Shera Fuji Lesmana
Aku tahu, aku tahu ... Memaksakan diri untuk tetap berada di dalam lingkungan yang tak sepadan denganmu, lambat laun pasti akan menimbulkan masalah juga. Sepertinya aku terlalu santai, menikmati pergaulan orang-orang dari kalangan menengah keatas, hingga lupa tempat dimana seharusnya aku berasal.
Aku tersinggung dan sejujurnya merasa amat terhina. Tapi juga nggak bisa menyalahkan kenyataan kalau mereka semua seolah tim sukses yang memaksaku untuk hidup. Darimana awalnya, aku juga tidak paham. Pembahasan soal hubungan Leana dan Adrian malah ngelantur ke arah harga diri, kontribusi dan jasa-jasa orang dalam.
Aku membuka sedikit tirai jendela. Menatap hujan deras yang membasahi bumi dan membuat oksigen yang ku hirup terasa lebih bersih juga sejuk. Seharusnya, Adrian sudah sampai di rumahnya kan? Dia sudah pergi sejak tadi karena ku usir. Memang terlihat jahat! Aku memintanya pergi di saat hujan deras mulai mengguyur. Tapi semakin lama ku biarkan, otaknya malah makin nggak waras. Terus terang saja, sekarang aku merasa amat khawatir.
Aku tahu, meski aku sangat tersinggung maksud Adrian hanya ingin melindungiku. Ia hanya tidak ingin aku mengalami kesulitan, karena peran koneksi di Jakarta itu sangat dibutuhkan. Bahkan jika aku berhasil lulus kuliahpun, belum ada jaminan pasti kalau nanti aku bisa mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi dengan mudah.
Karena sedang hujan, suasana di kawasan kosan ku jadi agak sepi. Mereka yang biasa mangkal didepan, pastilah lebih memilih untuk diam didalam kamar. Mencari mangsa dibawah air, hanya akan membuat make up yang susah payah mereka buat, jadi luntur. Kebanyakan dari mereka pasti sedang mulai membuat promo online melalui ponsel.
Aku beralih dari jendela kamar, menuju tempat tidur lalu menyalakan data pada ponsel yang sempat ku matikan. Pesan dari Axel bermunculan. Isinya hanya hal-hal tak begitu penting dan standar sih! But waw ... Kurasa, dia nggak punya tujuan untuk hanya saling mengenal atau berkawan denganku. Lalu kemudian ada beberapa pesan dari nomor lain, hingga yang terakhir adalah pesan dari Adrian. Ya ... Pria itu mengirimkan pesan saat aku belum sampai kesini.
Namun sebuah foto terakhir yang dikirimkannya beberapa menit lalu membuatku mendadak tercengang. Ia memotret sebuah tempat, yang agaknya tak asing dalam penglihatanku. Sebuah potret tempat di bawah hujan deras, yang setelah ku lihat-lihat bukan hanya membuatku aku tercengang, tapi juga terkejut.
Adrian mengirimkan foto parkiran kosan ku. Yang artinya, dia sama sekali belum pulang. Ya ampun, ku pikir dia sudah akan mimpi indah di kamarnya sendiri. Tapi ternyata dia malah masih berada disana. Apa yang sedang dilakukan orang gila itu, disana? Apa tujuannya? Benarkah ia berteduh karena hujan tak juga berhenti. Atau ia hanya ingin menunjukan, betapa kejamnya aku karena telah mengusirnya di tengah hujan.
Bagus sekali! Dia sudah pergi. Raganya menghilang, tapi jiwanya masih tetap saja berpencar dan menggangguku. Aku nggak bisa membiarkan ini terjadi. Pikiranku pasti kacau dan hatiku nggak akan tega. Dengan segera aku mencari-cari payung yang entah terselip dimana. Aku sering abai dan meletakan benda itu sembarangan. Karena dimusim panas, benda itu kurang berguna. Tak lama kemudian, kutemukan payung itu terselip diantara tumpukan sepatu yang belum sempat ku bersihkan.
Aku bergegas menerjang hujan menuju parkiran. Mataku berputar-putar, mencari keberadaan Adrian. Dimana pria bodoh itu sekarang? Entah aku atau dia yang bodoh. Mungkin kami sama bodohnya.
Sampai akhirnya, aku menemukan dia. Aku menemukan Adrian yang tengah berdiri dipojokan, sendirian, sembari mengusap-ngusap bahunya. Dia tampak kedinginan dan menggigil. Apa otaknya hanya diciptakan setengah?
Rasa iba, mendadak datang menguatkan kebingungan yang justru menjadi pemenang. Dengan payung yang masih terbuka, aku menghampiri Adrian lalu berdiri tepat di hadapannya. Ia menyadari kedatanganku juga. Kulihat dari ujung kaki hingga ujung rambut semuanya basah. Aku mengusap wajah dengan gusar karenanya.
"Lo ngapain sih Adrian. Malah diem disini? Hujannya gede banget! Kenapa nggak langsung pulang aja sih!" protesku. Dan yang dilakukan pria itu, hanya bengong, atau memberi tanggapan.
"Apa yang mau lo buktiin dengan cara diem disini? Lo mau jadi sok kuat hah? Lo pikir gue bakal kasian? " tanyaku lagi. Aku jadi semakin geram. Percaya atau tidak, pria ini benar-benar membuat kesabaranku hampir habis.
"Apa semua ini salahku, Sher?" tanya Adrian. Wajahnya menatapku dengan melow. Astaga, apa dia nggak bisa baca situasi dan kondisi? Lagi hujan-hujan begini, dia malah mau bermain tebak-tebakan soal siapa yang salah. Yang jelas orang salah itu ya ditangkap Polisi
"Lo nggak usah sok ngedrama gini deh. Dingin banget nih!" keluhku lagi.
"Aku nggak minta kamu buat mengerti aku, Sher. Aku juga nggak tahu kenapa, dan sejak kapan semuanya jadi berbeda. Melihat kamu dan Axel yang semakin dekat tadi, membuatku takut. Aku takut, kalau posisiku akan tergantikan."
Bibirku yang semula ingin berucap sumpah serapah padanya kini jadi terdiam. Ku pikir, semua hal yang terjadi nggak akan seserius ini.
"Karena itu ... Ku buat kamu merasa rendah diri, ku buat kamu seolah-olah nggak berdaya dan nggak becus bertahan tanpaku. Tapi sekarang aku tahu. Itu nggak bener. Kamu adalah cewek paling kuat yang pernah ku kenal, Sher. Semua yang membuatmu tetap bisa bertahan di Jakarta, bukan karena usahaku, atau kawanmu yang lain. Maafin aku ya Shera. Kamu yang paling tahu, betapa justru aku yang amat nggak berdaya tanpa kamu. Justru aku yang selama ini selalu bergantung sama kamu," jelasnya panjang lebar.
Hatiku tersentuh, Adrian sahabatku yang selalu membuat onar, kali ini terlihat tulus. Apa yang merasukinya, hingga kali ini dia terdengar berbeda.
"Leana, memang bukan orang yang ku suka. Karena orang yang kusuka itu sebenarnya ..."
Cukup ...! Aku menjatuhkan payung yang kubawa, kemudian melompat begitu saja pada tubuh Adrian. Aku memeluknya erat bahkan disaat ia hanya diam. Derasnya hujan membasahi tubuh kami dengan sempurna. Perlahan-lahan kurasakan tangannya mulai bergerak, lalu membalas pelukanku.
Aku tidak mau tahu, siapa orang yang dia suka. Sekarang, giliranku yang merasakan takut. Aku juga takut, kehilangan Adrian. Aku takut kehilangan Adrian yang selalu memperhatikan hal-hal kecil untukku. Aku takut kehilangan sosok yang selama ini membuatku selalu bergantung. Salahku karena tak pernah bisa jadi mandiri sejak awal.
Namun saat ini, aku hanya merasakan nyaman. Berada dalam peluknya, melesakkan wajahku pada dadanya yang bidang. Lalu perasaan apa ini pada akhirnya? Siapa yang bisa menjelaskan nama lain dari sebuah hubungan yang didalamnya penuh rasa takut untuk kehilangan? Aku bahkan terlalu takut untuk mengakui kalau mungkin saja, ini adalah ...