Shera Fuji Lemana
Aku tidak habis pikir dengan keabsurdtan Adrian yang malah berpacaran dengan Leana saat ini. Apa aku cemburu? Tentu saja nggak mungkin. Aku nggak memiliki perasaan apapun pada Adrian, selain rasa care sebagai sahabat. Yang ku sesalkan hanyalah, karena mereka berdua adalah sahabatku. Mengingat prestasi Adrian yang berhubungan dengan cewek lumayan keren, aku jadi berpikir. Saat nantinya ada masalah yang terjadi, aku tidak akan bisa memihak pada siapapun.
"Gue percaya sama Adrian kok, Sher. Gue yakin dia udah berubah!" kata Leana meyakinkanku.
Tentu saja dia yakin. Saat ini hati dan pikirannya pasti sedang di tumbuhi bunga-bunga asmara yang bermekaran. Ku harap bunga itu tidak layu dengan segera. Si Adrian ini memang sudah hobby bersikap manis dan menarik hati wanita, tapi aku juga nggak percaya kalau Leana bisa masuk ke dalam perangkapnya. Jangan pernah bilang, kalau aku belum mengingatkan dia.
Meski mereka sahabatku, aku juga tidak bisa terlalu banyak ikut campur. Ya ... Leana yang cantiknya polll banget, bersanding dengan Adrian yang kece badai. Sempurna sih!
"Oke, oke. Congrat buat kalian ya," ujarku. Wajah Leana tampak berseri. Aku ingin saja menyematkan doa lain untuk hubungan mereka. Tapi entah kenapa, aku begitu ragu. Aku harus bicara soal ini dengan Adrian nanti. Dia harus memberi penjelasan. Jika itu adalah wanita lain, aku juga tidak akan begitu peduli. Tapi karena perempuan itu adalah Leana, maka aku merasa harus ikut campur dengan keseriusan pria ini.
Usai pembicaraan mengenai hubungan Leana dan Adrian, kami lantas ikut kembali hanyut didalam acara selanjutnya. Aku bisa melihat wajah yang berseri juga binar mata bercahaya yang dipersembahkan oleh Leana untuk Adrian. Sepertinya, Leana benar-benar menyukai pria itu.
Setelah ia mengakui hubungannya dengan sahabatku itu, Leana terlihat lebih lepas dan terang-terangan berteriak, memanggil-manggil nama Adrian. Tapi sejak kapan Leana mulai ada perasaan pada Adrian. Kenapa aku tidak menyadari semua itu.
Jika aku bertanya lebih detail, Leana mungkin akan berpikir kalau aku terlalu mengatur kehidupan Adrian hanya karena kami bersahabat. Ohh ... Aku benci sekali perasaan ini. Aku benci disaat aku tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirku. Kenapa aku tidak terlahir menjadi seseorang yang lebih cuek saja.
Setelah pertunjukan selesai, Leana dan Mira memaksaku pergi ke belakang panggung untuk menemui Adrian dan kawan-kawannya. Aku menolak secara halus, mengatakan kalau sekarang keadaan didalam sana sama sekali nggak aman buatku. Aku sedang menjadi incaran para mantan kekasih Adrian yang bar-bar. Aku memilih untuk menunggu di kantin. Meski pada akhirnya Leana dan Mira tetap pergi menuju ke belakang panggung tanpa aku.
Well tak masalah! Alasanku yang sebenarnya adalah ... aku juga tidak mengerti. Aku merasa di bohongi oleh sahabatku sendiri. Padahal kami bersama terus, tapi kenapa Adrian menyembunyikan semua itu. Ia menyembunyikan sebuah cerita yang membuatku hampir kehilangan akal.
Es jeruk yang ku pesan beberapa menit yang lalu baru saja datang dengan agak terlambat. Keadaan cukup ramai mengingat ada banyak pendatang dari luar kampus juga hari ini. Tubuhku sudah lengket dan penuh dengan keringat, karena sejak pagi aku sudah stay di Kampus hingga sore ini. Untungnya hari ini adalah jadwal off ku di hotel. Jadi setelah dari kampus, aku bisa langsung pulang dan istirahat dikamar.
Ponselku berdering tepat disaat aku baru saja akan berselancar ke dunia maya. Nama si kampret Adrian itu muncul. Kenapa dia malah menelponku. Bukankah saat ini dia sedang bersama Leana.
"Hallo! Apaan?" tanyaku langsung.
"Lo gimana sih, Sher. Leana sama Mira ada disini, tapi lo malah nggak ada?" gerutu Adrian. Lebih tepatnya, terdengar seperti orang yang sedang marah.
"Lo nggak sadar di belakang panggung itu mantan lo semua? Gue udah kaya tersangka kasus pembunuhan tau nggak, berdiri di deket lo sambil diliatin mereka!" elakku yang tentu saja bukan alasan sebenarnya.
"Ccckk, basi lo. Dimana lo sekarang. Gue nyusul kesana!"
"Di kantin. Lagi minum es. Cuaca panas banget hari ini dan ...
Belum selesai aku bicara, tapi Adrian sudah menutup panggilannya terlebih dahulu. Dasar nggak sopan! Seharusnya, tadi ku katakan saja kalau aku sudah pulang.
Aku kembali menyeruput sisa es jerukku dengan nikmat. Rasa asam dan manisnya seolah memberikan energi juga kelegaan yang baru. Aku yang semula ingin membuka dunia maya malah mengurungkan niat, dan kembali memasukkan ponsel ke dalam tas.
Tapi tiba-tiba saja, pandanganku yang tadinya bersinar terang berubah jadi gelap. Aku bisa merasakan ada dua tangan yang dengan sengaja menutupi mataku.
"Adddri ...." Tunggu dulu. Semula aku ingin menyebutkan nama Adrian. Karena biasanya si kampret itu yang jahil. Tapi bukankah baru saja dia menelponku. Tidak mungkin dia bisa berlari secepat itu dari belakang panggung dan menuju kesini. Selain itu, aroma parfum ini meskipun tidak asing, juga bikin milik Adrian. Aku seperti mengenalnya, tapi juga lupa dengan siapa aku berurusan.
"Siapa ini?" tanyaku.
"Lama nggak ketemu, Sher. How are you?"
Mendengar suaranya yang khas, aku tahu sekarang. Buru-buru ku lepaskan sebelah tangannya yang menutupi mataku. Kepalaku menoleh. Memastikan, benarkah dugaanku benar. Dan ternyata memang dia.
"Kamu kok bisa disini?" tanyaku heran. Pria itu menarik satu kursi dan duduk disampingku. Ini cukup membuatku agak terkejut. Sudah berapa lama kami nggak ketemu. Jantungku langsung berdebar tak karuan. Potret semua aktifitas yang pernah kami lakukan saat itu menjadi hal yang pertama kali ku ingat. Padahal, aku sudah sangat berusaha keras untuk melupakannya.
"Ya ... Ini acara untuk umum kan? Jadi nggak akan ada hal yang aneh saat aku ada disini. Lagi pula, aku juga punya teman disini."
"Oya ... Siapa?"
"You!" jawabnya sambil tersenyum. Sialan! Padahal aku sudah begitu panik. Tapi dia malah begitu santai.
"Kamu belum jawab pertanyaanku, Sher. Gimana kabar kamu. Are you ok?" tanyanya lagi.
"Aku baik-baik aja. By the way, Xel? Kamu potong rambut?"
Axel, satu lagi nama yang kuhindari. Dia tiba-tiba saja muncul disaat seperti ini. Inikah yang dinamakan, takdir?
"Aaahhh ... jadi ... kamu nggak ingin menanyakan kabarku dan sekarang justru tertarik soal rambut?"
Terakhir kali ku lihat Axel itu berambut gondrong, dan dia biasa menguncirnya ke belakang. Tapi sekarang, rambutnya yang pendek membuat pria ini terkesan lebih dewasa.
"Ya ... Because you look so ...?"
"Handsome?" sahutnya.
Sialan! Aku ingin bilang iya. Tapi bakalan gengsi banget jadinya.
"Wahaw ... Percaya diri yang bagus. Nggak heran kamu bisa jadi pengusaha muda yag sukses banget di Jakarta. Bikin anak Desa ini minder aja," cibirku sembari tertawa kecil.
"Apa yang terjadi, Sher!"
Tawa kecilku terhenti, begitu menangkap ekspresi wajahnya yang berubah serius. Aku mengangkat sebelah alisku. Harusnya tanpa berucappun, dia akan paham soal pertanyaanku soal, memangnya apa yang terjadi?