Shera Fuji Lesmana
Aku juga ... Aku juga menyayanginya. Tapi aku nggak tahu apakah ini bisa dinamakan termasuk cinta juga. Karena itu, aku melesak dalam pelukannya lagi tanpa mampu menjawab. Yang jelas aku hanya ingin menjadi egois untuk hari ini.
Sudah seringkali aku mengalah pada semua hal. Dan sekarang, adilkan jika aku bersikap sedikit berlebihan. Kami pernah tidur bersama tapi tak pernah merasa sedekat ini.
"Oke, kalau gitu sekarang kita ambil foto dulu." Adrian meraba-raba tempat tidur. Lebih tepatnya, tangan pria itu melesak ke bawah bantal.
"Foto? buat apa? Foto kita udah banyak," keluhku. Tepat di saat aku mengeluh, Adrian juga menemukan ponselnya. Dia seperti sama sekali tak menggubris protesku, kraena setelahnya, pria itu langsung merangkul dan mengarahkan kamera ponsel itu pada kami
"Adrian ... lo dengerr nggak sih gue ngomong apa barusan," ujarku sembari melepaskan rangkulannya. Selain foto kami memang sudah banyak, aku juga nggak siap di foto dalam keadaan seperti ini. Bangun tidur, di atas tempat tidur pula. Bagaimana dengan asumsi orang lain saat melihatnya nanti.
"Kamu jangan ngada-ngada deh, Sher. Emangnya orang mana yang bakalan buka-buka hp-ku?"
Aku melongo dengan jawaban Adrian yang lagi-lagi nyambung dengan pemikiranku. Aku pasti bicara tanpa sadar lagi sekarang. Ini gawat! Kenapa semakin lama, kutukan ini jadi semakin menakutkan.
"Lagipula, semua foto kita yang ada di ponsel ini statusnya beda. Paham kan maksudku? Kalau nggak paham, mending kamu balik ke tk lagi deh," ejeknya.
"Hihhh, ngawur lo. Nggak ada bedanya!" sergahku.
"La-lo-la-lo. Udah ku bilangkan, belajar buat panggil aku sama kamu. Jangan pake kaya gitu lagi. Dulu kamu nggak kaya gini kok. Kenapa setelah jadi pacar , malah makin kasar? Apalagi di depan Ibu sama Bapak entar," seru Adrian, buatku mengernyit heran. Aku bangkit dan mengambil posisi duduk, dengan masih di bawah selimut.
"Ibu ...Bapak?" tanyaku.
"Iya, Ibu sama Bapak. Ibu dan Bapakku. Juga Ibu dan Bapakmu. Kita harus inget darimana kita berasal, Sher. Jangan sampai orang di kampung nanti, mikir kita sombong karena pake bahasa kaya gitu setelah pulang dari Jakarta," jelasnya panjang lebar, tapi tak memperjelas apa maksud dari kalimat sebelumnya.
"No-no. Bukan itu maksud pernyataan gue!" sanggahku lagi.
"Sheraaa .... "
Astaga, sejak kapan aku jadi harus nurut dengan playboy ini?
"Oke oke. Maksudku saat kamu bilang soal Ibu dan Bapak kita, itu artinya apa?" jelasku.
"Ya ... Kita kan emang harus pulang. Harus ketemu sama Ibu sama Bapak. Dan yang paling penting, harus bilang sama mereka kalau kita ini punya hubungan."
Adrian pasti udah nggak waras. Kita baru bangun tidur, dan otaknya sudah berpikir soal menemui Ibu juga Bapak?
"Atau, gimana kalau kita sekarang telpon aja. Dimulai dari Bapakku misalnya. Bapak kan sayang banget sama kamu. Bahkan lebih sayang, daripada sama aku, anaknya sendiri. Jadi dia pasti bakal seneng banget kalau denger kamu bakal jadi mantunya," ucap Adrian dengan serius. Ia kemudian mengambil ponsel dan mulai mencari nomor Bapaknya alias juraga Bos orang tuaku.
"Eh ... Jangan-jangan-jangan. Udah gila lo ya!" teriakku sembari berusaha mengambil ponselnya. Tapi sayanganya, derita orang kurang tinggi ini, belum berakhir. Saat Adrian mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, sudah jelas aku nggak akan bisa meraihnya.
"Apaa sih. Siapa yang gila? Aku? Ya ... Aku emang tergila-gila sama kamu. Karena itu aku nggak akan nunggu waktu lebih lama lagi buat kasih tahu mereka."
"Nggak kaya gini caranya, Yan. Astaga ... Kamu ini bikin aku pusing lama-lama," gerutuku. Ini terlalu cepat kan? Tidak ada apa-apa di antara kami. Sama seperti nama bandnya, nothing to display. Nggak ada yang bisa ditunjukan, juga tidak ada yang special.
Selain itu ada satu buah jarak diantara kami yang sangat sukar untuk ditembus dan tidak disadarinya. Oke ... Dia bilang, aku orangtuanya lebih sayang padaku. Alasannya tidak sesederhana itu. Mereka hanya tidak memiliki pilihan karena Adrian berangkat ke Jakarta bersamaku. Simplenya, orang tua Adrian hanya bisa memantau kelakuan anaknya hanya melalui diriku.
Aku nggak yakin kalau mereka bahkan mau berpikir aku akan menjadi bagian dari keluarganya. Harkat, martabat, babat, bibit, bobot akan menjadi sebuah pertimbangan, mengingat aku adalah anak dari asisten rumah tangga ditempatnya. Sayangnya, Adrian pasti tidak berpikir hingga kesana. Hidupnya terlalu mudah, untuk sekedar memikirkan hal-hal pahit yang bisa saja terjadi dimasa depan.
"Ya udah iya deh. Aku nggak akan bilang apa-apa dulu. Tapi udah, kamu jangan ngambek lagi oke?"
Cup ... Adrian mencium keningku beberapa detik kemudia berbisik ...
"Aku nggak pernah seserius ini dengan siapapun. Apalagi sampe ngebet buat ngenalin mereka ke orang tua. Kamu adalah yang pertama dan akan jadi satu-satunya, Sher."
Bolehkah aku merasa tersanjung. Apakah ini adalah sebuah kebanggaan, keberuntungan atau justru musibah. Jika satu kampus tahu, aku ada hubungan dengan Adrian. Maka tamatlah sudah. Nama Shera Fuji Lesmana akan kembali menjadi viral. Belum termasuk mantan-mantan Adrian juga Leana yang akan membenciku. Ini gawat!
"Tapi, nggak ada orang lain yang boleh tahu soal ini. Termasuk cs kamu. Tio dan Ricky!" ingatku.
"Loh, kenapa? Mereka itu temen baikku, Sher. Mereka juga pasti bisa jaga rahasia kok."
"Cuma orang mati yang bisa jaga rahasia dengan aman. Kita cuma bisa percaya sama diri sendiri untuk sekarang ini. Dan, Adrian ... Kamu tahukan? Betapa pentingnya gelar dan pendidikan yang sedang ku tempuh saat ini. Aku ingin ngabisin masa-masa kuliahku dengan tenang. Bisakan?"
Paling tidak aku harus memiliki nama jika ingin bersanding dengannya. Jadi ... Tidak akan ada orang yang merendahkan keluargaku nantinya. Astaga ... Apa sih Shera? Apa kamu begitu yakin akan berjodoh dengan orang ini? Aneh nggak sih, kau biasa curhat soal laki-laki pada orang ini, dan dia juga biasa curhat soal perempuan, padaku. Setelah ini, semua pasti berbeda. Pasti akan ada hal-hal yang lebih baik disembunyikan daripada diberitahukan.
"Aku paham, aku nggak akan ganggu pendidikan kamu. Selagi menunggu kamu, aku juga kan bereskan masalahku sendiri. Kita pasti bisakan?"
"Lo kesambet apa sih, Yan? Kok jadi aneh begini?"
"Astaga Sheraaaa ..." Tanpa aba-aba, kedua tangan Adrian terangkat, bergerak maju lalu menggelitik area pinganggu hingga aku ingin tertawa dan menangis bersamaan.
"Ha-ha-ha udah, Yan, udah. Ampun! Ha-ha-ha."
"Nggak mau. Habisnya susah banget dibilangin. Udah ku bilangkan? Mulai sekarang jangan lagi panggil gue atau lo kalau kita lagi berdua ..."
Adrian masih kekeh menggelitik bahkan di saat aku masih meronta-ronta. Hingga akhirnya tawa kami perlahan-lahan berhenti. Suara dering ponsel milik Adrian membuyarkan pergulatan kami. Aku masih mengatur nafas, saat Adrian menunjukan layar ponselnya yang menyala. Ia memperlihatkan satu panggilan yang menunggu untuk dijawab, padaku.
"Angkat ... atau jangan. Kalau kamu bilang jangan, aku akan langsung matiin telponnya!" seru Adrian dengan wajah serius. Menggantikan gelak tawanya yang mendadak hilang.