Adrian Maulana
Cinta ...! Ya aku yakin ini pasti cintakan? Meski tanganku sempat ragu untuk bergerak, meski nafasku sempat tersengal-sengal untuk menghirup oksigen, meski hatiku sempat bingung untuk menyadari segalanya. Tak ada kata lain yang lebih pantas untuk menggambarkan perasaan ini selain Cinta.
Siapa orang bodoh yang bisa-bisanya memilih untuk terdiam di bawah hujan deras, juga siapa orang bodoh yang malah menghampiri orang yang sedang asyik bengong di tengah-tengah hujan deras. Ya-ya ... Itu adalah kami, aku dan dia.
Bagaimanapun kami mengelak, sekeras apapun kami menjauh dari takdir, sekuat apapun usaha kami untuk menolak, nyatanya kami tetap tak bisa menghindar dari perasaan terlarang ini. Bukankah seharusnya, sahabat tetaplah sahabat. Seharusnya, kami nggak boleh menyimpan semua rasa ini. Ya ... Kami ... Aku ... Adrian dan Shera.
Saat dia tiba-tiba saja memelukku, duniaku serasa berhenti berputar. Bersamaan dengan payung yang jatuh telentang, menimbun air hujan tak terhingga dari langit, begitu pulalah aku baru menyadari bahwa aku tak bisa hidup tanpanya. Aku lemah, aku takut juga nggak berdaya tanpa Shera disisiku. Gadis ini sudah membuatku kehilangan kendali atas diriku sendiri.
Tanganku bergerak mengeratkan tubuhnya. Rasa dingin yang semula begitu menusuk tulang seolah perlahan lenyap. Tapi kebingungan masih menjadi sebuah pertanyaan. Asumsi soal cinta, bukankah hanya aku yang berpikir demikian. Lalu bagaimana dengan Shera. Hanya karena dia menyusulku ditengah- tengah hujan. Hanya karena dia tiba-tiba saja memelukku, bukanlah sebuah bukti kongkrit kalau perasaan ini akan terbalas. Bisa saja gadis itu hanya merasa iba karena aku adalah kawan baiknya.
Meski hawa dingin itu sempat lenyap, aku dan Shera tetaplah manusia biasa. Tubuh ini kembali menggigil. Tapi sekarang, aku justru lebih khawatir padanya. Aku masih bisa istirahat dan menghabiskan begitu banyak waktu untuk diam di kamar, kalau-kalau sampai masuk angin. Tapi Shera? Dia memiliki begitu banyak tanggung jawab untuk dipikul. Kuliah ... Kerja ... Tugas kampus. Dan Shera ini tipikal orang yang sulit untuk dilarang.
Karena itu aku melepaskan pelukannya, lalu memungut payung miliknya yang terjatuh. Tanganku terulur pada Shera, menunggu gadis itu membalasnya dengan sebuah genggaman. Kami mulai berjalan kembali, menuju kamarnya dengan sepasang tangan yang saling tertaut.
Aku terbiasa untuk melakukan hal lebih daripada berpegangan tangan dengan Shera. Aku bisa memeluknya, merangkulnya, juga mengacak-ngacak rambutnya. Namun, baru kali ini ku merasa genggaman tangannya yang mungil dan rapuh begitu amat menenangkan. Duniaku rupanya sudah mulai kembali berputar.
Aku menutup pintu begitu kami berdua masuk ke dalam kamar Shera. Keadaanku yang begitu basah kuyub, membuatku enggan untuk melangkah lebih jauh karena pasti akan membuat seisi kamarnya jadi becek. Mengerti akan kegundahanku, Shera memberiku handuk dan sepasang kaos juga celana pendek miliknya.
Beruntungnya Shera memang tidak terlalu feminim. Ia memiliki kaos polos yang tidak akan membuatku seperti perempuan jadi-jadian, juga celana pendek yang tak pernah dengan sengaja menonjolkan lekuk di area belakangnya agar terlihat. Jadi, aku masih bisa menggunakannya untuk saat ini.
"Kamu keringin badan dulu pake anduk. Terus ganti bajunya disitu aja. Biar aku ganti baju dikamar mandi."
Aku mengangguk sebagai jawaban. Gadis itu lantas berbalik, lalu masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil pakaian. Entahlah, suasananya berubah jadi agak canggung sekarang. Aku kembali duduk di ranjangnya, setelah selesai berganti pakaian. Tak lama kemudian, Shera juga keluar. Ia menggenakan piyama bahan satin berwarna merah maroon dengan celana setinggi lutut. Kami hanya saling lirik sebentar, kemudian memalingkan wajah.
Ini adalah kali pertama aku begitu gugup di hadapan seorang wanita. Karena biasanya, rasa percaya diriku terbentuk begitu saja, saat menghadapi perempuan. Semua hal yang biasa ku rasakan pada wanita, kini terasa begitu berbeda dan istimewa hanya karena Shera.
Gadis itu berjalan menuju dispenser, mengambil dua buah gelas lalu menyeduh hot chocolate yang harum. Dia mengerti betul, kalau saat ini kami butuh cairan penghangat tubuh. Setelah selesai, ia membawa salah satunya, dan menyodorkannya padaku.
"Nih ... Diminum," pintanya. Aku menurut lalu menyeruput benda itu sedikit demi sedikit. Hingga selanjutnya tersadar kalau Shera masih diam dan memperhatikanku. Aku ingin bertanya kenapa dia melihatku seperti itu, tapi takut kalau dia akan marah.
"Rambut kamu masih basah. Biar aku bantu keringin," katanya. Oh ... Jadi sejak tadi, Shera itu sedang memperhatikan rambutku yang keren ini ya. Ya ... pesonaku sebagai laki-laki populer dikampus, rupanya masih berpengaruh juga pada Shera. Aura kegantengan ini, masih tetap menjadi yang terbaik.
Setelah meletakan cangkir berisi hot chocolate buatan Shera, aku menurut saja saat Shera mengambil handuk lalu mulai mengeringkan rambutku. Posisinya saat ini adalah kami sedang saling berhadap-hadapan sembari duduk bersila di atas ranjang.
Dalam keadaan seperti ini, aku memang benar-benar bisa memandangnya dengan leluasa. Ia begitu serius mengeringkan rambutku, bahkan mungkin hingga tak sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Shera ini nggak begitu cantik kalau di bandingkan mantan-mantan pacarku yang lain apalagi berhubungan dengan fisik.
Tapi senyumnya sangat manis. Wajahnya menarik, dan bisa membuat orang tak bosan untuk memandang. Seperti sekarang ini, aku hampir tak berkedip dalam posisi ini.
Sadar sedang diperhatikan, tatapan kami saling bertemu. Ia kemudian merubah posisi, dengan bertumpu pada lutut agar bisa menjangkau rambutku yang lebih tinggi lagi. Normalnya, aku harus menundukan kepala, agar dia bisa lebih mudah melakukan pekerjaannya. Tapi mataku seolah dihipnotis. Wajahku terangkat, kepalaku menengadah, mengikuti arah dimana wajahnya berada, karena pandanganku masih juga belum puas untuk melihat bagian yang lain. Gadis itu terdiam begitu tatapan kami saling bertemu.
Sepasang matanya yang berbinar, bertemu dengan tatapanku yang resah. Ia berhenti mengeringkan rambutku. Lalu kembali turun dalam posisi duduk semula. Sekian tahun aku berkawan dengannya, baru kali ini jantungku terasa amat berdebar-debar.
Tanganku reflek begitu saja menyentuh untaian rambutnya yang basah, lalu menyelipkan helai-helai benda itu ke belakang telinga. Gadis itu kemudian memalingkan wajah. Pipinya bersemu merah, manis banget. Dia sedang malu karena memikirkan apa sih? Rasanya aneh, saat orang yang biasa ku ajak bertengkar sekarang jadi begitu kalem.
Tanganku kembali terangkat lalu meraih dagunya, memaksa gadis itu untuk kembali menatap wajahku. Ya ampun drama macam apa yang saat ini sedang kami lakukan. Naluriku sebagai laki-laki sepertinya sudah tak tahan lagi untuk menahan godaan itu.
Maka sembari terus menatapnya, perlahan wajahku mendekat. Beberapa detik kemudian, aku membubuhkan sebuah sentuhan antara bibirku dan bibirnya yang lembut hingga pada akhirnya tak ada lagi jarak di antara kami yang membuat ragu. Aku dan Shera adalah sepasang hati yang telah berkelana dan baru sadar kalau selama ini, kami lebih dekat dari apapun.