Bab 53. Shera 31

1020 Kata
Shera Fuji Lesmana Brugh ... Suara tubuh yang sengaja ku jatuhkan diatas tempat tidur, terdengar amat nyaring. Aku lelah, lunglai, lemas, letih dan ingin segera masuk ke alam mimpi. Kebaya putih juga rok songket hitam yang menjadi saksi atas kesalahanku masih terpasang dengan manis. Aku enggan menggantinya dan terlalu malas untuk kembali berdiri. Posisi tidur sambil telungkup ini, suah terlanjur membuatku amat nyaman. Memalukan, sudah dua kali aku hampir saja kecolongan. Bersyukur saat ini aku masih diberi kewarasan akan akibat besar, jika saja semua hal buruk itu terjadi. Bahaya terbesar yang dimiliki oleh manusia adalah dirinya sendiri. Hati, nafsu, pikiran, hasrat dan semua hal yang sulit dikendalikan, adalah senjata yang bisa melukai diri sendiri. Dia pasti berpikir kalau aku adalah wanita jahat yang tidak memiliki perasaan sekarang. Tapi itu tidak masalah. Yang jadi masalah adalah, bagaimana jika aku tidak bisa mengendalikan diri sendiri lagi jika tetap terus bersamanya. Ohh ... Sekarang aku tahu, dengan siapapun aku bergaul atau dengan siapapun aku berteman, aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri. Satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan hidupku hanyalah dengan menjauh dari semua laki-laki dan kembali fokus pada tujuan awal. Adrian saja sudah cukup untuk menjadi satu-satunya teman laki-laki yang bisa ku percaya. Benar kan? Bertahun-tahun aku bersama Adrian bahkan tidur berdampingan dengannya, tidak ada sedikitpun rasa atau keinginan untuk saling menyentuh. Tapi dengan Axel, pria yang bahkan nggak sampai sebulan ku kenal, bisa membawaku hanyut dalam sebuah kesalahan. Ini tidak adil! Lukaku dengan Tama belum sembuh, dan aku sudah menambah masalah baru. Apa, aku mulai tertarik padanya. Apakah pria itu telah berhasil menarik perhatianku. Ya ampun, rasanya aku ingin mengambil cuti saja hari ini meski harus berkorban beberapa rupiah karena gajiku pasti akan dipotong. Aku merubah posisi dari telungkup jadi telentang. Menatap langit-langit kamar yang sudah beberapa tahun ini tak pernah berubah. Aku tidak perlu takut lagi. Satu persatu masalahku selalu ada penyelesaian. Masalah dengan Tama sudah selesai. Dia menikah, akan punya anak dan hidup bahagia selamanya. Adrian sudah berubah menjadi lebih baik meski hanya beberapa persen saja. Paling tidak ... Dia sudah berjanji untuk tidak mempermainkan perasaan perempuan yang akan membuat namaku viral lagi. Lalu Axel ... Dia hanya selingan yang tak sengaja lewat karena sama-sama patah hati. Jadi ... Lupakanlah! *** "Shera!" Arrkhh s**t! Suara orang yang paling kuhindari malah terdengar dilangkah pertamaku saat melewati pintu kelas. "Heh ... Lo pura-pura budeg ya! Sini-sini-sini." Kedua tangannya yang kekar memegang bahu dan memaksaku untuk berbalik. Wajahnya cemberut dengan sempurna. Sementara aku menyunggingkan senyum semanis mungkin. Padahal aku sudah berusaha untuk berangkat lebih awal demi menghindari pria ini. Ku pikir, dia tidak mungkin menyusulku hingga ke kelas. Tapi lihatlah! Adrian berdiri dihadapanku sekarang. Apa juga sih yang aneh sih, Shera? Bukannya pria ini memang sudah seringkali muncul tiba-tiba dimanapun. "Selamat pagi Adrian," sapaku semanis mungkin. Tapi yang disapa malah menyipitkan mata dan memandangku dengan tatapan heran. "Lo sakit ya?" tanya Adrian. "Sakit?" "Udahlah ... Shera yang asli mana mungkin manis-manis bilang selamat pagi segala. Apalagi sama gue," serunya dengan ketus. "Lo berdua kalau mau pacaran jangan didepan pintu donk! Minggir-minggir," terobos seorang pria yang akan masuk ke kelas, dan menabrakku dengan kasar. Aku agak meringis, bukan karena sakit, tapi aku hanya terkejut. Itu hanya tabrakan kecil yang nggak berarti apa-apa. Namun, pada akhirnya, aku yang ditabrak tapi malah Adrian yang marah. "Woi ... Ati-ati donk lo, sopan dikit," teriak Adrian. Aku segera membawanya untuk bergeser beberapa langkah atau dia akan membuat keributan. "Udah ih. Jangan kaya gitu. Salah kita juga kok. Malah berdiri didepan pintu. Ngehalangin jalan." "Ya tapikan bilangnya bisa baik-baik, Sher. Nggak perlu maen terobos sama nabrak kamu segala!" jelasnya lagi. Aiisshh sudahlah, dia tidak akan mendengarku lagi. "Eh ... lo sengaja ya. Ngalihin pembicaraan," sergah Adrian. "Astaga, ngalihin pembicaraan apa sih? Lo udah gila ya. Kita kan belom ngomong apa-apa." "Lo kemaren datengkan ke nikahannya Tama? Gue kan udah bilang bakal nemenin lo. Kenapa lo malah kabur. Telpon dari gue juga kenapa dimatiin terus. Terus tadi ... Tadi gue ke kosan lo. Biasanyakan lo nungguin gue. Kenapa sekarang malah berangkat duluan dan bla-bla-bla ...." Ya ampun. Apa Adrian ini tidak punya kerjaan yang lain. Kenapa jadi begitu ingin ikut campur dengan kehidupanku. Aku nggak bisa menjawab, karena pertanyaannya terlalu banyak dan cepat. Mana dulu yang harus ku tanggapi? "Eh tapi ... Muka lo kok biasa aja. Mata lo juga nggak bengkak. Kok bisa?" tambahnya lagi. "Lo berharap muka gue bakal amburadul gitu?" "Bukan gitu, Sher. Sumpah! Gue seneng kalau lo baik-baik aja. Itu artinya, lo udah move on dan balik jadi Shera yang dulu lagi kan?" Syukurlah, jika aku tidak lagi terlihat seperti orang yang sedang patah hati lagi. Jika ditanya soal perasaan? Tentu aku tidak baik-baik saja. Tapi memang ada setitik kelegaan yang kudapatkan kemarin. Selain itu, biasanya aku bisa menghabiskan waktu semalaman untuk menangis dan memiliki mata yang bengkak setelah tidur. Percaya atau tidak, tidur setelah menangis memang akan membuat bengkak dimata semakin besar. Namun kemarin, bisa dibilang tangisku ini berada di ambang batas wajar. Jadi tidak terlalu memberikan pengaruh diwajah, apalagi mata. "Gue baik-baik aja ok. Lo liat sendiri gue sehat sehat aja. Udah ah ... Dosen gue bentar lagi dateng. Lo jangan bikin keributan yang aneh-aneh!" ujarku seraya akan beranjak pergi. Tapi kemudian langkahku terhalang begitu tangannnya terangkat dan bertumpu pada dinding. "Ckkk, Adrian!" gerutuku. "Ada yang aneh! kamu yakin nggak ngelakuin apa-apa di belakangku?" Tanganku reflek saja mencubit pinggangnya dan membuat ia meringis sembari menahan geli. "Arrkhh, aduh-aduh-aduh sakit, Sher." "Lagian, pertanyaan kamu itu aneh banget sih. Udah sana. Kamu juga harus masuk kelas," kataku sambil meninggalkannya. "Nanti jangan kabur lagi ya. Temenin aku sama anak-anak latihan ngeband," teriak Adrian lagi. Aku nggak terlalu perduli. JIka dia beruntung, maka aku pasti akan ikut menemaninya latihan. Jika tidak, mungkin saja aku akan keluar lebih dulu dari kampus dan pergi entah kemana. Hampir saja jantungku mau copot. Saat dia bertanya, apa aku melakukan hal yang aneh-aneh di belakangnya. PIkiranku langsung tertuju pada apa yang telah ku lakukan bersama dengan Axel. Dan untungnya, apa yang ku pikirkan, tak sampai ku utarakan seperti biasanya. Adrian tidak perlu tahu dengan semua hal pribadiku, karena kami ... hanyalah teman. Benar kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN