Bab 57. Shera 35

1027 Kata
Shera Fuji Lesmana "Kamu nggak lagi balas pesanku, apalagi angkat telponku. Dan sepertinya, kamu juga memblokir nomorku. Ada apa, Sher? Apa kamu menyesal dengan semua yang pernah kita lakukan? Kamu menyesal karena sudah mengenalku?" Ya ... Terakhir kali aku memintanya untuk menjaga jarak. Aku juga mulai bersikap tak acuh. Bukan hanya padanya, tapi pada semua laki-laki yang ku anggap berbahaya. Entah bagi masa depanku, bagi cita-citaku, juga bagi kehormatan dan perasaanku. Axel menjadi salah satu kandidat yang paling memungkinkan untuk meraih hatiku. Aku nggak siap untuk kembali merasakan patah hati, atau komitmen dalam jangka waktu yang terlalu dekat. Aku takut akan mengalami hal buruk yang akan mengganggu cita-cita dan impianku untuk menjadi orang kaya. "No ..." jawabku sambil menggelengkan kepala. "Lalu kenapa? Kamu tahu nggak? ternyata Dilan itu benar. Rindu itu berat. Aku ... rindu banget sama kamu Shera." Ayolah ... Apa maksudmu Shera, nggak mungkin kamu akan goyah hanya karena sebuah kata-kata manis yang terucap dari mulut pria ini. Pikirkan lagi tentang semuanya. Selain itu, dari mana Axel mulai belajar soal hal-hal manis seperti ini. Bagaimana aku nggak kegeeran kalau kaya gini terus? "Kamu terlalu berlebihan. Aku cuma lagi banyak kegiatan di kampus," jawabku sesantai mungkin. Wajah Axel yang semula serius, kini tersenyum. Cepat sekali dia merubah raut wajah. Bisa jadi the best aktor ni anak. "Sebenernya aku nggak percaya. Tapi ya udahlah. Gimana kalau kita kenalan lagi aja dari awal. Lupain semuanya!" Axel mengangkat tangannya ke atas meja dan mengulurkannya padaku. Persis seperti orang yang ingin mengajak bersalaman. Aku bingung donk. Kalau mau salaman kenapa nggak dari tadi? Ini kita udah ngobrol banyak. Memangnya nggak telat? "Halo Shera. Namaku Axel Yudhistira, dan aku bermaksud untuk buat ngajak kamu nonton sekaligus mengenal lebih jauh siapa aku sebenarnya ... You wanna try?" Konyol! Berarti, ini sudah yang ketiga kalinya kami berkenalan. Apa yang ada di dalam otaknya hingga ingin memulai semuanya dari awal. Mengenal Axel lebih jauh, membiarkanku tahu tentang sisi lain darinya. Apa dia seserius itu? Apa dia begitu percaya, kalau aku adalah orang baik? Jujur saja, aku hampir tidak bisa menolak pesonanya. Aku juga tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa kali ini. Imej cewek jutek yang ku tonjolkan beberapa waktu ini luluh dihadapannya. Ya ... kurasa memang tidak ada salahnya jika kami memulai segalanya dari awal. Aku membodohi diri sendiri, dengan menganggap semua hal yang pernah terjadi itu telah ku lupakan. Nyatanya, semakin kita melupakan sesuatu, maka kita justru akan semakin mudah mengingatnya. Soo ... Kita nggak akan pernah tahu hasil dari sesuatu, jika belum pernah mencobanya. Aku ikut mengangkat tangan dengan maksud untuk membalas perkenalannya tadi setelah terdiam cukup lama. Rasanya agak aneh, kami jadi seperti Abg malu-malu yang ingin berkenalan. Namun belum sempat tanganku sampai, ada tangan lain yang lebih dulu membalas jabatan tangan Axel. Aku dan Axel menoleh bersamaan pada seorang pria yang kini berdiri disamping Axel. Ia menautkan tangannya pada tangan Axel yang semula di peruntukan untukku. Loh ... Apa-apaan orang ini! "Hello, my name is Adrian. Lo bisa panggil gue Iyan. Seluruh kampus kenal kok, gue siapa dan Shera siapa. Nice to meet you!" Adrian datang tiba-tiba, lalu menunjukan rasa tidak sukanya pada Axel dengan terang-terangan seperti ini. Di belakang Adrian ada Leana dan juga Mira. Gawatt! Pandangan Leana agak berubah. Belum genap satu hari aku mengetahui hubungan mereka, tatapan Leana padaku sudah berbeda. Buru-buru aku berdiri dan melepaskan tangan mereka yang sudah saling meremas di atas meja. Tidak ada jalan lain lagi. Aku hanya bisa saling mengenalkan mereka saja sekarang "Ehmm ... Axel ini Adrian dan Adrian ini Axel. Kalian udah beberapa kali ketemu tapi, aku belom sempet kenalin kalian!" jelasku. "Oh ... Dan ini juga sahabat aku, Leana sama Mira," tambahku lagi. "Oh ya ... nice to meet you, Adrian, Leana dan Mira. Gue sama Shera kebetulan lagi ngobrol. Kalian mau gabung?" Astaga, kenapa Axel bodoh sekali. Malah mengajak mereka semua bergabung. Raut Adrian meskipun sedang tersenyum, masih tampak tidak bersahabat. Leana tampak mengapit lengan Adrian dengan protektif. "Off course. Kita pasti mau gabung. Iya kan, Yan?" ujar Leana sembari membantu Adrian untuk duduk. Atau lebih tepatnya, memaksa. Aku harus mulai membiasakan diri dengan keberadaan Leana yang akan terus menempel pada Adrian. Karena sudah begini, tidak sopan jika aku harus pergi. Mira lantas mendekati tempat dudukku. "Sorry banget, gue nggak bisa ikut kalian ngobrol. Udah ada yang jemput nih." Mira kemudian menurunkan tubuhnya, mengsejajarkan bibirnya pada telingaku, seraya berbisik ... "Ini cowok yang waktu itu di hp lo kan, Sher. Keren banget. Eh lo juga ati ati sama Leana, kayanya dia udah mulai sensitif soal hubungannya sama Adrian. oke, good luck." Setelah membisikan hal absurd itu, Mira berpamitan, lalu pergi dengan wajah baik-baik saja. Sekarang hanya tinggal tersisa aku, Adrian, Leana dan Axel. "Kalian mau pesen makan atau minum mungkin. Karena gue tamu disini, jadi nanti biar gue aja yang bayar," tawar Axel. Aku tahu maksud Axel ini baik. Tapi aku yakin, Adrian nggak akan mengerti itu. "Nggak perlu repot-repot, karena gue masih mampu," bantah Adrian. Sudah kuduga, ini tidak akan baik. "Mumpung Shera sekarang ada temennya, gimana kalau kita sekarang jalan aja? Double date. Lo juga malem ini nggak kerjakan, Sher. Ayolah, jarang-jarang kita bisa kaya gini?" Apa-apaan ini Leana. Apa dia tidak bisa membaca situasi dan kondisi. Wajah Adrian tampak tak bersahabat ditambah ini juga memalukan. Double date itu untuk orang yang pacaran. Aku dan Axel bukanlah pasangan. "Kalau Shera nggak keberatan tentunya," cetus Axel sambil melirik minta persetujuan padaku. Aku ingin sekali menolak, tapi Leana tampak begitu antusias. Kurasa, Leana dengan sengaja ingin menunjukan padaku, kalau hubungan dan Adrian memang lebih daripada sekedar mengenal. Nggak apa-apa juga sih sebenarnya. Itu hak mereka, tapi ... "Sebenernya nggak apa-apa sih. Cuma ... Adriankan baru beres manggung. Dia pasti capek juga kan?" Aku melirik pada Adrian. Ku harap dia menolaknya. Aku sudah membayangkan untuk merayakan keberhasilan Adrian, Ricky dan Tio sebelum akhirnya tahu kalau Leana adalah pacarnya. Mendadak aku ragu untuk melangkah. Ini terasa berbeda, karena aku tidak ingin jadi orang ketiga lagi, terlebih diantara dua sahabatku. Tapi dia justru langsung berdiri, menggenggam tangan Leana. "Gue nggak keberatan. Ayo mumpung belom malem!" ajak Adrian sambil melirik padaku ada Axel. Astaga ... Ini diluar dugaan. Sial banget sih!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN