Bab 55. Shera 33

1064 Kata
Shera Fuji Lesmana Aku mengelilingkan pandangan mencari dua orang wanita yang juga penting didalam hidupku. Dalam kerumunan orang yang begitu banyak, lambaian tangan Leana dan Mira, membuatku dengan mudah menemukan mereka. Mahasiswa dan Mahasiswi tempatku mengenyam ilmu memang lumayan banyak. Selain itu, Acara Pentas Seni kampus ini juga diperuntukan untuk umum, dengan penghasilan bazar yang murni untuk disumbangkan bagi mereka yang membutuhkan. Niat yang mulia, semoga saja tidak ada orang jahil yang menyelewengkan dana tersebut. "Lo dari mana aja sih! Kita udah nungguin dari tadi!" gerutu Mira, begitu aku sampai di tempat mereka berpijak. "Biasa. Gue di belakang panggung dulu tadi. Ngasih power buat Adrian sama temen-temennya," jelasku. "Ohhh, terus gimana? Adrian udah siap?" tanya Leana. "Udah. Tunggu dua pengisi acara lagi, giliran mereka tampil," balasku. Mira dengan baik hati, ternyata sudah membelikan aku minuman. Dia mengerti sekali, kalau aku kehausan. Jarak kami dari panggung tak begitu jauh. Inginnya sih berada paling depan. Tapi rupanya, anak-anak lain sudah lebih dulu berada didepan kami. Lagipula, aku ingin menyaksikan penampilan Adrian dan kawan-kawannya dengan santai. Kalau didepan, kami pasti harus berdesak-desakan dengan orang lain. Dalam event-event seperti ini, biasanya ada ajang mencari jodoh. Tak terhitung sudah ada berapa lirikan dan bisik-bisik tetangga yang dilontarkan Mira juga Leana. Aku tersenyum geli, saat bahkan ada beberapa cowok yang terang-terangan menghampiri mereka untuk sekedar ngajak kenalan, atau bertukar nomor whatss up. Sedangkan aku? Jangan ditanya deh! Sejak pagi, sudah ku pasang wajah sejutek mungkin. Aku hanya tersenyum seperlunya pada orang-orang yang kukenal. Bukan ingin sombong. Tapi ... trauma akan hal-hal hebat yang ku alami belakangan ini, membuat ku memiliki naluri alamiah untuk menjauh dari laki-laki. Aku seperti tidak siap, untuk menjalin pertemanan baru. Pertemanan terakhirku sama sekali tidak berjalan mulus. Ingat Axel kan? Ya ... Dia beberapa kali menelpon dan mengirim pesan. Tapi entahlah! Aku enggak membalasnya. Aku juga juga tidak tahu bagaimana kabarnya pasca pernikahkan mantan pacarnya dengan mantan pacarku. Bicara soal mantan pacar, Tama juga sempat menghubungiku. Otaknya sudah tidak beres. Dia mengatakan soal perasaan dan hal-hal gila setelah menikah dengan Mawar. Tapi untunglah, perasaanku pada Tama sudah lenyap seketika. Ada sih, rasa kecewa dan lain-lain yang menyebalkan. Tapi tekadku untuk move on, kini jauh lebih besar. Jadi ... Aku tidak tertarik untuk menjadi pelakor, lalu mengacaukan perasaan seorang istri. Setelah ku diamkan juga tak menggubrisnya, keberadaan Tama menghilang begitu saja. Setelah menunggu lama kini akhirnya tiba giliran Adrian dan kawan-kawan untuk mengisi acara. Waw, aku ikut senang saat apa yang dinginkan oleh sahabatku, perlahan mulai terwujud. "Selamat Siang Universitas Darmawangsa, mana suaranya?" teriak Adrian dengan bersemangat. Semua orang bersorak, aku, Leana dan Mira sepertinya mengeluarkan suara paling keras. "Tanpa banyak basi-basi lagi, kita semua bakal ngajak kalian buat jingkrak-jingkrak bareng. Kalian semua setujjjjuuuu?" teriaknya lagi yang langsung mendapatkan jawaban ... "Sseettuujjuuuuu!" Yang tak kalah meriah dari penonton. "Oke kalau begitu langsung aja. Tepuk tangan yang meriah buat Nothing to display!" Intro dari lagu yang mereka bawakan sudah mulai menyebar melalui speaker. Jujur saja, dalam pandanganku sebagai perempuan, mereka memang keren. Bukan hanya karena Adrian ini adalah sahabatku. Katanya sih, mereka akan membawakan 3 judul lagu hari ini. So nice! Siapa tahu ada produser, atau sponsor yang melihat bakat mereka. Semua orang bersorak dengan hebob, tatkala Adrian mulai mengeluarkan suara emasnya. Dari dulu aku sudah tahu kalau Adrian itu memiliki suara yang bagus. Karena itu, aku tidak hanya mendukung mimpinya semata-mata tanpa alasan. Punya wajah ganteng, penampilan yang oke, suara emas, juga latar belakang sebagai cowok keren di kampus. Ya ... Meskipun agak playboy. Tapi sepertinya dia juga sudah tobat. Soo, bukankah itu sempurna. Yang kurang saat ini, hanya keberuntungan. Hanyut dalam pembawaa lagunya yang begitu bersemangat, aku dan semua orang kini melompat-lompat. Sembari memegang ponsel, aku merekam aksi mereka yang keren. Selain layak disimpan, benda ini juga bisa menjadi bahan ancaman kalau-kalau Adrian berulah. Sekali saja, dia membuatku kesal lagi, maka video ini akan sampai di tangan Juragan alias Bapaknya di Semarang. Nice ide kan? "Lagi ... Lagi ... Lagi ... Lagi ... Lagi!" Tidak kusangka, akan sesukses ini. Saat lagu pertama berakhir, semua penonton berteriak agar mereka kembali menyanyikan lagu kedua. Dia kembali mengeluarkan rangkaian kata yang membuat semua orang semakin bersemangat. Matanya sempat meilirik ke arahku, lalu ku berikan acungan jempol setinggi mungkin sebagai balasan tatapannya. "Lea ... Lea liat deh, di atas panggung aja Adrian ngelirikin lo terus. Aduhhh manis banget sih!" Aku langsung menoleh, setelah mendengar sesuatu yang agak janggal. "Hah, maksudnya gimana-gimana?" tanyaku pada Mira dan Leana. "Loh, emangnya lo belom tahu? Leana sama Adrian sekarang kan pacaran?" celetuk Mira. Ekspresi wajah Leana tampak agak terkejut, matanya membulat sempurna. "Mira!" panggilan Leana pada Mira kini terdengar seperti sebuah protes, yang menandakan, ia dengan sengaja ingin menyembunyikan hal ini. "Kenapa sih, Le? Shera kan temen kita, temennya Adrian juga. Dia perlu tahu, dan lagian, lo juga pasti nggak keberatan kan, Sher?" "Waw ... Ini beneran suprise banget sih," ujarku, yang sebenarnya ini bukan hanya suprise banget tapi ... Gue bener-bener kaget badai. Kok bisa sih Adrian malah jadian sama Leana. Adrian ... Leana ... Adrian ... Leana. Astaga ... aku nggak bisa mencerna ini semua dari sisi manapun. Leana mengambil nafas panjang. Diantara keramaian seperti ini, kami tidak bisa bicara pelan-pelan. Oh ya ampun! Ku pikir Adrian sudah tobat dari keinginannya untuk mempermainkan hati seorang wanita. Tapi kenapa jalan yang ambil malah lebih buruk lagi. Leana atuh, sahabatku, sahabat terbaikku begitu pula Adrian. Jadi dari tadi maksud Adrian melirik terang terangan ke arah kami itu untuk bertukar pandang pada Leana. Pantas akhir-akhir ini, Leana sering menanyakan kabar Adrian. Tapi anehnya, Adrian tidak pernah menyinggung-nyinggung soal Leana didepanku. Bukankah ini, menandakan bahwa yang dialami Leana hanyalah cinta sepihak dan bisa saja membuatnya sakit hati. Persahabatan ku kini sangat terancam. "Sher ... Lo nggak marah kan sama gue? Lo beneran nggak ada perasaan apa-apa kan sama Adrian. Gue nggak ada maksud buat nyembunyiin ini dari lo ..." "Gue nggak masalah lo pacaran sama siapapun, Lea. Tapi kenapa musti Adrian. Ini bukan masalah gue ada perasaan atau nggak sama dia. Cuman lo tahu sendirikan dia itu kaya gimana? Lo tahu sendiri kan, prestasi dia di kampus soal cewek tuh gimana?" jelasku. "Gue juga udah ingetin Leana soal ini. Tapi dia tetep kekeh, kalau hubungannya sama Adrian bakal berjalan baik," cetus Mira. Ohh astaga ... Jadi inikah yang tadi dikatakan Adrian, soal hal aneh-aneh yang bisa saja ku dengar? Ini bukan sekedar aneh, akan tetapi mengejutkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN