Shera Fuji Lesmana
Aku bisa bernafas dengan amat lega sekarang. Adrian baru saja pergi setelah aku berusaha keras meyakinkannya untuk segera menjemput Leana. Dengan segala macam drama kemalasan yang dia buat, aku hampir gila karena sikapnya yang berubah.
Paham nggak sih? Kami bersahabat selama bertahun-tahun, terbiasa bertengkar juga saling mencela. Dan sekarang sikapnya berubah seolah-olah dia adalah laki-laki idaman setiap wanita. Dulu, saat kami tidur berdua, atau berada di bawah atap yang sama, tak ada hal yang perlu ku khawatirkan, karena dia hanya kawan. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Tapi sekarang, semuanya berbeda. Adrian tentulah akan menjadi lebih berani untuk melakukan hal-hal lain diluar dugaan. Aahhh s**t!
Aku harus berhenti memikirkan semua itu dan fokus untuk mengikuti kelas hari ini. Karena Adrian tidak bisa mengantar, maka aku harus segera bersiap-siap dari sekarang. Waktu dan jarak tempuh yang di lalui angkutan umum dan motor milik pria itu pastilah akan berbeda. Aku bisa terlambat nanti!
Maka dengan secepat kilat, aku bergegas menuju kamar mandi juga berusaha keras untuk menahan kebiasaanku yang selalu bengong menatap air di dalam bak mandi. Keluar dari kamar mandi, tentu saja pekerjaanku belum selesai. Aku harus membereskan sisa-sisa kekacauan malam ini, juga sekaligus membungkus pakian kotor, terutama pakaian bekas hujan-hujanan tadi malam, untuk dibawa ke laundry.
Biasanya demi menghemat pengeluaran, aku akan menggunakan tenaga dalam pribadi, tapi berhubung lelah, dan banyak pekerjaan, kini semua tanggung jawab akan ku serahkan pada kantung pribadi lebih dulu. Menyenangkan sekali bukan, berbagi beban. Dan beruntungnya, tempat laundry itu berada tepat di sebrang gerbang kos ini. Ya ... pebisnis tahu tempat strategis, dimana ada begitu banyak orang pemalas disini, termasuk aku. Jadi sambil berangkat ke kampus, aku bisa mampir dulu.
Semua persiapan telah selesai. Aku lantas mengunci pintu dan berangkat menuju kampus. Yang kurang saat ini hanya tinggal mentalku untuk bertemu dengan Adrian lagi dan Leana sebagai sepasang kekasih. Hah ... takdir memang bisa bercanda selucu itu. Aku sampai tercengang dibuatnya. Mari kita lihat, apa lagi yang akan terjadi hari ini.
Rasa lapar memaksaku untuk singgah di kantin begitu sampai di Kampus. Tidak terlalu ada banyak orang disini. Sarapan nasi uduk dengan lauk pauk special juga teh tawar panas, menjadi salah satu andalan pengisi perut yang paling aman.
Setelah mengelilingkan pandangan, aku belum juga menemukan batang hidung dari Mira, Leana, ataupun Adrian. Jarak rumah Leana menuju kampus, memang lumayan jauh kalau dibandingkan dengan tempatku menuju kampus. Tapi jika Adrian yang membawa motor, harusnya mereka akan tetap lebih cepat sampai.
Atau mungkin, Adrian memang sengaja memperlambat waktu, agar bisa berlama-lama dengan Leana. Ohhh ... Aku benci dengan semua pemikiran buruk ini. Menjadi orang ketiga secara tak langsung itu menyebalkan sekali.
"Tumben, sendirian aja nih tuan putrinya si Adrian."
Lamunanku terhenti seketika, begitu dua orang kawan dari Adrian datang menghampiri. Ricky dan Tio menarik kursi untuk duduk tepat disebelahku. Sebenarnya masih ada begitu banyak tempat duduk juga meja kosong. Tapi kenapa mereka berdua malah memilih untuk bersempit-sempitan disini. Sialan!
"Adrian mana, Sher? Biasanya sama lo kan? Ini lonya udah dateng, tapi kayanya Adrian belom keliatan. Motornya juga nggak ada di parkiran?" tanya Ricky. Aku menghentikan suapan ku, lalu minum teh tawar dulu sebelum menjawab. Biar nggak keselek pemirsa!
"Lagi jemput Leana. Masih dijalan kayanya," ujarku kemudian melanjutkan suapan-suapan berikutnya. Namun selanjutnya, aku hampir saja melupakan sesuatu.
"Ehm ... Selamat buat penampilan kalian yang kemaren itu ya. Kalian semua keren banget. Eh gue juga sempet sih, videoin kalian di lagu kedua, dari awal sampe akhir," jelasku. Tio dan Ricky tampak senang dan mulai antusias. Membangun kepercayaan diri mereka lewat pujian semoga bisa membuat mereka lebih maju lagi.
Lagipula, itu semua bukan sekedar bualan belaka. Penampilan mereka itu memang bagus dimataku sebagai pendengar dan penonton.
"Oya? Wah ... bagus kalau gitu. Nanti gue minta videonya ya. Mau sekalian gue upload di you tube. Siapa tahu aja bisa booming," kata Tio.
"Sure. Nanti aku kirim deh ya," balasku. Awalnya aku hanya sering menyapa mereka berdua sekedarnya saja, itupun karena mereka berdua adalah kawan dari kawanku juga, alias Adrian. Tapi setelah Adrian sering sekali membawaku ikut serta dalam latihan band sebelum tampil, kami jadi tak lagi terlalu sungkan.
"Gue mau pesen kopi dulu ya. Belom ngopi nih, sepet. Rick, lo mau sekalian? Atau Sher, lo mau pesen apa sekalian?"
Aku menggelengkan kepala. Menghabiskan makanan yang ada di depan mata ini sudah cukup untuk sekarang. Nggak tahu deh kalau beberapa jam lagi.
"Gue mau deh. Kopi item ya!" pinta Ricky. Tio beranjak meninggalkan kami berdua. Menyisakan aku, Ricky dan tatapannya yang mendadak tajam minta dipukul.
"Lo ngapain sih ngeliatin gue kaya gitu. Ngeri banget tahu nggak?" protesku.
Rickypun kemudian melembutkan tatapannya.
"Sorry-sorry. Iseng aja tadi. Ha-ha-ha, gue lebih suka lo sih, Sher yang deket sama Adrian. Daripada nyonya konglomerat itu."
"Leana maksud lo?" tanyaku memastikan. Wah ... si Ricky, memancing bahan-bahan pergibahan sepertinya.
"Iya itu si Lea. Ck-ck ... Itu anak ngintilin Adrian terus. Awal-awal, dia suka maksa buat ikut latihan juga. Tapi yang gue sama Tio liat, dia malah ganggu banget," jelasnya lagi.
"Lo salah paham kali. Atau salah pengertian mungkin," tanggapku sambil mengerdikan bahu. Acara makanku yang harusnya bisa kelar dalam beberapa menit, bisa molor sampai sejam karena bahan pergibahan ini.
"Nggak gitu lah Sher. Emangnya gue buta? Si Leana itu nggak ngasih Adrian ruang buat gerak. Tio aja sampe marah-marahin Adrian. Ngelarang dia buat bawa-bawa Leana lagi. Dia minta sama Adrian, buat bawa lo aja kalau emang pengen ada yang liat. Ya ... seenggaknya lo kan tahu, posisi dimana waktunya kita harus serius latihan sama bercanda," jelas Ricky.
"Jangan muji gue terang-terangan kaya gitu lagi. Nanti gue mimisan!" sanggahku, yang langsung membuat pria ini tertawa kecil.
Makin lama, aku bisa makin besar kepala kalau di banding-bandingan dengan Leana. Aku dan gadis itu jelas saja berbeda jauh bagaikan langit dan bumi dimana dia adalah langit yang selalu berada di atas, sementara aku adalah bumi yang ada di bawah dan selalu diinjak-injak, yang namun pada akhirnya akan tetap menjadi tempat utama bagi semua manusia untuk kembali.
Tio dan Ricky hanya belum mengenal Leana sepenuhnya. Dia itu gadis yang baik, dan sangat baik. Hanya mungkin saja, jenis-jenis kebaikan yang dilakukan setiap orang itu berbeda-beda.
"Serius banget ngobrolnya. Ngomongin gue ya lu pada?" Tio datang dengan dua cangkir kopi hitam yang wangi banget.
Aku juga suka kopi hitam. Eh ... maksudku, hanya suka aromanya saja yang wangi saat masih panas. Kalau soal rasa, aku mungkin akan lebih memilih coklat panas.
"Nggak usah kepedean. Nggak ada hal bagus dari lo yang perlu diomongin, selain fakta kalau lo itu emosian," celetuk Ricky. Mau tak mau, aku jadi tak bisa menahan tawa juga.
"Sialan lo. Udah berasa kebagusan ya! Eh-eh Adrian dateng tuh!"
Aku dan Ricky sontak saja menoleh pada arah tatapan Tio. Benar saja, Adrian datang dan tengah memarkirkan motor, bersama dengan Leana. Dari sini saja, aku sudah bisa melihat dengan sangat jelas. Mereka pasangan yang serasi banget. Yang satu cantik, yang satu ganteng. Selain itu, Leana nggak akan kesulitan untuk menaiki motor Adrian, sepertiku. Nyaliku kini semakin menciut. Ah ... sebagai posisi orang ketiga.