Adrian Maulana
Kelasku selesai lebih dulu daripada Shera. Aku menunggu dia di kantin, sambil memainkan ponsel. Dia bilang, hari ini akan ada lembur. Jadi, sebagai pacar yang baik, aku harus mengantarnya lebih dulu ke Hotel. Tio dan Ricky sudah pulang lebih dulu. Kami janjian untuk bertemu di rumah Ricky usai aku mengantarkan Shera lebih dulu.
Tujuannya hanya agar kami bisa ngobrol santai. Beberapa waktu belakangan, kami bertiga begitu gencar untuk latihan Band. Selain itu, sejujurnya aku sedang rindu masakan rumah. Ibunya Ricky biasa memasak jika ada aku dan Tio berkunjung. Namanya anak perantau, selain malas masak sendiri, aku juga sudah mulai bosan dengan makanan cepat saji yang biasa dibeli.
Cukup lama aku menunggu, hingga akhirnya seorang cewek yang tidak terlalu ku harapkan justru datang. Dan lebih menyebalkannya lagi, dia hanya datang sendirian.
"Hay, sayang," sapa Leana dengan ramah. Aku menyunggingkan sedikit senyum sembari celingukan mencari seseorang. Yup benar! Siapa lagi kalau bukan Shera. Tapi, tak ku lihat sama sekali batang hidungnya di sekitar sini.
"Kamu cari apa sih, Yan? Akukan ada disini?"
Aku tahu Leana ada disini. Tapi yang kucari jelas bukan dia. Kenapa dia tidak bisa lebih pintar sedikit. Aku tidak akan mencari sesuatu yang sudah ada di depan mata.
"Kamu nggak sama Shera?" tanyaku mencari tahu.
"Loh ... Shera udah pulang dari tadi. Aku malah sempet ngobrol dulu sama Mira juga. Lumayan lama malah. Tapi Mira udah dijemput juga sama pacarnya. Emang Shera nggak kesini dulu?"
"Ya kalau udah ketemu, ngapain aku nanya?" jawabku kesal. Aneh, aku duduk sejak tadi disini. Seharusnya jika Shera sudah pulang dan keluar kelas, aku bisa melihatnya lewat. Tapi kok ...
"Kok kamu malah bengong gitu sih?"
"Nggak, nggak. Siapa juga yang bengong, " balasku cepat.
"Ya udah bagus. Kalau gitu, kita nonton yuk? atau jalan kemana kek gitu?" ajak Leana. Aku memang sedang suntuk. Tapi malas pergi kencan. Bahkan, jika bukan karena Shera yang memaksa, tidak akan aku pergi menjemput Leana tadi pagi.
"Sorry, Lea. Aku udah ada janji mau ke rumah Ricky," jawabku.
"Ya udah kalau gitu aku ikut ya?"
"Hah, kamu kan cewek, Le. Mana boleh?"
"Tapi Shera selalu ikut kamu kemana-mana. Kok boleh?"
Aku akan gila dengan pertanyaan pertanyaan serupa soal Shera dari semua wanita. Bedanya kali ini, aku tidak bisa sembarangan menjawab. Andai saja Leana bukan sahabat Shera, sudah kuputuskan dia sejak kemarin.
"Bukannya gitu. Tapi ini acara laki-laki. Sekarang kamu liat, apa ada Shera disini? Nggak ada kan? Berarti aku nggak ajak dia juga," jelasku. Dia tampak masih kesal. Tapi aku malas membujuknya.
"Aku anterin kamu pulang aja ya!"
"Nggak usah, aku udah dijemput," jawabnya.
"Oh ... oke kalau gitu. Hati-hati di jalan ya!"
"Adrian?" teriak Leana dengan gemas. Astaga, apalagi salahku kali ini.
"Apa sih, Lea? Tadikan aku udah nawarin buat anter kamu pulang. Dan kamu nolak karena udah dijemput? Makanya ku bilang hati-hati di jalan. Gimana sih?"
Leana beranjak dari kursi dengan geram. Aku bisa melihat tatapannya yang menyebalkan itu. Padahal, saat kami tak memiliki hubungan apapun, aku biasa melihat Leana sebagai sahabat Shera yang paling kalem dengan senyum yang manis, beda dengan Mira yang selengean. Tapi sekarang berbeda. Perasaan seseorang memang sangat berpengaruh pada perilaku. Padahal aku sudah seringkali mengalaminya. Untuk apa juga masih kaget?
"Kamu tahu nggak sih, Yan. Aku merasa meskipun kamu udah nerima aku sebagai pacar kamu. Hatimu tetap kemana-mana. Aku sama sekali nggak merasa kalau kita ini pacaran," tegasnya.
Leana berbalik lalu pergi, sebelum aku sempat berucap lagi. Ahh masa bodoh, aku sudah cukup pusing. Sekarang malah ditambah Leana juga. Setelah Leana pergi, aku menghubungi Shera.
Tapi setelah beberapa saat, selain dia tidak menjawab telpon, nomernya juga langsung tidak aktif. Hanya ada dua dugaan yang bisa ku ambil saat ini. Antara ponselnya mati saat belum sempat menjawab, atau dia sengaja mematikan ponselnya karena menghindar. Apapun itu, aku harus memastikannya sendiri. Tapi tentu saja nanti, setelah aku menikmati santapan di rumah Ricky terlebih dahulu.
Rumahnya lumayan tak begitu jauh juga sih dari kampus. Selain itu tempatnya strategis dan sangat mudah ditemukan, karena berada persis tepat di pinggir jalan utama. Sayangnya, saat malam hari dimana waktunya untuk beristirahat, suara pengendara bermotor yang menggunakan knalpot racing bisa sangat terdengar dan membuat kaget.
Dan satu lagi, yang membuatku dan Tio kerap kali betah berkunjung di rumah Ricky. Jadi Ricky itu punya Ibu Tiri yang memang selain jago masak juga ...
"Ehhh, Iyan. Kok datangnya belakangan? Itu Ricky sama Tio udah nungguin di kamar. Ayo masuk-masuk."
Setelah pintu terbuka, pemandangan indah yang menyegarkan mata, membuatku hampir saja mati gaya. Sosok wanita dewasa yang cantik, sexy dengan postur tubuh aduhai, membuat mataku selalu susah berpaling. Bapaknya si Ricky ini punya pelet apa ya, sampai-sampai punya bini cakep bin seger begini?
"Iya tante. Makasih ya," ucapku. Aku lantas masuk setelah Ibu Tiri dari Ricky itu masuk lebih dulu. Tapi sayangnya, kami tidak sejalan. Ibu Tiri Ricky pergi menuju dapur, sementara aku, tanpa perlu petunjuk, bergegas menaiki anak tangga, menuju kamar Ricky di lantai atas. Lebih tepatnya kamar nomor dua dari kanan dengan satu-satunya pintu berwarna hitam dengan tulisan ...
"Yang tidak berkepentingan, dilarang masuk."
Udah kaya di kantor-kantor. Tapi karena aku ini orang penting, ya tinggal masuk saja dan beres.
"Woy, kemana aja sih lo. Lama banget!" Ricky melemparkan bantal begitu pintu ku buka. Tapi sayang sekali, lemparannya meleset bro.
"Eh, justru ini tuh kecepetan. Dia pasti gagal ketemu Shera. Makanya sekarang udah disini," sahut Tio. Wah, bocah ini sudah mulai mengerti aku rupanya.
"Wah, salut deh gue. Tio makin pinter," balasku kemudian. Aku melemparkan ransel ke atas ranjang milik Ricky dengan sembarangan. Lalu membuka jendela kamarnya yang semula tertutup rapat. Padahal seluruh ruangan sudah penuh dengan asap nikotin. Rasanya begitu pengap. Ini salah satu kebiasaan anak itu yang sering kali membuatku jengkel.
Meski bukan pecandu parah, aku juga suka sih. Hanya kalau sedang iseng atau memang ingin saja. Tapi berada di dalam ruangan pengap seperti ini, bukanlah gayaku. Setelah membuka jendela, aku langsung merebahkan tubuh. Tio sedang asyik menonton acara film semi dewasa berbalut horor dari laptop milik Ricky. Sementara Ricky sendiri, seusai melemparkan bantal, ia kembali melanjutkan game onlinenya yang sempat terhenti sejenak.
"Nyokap lo makin berumur bukannya makin keriput, malah makin hot gitu sih Rick?" tanyaku memecah suasana.
"Itu juga yang selalu jadi pertanyaan di otak gue. Kok bisa sih bokap lo dapet bini sebagus itu. Bisa kali, entar lo minta kiat-kiatnya terus bagi ama kita," celetuk Tio lagi yang membuatku ingin tertawa.
Kedua orang tua Ricky ini sudah bercerai. Lalu kemudian Ayahnya menikah lagi dengan wanita yang umurnya nggak terlalu jauh berbeda dengan kami.
"Bahas kaya gitu lagi, nggak usah kalian berdua makan di rumah gue," ancam Ricky. Yang paling khawatir disini adalah aku. Masalahnya, dimana lagi aku bisa mendapatkan masakan enak yang mengingatkanku pada rumah dengan tulus. Memang paket komplit banget sih Ibunya Ricky. Belum apa-apa, harum masakannya sudah tercium sampai ke kamar.
"Ya ... Sorry-sorry. Salah sendiri, kenapa lo punya nyokap kaya barang antik begitu," balasku dengan santai. Tentu saja aku tahu, dia itu hanya bercanda.
"Ehhh tapi, lo belom jawab. Kalau tadi lo nggak jadi ketemu Shera, emangnya Shera kemana?" pertanyaan Tio seolah mengingatkanku kalau nomor ponsel Shera masih juga belum aktif. Ingin sekali aku percaya kalau dia itu benar-benar sedang lembur di Hotel. Tapi entah kenapa, perasaanku justru berkata lain? Sebenarnya, ada di mana bocah itu sekarang?