Bab 70. Shera 42

1343 Kata
Shera Fuji Lesmana Pertama kali datang ke Jakarta, cuacanya belum sepanas ini. Dulu kupikir, aku hanya belum terbiasa. Setelah lama tinggal di sini, mungkin aku bisa beradaptasi. Tapi rupanya, Jakarta bukan makin sejuk, justru semakin panas. Kendaraan pribadi seperti roda dua dan roda empat semakin bertambah. Juga jangan lupakan populasi manusia yang semakin membuat sesak. Namanya juga Ibu Kota. Banyak orang-orang dari pelosok negri menggantungkan harapannya di sini. Tak terkecuali aku. Mau tak mau, aku juga harus mengejar mimpiku di sini. Axel menghentikan mobilnya saat lampu merah. Kendaraan ini berada dijajaran ke tiga setelah dua mobil di depan kami juga harus mengantri. Ada begitu banyak wajah-wajah lusuh pengais rezeki yang memanfaatkannya. Jaman sekarang, manusia silver yang biasa kita lihat di film-film fantasi atau Super Hero, sudah banyak tersebar di mana-mana. Anak kecil yang kutaksir berkisar umur lima tahunan ikut mengamen di bawah teriknya matahari. Beberapa ada juga yang menjadi pedagang asongan yang menjual tisue, bunga, minuman dingin, dan apapun demi rupiah. Potret Ibu Kota yang dalam bayanganku begitu indah. Modern dan tertata rapi, ternyata diluar dugaan. Kehidupan yang keras, di mana hanya harta, tahta dan jabatan yang berkuasa. Lama aku melamun, getaran ponsel di dalam saku celana membuatku terhenyak sesaat. Dan saat ku lihat ternyata Adrian yang menelpon. Dia pasti sudah menyadari kalau aku telah pergi dari kampus. Maaf, Adrian! Tapi aku tidak bisa membuat Leana kian memusuhiku. Jika aku tetap di kampus, maka Adrian pasti akan memaksa untuk mengantarku lebih dulu ke Hotel. Padahal aku-kan berbohong. "Kok telponnya nggak diangkat?" tanya Axel. "Hah? ehm ... nggak begitu penting!" Aku mematikan panggilan dari Adrian berikut dengan menonaktifkan ponsel juga. "Tadi kayanya itu Adrian yang telpon." "Jadi lo merhatiin gue dari tadi?" "Ya ... lo bengong terus dari tadi. Gimana gue nggak merhatiin? Kenapa telponnya nggak diangkat?" "Nggak apa-apa lagi males aja." jawabku. Tadi pagi saat Axel telpon, aku dengan sengaja tidak mengangkatnya di depan Adrian. Sekarang Adrian telpon, aku juga dengan sengaja tidak mengangkatnya di depan Axel. Ada apa denganku. Mendadak semua tindakan ini terasa janggal. "Lo, ada problem sama Adrian?" tanya Axel lagi. "Nggak ada. Cuma lagi males aja. Tolong daripada kita bahas Adrian, mending lo kasih tahu dulu kita mau kemana?" Bukannya menjawab pria itu malah tertawa kecil. Sama sekali tidak sejalan dengan pertanyaanku. "Gue mau culik lo, sebentarrr aja. Nggak usah khawatir. Kita bakal balik sebelum lo mulai kerja." Niat awal ingin bicara hal penting, sekarang malah dibuat penasaran dengan tujuan. "Ya tapi kemana?" tanyaku bersikeras ingin tahu. "Kemana kek, bawel banget." "Hisshhh ..." keluhku dengan wajah cemberut, berharap agar dia berubah pikiran, lalu memberi tahu arah tujuan kami. Tapi tidak, dia malah kembali fokus menyetir sambil senyum-senyum sendiri. Lama tak mendapat jawaban, aku bersandar pada kursi dengan perasaan kantuk yang mulai menyerang. Entah bagaimana awalnya, mataku mulai terpejam dan semuanya terasa gelap. "Sher, Shera. Shera bangun Sher!" Ada suara yang memanggil-manggil namaku, dan rasanya terdengar sangat dekat. Akan tetapi, mata ini begitu lengket untuk terbuka. "Shera ... kita udah sampe. Ayo bangun." Dengan sedikit memaksa, kubuka kedua kelopak mata yang tadinya tertutup rapat ini. Pemandangan pertama kali yang ku lihat adalah kaca mobil. Astaga, aku hampir saja lupa kalau aku memang sedang berada di dalam mobil. "Udah bangun? Nyenyak banget kah tidurnya? sampe nginggau manggil-manggil nama gue segala?" Aku yang sedang mengumpulkan nyawa yang berhamburan saat tidur tadi, dengan perlahan-lahan. Tapi kata-kata Axel soal aku mengigau akan namanya, benar-benar membuatku kaget. Sontak saja mata ini terbuka selebar-lebarnya. Aku menoleh, kemudian mendapati Axel yang tengah menahan tawa. Fix, pria ini berhasil membual. "Lo tuh apaan sih. Bikin gue kaget?" "Lah kenapa kaget. Cuma karena gue nahan-nahan ketawa, dipikir gue bohong? Ini beneran. Atau mau gue ceritain detailnya?" Mengingat memang sudah seringkali aku tidak ingat dengan apa yang kulakukan saat tidur, maka aku lebih baik tidak tahu menahu. Kalau apa yang kulakukan itu ternyata memalukan, maka aku tidak akan memiliki muka lagi untuk bertemu dengan Axel. "Nggak usah, nggak usah. Cukup lo aja yang tahu," ujarku kemudian. "Oke, karena lo nggak mau denger. Sekarang lo liat ke depan. Ada apa di sana." Sesuai perintah, akhirnya aku melihat ke arah depan. Barulah aku menyadari kalau sekarang di hadapan kami ada sebuah danau. Danau yang luas dan penuh dengan air. Tunggu-tunggu. Mengapa aku jadi begitu tak waras. Tentu saja sebuah danau akan dipenuhi oleh air. Dan bukan hanya danau. Sungai, kali, selokan bahkan gelaspun jika diisi bisa menjadi penuh dengan air. "Shera?" panggil Axel lagi. Kurasa Axel sekarang begitu sering memanggilku. "Hah iya?" "Gimana menurut lo?" tanya Axel lagi. Aku mengernyitkan dahi dengan heran. Apa dia sedang menanyakan pendapatku soal danau ini, atau soal yang lain?" "Gimana apanya sih?" "Ya ini, lo gue bawa ke sini. Ke danau? Masa ekspresi lo gitu-gitu aja?" ujar Axel dengan gemas. "Ya gue harus gimana, Xel?" "Cewek kalau dibawa ke tempat sepi, ke tempat yang indah, harusnya seneng. Harusnya tuh kaget. Harusnya ngerasa ... wah ini cowok romantis banget ya?" "Ehm ... tapi disinikan nggak sepi, Xel?" Aku menunjuk ke arah dimana ada orang-orang juga disekitar tempat ini. Penjual kopi, mie, dan pedagang lain yang tak jauh dari tempat kami berada. Di depan kami juga ada beberapa perahu bebek yang dimainkan orang dewasa dan anak-anak. Pepohonan di sekitar sini memang lumayan membuat sejuk. Tempatnya bersih dan nyaman. Airnya juga tidak tampak terlalu keruh meski nggak sepenuhnya jernih. Meski terkenal dengan kota yang penuh kemacetan, gersang dan kejam, sebenarnya ada banyak juga tempat-tempat asyik di Jakarta. Gedung-gedung tinggi turut menghiasi sisi-sisi sepanjang danau. Jadi ... ada di sebelah mana sepinya. Lagipula, di Semarang ada begitu banyak tempat seperti ini. Aku sudah tidak heran melihat tempat yang penuh dengan air. "Ahhh ... Ya udah, kita keluar dulu aja pokoknya!" Dia mengerang sendiri, keluar dari mobil sembari mengacak-ngacak rambutnya. Aku sungguh tidak mengerti, memangnya ada jawabanku yang salah. Aku mengikutinya keluar dari mobil. Axel berjalan lebih dulu ke tepian. Aku menyusul kemudian berdiri di sampingnya. Memandangi hamparan air yang tenang dan sejujurnya menakutkan. Katanya ... buaya biasa hidup di air yang tenangkan? Bagaimana kalau di saat kami sedang bengong, tiba-tiba ada buaya yang loncat. "Gue udah lama nggak kesini," ujarnya tiba-tiba. "Seberapa lama emangnya?" tanyaku. Bukan karena penasaran. Aku bertanya, hanya agar kami tak kehilangan pembahasan. "Pokoknya, waktu gue kecil, gue sering banget ke sini. Tapi gue lupa, kalau waktu berlalu begitu cepat. Gue udah dewasa, ada banyak hal yang pastinya udah berubah. Salah satunya tempat ini. Dulu nggak serame ini kok," jelas Axel. Oh ... rupanya Axel mengajakku ke sini untuk mengenang masa lalu ya. "Kayanya otak gue nggak bertambah gede kaya badan gue," keluhnya dengan tidak semangat. "Tenanglah, lo tumbuh gede dibagian lain kok." Eh tunggu, apa baru saja yang ku katakan. Bibirku terkatup diam. Aku dan Axel menoleh bersamaan. Tatapannya penuh dengan tanda tanya. "Eh, itu, anu, maksud gue lo tambah gede dibagian pemikiran, kedewasaan, hati dan lain lain. Nggak usah mikir aneh-aneh," tegasku. Aduh, pipiku pasti saat ini memerah. "Gue nggak mikir aneh aneh kok. Ini jangan-jangan otak lo nih yang nggak waras. Makanya waktu di cafe, gue tergoda. Nah ... terbukti, jadi sebenernya lo yang godain gue kan. Aduh, aduh, duh-duh. Sakit, Sher!" Axel meringis, sekaligus menepis tanganku yang telah berusaha mencubit pinggangnya sekeras mungkin. Kesal! Bisa-bisanya dia mengingatkan aku pada kejadian memalukan itu. Aku sudah hampir melupakannya. Dan sekarang aku benar-benar malu. "Ya lo ngapain sih ngingetin gue sama kejadian waktu itu. Kesel banget deh gue!" gerutuku, seraya berpaling sambil memanyunkan bibir. "Iya, iya maaf. Gue cuma main-main kok. Jangan ngambek kaya gitu." Terserahlah, aku sudah terlanjur kesal. Kebaikan orang lain bisa terlupakan dengan mudah, tapi kesalahan, kekhilafan juga semua hal buruk akan lebih mudah untuk diingat. "Tapi ... Gue udah males," tambahnya lagi. Aku diam menunggu kata lain yang akan selanjutnya ia lontarkan, tapi yang terjadi adalah sebuah kalimat tak terduga membuatku hampir saja terkejut. "Sher, gue capek main-main terus. Gue mau seriusan aja sama lo. Kita nikah ya?" Demi kepiting tuan crab yang mata duitan persis sepertiku. Apa pendengaranku ini sedang terganggu. Atau malah otaknya yang terganggu. "Lo waras, Xel?" tanyaku sambil menoleh, membalas tatapan pria ini yang justru terlihat tak main-main.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN