa tahun lalu. Judulnya Masih Cinta. Emang cocok banget sih sama perasaanku saat ini. Tapi firasatku agak buruk. Axel menyerahkan salah satu mic padaku, dan kami mulai bernyanyi. Tak lama kemudian, ternyata firasatku benar. Setiap nada dan bait yang tercipta sukses membuat perasaanku jadi kacau balau. Kenapa bisa begini? Air mataku luluh lagi tanpa diminta. Seharusnya aku meminta lagu-lagu yang membuat semangat saja seperti Senam Skj mungkin. Kamu ... Tak tahu. Rasanya, hatiku Saat ber ... Hadapan ... Kamu. Kamu ... Tak bisa ... Bayangkan rasanya Jadi diriku ... Yang masih ... Cin ... Ta. Hingga dibait terakhir aku sudah tak sanggup. Memadukan isak tangis dengan penyesalan dan lirik lagu, bukanlah kombinasi pas untuk mengobati hati yang terluka. Aku melemparkan mic ke sembarang arah, karena sudah mulai frustasi. Sampai pada akhirnya, tubuhku kembali ditarik pada sebuah pelukan. Aku menurut tanpa protes sedikitpun. Merasa, mungkin memang ini yang kubutuhkan. Bersandar dan tidak lagi berpura-pura sok kuat. Belaian tangan pria yang belum lama ini ku kenal, mulai menenangkan sebagian sistem sarafku yang amat tegang. Aku mengangkat kepala, menengadah, menatap wajahnya yang kini juga ikut menunduk dan balas menatapku juga. Biasanya aku hanya berani melakukan ini dengan Adrian. Bahkan Tama sekalipun, tak pernah membuatku ingin menatapnya dengan sedalam ini. Sepasang matanya hitam dan agak kecoklat-coklatan membuatku tersihir. "Axel ... Apa gue ... Gue itu terlalu buruk di mata orang. Sampai di sia-siain kaya gini? Hati gue sakit Xel. Sakit banget," keluhku dengan putus asa. Mungkin jika aku secantik Mawar, mungkin jika aku berasal dari keluarga terpandang seperti dia, segalanya akan jauh lebih mudah. Nasib buruk ini tidak perlu ditimpakan padaku. Axel tak menjawab. Aku mengerti, bahkan disaat seperti ini, aku masih saja membuatnya kebingungan. Tapi sepasang matanya lekat menatap ke arahku. Aku tidak suka tatapan kasihan yang terasa amat miris dan iba itu. Seolah aku adalah orang yang paling menyedihkan didunia. Maka aku memejamkan mata, demi terhindar dari tatapannya yang aneh. Namun sesaat kemudian sesuatu yang lebih tak terduga kini terjadi. Saat mataku terpejam, ada bagian lain yang kini tengah mencerna sebuah perasaan baru. Sesuatu yang kenyal dan lembut jatuh tepat di atas bibirku. Logika dan otakku berkata untuk menjauh, lepaskan, danger. Tapi naluriku sebagai wanita, hati dan juga perasaan ini memaksa untuk tetap diam, merespon, dan menunggu tindakan lain. Aku pasti sudah gila. Axel Yudhistira, orang yang belum genap satu minggu ini mengajakku jalan berhasil meraih bibirku. Sebuah kecupan yang manis berpadu dengan air mata yang meleleh. Aku ingin melepaskannya tapi juga butuh pelampiasan atas rasa sakit yang sekarang ini mendera. Maka ku biarkan dia melakukan apapun sesuka hati, dan kunikmati setiap sentuhan juga sesapan yang kini mulai menjalar kemana-mana. Bibir ini pernah sama-sama bertukar saliva dengan orang yang salah. Jadi biarkan kami berdua memperbaikinya sekarang. Kubantu Axel agar berbuat lebih dengan cara mempererat pelukan ini dan mengalungkan tanganku dilehernya. Menyatukan rasa asin dari airmataku, yang seharusnya berangsur-angsur menghilang. Tapi ternyata malah semakin deras. Kenapa rasa sakit ini begitu sulit dihilangkan. Kurasa semua ini sudah mulai tak berguna. Rasa sakit dan kenikmatan bercampur menjadi satu. Axel menurukan tubuhku, membantunya untuk merebah tanpa memisahkan tautan kami. Aku harus berhenti sebelum terlambat. Maka dengan paksa, kulepaskan penyatuan bibir ini. Nafasnya yang memburu saling bersahutan dengan nafasku yang tersengal-sengal. Aku meraup oksigen sebanyak mungkin untuk mengembalikan kesadaran. "Hah ... Hah ... Hah ... Axel ... Maaf ... aku nggak ... Ehmp!" Tapi ternyata, semua belum berakhir sampai disini. Bahkan saat aku ingin mengakhirinya ... ternyata ini justru baru di mulai. Axel tak memberiku kesempatan untuk berhenti dan kembali menjelajah diatas bibirku yang merespon dengan baik atas semua tindakannya. Setiap hisapan dan sapuan lidah itu membuatku ketagihan dan mulai mendambakan hal lain. Tanganku yang semula hanya berani mengalung dilehernya saja, kini mulai menjamah ke bagian lain begitu pula dengannya. Bibir kami terlepas untuk kedua kalinya. Namun saat ini, dia terdiam dengan wajah yang begitu dekat dan hidung kami yang saling menempel. Hembusan nafasnya yang begitu dekat membuatku tak sabar lagi. Apa yang dia tunggu. Kenapa sekarang jadi aku yang tak tahu malu dan menginginkan lebih. Peluh kami bercucuran didalam ruangan yang ber Ac. Bibirnya kembali menciumku dengan amat lembut, yang kemudian dilepasnya lagi. Kurasa dia meragu. Bahkan aku juga ragu dengan semua ini. "Shera ...!" panggilnya dengan lemah dan putus asa. Maka aku balas mengecupnya terlebih dulu, sebelum balas memanggil namanya juga. "Axel ...!" Aku bisa melihat binar matanya yang memabukkan. Entah apa yang merasuki diri ini hingga kami berdua malah saling melempar senyuman dan setelahnya, Axel tak lagi mencium bibirku. Kepalanya mulai turun dan merambah kebagian lain yang mulanya di leher, ke d**a, hingga ke satu bagian lain yang sulit ku jelaskan. Ada rasa nyeri yang memaksaku untuk bergerak di bawah sana. Meloloskan desahan demi desahan dan berpadu dengan musik yang menyala. Dan pada saat ini, aku tidak tahu kesalahan macam apa yang bisa berakibat lebih fatal. Tapi baik aku maupun Axel sepertinya memang butuh untuk melampiaskan perasaan ini. Rasa sakit yang tak lagi hanya bisa ditenangkan oleh kata-kata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN