Bab 59. Adrian 20

1099 Kata
Adrian Maulana "Lo baru kenal sama Axel, Sher. Tapi kalian udah sedeket itu. Gue takut lo bakal kecewa lagi," cetusku pada Shera. Gadis itu membuka sweater hodie hitam yang dikenakannya, lalu melemparnya ke sembarang arah. Menyisakan kaos putih polos, yang agaknya sudah mulai lengket dengan keringat. Maklum saja, sejak pagi dia sudah ada di kampus. Membantu segala macam persiapanku dan anak-anak. "Terus gimana sama lo dan Leana," tegasnya. Cepat atau lambat Shera pasti akan menanyakan hal ini. Aku tahu itu. "Lo salah paham, Sher!" "Salah paham apanya. Gue nggak peduli ya kalau lo mau ada hubungan sama siapapun. Tapi dia itu Leana. Dia sahabat gue, sama kaya lo!" cecarnya. "Lo denger gue dulu donk, Sher." "Lo menempatkan gue diposisi yang sulit, Yan. Kalau terjadi sesuatu, gue nggak bisa memihak siapapun. Terlebih lagi, kalau lo sampe nyakitin Leana kaya mantan-mantan lo itu, pokoknya gue ..." "Leana yang nembak gue duluan, Sher!" selahku dengan tegas. Jika aku tidak segera memberi tahu kebenarannya, Shera pasti akan terus mengoceh. "A ... Apa?" tanyanya dengan ragu. Sudah kuduga, dari keraguannya itu, aku bisa menyimpulkan kalau Shera mengira aku akan berulah lagi. "Saat gue bilang untuk nggak lagi mainin hati perempuan, di saat itu juga gue udah kehilangan gairah buat pdkt, atau punya pacar lagi. Bukan karena gue nggak normal, tapi gue emang ngerasa capek aja, Sher," jelasku. Aku memang lelah, masa-masaku untuk bertualang mencari cinta sepertinya sudah berakhir. "Tapi dia datang. Dia yang minta aku untuk jadi pacarnya. Dan gue nggak enak nolak dia itu, justru karena lo, Sher. Karena gue tahu dia itu sahabat lo. Gue takut dia akan merasa lo itu saingannya karena kita berdua deket!" tambahku lagi. "Lo udah gila. Nggak seharusnya lo kaya gini, Yan. Kalau emang lo nggak mau, ya harusnya lo tolak dia baik-baik. Itu lebih baik daripada lo angkat dia dulu tinggi-tinggi, terus tiba-tiba lo jatuhin dia sampe hancur. Sekarang nggak ada pilihan lain. Lo harus tanggung jawab, Yan!" tegas Shera, membuatku hampir saja syok. Aku tidak berbuat apa-apa. Ya maksudku, aku memang berbuat. Tapi itu atas dasar kerelaan. Aku akan bertanggung jawab, jika memang aku yang memaksanya. Tapi disini, justru aku yang menjadi korban pemaksaan. Hanya saja, jika Shera tahu, maka hidupku akan segera hancur. "Tanggung jawab apa sih, Sher? Gue nggak pernah pegang-pegang dia kok!" Maaf Shera, aku berbohong. "Maksud gue bukan tanggung jawab itu. Gue minta karena lo udah terima dia, ya lo jangan mainin dia, Yan. Belajar buat cinta, belajar buat hubungan serius sama dia, belajar buat ..." "Tapi yang gue suka itu bukan dia, Sher. Lo paham nggak sih. Lo ngerti nggak sih, kalau semua itu gue lakuin buat lo. Cuma supaya lo nggak kehilangan dia!" Arrrkkkkhh ... ini si Shera lama-lama kenapa malah semakin membuatku emosi. "Nggak waras lo, Yan!" Astaga Shera, kenapa dia begitu keras kepala. Disini yang sebenernya nggak waras itu gue apa dia sih? "Lo terlalu naif, Sher. Lo terlalu yakin kalau semua hal bisa berhasil hanya karena tekad dan usaha. Padahal nggak! Hal yang bikin lo bisa bertahan di Jakarta selain karena bantuan gue itu ya karena lo punya temen-temen konglomerat kaya Leana dan Mira. Kalau nggak, udah dari lama lo bakal jadi anak di pojok kelas yang jadi bahan bullyan. Dan disini, gue lagi bantu lo. Dengan gue terima dia, terlebih dia tahu kalau kita adalah sahabat baik, otomatis dia nggak akan buat masalah dan bersikap lebih baik lagi sama lo. Paham nggak sih!" ujarku dengan berapi-api. Nafasnya mulai tak beraturan, setiap hembusannya membuat dadaku naik turun dengan cepat. Sulit sekali meyakinkan Shera, kalau semua hal yang kulakukan jika berhubungan dengannya, pastilah dengan pemikiran matang yang tak bisa dianggap sembarangan. Namun, setelah agak lama. Kenapa tak juga ada suara yang terdengar selain musik dari kamar sebelah. Aku menoleh pada Shera yang saat ini memandangku. Raut wajahnya tampak sedih, matanya berkaca-kaca, ia menggigit bibir bagian bawahnya yang terlihat agak bergetar, tangannya mengepal seperti tengah menahan sesuatu. Tapi kenapa? Apakah ada yang salah dari penjelasanku tadi? "She ... Shera?" panggilku. "Kamu sedang menyadarkanku, Yan. Thanks banget. Aku tahu, hutangku sama kamu banyak banget. Kita mungkin memang teman, kita juga sudah bersahabat bertahun-tahun. Tapi semua itu nggak akan bisa menghapus satu kenyataan kalau aku hanya anak seorang asisten rumah tangga di tempatmu." Kenapa Shera jadi membahas hal itu? Sungguh bukan itu yang ku maksud. "Shera, bukan itu maksudku. Kamu salah paham!" "No ... Ini sama sekali bukan salah paham. Kamu benar kok. Hidup di Ibu Kota yang katanya lebih kejam daripada Ibu Tiri ini, nggak akan berhasil tanpa adanya koneksi dari dalam. Kamu dan Leana sangat cocok. Kamu dari keluarga berkecukupan, sedangkan Leana anak salah satu konglomerat. Kalian berdua sudah bekerja sama dengan baik, membuatku jadi populer di kampus. Aku sangat berterima kasih. Jadi sekarang, silahkan pergi," pinta Shera dan dengan sangat jelas dia mengusirku. Setelah beberapa saat, barulah aku menyadari apa yang ku katakan memang salah. Secara tak langsung, aku sudah mendorong sebuah asumsi kalau Shera berada disini bukan karena usahanya sendiri. Shera masih bisa berdiri dan baik-baik saja hanya karena aku dan orang-orang berduit lainnya. Aku membuat Shera seolah tak berdaya jika dia tidak memiliki teman dari kalanga orang-orang berada. Isshhh! Shera pasti sangat tersinggung. "Lo berubah, Sher! Ohh atau sekarang, lo merasa udah punya orang kaya lain yang bisa lo manfaatin? Ya-ya-ya, sekarang ada Axel yang pastinya bisa dengan mudah menuhin semua kebutuhan lo lebih dari pada gue kan?" "Cukup, Yan cukup! Gue lagi nggak ingin bahas apapun. Mendingan sekarang lo pergi deh! Karena gue udah mulai muak!" Shera mengangkat tangan dan mengacungkan jari telunjuknya tepat ke arahku. Wajahnya terlihat geram, karena kata-kata yang baru saja ku ucapkan. "Lo pergi dari sini!" perintahnya. Bersamaan dengan itu pula, terdengar rintik hujan di luar kamar yang semula pelan lalu tiba-tiba semakin deras. Aku ingin bertahan disini, tapi Shera tampak masih sangat kesal. Baiklah semua ini memang salahku. Aku bahkan nggak tahu, kenapa nama Axel juga menjadi sasaranku kali ini. Maka dari itu, aku lalu beranjak, meninggalkan Shera sendirian di kamarnya. Gadis itu bahkan tak ingin melihat wajahku, ia terus saja berpaling. Ia juga tak mencegahku, meski tahu di luar hujan turun dengan amat deras. Belum lama kami baikan. Dan hari ini, aku sudah kembali membuat masalah. Tapi aku terlalu takut, dan aku juga terlalu gengsi untuk mengakui kalau sebenarnya mungkin aku hanya cemburu. Aku takut jika Shera tak lagi membutuhkanku. Aku begitu takut jika Axel akan menggantikanku mengisi hari-harinya yang seharusnya selalu bersamaku. Orang yang ku suka memang bukan Leana. Tapi aku rela mengorbankan perasaanku dengan demi orang yang kusuka. Mungkin harusnya aku tak lagi berlari dari kenyataan, juga membohongi diri sendiri. Orang sebenarnya ku sukai adalah ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN