Shera Fuji Lesmana
Aku diam tak berkutik. Sama sekali tidak bisa menjawab apapun. Gadis di depanku ini pasti sedang menunggu jawaban. Dia sedang bercanda-kan? Leana tidak mungkin memberikan pilihan yang begitu sulit dan mustahil padaku.
"Shera jawab! Bisakan ... bisa lo jauhin Adrian?" tanyanya dengan nada setengah memaksa.
"Ya jelas nggak bisa lah, Lea. Lo tuh gimana sih? Gue sama Adrian itu sahabatan udah lama. Jauhh sebelom gue kenal sama lo. Lagipula apa sih yang bikin lo takut? Gue sama Adrian cuma sahabat. Lo tahu itu dari dulu!" cecarku agak emosi. Ku pikir, aku adalah orang paling egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Tapi rupanya, ada yang sama egoisnya denganku.
Baiklah, aku salah. Aku dan Adrian sangat jelas ada main di belakangnya. Tapi dia tidak tahu itu. Bahkan di posisi Leana yang tidak tahu apa-apa, dia masih berani mengatur kadar pertemananku dan Adrian. Padahal dia hanyalah orang baru di antara kami.
"Dia nggak akan bisa berubah kalau lo masih tetep ada di deketnya, Sher. Dia nggak akan fokus ke gue apalagi diri sendiri. Karena yang ada dipikirannya cuma lo!"
"Wah ... lo udah gila sih ni."
Aku tidak habis pikir dengan kenyataan ini. Tapi aku juga tidak bisa kehilangan semuanya. Mereka semua terlalu berharga bagiku. Aku meraih tangan Leana dalam genggaman ku. Menatapnya dalam-dalam berusaha memberitahu padanya bahwa itu bukanlah sebuah keputusan. Apalagi keputusan itu memberatkan aku.
"Dengerin gue, Lea. Kalau Adrian emang cinta sama lo, dia nggak akan terpengaruh dengan keberadaan gue diantara kalian. Gue nggak bisa menjauh dari dia. Tapi gue bisa bantu lo dengan hal lain. Gue bisa bilang sama Adrian, gue juga bisa ngobrol soal lo ke Adrian. Biar dia selalu inget sama lo. Cuma itu ... cuma itu yang bisa gue lakuin!" ujarku. Tapi Leana masih tak yakin. Ia menepis tanganku kemudian memalingkan wajah.
"Terserahlah," bantah Leana.
Tidak kusangka, aku akan merasakan hal seperti ini. Terjebak di dalam perasaan sendiri. Aku tidak boleh mengatakan ini semua pada Adrian. Jika dia tahu Leana memperlakukanku seperti ini, hubungan mereka akan berakhir. Aku nggak bisa melihat Leana sedih. Meski sebenarnya, saat ini aku yang tengah merasakan sakit.
"Hy guys ... kalian belom masuk ke kelas?" Suara cempreng khas dari salah satu kawan kami menggema di koridor. Mira baru saja datang, dan langsung menghampiriku juga Leana. Aku tersenyum, berusaha menyembunyikan masalah yang terjadi. Bersikap seperti biasa. Tapi tidak dengan Leana. Dia benar-benar menunjukan sikap angkuhnya, dengan melirik padaku sesaat, kemudian pergi.
Tentu saja hal ini membuat Mira mengheran. Ia mengerutkan kening seraya bertanya ...
"Itu si Lea kenapa? Kok nggak kaya biasanya?"
Sepertinya, aku juga tidak bisa sembarangan bicara pada Mira. Sudahlah, lebih baik dia juga tidak perlu tahu. Leana cuma ngambek sebentar. Biasanya juga gitu kok. Ngambek sebentar, lalu dalam sekejap berubah kembali menjadi baik. Tapi ... semoga saja ngambeknya kali ini nggak berubah jadi luar biasa.
"Nggak tahu. Pms kali, udahlah kita ke kelas yuk buruan. Nanti keburu ada dosen!" ajakku pada Mira.
Memiliki musuh itu tidak menyenangkan. Leana memang bukan musuhku, tapi sikap diamnya ini membuatku terasa memiliki musuh di kelas. Selama mata kuliah berlangsung, benar-benar sama sekali tidak ada pergerakan. Aku sendiri jadi heran.
Ponselku bergetar di tengah-tengah penjelasan dari dosen. Setelah memperhatikan keadaan sekitar, barulah aku meraihnya dari saku celana, dan menemukan satu notifikasi chat aplikasi si hijau dari Adrian. Nah ... ini dia si biang keroknya.
"Abis kelas, gue tunggu di kantin!"
Begitu isi pesannya. Tapi kurasa, kali ini aku harus menghindar lebih dulu. Hanya untuk hari ini aja. Minimal, hingga mood dari Leana membaik. Bukan apa-apa, dia baru saja marah dan memintaku untuk menjauh dari pacarnya. Jika hari ini aku dan Adrian tampak akrab lagi, pasti ini akan menjadi lebih buruk. Maka ku balas pesan pria itu dengan ...
"Gue mau langsung ke Hotel nih. Ada lemburan. Lumayan buat beli bakso."
Tentu saja, aku berbohong. Tapi tidak ada pilihan lain. Lagi pula, aku berbohong demi kebaikan kita bersama. Ya, kita, aku, Adrian dan Leana.
"Psstt ... psst. Shera, Shera." Mira memanggilku dengan setengah berbisik. Reflek aku segera meletakkan ponsel kembali ke dalam saku celana, lalu menoleh padanya.
"Apaan?" jawabku sambil berbisik juga.
"Itu si Lea kenapa? Hari ini aneh banget!"
Baiklah, Mira juga mulai sadar kalau ada yang tidak beres diantara kami. Jadi kesal aku sama Leana. Kenapa dia harus terang-terangan menunjukan pada dunia, kalau kami ini sedang dalam masalah.
"Nggak tahu. Mungkin pms-nya sakit banget kali," jawabku sambil mengerdikkan bahu.
Ahhh ini membuatku hampir gila. Mana bisa aku fokus kalau begini.
Saat mata kuliah selesai, aku pergi lebih dulu dengan terburu-buru. Tentu saja, untuk menghindar dari pertanyaan Mira, juga sikap Leana yang saat ini berbeda. Aku juga bergegas pergi melewati kantin menuju gerbang kampus. Sekilas bayangan Adrian yang sedang duduk di sana tertangkap oleh penglihatanku. Tapi aku tidak tahu, apakah dia menyadari saat aku berlari bagaikan angin melewatinya.
Yang jelas begitu sampai didepan gerbang, ternyata ada masalah lain yang menanti. Kenapa kisah cinta anak muda begitu rumit. Lama-lama aku jadi ingin segera menikah, biar nggak pusing.
Seorang pria yang yang sudah tak asing lagi, kini sedang berdiri beberapa langkah dari pintu gerbang kampus. Jika biasanya dia bersandar pada sepeda motor. Kali ini, dia bersandar pada mobil yang dibawanya kemarin. Axel rupanya juga sedikit berlebihan, dia sama saja tidak memberiku ruang untuk bernafas jika datang setiap hari ke sini.
Aku ingin mengabaikannya saja, tapi itu tidak akan menjadi baik, karena yang dicarinya di sini, siapa lagi jika bukan aku. Terpaksa rencana untuk buru-buru ke hotel ku tunda dulu. Sekarang aku harus menghampirinya, juga membicarakan ketidaknyamanan karena dikunjungi setiap hari.
Dia tersenyum saat aku berjalan menghampiri. Please lah, senyumnya itu manis banget. Kenapa pula dia harus tebar pesona disini nih?
"Lo ngapain sih disini?" tanyaku pada Axel.
"Ya jemput lo lah. Tadi pagi gue telpon, tapi lo nggak jawab. Malah dimatiin juga, ada apa? Apa gue terlalu mengganggu?"
Sejujurnya iya. Tapi tidak baik merubah mood seseorang yang tampak sedang berbahagia.
"Nggak, gue tadi ngantuk banget. Bangun agak kesiangan. Nggak sadar juga kalau itu lo yang telpon," jelasku.
"Ohhh, oke kalau gitu. Lo sekarang mau ke mana? Biar gue yang anter. Ayo naik," ajaknya seraya membukakan pintu mobil, lalu mempersilahkan aku naik seperti tuan putri. Ada beberapa hal yang harus kami bahas, seperti soal perasaan yang tidak boleh tumbuh misalnya. Bukan apa-apa, tapi dari gelagatnya Axel memang sedang mengincarku. Atau ... aku saja yang terlalu percaya diri.
Ya, menolak ajakan pria ganteng baik hati, untuk masuk ke dalam mobil sepertinya salah dan mubazir juga. Jadi dengan senang hati, aku mengikuti perintahnya. Dan soal Adrian, semoga saja Adrian tidak melihatku naik mobil ini.