Bab 67. Shera 40

1028 Kata
Shera Fuji Lesmana "Inget ya! Lo nggak boleh bilang apa-apa soal tadi ke Adrian. Apalagi sama Nyonya Konglomerat itu!" ancam Ricky tiba-tiba saja padaku. Aku memutar bola mata serta mengiyakan permintaannya. Lagipula, aku juga tidak ingin mempertaruhkan reputasiku hanya karena curhatan sepele dari mereka. Sepasang kekasih itu datang menghampiri aku, Tio dan Ricky, setelah sebelumnya tampak celingukan di parkiran. Mungkin mereka sedang mencari keberadaan kami semua. Kedua tangan mereka terkait dan saling menggandeng satu sama lain. Waw ... ini termasuk pemandangan yang indah, juga lumayan mengejutkan. Semalam pria itu membawaku ke dalam peluknya. Dan pagi ini, tangannya tengah menggandeng wanita lain, tanpa bisa ku protes. Salah satu kebodohan yang tidak bisa ku pungkiri saat ini adalah, aku mulai merasa agak cemburu dan membenci pikiran ini. "Hai ... Selamat pagi semuanya." Leana menyapa semua orang dengan semangat pagi yang penuh kebahagiaan. Mana mungkin aku tega mengadukan pembicaraan Ricky dan Tio tadi pada Leana, lalu merusak kebahagian itu. Di sampingnya, ada Adrian yang saat ini memberikan beberapa isyarat mata padaku kalau ia membenci keadaan ini. Kenapa aku bisa mengerti dia dengan mudah? Entahlah aku juga tidak mengerti. Namun saat ini, aku harus segera mengenyahkan semua pikiran yang aneh-aneh, apalagi mengenai pergibahan tadi. Salah-salah, penyakitku bisa kambuh di waktu yang tidak tepat, bagaimana kalau aku justru keceplosan di depan mereka semua seperti biasa. Bisa berabe donk? Ricky dan Tio membalas sapaan gadis itu dengan senyum, yang dalam penghilatanku pasti sangat dibuat-buat. Adrian menarik kursi disamping Ricky bersama dengan Leana juga. Jika saja aku sedang tidak diapit oleh kedua kawannya itu, pasti Adrian akan menarik kursi di sampingku. Fiuuhhh ... ada untungnya juga berada di antara dua orang makhluk ini. "Suntuk banget lo Yan? Salah gandeng orang lo ya?" celetuk Ricky, yang kurasa ... memang disengaja. "Salah gandeng gimana sih ah. Kalian nih!" gerutu Leana sambil melotot. Adrian memang tampak lesu, tidak seperti saat dia ada di kamarku tadi. Mungkin dia lelah karena harus bolak-balik mengendarai motor. Terlalu banyak angin yang masuk ke perut. "Sorry. Belom terbiasa gue. Kan biasanya yang digandeng cewek lain. Tahu sendiri lah, Adrian kaya gimana orangnya," balas Ricky lagi dengan santai. Andai saja Ricky tahu, apa yang membuatnya santai, justru bisa memancing masalah. "Ya, kalau bukan cewek lain biasanya yang di gandeng paling-paling juga Shera, iyakan?" tambah Tio. Si kampret satu juga rasanya sengaja menunjukan pada dunia, kalau aku memiliki rekor cewek paling dekat dengan Adrian dengan waktu paling lama. "Iya-ya. Si Adrian nih, kok awet banget sih sama Shera?" Tunggu, tunggu, tunggu. Sejak kapan pembahasan kali ini berubah menjadi namaku. Rasanya aku ingin sekali menyumpal mulut mereka berdua dengan uang segepok. Kenapa mesti uang? Karena uang bisa mengatasi semua sumber masalah dengan cepat. Tapi raut wajah Leana jadi berubah. Aku sudah tahu ini pasti akan terjadi. Akan asa masa dimana Leana memandangku berbeda juga bukan lagi sahabat karibnya. Dan rasanya, begitu amazing. "Udah-udah pada ngomongin apa sih lu pada, nggak jelas banget!" sahut Adrian. Ia sedang berfokus pada ponsel tapi rupanya mendengar celotehan kami juga. Berada di dalam satu meja bersama mereka, sepertinya adalah ide yang buruk. Aku tidak mau mengambil resiko yang lebih besar, karena ternyata Tio dan Ricky pasti ingin membuat Leana panas melalui aku. Mereka memanfaatkanku kali ini. Jangan main-main. Tidak semudah itu ferguso. Lagipula, niat utamaku menuju kantin itu untuk makan. Setelah makanannya habis, apalagi yang mesti di tunggu. Lantas kemudian aku berdiri dan membenahi beberapa barang-barangku di atas meja. "Eh ... gue ke kelas duluan ya. Ada perlu nih. Leana? Lo mau bareng?" tawarku. Asalkan hanya berdua dan tidak ada Adrian diantara kami berdua, maka aku yakin sekali. Semua akan baik-baik saja. Dasar biang kerok nih si Adrian. Leana tampak melirik ke arah Adrian yang bersikap tak acuh, dan sok sibuk dengan ponselnya. Aku tahu perasaan Leana, ia pasti ingin dicegah agar merasa ada yang memperhatikan. Tapi si kampret Adrian itu, sama sekali nggak bergerak atau menghiraukan keberadaan Leana. Tumben sih, biasanya Adrian peka pada keinginan perempuan. Leana beranjak, lalu memasang wajah paling manis yang pernah dia punya. Ekspresi masamnya tadi kini sudah tergantikan dengan cepat. "Ya udah yuk Sher, kita ke kelas. Adrian aku sama Shera ke kelas duluan ya kalau gitu," pamit Leana. Adrian mengangguk-ngangguk tanpa menjawab. Tio dan Ricky memberiku isyarat mata, juga petunjuk kalau-kalau aku ingin membunuh orang. Tapi tidak dan terima kasih, siapa kandidat yang harusnya ku bunuh hari ini? Hidupku sudah berat, jangan lagi menambah-nambah beban yang lain. "Ya udah deh. Ayo, Sher. Semuanya gue duluan ya!" Leana berjalan ke arahku lalu mengapit lengan ini, agar tetap berada di sampingnya. Sepanjang jalan, tak ada obrolan berarti seperti keberadaan Mira yang sampai sekarang belum juga ada kabar. Aku mulai merasa canggung dengan semuanya. Ini hanya masalah percintaan di usia menjelang dewasa. Tapi rasanya, sungguh luar biasa. "Eh Sher. Kita ngobrol disini sebentar ya!" pinta Leana, saat kami sudah mulai dekat menuju ruang kelas. Kami menghentikan langkah bersamaan, membiarkan kawan-kawan yang lain mendahului. Aku tidak keberatan juga sih. Hanya saja, bisa tidak ya, aku menebak dengan tepat. Apa yang akan Leana obrolkan padaku. Kok rasanya, jantung ini semakin meledak-ledak. "Oke, lo mau ngomong apa? Kayanya kita masih punya waktu sekitar setengah jam sebelum masuk kelas," ucapku sambil melihat jam tangan. "Sher, lo nganggap gue ini sebagai best friend kan?" Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku mengangguk, apalagi jawabannya selain kami adalah kawan baik. Tapi semua hal nggak mungkin sesederhana itu kan? Leana tidak akan bertanya hal sepele semacam itu tanpa sebab kan? "Ya iyalah. Kok bisa-bisanya lo nanyain hal basi kaya gitu sama gue?" "Baguslah. Kalau gitu, sebagai sahabat baik, sebagai bestienya gue yang paling the best. Gue bolehkan, minta satu permintaan?" "Permintaan? Ehmm ... ya boleh lah. Masa nggak boleh, tapi itu kalau gue mampu ya. Jangan minta yang aneh-aneh. Lo kan udah kaya?" "Yang kaya itu, nyokap sama bokap kalau gue sih cuma beruntung aja. Soal permintaan gue tadi, langsung aja ya Le. Bisakan lo kangan terlalu deket sama Adrian?" Aku diam tak bergeming dengan penuturan yang dikatakan Mawar. Apakah ini bisa disebut pemaksaan, atau playing victim. Kenapa ini bsa terjadi. Kenapa juga Leana meminta permintaan yang amat tak masuk akal. Dia sangat lebih dari tahu, kalau aku dan Adrian tidak mungkin saling menjauh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN