Adrian Maulana
"A ... angkat ... aja, Yan," jawab Shera saat aku menunjukan layar ponsel, dimana Leana tengah melakukan panggilan dan belum ku angkat. Penting bagiku untuk memastikan, apakah gadis ini akan marah atau tidak saat telpon ini ku angkat. Bukan apa-apa, aku hanya merasa takut, kalau dihari pertama kami saling mengetahui perasaan masing-masing, Shera justru akan meninggalkanku dengan dalih, kita hanya teman, dan teman harusnya nggak memiliki perasaan.
Namun, baru kali ini aku melihat seorang Shera yang selalu angkuh, melawan dan nyaris terlalu berani padaku, kini justru tampak meragu.
"Kamu nggak perlu pura-pura baik-baik aja. Aku nggak akan angkat telpon dari Leana," tegasku.
"No-no-no. Angkat telponnya. Jangan kaya gini, Yan. Dia masih pacarmu sekarang. Jangan buat aku jadi merasa bersalah karena kamu sudah abai sama hubunganmu dan Leana."
Aku hampir tidak pernah memikirkan perasaan pasanganku, atau mantan-mantan pacar saat aku selingkuh. Ku anggap itu semua sebagai bagian dari kesenangan. Faktanya, saat aku berhasil menakhlukan beberapa wanita, apalagi sekaligus. Ada sebuah kebanggaan tersendiri didalamnya.
Entah apa yang ku cari dari semua itu selama ini, selain tangisan seorang cewek. Ya ... kamu memang jahat Adrian. Tapi aku ingin menyudahi semua kejahatan itu, terutama untuk Shera.
"Oke, akan ku angkat. Tapi akan ku loud speak. Biar kamu juga bisa denger. Oke," jelasku kemudian Shera mengangguk.
"Ha ... Hallo Le?" panggilku pada seseorang di sebrang telpon sana.
"Hallo, Yan. Kamu udah bangun?"
Pertanyaan macam apa itu? Dia mendengar suarakukan? Yang tentu saja artinya aku sudah bangun.
"Ya ... bisa kamu dengar sendirikan? Aku sudah jawab telponmu oke?"
"Sorry, Yan. Aku nggak peka ternyata," balasnya.
"Ya."
Shera melotot padaku, tangan dan bibirnya bergerak memberikan isyarat agar aku tidak jutek pada Leana. Baru kali ini ada pacar yang minta agar aku bersikap manis pada selingkuhan. Baiklah disini karena Leana sudah lebih dulu memiliki hubungan lebih dulu denganku, maka Sheralah yang jadi selingkuhannya. Tapi aku nggak ingin menganggap gadis ini seperti itu. Karena perasaanku terhadapnya, sudah jauh lebih lama daripada hubunganku dan Leana yang bahkan sama sekali belum seumur jagung.
"Ehm ... jadi kenapa kamu pagi-pagi gini udah telpon?"
"Aku cuma mau bilang sorry buat yang kemaren ya. Kamu tahukan? Rasanya dicemberutin terus-terusan itu nggak enak. Soo, wajarkan kalau aku marah?" tanya Leana dengan nada mengiba.
Saat pulang kemarin, Leana memang sempat ngambek dan protes karena aku tidak menggubris juga memasang muka masam padanya. Tahu karena apa? Aku sedang memikirkan kedekatan Shera dan Axel pada saat itu. Imbasnya, mood yang buruk dan raut wajah ini tak bisa berbohong.
"Ya, its ok. Jangan dijadiin pikiran."
"Sure. Oiya, hari ini jam kelas kita samakan? Jemput aku ke rumah ya?"
"Ya nggak bisa donk Le. Kamukan tahu, aku pasti bakal bareng Shera!" protesku langsung pada intinya.
"Apa sih, Yan. Toh Shera juga udah tahu hubungan kita. Dia pasti bakalan ngerti. Apa juga sih yang mau kita-kita tutup-tutupin?"
Astaga Leana, dia sudah mulai berani mengatur kemana aku harus pergi dan apa yang harus ku lakukan. Padahal sudah ku jelaskan dari awal, saat dia memintaku untuk menjadi pacarnya, kalau aku tidak akan bisa menomor duakan Shera.
Shera menyentuh bahuku. Dia tersenyum dengan amat manis, sembari mengangguk. Aku paham, dia ingin aku mengiyakan permintaan Leana. Tapi ini bukan hanya masalah karena Shera sekarang ada disisiku. Tapi ... aku memang malas. Setelah Shera putus dengan Tama, aku hampir nggak terbiasa untuk menelantarkan Shera.
Shera kembali menepuk bahuku, senyumnya memudar. Matanya menatapku tajam, kemudian mengangguk kembali. Aku menghela nafas panjang dengan keadaan ini.
"Yan, kamu masih disana? Denger akukan? Jadi bisa jemput kesini?" ulang Leana lagi. Baiklah, tahan Adrian, tahan. Demi Shera, ini hanya karena Shera yang minta.
"Ya, baiklah. Nanti ku jemput. Aku mandi dan siap-siap dulu."
"Nice. Aku juga siap-siap dulu. Bye sayang, aku tung ...."
Dan akhirnya ku tutup telpon dari Leana sebelum ia kembali mengoceh. Menerima telpon dari selingkuhan didepan pacar sendiri itu, rasanya amazing banget.
"Ihhh Adrian. Itu Leana lagi ngomong belum selesai. Kenapa malah dimatiin?"
"Hei, aku ini lagi ngejaga perasaanmu, Sher. Kok bisa-bisanya sih kamu malah marah karena aku tutup telponnya. Harusnya, kamu itu marah karena aku angkat telponnya! Oon banget sih kamu!" gerutuku.
"Posisinya beda, Yan. Aku sekarang adalah orang ketiga diantara kalian."
"Aku nggak mau bahas ini dan denger ini. Sekali lagi kamu ngomongin ini, aku nggak akan pergi jemput Leana," ancamku.
"Jangan kaya anak kecil gitu donk, Yan. Sorry-sorry. Aku nggak akan bahas ini lagi. Sekarang kamu siap-siap. Jemput Leana ya!" perintahnya.
"Semangat banget kamu nyuruh aku pergi. Ngusir nih ceritanya?"
Kalau dalam versi orang dewasa istri muda sedang merajuk pada sang suami, agar menemui istri tua. Ya ampun, mendadak ini semua jadi terdengar lucu.
"Yaiyalah. Ngapain juga lama-lama. Akukan, juga ada kelas, Yan. Jangan dipersulit deh. Buruan sana!" perintahnya lagi.
"Hu-hu-hu. Menyedihkan, diusir pacar sendiri tuh, rasanya sakit banget," kilahku.
Tepat disaat aku ingin menggodanya lagi, sekarang justru suara dering ponsel Shera yang terdengar. Aku mengangkat sebelah alis, dengan tangan terlipat didepan d**a. Kurasa, sekarang giliranku untuk tahu siapa yang menghubunginya kali ini.
Mengerti akan sikapku, Shera mencari sumber suara alias ponsel, lalu menunjukan layar yang menyala itu padaku. Jawabannya? Tentu saja sudah kuduga. Jika bukan Tama pastilah pria itu lagi, Axel. Shera ini, bukan tipe cewek yang suka mengoleksi nomor cowok sembarangan karena itu, aku masih bisa dengan mudah menebaknya. Dan ... jikapun ada, itu artinya nomor laki-laki itu termasuk penting juga. Boleh aku merasa cemburu sekarang?
Aku bersiap menunggu giliran untuk mendengarkan percakapan Shera dan Axel. Tapi dengan santainya dia justru mematikan telpon dan meletakannya kembali. Tunggu-tunggu, kenapa ini berbeda.
"Loh-loh, kenapa malah dimatiin?"
"Ya, emang ngapain diangkat?"
"Kamu curang, Sher. Aku angkat telpon dari Leana, sampai ku loud speak tadi!" protesku.
"Diakan memang pacarmu, Yan. Wajar, kamu angkat. Kalau Axel bukan, kamunya aja yang mikir aneh-aneh."
Iyakah? Benar-benar sesimple itu? Wanita memang hebat ya. Alibinya bukan main, meskipun nggak masuk akal di otakku.
"Astaga, yang bener aja sih, Sher?"
"Ya benerlah, masa salah. Udah-udah, kita bakal seharian ada diatas kasur ini kalau kamu nggak juga buru-buru pergi. Aku juga harus mandi, Yan. Kamu duluan gih," katanya sembari mendorong tubuhku. Mau tak mau, akhirnya aku beringsut bangun juga, menuruti perintah nyonya muda. Nyonya muda pemilik hatiku yang sebenarnya.
Aku harus segera menyelesaikan hubunganku dan Leana, agar hidupku dan Shera bisa lebih tenang.
"Yan, ngapain senyum senyum sendiri. Udah sana buruan mandi!"
"Iya-iya, bawel banget sih!" balasku, sembari bergegas masuk kamar mandi.