Bab 68. Adrian 24

1083 Kata
Adrian Maulana Untunglah, aku bisa sampai secepat mungkin di rumah Leana. Karena dia ternyata sama saja seperti yang lain. Saat dia bilang akan siap-siap, maka sebenarnya dia baru akan mulai. Saat dia sudah bilang siap? Maka sebenarnya dia juga baru mulai bersiap-siap. Setelah agak lama aku menunggu, hingga minuman yang di suguhkan telah habis, barulah gadis itu keluar dan menemuiku. Sebenarnya tidak ada yang berubah. Leana tetap cantik sebelum atau sesudah mandi. Aku melihat hal itu dengan naluri laki-laki normal. Yang mengatakan dia jelek, berarti buta. Tapi kalau melalui hati, tetaplah Shera yang akan menang. "Lama ya. Maaf ya, Yan," ujarnya begitu datang menghampiri, Leana kemudian duduk divsampingku sembari menggandeng lengan dengan manja. Jujur saja, ini terasa agak kurang nyaman. Mungkin lain cerita jika dia melakukannya di dalam sebuah kamar dan hanya berdua saja, kemudian ... haiisshh otak kotor ini mulai beraksi dengan sendirinya. Harusnya tidak boleh begini, sudah ada Shera yang hatinya harus ku jaga. "Ya, lumayan lama sampe suguhannya habis," celetukku. Aku melepaskan tangan Leana yang menggandeng erat tanganku. Kami tidak akan menyebrang jalan. Untuk apa dia berpegangan dengan begitu erat. "Kita berangkat sekarang?" tanya Leana. "Ehm, sebenernya ada yang perlu aku omongin sih, soal ..." kalimatku tercekat tatkala, melihat binar matanya yang begitu cerah. Dia pasti sedang dalam mood yang sangat baik. Aku jadi tidak tega untuk mengatakan kalau seharusnya hubungan ini berakhir. Bukan karena sudah mulai ada perasaan yang tumbuh. Akan tetapi, Leana pasti akan mengadu pada Shera, bahwa aku telah menyakitinya. "Soal apa? Kok kamu malah diem?" Aku menghela nafas panjang. Seharusnya tidak begini. Tapi ya sudahlah, lebih baik ku tunda dulu semua ini untuk sementara. Sembari memikirkan cara lain. "Nggak jadi, kita berangkat sekarang aja deh!" ajakku. Seraya berdiri bersamaan lalu mengikuti langkah Leana menuju tempat dimana motorku terparir. Benda beroda dua itu berjejer di samping mobil lain yang harganya pastilah sangat fantastic. Keberadaannya, menjadi amat kentara. Motor yang biasa ku bangga-banggakan, sahabat sejatiku selama berada di Jakarta, kini tampak begiti ciut bersanding dengan mereka. Kagum ... hanya itu yang bisa kurasakan. Suatu saat nanti, jika usahaku berjalan sukses, aku akan membeli semua ini. Sukses dalam bidang apa? Aku bahkan masih dilema antara stuck diposisi ahli waris perkebunan orang tua, atau mengejar impian menjadi penyanyi terkenal. Leana kembali, setelah meminta kunci motorku terlebih dahulu pada Mas-Mas penjaga rumah tadi. "Nih kuncinya!" Ia menyodorkan benda itu padaku. Aku mengangguk lalu memberikannya helm, yang tentunya biasa digunakan oleh Shera. Setelah siap, kami langsung tancap gas menuju kampus. Selama perjalanan, tangan Leana tak pernah lepas, memeluk erat pinggangku. Aku juga bisa mendengar suara ocehannya yang samar. Tapi karena tidak terlalu jelas, aku hanya memperhatikan gerakan bibirnya dari spion, dan menjawab sekenanya seperti "iya, nggak, haha, hihi." Tak perlu waktu lama untuk menuju kampus, karena aku sudah biasa melajukan motor dengan kecepatan extra. Tidak ada gunanya jika aku melaju pelan. Tidak ada obrolan menarik yang bisa ku bahas bersama Leana di atas motor. Bisa-bisanya orang seperti Leana, putri konglomerat dengan mobil berharga milyaran yang di parkir sembarangan layaknya aksesoris rumah, memilih naik motor butut bersamaku. Di kampung, bisa dibilang ini adalah motor paling bagus, paling mahal, juga paling keren, tapi itu hanya menurut pendapatku. Namun, di sini, di kota ini, ada banyak orang lain yang pastinya lebih dari sekedar kaya raya. Sampai di parkiran kampus, aku dan Leana celingukan mencari kawan masing-masing. Aku mencari Tio dan Ricky, sementara dia pasti jika bukan Mira, dia sedang mencari Shera. "Yan, Yan. Itu Ricky, Tio sama Shera ada di kantin. Ayo kita ke sana juga!" Aku melihat ke arah jari Leana menunjuk. Memang benar ternyata, di sana tiga orang manusia yang namanya sudah disebutkan. Tapi kok tumben, saat ini Shera sedang duduk diantara mereka berdua. Biasanya baik Shera, maupun kedua cecunguk itu enggan terlihat begitu akrab tanpa ada aku didalamnya. Setelah meletakkan helm, aku dan Leana berjalan menuju ke meja tempat mereka berkumpul. Leana mengggenggam tanganku dengan erat. Seperti begitu takut aku melepaskannya. Atau mungkin dia hanya sengaja ingin menunjukan pada dunia, kalau aku ini adalah pacarnya? Ya-ya-ya, ini bukan pertama kalinya kan? Bukankah aku sudah begitu sering diperlakukan dengan istimewa. Leana menyapa semua orang dengan manis. Tio dan Ricky hanya membalas sapaan Leana dengan senyuman yang sepertinya nggak ikhlas. Aku tidak menyalahkan mereka, Leana memang seringkali menempel dan tidak bisa membedaka waktu dimana aku butuh waktu untuk kawan, dan waktu untuk pacar. Biasanya, tentu saja aku akan memilih kawan untuk menjadi prioritas utama. Tapi pada Leana aku hampir tidak bisa menolak apapun hanya karena takut Shera akan marah karena aku telah menyakiti kawannya. Padahal saat ini, aku dan Shera adalah orang yang paling memiliki pontensi untuk menyakitinya. Selanjutnya aku berganti pada tatapan Shera yang mengarah pada tanganku dan Leana yang masih saling bergandengan. Ku lepaskan genggaman itu perlahan, agar tidak terlalu kentara kalau aku sedang merasa terkejut. Jangan bilang kalau Shera sedang cemburu? Jika dia cemburu ada hasil baik dan buruk yang harus ku terima. Sisi baiknya, saat dia cemburu, itu artinya dia memang memiliki perasaan dan bisa membalas cintaku, sisi buruknya dia cemburu pada kawannya sendiri dan tidak bisa berbuat apa-apa. Hatinya pasti sakit. Astaga, maafkan aku Shera. Aku dan Leana kemudian duduk berdampingan. Segera ku keluarkan ponsel dari dalam saku celana untuk menghilangkan suntuk. Karena hari ini, sepertinya mood ku sedang kurang baik. "Suntuk banget lo, Yan? Salah gandeng orang lo ya?" celetuk Ricky. Aku hanya melirik sekilas pada anak itu. Sedang mencari-cari masalah dia rupanya. Dia sengaja memancing ikan di dalam air keruh, atau memang bertujuan membuat hubunganku dan Leana jadi renggang? Lalu di obrolan selanjutnya, aku lebih memilih untuk tidak menggbris tindakan apapun. Fokus dulu saja pada game di dalam ponsel yang sedang ku mainkan. Sampai pada akhirnya, aku dengar Shera mengajak Leana pergi ke kelas duluan. Setelah beberapa saat tak ada jawaban yang ku dengar. Wajah Leana masih tampak kurang baik, karena celetukan Ricky soal gandengan tadi. Tapi masa bodohlah, kalau aku terus-menerus bersikap nggak tegaan? Hubunganku dan Shera nggak akan berakhir dengan baik. Lagi pula, harusnya aku bicara apa donk? Leana lantas berdiri dari kursinya. Wajahnya berubah kembali manis. Tampak seperti tak ada hal yang terjadi. Bagus sekali, sudah cantik, pandai pula memainkan ekspresi. Harusnya dia menjadi artis saja. Pasti bisa sukses. "Ya udah yuk Sher, kita ke kelas. Adrian aku sama Shera ke kelas duluan ya kalau gitu," pamit Leana. Aku mengangguk-ngangguk pelan, sebagai jawaban. Kedua sahabat yang saat ini menjadi kekasihku itu, akhirnya pergi bersama-sama. Ahh ... akan lebih indah jika saja aku memiliki dua orang istri yang begitu akur seperti mereka berdua saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN