Bab 71. Shera 43

1158 Kata
Shera Fuji Lesmana Axel mengerjap beberapa kali lalu mengedipkan matanya dengan cepat untuk beberapa saat. Dari gelagatnya, kurasa dia sendiri tak sadar dengan apa yang baru saja terucap. Dia tampak agak sedikit terkejut. Padahal seharusnya, aku yang kaget. Bukannya dia. "Ah sorry, gue ... gue nggak tau apa yang barusan gue omongin." Axel memijat kepalanya sendiru. Mundur beberapa langkah, kemudian duduk di atas batu besar di belakang kami. Aku mengikutinya untuk duduk juga. Jelas-jelas dia mengajakku untuk menikah tadi dan sekarang dia malah merasa bingung sendiri. Tapi syukurlah kalau dia tidak serius, maka aku akan lebih bingung lagi. "Gue serius soal ngajak lo nikah." Baru saja aku bernafas lega dan mengecilkan pandangan. Tapi kemudian mataku kembali melebar, sembari menoleh ke arahnya. Bukannya dia tidak tahu dengan apa yang baru saja dikatakan. Kenapa sekarang mendadak malah jadi serius. Apa aku barusan bicara lagi tanpa sadar. Astaga ... aku tidak tahu, kapan kutukan ini akan berakhir. "Hah? gimana-gimana?" "Gue mau seriusin lo. Tapi bukan sekarang. Kita belom lama kenal kan? Ya, bagi gue, waktu yang singkat ini udah lebih dari cukup buat mengenal lo. Tapi buat lo, ini pasti terlalu cepat. Maaf ya, bikin lo kaget," jelasnya sambil mengangkat tangannya lalu mengusap pelan rambutku. Bagaimana ini, harus langsung ku tolak sekarang. Atau menunggu waktu yang lain. Beberapa waktu yang lalu, aku memang sempat sedikit menyukainya. Tapi kurasa, itu bukanlah cinta atau rasa ingin untuk memiliki. Saat itu, aku hanya sedang patah hati. Axel datang mengobati lukaku dan sekarang hatiku sembuh. Lukaku menghilang, berikut perasaanku pada Axel. Menyisakan tempat dan cintaku hanya untuk satu orang, yaitu ... "Xel, gue nggak mau ngasih harapan terlalu tinggi. Bukan karena gue kegeeran, tapi ...." "Gue tahu, gue tahu. Lo masih punya banyak mimpi kan? Kita bisa jalan berdampingan, ngejar mimpi bareng-bareng. Hanya karena kita menikah, bukan berarti semua mimpi itu bakal stuck di tengah jalan. Gue juga punya mimpi kok. Lo mau tahu mimpi gue apa?" Bukan hanya soal mimpi. Ini juga soal perasaanku yang sebenarnya sudah milik Adrian. "Ehm ... apa?" "Menikah dan punya keluarga bahagia sama lo." Deg ... entah hati atau jantungku yang tiba-tiba saja jadi bergetar. Ironis sekali, di saat satu cintaku gugur, dua cinta yang lain datang berbarengan. Meski aku tidak memiliki perasaan yang lebih pada orang ini, tetap saja pikiranku jadi tak karuan. Ada yang ngajak nikah gitu loh? Mana mungkin aku biasa-biasa saja. "Apaan sih lo, Xel?" Jelas saja hal ini membuatku jadi salah tingkah. "Itu cuma salah satunya. Mimpi gue yang lain adalah gue pengen Cafe gue berkembang lagi. Punya banyak cabang, bukan hanya dibidang makanan. Brand dengan nama Green Cafe milik Axel Yudhistira harus menyebar dan dikenal semua orang." Kurang lebih sama lah ya. Kami ingin menjadi orang sukses dengan cara dan tujuan masing-masing. Terlalu cepat bagiku untuk menyimpulkan sesuatu. "Jangan buru-buru ditolak ya. Pikirin aja baik-baik. Bukannya gue nggak ngasih pilihan, tapi ... ya terlalu cepat aja kalau gue ditolak, sebelum ada pendekatan." "Emang sejak kapan lo ngedeketin gue?" "Sekarang!" ujarnya seraya mendekat lalu tiba-tiba saja ... Cup. "Axel!" protesku begitu pria ini tanpa izin malah mengecup pipiku dengan cepat. Ini tidak benar. Tidak ada yang benar dengan hidup dan kisah cintaku sekarang. "Sorry-sorry. Cuma relfek," katanya dengan santai. Pikiran laki-laki dan perempuan itu memang sangat berbeda ya. Cukup lama aku dan Axel menghabiskan waktu dipinggir danau ini. Aku lebih banyak menjadi pendengar. Ada beberapa pedagang asongan yang menghampiri kami. Axel dengan dompetnya yang tebal, membeli makanan apa saja yang ditawarkan padanya. Padahal setelah di beli, dia sama sekali tidak menyentuhnya. Niatnya untuk membantu orang dengan membeli dagangannya memang baik. Tapi mengumpulkan semuanya seperti itu, bukannya malah akan jadi mubazir. Alhasil, ku bungkus saja semua untuk dibawa pulang. Daripada nanti malah dibuang. Tapi sekarang, aku sedang tengah sibuk memakan telur gulung yang tentu saja dibeli Axel saat pedagangnya menawarkan. Heran aku, padahal ini makanan enak banget! gurih, ditambah pedes dari saosnya juga. Karena masih panas, bau amis dari telurnya juga sama sekali tidak ada. Tapi kenapa saat ku sodorkan padanya, dia menolak dengan halus. Aku jadi terlihat rakus, karena ulahnya sendiri. "Sher, gue boleh maen ke rumah lo yang di Semarang?" tanya Axel. "Boleh, kenapa nggak. Tapi ..." "Tapi apa?" "Maaf-maaf nih ya. Gue jelasin dulu, pedesaan atau kampung-kampung indah yang ada di internet itu, nggak sebagus aslinya. Maksud gue, buat ukuran orang kota kaya lo yang makan telor gulung aja ogah? Kayanya nggak bakal cocok deh," jelasku. Sebenarnya aku hanya sedang menolak keinginannya untuk berkunjung ke rumah. Lagipula, Adrian tidak akan mungkin membiarkan hal itu terjadi. "Lo ngeremehin gue cuma gara-gara telur gulung?" Aku mengerdikan bahu. "Lagi pula, lo juga belum tahukan. Orang tua gue itu, asisten rumah tangga di rumahnya Adrian. Lebih tepatnya Bapak gue kerja di perkebuna mereka, sedangkan Ibu gue kerja di rumahnya. Sorry ya, gue nih sekarang agak trauma berhubungan sama orang kota dengan status yang udah jelas beda jauh. Pahamkan maksud gue?" Harusnya tanpa perlu ku jelaskan, Axel sudah paham. Luka lama, meskipun sudah sembuh belum tentu bekasnya sudah hilang. Lagipula, aku juga tidak yakin apakah pria ini serius ingin menikah, atau dia hanya merasa masih panas dengan pernikahan mantan pacarnya. Namun, setelah itu Axel tak membahas apapun soal keluargaku, rencananya untuk menikahiku, atau hal lain yang menjurus kepadanya. Dia tampak jelas mengalihkan pembicaraan pada hal lain. Sepertinya, yang kukatakan soal status keluarga mempengaruhi sedikit banyak pikirannya. Itu juga sesuatu yang penting untuk jadi pertimbangan. Aku bukan ingin menyamakan semua orang kaya adalah penggila status dan jabatan. Tapi aku yakin Axel ini orang yang baik. Semilir angin mulai bertiup lebih sejuk. Hari semakin sore, dan semakin ramai. Ada banyak hal yang berubah dari hari ke hari. Kehidupanku di Jakarta ini begitu rumit dan penuh teka-teki. Setelah membicarakan soal keluarga dengan Axel, aku jadi ingat pada Bapak dan Ibu. Merantau jauh dari mereka, bukanlah hal yang mudah. Saat mereka sakit, aku hanya bisa mendengar suaranya juga melihat wajahnya melalui video call, tanpa bisa ikut bantu merawat, atau sekedar menyentuh kulitnya. Saat ada acara atau kebahagiaan tertentu. Aku juga hanya bisa ikut tertawa melalui layar kaca ponsel. Bekerja, sambil kuliah dengan segudang permasalahan yang ku sembunyikan tentu saja terasa amat melelahkan. Aku juga manusia biasa yang bisa merasakan iri pada kehidupan orang lain, terutama teman-temanku di kampus. Tapi saat aku pulang, aku selalu merasa kalau yang kubutuhkan, juga semua yang kumiliki ada di rumah. Semua hal yang belum tentu di miliki orang lain. Aku menggenggam tangan Axel secara tiba-tiba, lalu menariknya untuk berdiri dengan segera. "Kenapa sih, Sher?" "Aku harus kerja. Ayo kita pulang sekarang!" ajakku. Bukan hanya itu, karena Axel membeli dagangan setiap orang yang datang, maka kami sekarang menjadi incaran. Baik boleh, tapi jangan keterlaluan juga. Dompetku merasa sedih, melihat dia begitu mudah mengeluarkan uang. "Iya-iya sebentar. Pelan-pelan aja sih!" katanya. Aku dan Axel kembali lagi menuju mobil. Inilah salah satu keajaiban, yang sepertinya ada di seluruh Indonesia. Saat datang, tidak ada siapapun di sini. Tapi begitu akan pulang, tukang parkir datang begitu saja, entah darimana secara ajaib.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN