Adrian Maulana
Sebenarnya agak repot untuk memasuki komplek perumahan menuju rumah Leana. Penjagaan disana lumayan ketat. Di setiap gerbang masuk, selalu ada security yang akan menanyakan siapa, apa, mengapa, juga ada perlu apa. Untunglah, beberapa waktu yang lalu, aku sempat mengantarkan Leana pulang. Ia juga mengenalkanku pada security setempat sebagai ya ... ehm ... pacarnya. Padahal, akan lebih baik jika dia mengenalkanku sebagai kawan saja. Rasanya memang agak kurang nyaman.
Aku juga terpaksa harus bolak balik dari tempat Shera, menuju tempatku sendiri terlebih dahulu, karena harus mengganti pakaian terlebih dahulu. Baik untuk ke kampus ataupun ke rumah Leana, aku tidak bisa menggenakan pakaian perempuan.
Tapi herannya ... saat aku pergi tadi, bukannya Shera yang cemberut atau tampak merasa tak rela. Posisi terbalik, dimana Shera justru tampak mengiringi kepergianku dengan ikhlas. Dan justru aku yang memasang wajah masam, karena harus tetap pergi.
Setelah menelpon gadis itu terlebih dahulu, aku menunggu Leana di depan gerbang rumahnya yang tinggi dan besar. Penjaga rumah mempersilahkanku untuk masuk saja, karena dia sudah mengenalku. Tapi aku merasa enggan. Awalnya, aku merasa insecure saat pertama kali melihat rumah ini. Daripada rumah, tempat ini lebih mirip istana elit, tempat orang gedongan. Faktanya, keluarga gadis ini memang lebih darpadi gedongan.
Aku tidak bermaksud menyombongkan diri. Toh ...meskipun berasal dari kampung, keluargaku masih sangat dipandang hormat . Selain kekayaan yang katanya nggak akan ada habisnya bahkan sampai 7 turunan, keluargaku juga cukup berperan dalam pengembangan ekonomi Desa, karena telah menyediakan lapangan kerja bagi warga sekitar yang cukup banyak.
Kalau dihitung-hitung, aku ini masih termasuk generasi ke empat. Jadi ... aku dan Shera masih bisa menikmati sisa masa tua, tanpa perlu kesulitan. Untuk generasi ke 8 dan seterusnya, aku cukup membantu mengembangkan bisnis dengan bekal pendidikanku selama di Jakarta. Akhirnya, otakku cukup berguna juga sekarang.
Rencana yang cukup indah bukan? Dan akan semakin indah, saat semua itu terwujud. Hanya saja ... aku masih belum terlalu yakin. Apalagi Shera begitu panik saat aku bilang ingin langsung memberitahu orang di Semarang. Baiklah-baiklah, mungkin baginya ini terlalu cepat. Tapi niat baik harusnya tidak boleh terlalu lama di tundakan? apalagi Shera itu nggak sadar, jika dirinya itu memiliki daya tarik sendiri pada kaum laki-laki, meskipun dia tidak begitu cantik.
Oke, kembali pada cerita rasa insecureku saat pertama kali melihat rumah Leana. Mengingat bukan aku yang mengejar-ngejar gadis itu, apalagi nembak duluan, maka rasa percaya diriku kembali muncul dengan cepat.
"Yan ... kamu kok nggak masuk aja sih? Ngapain malah nunggu di gerbang kaya gitu. Kan panas!" gerutu Leana begitu menghampiriku di depan gerbang rumahnya. Leana itu sebenarnya imut dan cantik juga. Tidak heran sih, namanya juga orang kaya. Pasti dia sudah menghabiskan begitu banyak rupiah untuk perawatan tek-tek bengek, dari ujung kaki, sampai ke ujung kepala. Tapi tunggu dulu ... Dia masih menggenakan piyama beruang coklat dengan rambut tergerai saat ini. Bukannya saat di telpon tadi, Leana bilang akan menungguku datang, sembari bersiap-siap?
"Kok kamu belom siap-siap sih? Ku pikir kita bisa langsung berangkat begitu kamu keluar. Makanya aku nunggu disini," protesku dengan sembal. Untuk pertama kalinya, aku ingin sekali cepat-cepat sampai di kampus.
"Maaf, tadi aku mager banget. Aku siap-siap dulu deh kalau gitu. Sebentar doank kok. Kamu masuk dulu ya, nunggu di dalem. Nggak apa-apa kan?"
Apa? Menunggu? Leana? Di dalam sana? Yang benar saja anak ini. Apa kata orang nanti? Tapi ada yang aneh. Sejak kapan, aku jadi perduli pada norma-norma kemanusiaan dan kesopanan dalam pergaulan. Aku diminta bertamu, bukan chek in seperti yang biasa ku lakukan sebelumnya.
"Nggak ada siapa-siapa kok didalem. Cuma asisten rumah tangga doank. Kamu bisa nunggu di kamar aku nanti."
Astaga kamar? Penawaran macam apa lagi ini. Ada orang saja, aku sudah hampir tidak berani. Apalagi dalam keadaan sepi, di kamarnya pula. Kalau dulu, mungkin sebelum ditawarkan maka aku yang akan bertindak lebih dulu. Tapi sekarang, aku tidak bisa dan tidak ingin melakukannya. Ada sebuah hati lain yang harus ku jaga, meski hati itu nggak akan tahu apa saja yang sudah ku korbankan.
"Ya udah. Tapi aku nunggu di ruang tamu aja ya. Nggak usah dikamar. Nggak enak!" tolakku secara halus. Leana mengangguk sebagai isyarat jawaban setuju. Aku menyerahkan kunci motor ku pada Mas-Mas penjaga rumah Leana, agar dia bisa memarkirkan motorku di tempat yang lebih aman. Meskipun aku yakin, keamanan komplek perumahan ini, pastilah sangat terjaga. Pasti ada alarm anti maling dan cicak di setiap sudut rumah.
Singkat cerita, aku dibawa masuk melalui pintu utama yang cukup besar, setelah melewati deretan mobil mewah nan antik yang berjejer rapi di garasi depan. Dompetku meskipun tebal, akan tetap menangis melihat semua ini. Aku tahu Leana berasal dari keluarga konglomerat. Tapi nggak tahu juga kalau kekayaannya bakal sebanyak ini.
Aku sih nggak terlalu heran dengan bagian dalam rumahnya yang luas dan mewah. Mataku, sudah terlanjur jatuh cinta pada mobil-mobil keren di depan tadi.
"Kamu tunggu disini. Aku mandi dan siap-siap dulu. Nanti bakal ada yang bawain minum kok buat kamu. By the way, kamu masih yakin nggak mau nunggu di kamar aja? Maksudku daripada nanti kamu bete sendirian disini?"
"Nggak kok, nggak. Nggak bete, aku tunggu sini. Kamu buruan aja mandinya ya."
"Ck ... Ya udah deh ku tinggal dulu ya," ujarnya seraya berpaling pergi. Aku sempat tidak terlalu memperhatikan kemana dia pergi, apalagi ke arah mana? Dalam hitungan detik gadis itu menghilang. Rumah ini terlalu besar untuk dijelajah hanya melalui penglihatan.
Siapa yang ingin menghabiskan waktu di rumah sepi sebesar ini. Selain jadi sarang hantu, apalagi yang bisa terjadi. Tak lama kemudian, seorang asisten rumah tangga datang membawa minuman dan toples berisi kue kering. Kenapa nggak sekalian sama nasi padangnya aja sih. Aku kan belum sarapan dan lapar juga.
Shera pasti sudah sering sekali kesini. Bagaimana kalau dia tahu, justru aku yang ada disini? Maafkan aku Shera. Ini juga kemauanmu-kan? Aku hanya berusaha mewujudkan apapun yang kamu inginkan.
Eh tapi ... Mumpung ada disini, harusnya ini bagus. Memutuskan hubunganku dan Leana di tempat seperti ini, sepi, tanpa ada saksi mata, tanpa ada orang lain, harusnya bisa lebih berhasil. Tapi benarkah? Tegakah aku melakukan semua itu? Atau aku akan lebih tega lagi pada Shera, karena harus menahan sakitnya menjadi orang ketiga. Sebentar lagi, kepalaku bisa meledak karena terus memikirkan hal ini. Cinta dan segala pengorbanannya adalah sebuah misteri yang tak akan pernah bisa terungkap dengan mudah.