Shera Fuji Lesmana
Hari-hariku berjalan dengan baik akhir-akhir ini. Tugas-tugas kuliahku lebih cepat selesai bahkan diluar dugaan. Pekerjaanku dihotel juga semakin lancar. Bahkan desas desus mengatakan, akan ada pengangkatan dari karyawan casual atau part time menjadi karyawan tetap. Namaku menjadi salah satu orang beruntung yang terdaftar.
Jika saat masih menjadi karyawan casual, aku hanya bisa mengandalkan uang harian. Maka, setelah menjadi karyawan tetap, gajiku akan naik juga ditambah tunjangan-tunjangan lain. Yang artinya beberapa bebanku soal financial akan sedikit tertolong. Aku juga di tawari oleh kawan lain, untuk jadi penyiar radio, mengisi acara malam di salah satu saluran anak muda yang cukup hitz.
Tapi sayang banget harus ku tolak. Pembagian waktu, ditambah sekarang aku lagi sibuk-sibuknya kuliah, menjadi bahan pertimbangan yang cukup penting. Metamorfosis Shera Fuji Lesmana, kurasa sudah mulai terbentuk.
"Ini gua gimana donk anjir! udah rapi belom?" tanya Ricky dengan panik.
"Ah elah ... Peduli amat. Gue sibuk," jawab Tio yang kini sedang merapikan rambutnya dengan gel. Pandangannya fokus pada kaca, memilin setiap detail rambut yang kayaknya nggak akan rusak diterjang badai.
"Ihh ... Si anjir mah, kagak setia kawan banget. Eh, Yan gimana gue udah rapi kan?" Kini Ricky giliran bertanya pada Adrian. Pria itu hanya tersenyum kecil dan menjawab ...
"Udah ... Rapi kok itu. Bagus, lo keliatan keren deh pokoknya." Adrian mengacungkan satu buah jempol pada Ricky.
Aku, Ricky, Tio, Adrian dan juga beberapa penghuni kampus lain sedang berada dibelakang panggung. Ini adalah hari dimana kampus tengah mengadakan pentas karya seni, pun hari yang amat di tunggu-tunggu oleh Adrian dan kawan-kawannya. Untuk pertama kalinya band yang Adrian bentuk akan berada di atas panggung setelah melalui audisi. Aku sebagai kawan yang baik, kini tengah memberikan semangat pada semua orang.
Meski hawa disini agak panas. Bukannya apa-apa. Tapi kebanyakan peserta dan panitia kaum hawa disini adalah mantan pacarnya Adrian, termasuk Nadia yang dulu pernah membuat masalah denganku. Bisa dibayangkan betapa tajamnya tatapan mereka padaku yang sejak tadi terus saja menempel pada Adrian. Masih beruntung badanku ini nggak bolong karena tatapan mereka yang begitu menusuk.
"Nah ... Sher-Sher, lu kan cewek nih. Gimana menurut lo? Keren nggak gue?" tanya Ricky padaku.
"Iya. Keren banget kok. Persis anak band banget," jawabku sembari mengacungkan jempol persis seperti Adrian. Si Ricky ini, semua orang yang dilihatnya ditanyai. Padahal dia sudah sangat keren kok. Apalagi Adrian. Sepertinya hanya Adrian yang sejak tadi ku lihat sangat kalem. Ia tidak bertanya apapun, apalagi merapikan apapun. Memang ya, orang ganteng nggak perlu di apa-apain tetep aja ganteng. Eh tunggu? Apa yang baru saja ku bilang?
Adrian menoleh ke arahku. Ia tersenyum jail penuh arti yang kurasa, pasti karena telah mendengar isi pikiranku barusan.
"Apa liat-liat!" bentakku galak.
"Dihhh, galak amat! Pms lu ya? Tapi makasih, gue emang ganteng kok. Liat perubahan sikap lo, gue tau lo pasti keceplosan lagi. But well, itu artinya lo jujur. Gue ganteng," katanya dengan senang. Dan yang pasti besar kepala. Aku hanya memutar pandangan dengan jengah. Dasar, si anak ini!
Mereka bertiga menggenakan pakaian bertemakan ala-ala bad boy. Yang sebenarnya paling simple itu hanya Tio. Tapi yang paling mencolok itu, jelas Ricky. Penampilan Adrian ada di bawah standar dengan mengandalkan fisik dan wajah, dia memang curang, tapi good looking di saat-saat tertentu memang sangat membantu.
Tinggal menunggu dua penampilan dari peserta lain lagi. Wajah Adrian tampak agak cemas. Dia memang bukan leader. Leader disini adalah Tio. Tapi entah kenapa pria itu masih saja sibuk menata gaya rambutnya yang malah makin aneh. Lama-lama kaya perempuan juga tu anak.
Aku menggenggam tangan Adrian yang berkeringat. Ia menoleh lagi ke arahku. Tatapannya kini berbeda. Tak seperti tadi, kali ini lebih resah.
"Jangan khawatir, kalian pasti bakalan jad band yang kece badai hari ini," kataku, berusaha memotivasi Adrian.
"Ini bukan pertama kalinya lo manggung. Lo kan udah sering nyanyi-nyanyi sendiri di depan orang banyak kaya orang gila. Apa bedanya sama sekarang coba?" tambahku lagi.
"Bedalah, Sher. Itukan gue sendirian! Kalau sekarang gue bertiga. Dimana saat salah satu dari kita bikin kesalahan, pasti semua kena imbasnya. Nggak kaya kalau nyanyi sendiri, yang baik atau buruknya memang tanggung jawab sendiri," jelasnya.
Masuk akal juga sih. Saat kita membentuk sebuah kelompok, maka segala sesuatunya memang tidak bisa berdasarkan keputusan sendiri. Ada masing-masing ego berbeda yang akan disatukan. Tapi aku percaya Adrian ini hebat kok. Bisa memiliki band sendiri, adalah mimpinya. Meski juragan alias Bapaknya sendiri sangat menentang hal itu. Beliau bilang, bernyanyi, ngeband, adalah gaya anak kota yang identik dengan hal negatif. Padahal tidak semua anak band seperti itu. Yang baik juga banyak kok.
"Apapun yang terjadi, lo tetep keren dihati gue," kataku. Aiissshh dia pasti akan geer. Tapi biarlah! Aku harus membuat dia senang dulu, sebelum pergi. Karena aku juga mau nonton penampilan mereka dulu di depan. Kalau disini, apa yang ma kulihat.
"I know. Buat yang ini, meskipun bukan karena keceplosan pasti tetep berasal dari lubuk hati yang paling dalam. Makasih ya Sher, udah selalu dukung gue sampe sejauh ini."
"Heh ... Lo ini cuma manggung di kampus, nggak usah kebaperan. Cita-cita lo buat punya band yang bisa tour keliling Indonesia masih jauh. Jadi nggak usah sok melow begitu. Ayo semangat!" kataku. Adrian melepas tangan kami yang saling menggenggam kemudian mengacak-ngacak rambutku dengan lembut. Senyumnya yang sempat hilang beberapa saat, mulai kembali. Baguslah.
"Udah ihhh. Rambut gue jadi berantakan tahu!" protesku.
"Biarin. Siapa suruh lo, bikin gue gemesh!"
"Udah ah. Gue mau ke depan dulu. Kalau terus disini, nanti gue nggak bisa nonton lo ngacak-ngacak panggung!"
"Ehm ... Sher. Janji sama gue ya. Kalau lo denger apapun, hal yang aneh-aneh, lo jangan marah sama gue ya!" pintanya dengan wajah memelas.
"Emang ada apa? Hal aneh maksud lo ini, semacam apa? Gue nggak paham atau jangan-jangan ... Lo bikin masalah lagi?"
"No ... Nggak ada. Its just ... Ahhh kayanya gue cuma agak kawatir karena mau manggung, makanya jadi aneh gini."
"Aduh, percaya deh sama gue. Lo dan band lo ini keren. Oke, ya udah ya gue tinggal dulu!" pamitku untuk pergi dan kali ini, Adrian tak lagi mencegahnya. Aku tidak percaya kalau dia hanya sekedar khawatir untuk manggung. Tapi jika aku bertanya lebih jauh, ini tidak akan baik untuk emosinya yang sebentar lagi akan tampil. Jadi ... Sebaiknya ku tunda dulu rasa penasaran ini, hingga acara selesai.