Adrian Maulana
Lihat mereka sekarang. Lengket seperti lem perekat, serasi bagaikan Romeo dan Juliet, romantis bagaikan Dillan dan Milea, aku bahkan kehilangan kata-kata untuk perumpamaan lainnya. Shera terus saja mengapitkan lengannya pada Axel. Berjalan berdua seolah dunia ini milik mereka. Yang lain cuma ngontrak, dan kayanya lupa bayar tagihan. Apanya yang double date sih? Ini namanya jalan masing-masing.
Aku harusnya tahu, kalau ide Leana untuk mengajak kami berkencan sama-sama adalah ide yang buruk. Dan ... aku juga tahu, maksud hatinya membawaku pergi bersama-sama adalah hanya untuk menunjukan pada Shera, kalau aku miliknya dan Shera juga sudah memiliki Axel.
Aku sudah bilang pada Shera, untuk jangan terlalu merasa terganggu pada hal-hal aneh yang akan dia dengar. Tapi rupanya, malah kini aku yang merasa terganggu.
Kami berempat sekarang ada di salah satu Mall terdekat dengan kampus. Berada disalah satu toko baju dan perlengkapan wanita yang sebenarnya nggak ada di dalam daftar keinginan berkunjungku hari ini. Coba tebak, siapa pencetus ide buruk ini. Tentu saja Leana, siapa lagi? Shera sendiri lebih menyarankan kami untuk pergi nonton. Tapi Leana kekeuh ingin mengajak kami semua mengacak-ngacak toko.
Padahal ... awalnya aku ingin mengajak Shera bergabung denganku, Tio dan Ricky untuk merayakan keberhasilan kami.
Memang agak sedikit berlebihan. Kami ini hanya berhasil manggung di kampus, yang kebanyakan penontonnya adalah kawan, dan jelas-jelas mengenal kami. Tapi ini adalah awal yang bagus. Ku harap aku bisa berbagi kebahagiaan ini seperti biasanya.
Tapi rencanaku gagal, saat akhirnya Shera tahu aku memiliki hubungan dengan Leana, juga saat aku melihat dari kejauhan, dia sedang bersama dengan pria bernama Axel itu. Kedatangan Leana dan Mira tanpa Shera ke belakang panggung, saat aku selesai tampil, sudah menjadi bukti kongkrit kalau akhirnya dia memberitahu Shera.
Aku membatalkan janjiku dengan Tio dan Ricky untuk bersenang-senang hanya untuk melihat Axel dan Shera bermesraan disini. s**t! rasanya ini menjadi sia-sia. Padahal Shera tak pernah terang-terangan begini waktu masih bersama Tama. Apa yang dimiliki Axel, sampai bisa membuat Shera luluh?
"Yan ... Coba liat, ini bagus nggak?" Leana membuyarkan lamunanku. Ia menunjukan sebuah baju yang dipilihnya, saat pandanganku masih fokus pada Axel dan Shera.
"Ya bagus. Tinggal bungkus aja kalau gitu," jawabku asal. Padahal aku sama sekali nggak peduli dan tentu saja agar kami bisa segera pergi.
"Ya udah, aku ke kasir dulu ya," pamitnya. Aku menunggu disini, dan banyak memperhatikan interaksi pasangan itu. Hatiku jadi panas. Mulai dari tawa nyaring yang mereka lontarkan, juga gestur tubuh, serta gerakan tangan Axel yang tak segan-segan mengacak rambutnya, mencubit pipinya, atau merangkul bahu Shera. Semuanya terasa asing didalam pandanganku, karena biasanya, hanya aku yang melakukan itu semua. Juga Tama mungkin?
Sekarang Axel tampak sedang memaksa Shera untuk memilih sesuatu. Aku tahu betul, Shera nggak akan melakukannya. Dia memang mata duitan, tapi juga nggak akan matre dengan sembarangan orang. Lebih tepatnya, dia itu sering matre padaku, tapi jujur saja, aku saa sekali tidak keberatan. Dari tampilan dan gayanya, aku sudah bisa menebak kalau Axel itu orang berada.
Aku bisa melihat Shera sempat melirik sekilas padaku. Lalu kemudian berusaha sok sibuk lagi, ngobrol dengan Axel, seolah aku ini nggak ada.
Arrkhhh aku sudah hampir nggak tahan lagi. Setelah ini, aku harus mengantarkan Leana pulang. Salahku juga, tidak mengatakan segalanya dari awal pada Shera. Aku harus menjelaskan, apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Yan ...!"
"Oyyy ...!" aku melonjak kaget saat ternyata Leana menepuk bahuku.
"Kamu kenapa sih malah kaget gitu?"
"Ya ... kamu cepet banget soalnya. Perasaan tadi dikasir tapi sekarang udah balik lagi. Kan kaget! Ya udah ah, aku laper, kita cari makan dulu ayo!" ajakku pada Leana, sembari menarik tangannya pergi.
***
Dan disinilah aku sekarang. Duduk di teras depan kamar milik Shera, menunggunya pulang berkencan dengan Axel. Ironis sekali! Aku mengendarai motor seperti orang kesetanan, hanya agar bisa sampai kesini lebih cepat. Tapi gadis itu bahkan sama sekali nggak terlihat batang hidungnya.
Setelah selesai mengacak-ngacak baju, kami berempat sempat makan di salah satu Cafe. Menghabiskan waktu yang panjang, untuk saling memanaskan diri satu sama lain. Atau mungkin sebenarnya, justru hanya aku yang panas. Lalu selesai makan, kami berpisah, karena sama-sama membawa kendaraan.
Shera yang memiliki tinggi badan standar itu, tentulah akan lebih mudah untuk naik mobil daripada bersusah payah dengan motorku yang tinggi. Aku selalu ingin memiliki mobil pribadi, agar Shera lebih nyaman menjadi penumpang. Tapi Bapak tidak mau memberikan benda itu, jika aku belum juga lulus kuliah. Dalihnya, beliau takut aku akan menyalah gunakan kepercayaannya.
Aku sudah berkali-kali mengirim chat pada Shera. Memberitahu kalau aku sudah menunggu sejak tadi. Tapi tanda ceklis satu, membuatku uring-uringan. Apa yang sedang dilakukannya dengan Axel, hingga harus menghabiskan waktu begitu lama. Mereka hanya berkawankan? Aku yang memiliki hubungan dengan Leanapun, malah sudah berada disini lebih cepat. Ingatkan aku untuk mengacak-ngacak rambut Shera saat dia datang nanti.
Lama aku terdiam, sampai akhirnya yang ditunggu datang juga. Shera melangkah pelan menuju tempatku duduk, alias kamarnya juga sih. Aku berdiri menghampirinya yang mengernyit heran dengan keberadaanku.
"Kok lo ada disini? Bukannya tadi sama Leana?"
Pertanyaannya menandakan, kalau dia tidak membaca pesan yang ku kirimkan tadi.
"Aku nungguin kamu dari tadi. Ngapain aja sih sampe lama banget gitu!" protesku.
Shera tidak menggubrisku, dan malah sibuk membuka kunci pintu yang diraihnya dari salah satu sudut fentilasi di atas jendela. Sialan! Tahu kuncinya ada disitu dari tadi, aku harusnya sudah masuk dan menunggunya di kamar saja, dari pada diam sendirian didepan seperti orang linglung.
Aku mengikuti Shera yang baru saja masuk, kemudian mengambil segelas penuh air putih dari dispenser, meneguknya dengan cepat seperti orang yang nggak pernah minum dua hari. Padahal di Cafe tadi, ia sampai memesan dua gelas jus.
"Habis ngapain aja lo sama si Axel, sampe kaya ikan kurang aer gitu," tanyaku.
"Ciuman!" jawab Shera dengan santai, yang membuatku terkejut. Kok bisa-bisanya dia dengan gamblang mengatakan itu padaku.
"Nggak usah melotot gitu. Gue bercanda. Gue minum ya karena haus. Ngapain sih lo. Tanya-tanya!"
Nafasku langsung lega, begitu mendengar ia hanya bercanda. Kenapa perasaanku jadi aneh seperti ini sih. Bukannya bagus ya kalau Shera bisa dekat dengan laki-laki lain. Itu berarti dia sudah move on, dan ada seseorang yang akan menjaganya. Aku secara resmi akan bebas tugas, dan mungkin bisa kembali menjadi Adrian yang dulu. Tapi setelah melihatnya seharian ini dengan Axel, hatiku jadi nggak rela. Takdir macam apa yang saat ini coba mempermainkanku.