Shera Fuji Lesmana
Satu kedipan yang berat ... Dua kedipan yang mulai ringan ... Tiga ... Empat ... Lima dan kedipan kedipan berikutnya mulai membuatku setengah sadar. Aku masih berbaring menghadap sisi kanan tempat tidur juga hampir melupakan tangan siapa yang kujadikan bantal, juga tangan siapa yang kini tengah bertengger manis memeluk tepat di atas pinggangku.
Nggak akan terbayangkan kalau saja aku tidur menghadap ke arah wajahnya. Aku pasti akan merasa amat malu dan canggung. Apa yang kau lakukan Shera. Kejahatan dan keinginan kini bersanding tanpa bisa dicegah. Adrian adalah sahabatmu, juga kekasih dari sahabatmu. Tapi disinilah aku berakhir. Berbagi di bawah naungan satu kain selimut yang sama.
Berkali-kali aku selalu mengelak pada setiap tuduhan pelakor atau orang ketiga. Tapi sekarang, aku sungguh- sungguh terjebak di dalam perasaan ini sendiri. Saat bersama Tama dan Axel aku masih bisa menolak, bahkan juga marah pada diri sendiri. Tapi dengan cowok anarkis yang egois ini, aku sama sekali nggak menyesal saat saliva ini bertukar semalam.
Aku dan Adrian hanyut dalam suasa tak tentu arah. Hingga akhirnya kami sama-sama terlelap, dengan masih dalam balutan busana utuh? Ya ... agak mengecewakan bukan. Tidak ada adegan panas lain setelah itu. Aku tidak tahu bagaimana dengan Adrian, tapi untunglah untukku pribadi, aku masih bisa menahan segala macam hasrat berbekal pemikiran sebab dan akibat yang akan di tanggung nantinya. Jadi ... kami masih selamat.
"Shera ..." Adrian tiba-tiba saja berbisik ditelingaku. Aku reflek segera memejamkan mata dan kembali pura-pura tidur. Semoga saja dia nggak sadar, kalau sejak tadi aku sudah bangun. Lagipula, tak ada pergerakan juga ucapan yang kukatakan. Seharusnya dia tidak akan tahu.
"Aku tahu kamu udah bangun, Sher," seru Adrian.
Sial! Memangnya sekentara itu ya, perbedaan saat aku masih tidur atau sudah bangun.
"Kamu nggak pegel, akunya di belakangin terus dari tadi malem?" tambahnya lagi.
Aku ingin sekali tetap diam di tempat. Tapi Adrian bergerak, dan memutar paksa tubuhku. Mau tak mau aku akhirnya bergerak dan berbalik. Ayolah Shera, kenapa kamu jadi begitu cupu. Dia ini tetap Adrian yang kau kenal bertahun-tahun yang lalu. Satu-satunya perubahan yang saat ini terjadi selain tubuhnya lebih dewasa adalah bagian lain yang tentunya juga ikut tumbuh. Juga ... perasaan satu sama lain yang sulit kami artikan.
Dia tersenyum dan mengecup keningku dengan lembut. Tolonglah, sepertinya aku akan mimisan. Aku tidak terbiasa dengan perlakuan manisnya yang seperti ini, mengingat kami lebih sering bertengkar.
"Selamat pagi pacar. Tidur nyenyak kah tadi malam?"
"Nyenyak lo bilang? Yang bener aja, Yan," bantahku langsung. Adrian tersenyum jahil. Bagaimana mungkin aku bisa tidur nyenyak kalau Adrian tak berhenti bergerak dan terus saja menggangguku. Tangannya yang tak bisa diam terus saja berkelana kemana-mana.
"Oke ... Oke. Aku minta maaf ya sayang."
Oh ... astaga. Mendengar Adrian bersikap seperti ini, apalagi ditambah iming-imingan kata sayang, benar-benar terasa aneh.
"Udahlah ... Gue mau mandi dulu!" ujarku seraya bergerak dengan niat untuk bangkit dari tempat tidur. Tapi tangan pria itu dengan sigap menahanku lagi dalam kurungan pelukannya. Pasti akan ada drama lain yang muncul.
"Iyyaann ...!" protesku. Dan yang diprotes malah damai-damai saja.
"Buru-buru amat sih. Mau kemana? Aku masih kangen!" ujarnya lagi. Dengan paksa dia menekan kepalaku, agar bisa lebih melesak pada dadanya. Tolonglah, hidungku terhimpit, dan aku merasa sesak.
"Gue nggak bisa nafas ini, Yan. Jangan diteken-teken mulu ini kepala gua!" protesku dengan perlakuannya.
"Sorry. Habisnya kamu juga sih, kenapa bikin aku males banget buat bangun. Tunggu sebentar lagi ya. Kamu ada kelas siang kan? Jadi ... kita masih punya banyak waktu buat ..."
"Buat apa?"
"Kamu galak amat sih, Sher. Ya buat kita pacaran lah. Emangnya apalagi?"
"Emang sejak kapan sih kita pacaran?" Aku bukan sedang menggoda atau bercanda dengan Adrian. Itu adalah pertanyaan sungguhan karena memang sejak tadi malam, meski kami begitu dekat, tak ada kejelasan soal apapun.
"Ya sejak tadi malem lah."
"Oyyaah? Kok gue nggak inget ada cowok yang nembak gue?" jawabku sembari menyipitkan mata.
"Tapi ... Kamu pasti inget sama ..."
Cup ...
Adrian mengecup bibirku sekilas. Aku meremang, terkejut atas tindakannya yang spontan. Padahal mungkin cuma dua detik loh. Tapi bisa membuatku langsung kaku tak berkutik. Ajaib banget sih!
"Sama itu. Nggak mungkin kamu lupa kan, Sher. Aku tahu kamu oon, tapi nggak oon oon amat kan, Sher?"
Sudah membuatku kaget, malah ditambah mengataiku oon segala. Sepertinya Adrian memiliki nyawa yang banyak.
"Shera ... Aku serius soal ini. Jangan lari lagi dari kenyataan. Sudah saatnya kita keluar dari status friendzone dan ngejar kebahagiaan kita sendiri. Jangan bohongin diri sendiri lagi Sher!"
Tapi faktanya akan ada kebahagiaan orang lain yang terenggut jika hubungan ini berlanjut.
"Gimana kita bisa bahagiain orang lain, kalau kita sendiri nggak bahagia Sher?"
Aku melotot lagi mendengar rentetan kalimat dari bibir Adrian yang nyambung dengan pemikiranku barusan.
"Apa? Kamu keceplosan lagi barusan. Aku tahu, aku tahu. Kamu keceplosan lagi kan barusan. Tapi diluar dari itu, apa yang kamu pikirkan itu memang bener kok. Hanya saja kita juga perlu untuk membahagiakan diri sendiri," jelas Adrian lagi. Sang pemain cinta dengan predikat playboy terbaik di Kampus, rupanya sedang menceramahiku.
Aku lelah dengan semua ini. Sudah terlalu banyak kejadian beberapa waktu belakangan yang membuatku harus menelan pahit. Aku kembali mendekatkan kepalaku pada tubuh Adrian. Lalu melesak, membaurkan aroma keringat dan parfumnya yang harum. Well, kenapa agak berbeda ya. Aku bangun tidur pasti bau asam dan kumal. Kenapa Adrian masih tampak biasa saja, dan tidak menebarkan bau-bau aneh. Bau menyan mungkin?
Berada disisinya ini, memang nyaman banget sih. Aku nggak bisa mengelak lagi dengan semuanya.
"Tapi gimana sama Leana?" tanyaku.
Pada setiap kebaikan, pasti ada kejahatan. Pada setiap ketenangan, pasti ada kerusuhan. Dan akan selalu ada hasil maksimal saat kamu berani berkorban. Lantas siapa yang akan berkorban nantinya. Perasaanku atau perasaan dari Leana.
"Aku tahu. Maaf soal itu ya, Sher. Aku mau minta satu hal. Bisakan kamu kasih aku waktu untuk menyelesaikan hubungan ku dan Leana?" tanyanya. Entahlah, aku jadi sedih dan bingung. Harusnya Leana yang mendapatkan semua perhatian dan belaian ini. Aku sudah merebut posisinya. Ini tidak adil.
"Lo ... Lo yakin, bakal beresin hubungan kalian? Kalau menurut gue, lo bisa sambil jalan, sambil tetap belajar buat suka sama Leana. Lo hanya belum tahu betapa baiknya dia."
"Aku nggak tahu, dan nggak niat. Pokoknya, Sher. Kamu harus percaya sama aku nanti. Kita selesaikan semuanya bareng-bareng ya!" pintanya lagi. Hari ini adalah hari dimana semua kalimat full sweat keluar dari mulut Adrian.
"Dan ... Berenti panggil gue atau lo, selagi kita berdua kaya gini ok. Aku sayang kamu, Sher. Sayang banget."