Bab 51. Shera 30

1083 Kata
Shera Fuji Lesmana Tapi ... apa yang akan terjadi jika semua ini berlanjut. Aku menginginkannya, karena aku adalah seorang wanita. Setiap saraf dibalik kulit yang terkena sentuhan ini pastilah menginginkan hal lebih. Mengantarkan sebuah rangsangan berupa nafsu alamiah ke dalam hubungan yang lebih intim. Aku benci pada Tama, aku benci nasibku, aku juga benci pada semua cinta yang telah ku berikan. Tapi aku tidak membenci mimpi, dan segala hal yang ku lakukan untuk masa depan. Aku sudah kehilangan segalanya, bahkan harga diriku. Dan hanya hal itu yang tersisa. Kehormatan untuk calon suamiku nanti. Bahkan jika aku kehilangan masa depan, aku masih tidak siap untuk menjawab pertanyaan seseorang yang nantinya mungkin akan menjadi suamiku. "Are you virgin?" Dan jika kujawab "No," maka keluargaku akan terseret dala rasa malu yang amat besar. Pakaianku masih utuh, meski tangannya sudah bisa menelusup ke bagian lain. Aku tidak siap. Bahkan jika aku mesti kehilangan kehormatan, haruskah di tempat seperti ini. Di dalam bilik karauke yang meskipun di peruntukan oleh orang-orang berduit, tetaplah tempat dimana kawan dan para tetangga kamarku berkerja. Mereka menjual tubuh mereka, lalu bagaimana denganku. Aku tidak terima! Aku tidak mau! Maka dengan sekuat tenaga, aku mendorong tubuh seorang pria yang kini tengah menindihku diatas sofa, hingga ia terguling ke lantai lalu ... Bugh ... Suaranya jatuhnya cukup nyaring dan pasti lumayan sakit. "Aduhhhh ... Shera! Lo tuh ... Aarrkhh sakit banget!" Axel menyentuh pinggangnya yang pertama kali terbentur lantai. Aku langsung duduk lalu, meraih botol minuman kaca dan mengarahnya pada Axel. Sebelah tanganku memegangi atasan kebaya putih yang dua buah kancingnya sudah terbuka. Bodoh sekali kau Shera, sudah seperti ini kau baru sadar kalau semua ini salah. Tapi masa bodo lah! Yang penting aku harus selamat lebih dulu. "Jangan mendekat lagi. Kalau nggak, gue nggak akan segan-segan!" ancamku. Yang diancam kini terkejut dan menatapku dengan heran. "Lo kenapa sih Sher? udah gila ya? BIkin gue jatoh masih mau maen botol-botolan pula!" ujarnya. Axel lantas berdiri dan menghampiriku yang sebenarnya hanya berjarak dua langkah, tapi aku reflek segera memundurkan p****t dan posisi dudukku di atas sofa, yang tentu saja masih bertahan dengan gaya acungan botol. Axel tampak memijat keningnya yang berkerut. Agaknya dia pusing, entah karena jatuh atau karena hal yang lain. "Shera ... kalau emang kamu nggak mau ngelakuin ini semua, bilang baik-baik. Aku nggak akan maksa, oke!" jelasnya. Kebodohan macam apa yang sedang dikemukakan oleh Axel ini? Apa dia pikir aku bodoh. Orang jika sudah dikuasai oleh nafsu mana mungkin bisa berhenti dengan mudah. Aku bahkan hampir terbuai dan jatuh pada lubang yang paling dalam. Tapi untunglah, kewarasan, mimpi, juga wajah keluarga di Semarang mengingatkanku pada masa depan. "Bohong! Tapi tadi ..." "Tadi apa? Orang kamu juga ngerespon kok. Gimana aku bisa nolak!" bentaknya sembari menyela omonganku. Aku kaget sekaligus merasa bersalah juga. Benar kata Axel, sejak tadi aku yang terus saja memberikan kesempatan pada orang itu agar bertindak lebih. Bahkan ikut menikmati. Sialnya, asumsiku buru-buru mengatakan kalau ini salahnya, ini perbuatannya dan moralnya yang rusak. Padahal aku sendiri ikut andil dalam masalah ini. Perlahan ku turunkan botol minuman bersoda itu. Dan meletakannya kembali di sembarang tempat. Pokoknya tempat terdekat yang bisa ku raih. "Sorry!" ucapku sembari memalingkan wajah. "I don't know, but ... Semua terjadi gitu aja tanpa terduga. Aku ngga maksud buat maenin kamu, tapi ... Aku juga nggak siap kalau harus ... Ehm, kalau harus kehilangan ..." tambahku lagi, tapi tak ku teruskan akhir kalimat itu. Sial! Membicarakan langsung hal seperti ini membuatku malu. "Ck-ck udahlah. Aku juga nggak mau bahas itu. Semua yang aku inginkan mendadak hilang waktu jatuh terguling tadi. Sekarang hanya ada rasa nyeri disekitar sini!" tunjuknya pada pinggang, sambil menggerak-gerakannya hingga kemudian terdengar bunyi Ttrreekkktekk ... "Arrkhhh ... Kalaupun aku maksa, kamu pikir aku sanggup melakukan olahraga sama kamu. Kamu ini ngapain sih Sher, ya ampun." "Kamu kan laki-laki. Masa baru jatoh gitu doank aja udah sakit!" protesku. "Itu karena aku kaget dan nggak sempet nahan juga. Mana aku tahu, kalau posisi jatohnya bakal pas banget di sekitar pinggang. Jangan-jangan ini tulang ekor lagi!" keluhnya. Aku sekarang merasa iba dan bersyukur disaat yang bersamaan. Bersyukur karena berkat hal ini, kami tidak jadi melakukan hal yang iya-iya. Tapi juga iba, karena ia sekarang ia harus berjalan sembari memegangi dan belakang p****t seperti kakek-kakek. Axel duduk pelan-pelan, sedangkan aku justru buru-buru bergeser menjauh dari dirinya. Dia menoleh dengan kepala yang bersandar pada sofa, tarikan nafasnya yang terdengar berat seolah menggambarkan perasaan kalau saat ini dia sedang lelah. "Kamu takut ya!" tanya Axel. Jujur saja ini adalah perasaan yang membingungkan. Memang ada rasa takut didalamnya yang berbaur dengan kebingungan. Axel yang beberapa waktu ini membuatku nyaman, sekarang terasa asing. "Ya ... Tapi ini bukan sepenuhnya salahmu. Semua hal buruk bisa terjadi arena adanya kesempatan." Meskipun tak ada niat buruk pada awalnya, kesempatan dan suasana yang mendukung bisa juga menjadi sumber kejahatan. Tapi jika dua-duanya khilaf bahkan sama-sama menikmati ... Apa itu disebut kejahatan? "No ... Aku sebagai laki-laki merasa malu karena sudah melecehkan kamu. Maaf ya, aku terbawa suasana. Tapi by the way ... Kalau memang kita nggak akan ngelanjutin yang tadi, kamu bisa kan, kancingin baju dulu ..." Mataku membulat sempurna saat menyadari kalau sedari tadi, tanganku masih berada didada, memegangi dua bagian kancing bajuku dengan erat. Bodohnya aku, kenapa tidak ku tutup saja benda ini dari tadi. "Untunglah kamu sadar duluan dan juga menyadarkanku, Sher. Kalau sampai kita kebablasan ... nanti apa bedanya kita sama Mawar dan Tama. Sakit pinggang ini, mungkin nggak akan sebanding dengan rasa bersalah seumur hidup, kalau aku sampai benar-benar mengambil kehormatanmu. Maafkan aku!" Mendadak rasa takutku padanya menghilang. Perasaanku yang begitu sulit di mengerti ini berubah. Dia berterima kasih karena aku telah menyadarkannya. Well yang dikatakannya benar juga. Kalau sampai hal yang diinginkan itu terjadi, maka apa bedanya kami denga Tama dan Mawar. Sekarang, satu-satunya hal yang bisa membuatku berbangga diri dengan perbedaanku dan mawar hanyalah because I'am Virgin. Dan jika aku kehilangan semua itu, terlebih ditempat seperti ini? Maka aku tidak akan bisa hidup dengan tenang. "Tunggu sampai rasa sakit ini berkurang. Baru ku antar kamu pulang!" "Kamu nggak harus ngaterin aku. Aku bisa pulang sendiri. Dan lagipula, aku yang udah buat kamu sakit pinggang kaya gitu." "Kamu datang bersamaku. Aku yang bawa kamu kesini, jadi aku juga yang harus bawa kamu pulang!" Axel tetap bersikeras padahal aku merasa kasihan dan ya ... takut ... gugup, juga entahlah. Aku tidak mengerti dengan semua perasaan ini. Bahkan tanpa sadar ... Sejak kapan "lo, gue" yang biasa kami gunakan berganti jadi, aku dan kamu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN