Bab 52. Axel 4

1030 Kata
Axel Yudhistira Aku duduk di belakang kemudi dengan pinggang yang rasanya hampir mau patah. Tapi kutahan segala keluhan itu agar setidaknya Shera tidak merasa risih meski ini salahnya. Ya ... Satu sisi dia salah karena sudah mendorongku tiba-tiba disaat kami sedang asyik bergumul manja. Tapi disisi lain salahku juga yang sudah buru-buru terbawa nafsu, padahal jelas-jelas Shera ini bukan pasanganku. Dia duduk disampingku tanpa mengucap sepatah katapun, begitu pula denganku. Setiap kali lirikan ini tak sengaja saling bertemu, maka kami akan segera menghindar dan memindahkan pandangan ke arah lain. Suasananya jadi canggung dan ini sangat menyebalkan. Obrolan, canda, juga tawa kami yang dulu sempat ada. Kini benar-benar berganti dengan senyap. Shera sudah membenahi pakaian juga tampilannya sebelum aku mengantarnya pulang. Tapi semua itu tetap tak cukup untuk menutupi kekacauan yang telah diakibatkan oleh ku. Aku juga tidak tahu harus mulai darimana. Kami terus saling diam, sampai menemui kemacetan di persimpangan lampu merah. Gerimis perlahan-lahan menetes diantara kaca mobil, membuat pandanganku agak terganggu. Orang-orang mulai mencari tempat berteduh, karena semakin lama, cuaca justru makin tak bersahabat. Aktifitas jalanan tersendat. Seorang anak kecil yang menggenakan jas hujan mengetuk-ngetuk jendela mobilku. Ia membawa sebuah ukulele dan menyanyikan lagu yang tak jelas arahnya kemana di tengah-tengah hujan seperti ini. Astaga ... Bagaimana aku tidak iba. Aku mengeluarkan lembaran uang dari dompet lalu sedikit membuka kaca jendela. Anak itu ternganga menerima kertas berwarna biru yang ku berikan. Anak itu membungkuk, dia kembali mengetuk-ngetuk kaca jendela mobilku dan berterima kasih dengan suara yang lantang. Lalu berlari kecil, karena kendaraan sudah mulai bisa melaju. "Kamu ... Kenapa ngasih uangnya banyak amat," tanya Shera. Rupanya meski kami saling merasa canggung, dia sempat memperhatikanku juga. "Kasian, ujannya gede. Biar dia bisa langsung neduh," ujarku. Beberapa orang terlahir dengan keberuntungan di bidang materi, dan beberapa lainnya beruntung soal takdir juga kasih sayang. Tapi berkat hal ini, setidaknya Shera mulai bersuara. "Soal tadi ... Aku minta maaf. Kamu tahu kan? Suasana, tempat, juga hal yang hari ini kita alami, bener-bener jadi pendukung banget." "Its ok. Aku juga bukan tipe orang yang nggak bisa berkaca. Kalau aku nggak kasih kesempatan, atau kalau aku nggak kasih respon, kamu sebagai laki-laki juga nggak akan terpancing. I'am sorry," balasnya. Meski Shera memiliki pemikiran yang cukup terbuka, aku tetap saja merasa bersalah. Kalau saja semua yang kami lakukan itu tidak terhenti, aku mungkin nggak akan percaya kalau dia itu masih ... Virgin But waitt ... Shera ini masih virgin kan? Ada apa dengan otakku. Di jaman modern seperti ini, pertanyaan seperti itu bahkan sudah hampir tak penting lagi. Bahkan jika dia memang sudah tidak virgin atau nggak. Itu sama sekali bukan urusanku. "Besok ... Apa aku masih bisa jemput kamu lagi ke kampus? Atau nganterin kamu kerja mungkin?" Mungkin agak aneh aku bertanya hal demikian padanya. Tapi aku hanya tidak ingin, ada jarak yang membuat pertemanan kami ini goyah. Aku juga berharap, semoga Shera masih tetap menjadi Shera yang sama. "Ehmm ... Buat sekarang ini. Lebih baik kamu nggak perlu sering-sering ke kampus. Ya ... Maksudku, toh keinginan kita juga udah tercapai kan?" Aku mengerutkan kening seraya melambatkan laju kendaraan. Mencerna kata demi kata yang baru saja dia sebutkan. Apa pemahamanku kali ini salah. "Maksud kamu apa, Sher?" tanyaku meminta penjelasan. "Dari awal, kita memang hanya punya satu tujuan kan? Pergi sama-sama ke pernikahan mereka hanya untuk saling menguatkan, juga untuk manas-manasin mereka. Itu kan intinya?" jelas Shera, membuatku agak terkejut. Kenapa dia berkata seperti itu. Kenapa dia berpikir kalau pertemanan kami ini hanya simbiosis mutualisme yang aka berakhir saat tujuannya telah tercapai. Aku bukan berharap lebih, tidak sama sekali. Tapi dengan segala hal berbeda yang dia berikan, ku pikir pertemenan kami ini tulus, meskipun tidak istimewa. Tama dan Mawar bahkan tidak bertanya, kenapa kami bisa datang berbarengan, sambil bergandengan tangan hingga ke atas panggung. Meski wajah mereka tampak agak terkejut pada awalnya. Apa mungkin, karena semua sandiwara ini terlalu bodoh untuk dilihat. Apa hanya aku saja yang terlalu memaksakan perasaan dan berharap menemukan satu titik, dimana pengobat luka hati itu, berasal dari Shera. Astaga ... aku hampir kehabisan kata-kata untuk menanggapi ini. Ya, pada awalnya memang itu tujuanku. Sekarang, mungkin inilah yang dinamakan senjata makan tuan. "Ow ... Ya tentu. Semua sudah berhasil, jadi ... kita bisa kembali ke cerita kita masing-masing. Iya kan?" Shera mengangguk pelan. Gadis itu kemudian memalingkan wajahnya. Ia kembali menatap kaca jendela sebelah kiri dan mengusap embun sisa-sisa hujan yang membuat benda itu buram. Kami tetap diam, hingga aku berhenti tepat di depan gerbang kawasan tempat kos Shera. Hujan sudah berhenti, hanya menyisakan aspal jalanan yang basah. Jadi apa yang harus aku tanyakan sekarang? Atau aku hanya perlu mengatakan terima kasih karena hari ini dia sudah membuat hidupku lebih berwarna. "Jadi ... Ini akhirnya, thanks banget udah mau jadi teman yang baik buat gue ya!" ucapnya. Aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Seperti ada sesuatu yang ingin ku sampaikan pada Shera. Tapi aku tidak mengerti apa itu. Hanya saja ... "Sure! Aku juga," jawabku. Padahal sepertinya, bukan itu yang ingin ku katakan pada Shera. "Kalau gitu, aku balik dulu," ujarnya seraya meraih gagang pintu mobil. Lalu setelah terdengar bunyi Klik ..." "Eh ... Tunggu, Sher!" cegahku. Shera berbalik dan urung membuka pintu mobil. Tentu saja perhatiannya kembali beralih padaku yang tanpa sebab malah mencegahnya untuk pergi. "Apa?" "Nggak ada apa-apa. Aku cuma mau bilang. Hati-hati," jawabku asal. Alasan macam apa ini. Padahal yang sebenarnya ingin ku katakan hanyalah, aku senang bisa mengenalnya. "Of course. Rumahku berjarak sekitar 10 meter dari sini. Dengan semua tetangga yang sudah ku kenal tanpa terkecuali. Aku pasti akan hati-hati. So ... Aku pulang sekarang ya. Kamu juga hati-hati." Aku jadi seperti orang bodoh sekarang. Maksud hati hanya ingin menahannya lebih lama. Dan yang terjadi, aku justru akan bingung jika dia bertahan lama. Maka kali ini, biarkan dia pergi. Aku tidak ingin mencegahnya lagi. Melihatnya yang terus saja berjalan tanpa menoleh, hingga bayangnyapun kini sudah tak nampak. Sebenarnya, kalau aku nggak kelepasan kaya tadi, Shera pasti nggak akan begini. Mungkin kami masih bisa berteman seperti sebelumnya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Dia bilang, untuk sekarang ini aku tidak perlu menemuinya. Yang artinya, hal itu nggak akan bertahan lama. Jadi setelah ini, kami masih bisa saling bertemukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN