Shera Fuji lesmana
Aku menarik nafas panjang begitu sampai di Mess karyawan. Sebelum kesini, aku juga sudah absen jam pulang terlebih dahulu. Dengan badan yang lelah dan hampir remuk, ku selonjorkan kaki berbalut celana hitam yang agak basah di lantai beralaskan karpet hijau tosca. Bukan tanpa sebab, hari ini jadi begitu lebih melelahkan daripada hari-hari biasanya.
Ada sebuah insiden kecil yang dampaknya sangat besar. Salah seorang karyawan yang bertugas untuk menyiapkan makanan, sama sepertiku tadi jatuh terpeleset. Ia jatuh tepat, saat membawa piring-piring kotor di atas trey, dengan jumlah yang lumayan banyak. Niat awalnya, mungkin agar pekerjaan cepat selesai, sehingga dia membawa piring dengan kapasitas melebihi kemampuannya. Dan hasilnya, semua pecahan piring bercampur dengan sisa-sisa sampah makanan, berserakan di ruang makan.
Bisa dibayangkan betapa gaduhnya keadaan tadi. Semua orang datang melihat, berikut dengan salah satu pimpinan kami yang rupanya masih stay, padahal sudah malam. Kami semua kena ceramah panjang lebar sembari membersihkan kekacauan. Berasa double-double gitu lah, menderitanya.
"Hadehhh, rese banget deh si kampret. Jadi capek banget. Untung nggak dapet jatah masuk pagi, besok. Kalau nggak, bisa mampus gue. Jam segini belum nyampe rumah!" Wawan, salah satu kawanku datang, ia duduk persis di sampingku sambil ikut meluruskan kaki juga.
"Udah-udah. Jangan dibahas lagi! Kasian dia kalau sampai denger. Pasti ngerasa nggak enak hati banget. Tu anak juga pasti nggak sengaja." Aku berpura-pura sok menenangkan pria ini. Padahal sumpah ya, hatiku ini juga dongkol banget. Harusnya aku sudah ada di kamar menikmati indahnya mimpi. Tapi jam segini, masih terjebak didalam rutinitas payah.
Yang membuat lama itu, sebenarnya bukan karena kami harus membereskan kekacauan insiden piring pecah. Melainkan ceramah bertubi-tubi dari Bapak pimpinan, membuat kami harus membagi fokus antara mendengar dan bekerja yang benar-benar memakan waktu.
"Helleehh, padahal gondok juga kan lo," gerutunya lagi. Aku hanya nyengir tanpa menjawab. Tenagaku sudah terkuras habis untuk bekerja. Tidak baik, jika ku gunakan lagi untuk berdebat. Setelah melegakan nafas beberapa menit, aku menyalakan kembali ponsel yang ku matikan saat pergi bersama Axel tadi. Aku tidak sempat mengotak ngatik hp, karena terlalu sibuk.
Ada banyak chat yang muncul begitu jaringan di ponsel itu tersambung. Sudah bisa kutebak. Kebanyakan, jika bukan dari Axel pasti dari Adrian. Dan benar saja, namanya ada di daftar pengirim pesan terbanyak untuk hari ini. Aku jadi tidak habis pikir, apa yang dilakukannya hingga begitu kurang kerjaan mengirim pesan sebanyak ini padaku.
"Hp lo rame bener, Sher?" Wawan celingukan, penasaran dengan ponselku. Aku lupa menonaktifkan bunyinya. Sehingga semua pesan masuk berbunyi iring-iringan.
"Iya nih. Biasa si Adrian kalau tahu hp gue nggak aktif suka kirim spam chat gitu. Kurang kerjaan emang."
"Bukan kurang kerjaan, itu namanya sayang," celetuk Wawan lagi.
"Iya deh, seterah-seterah."
"Terserah, Sher!" protes Wawan.
"Ya, suka-suka gue donk. Wew!" ejekku lagi. Aku lantas kembali berfokus pada pesan-pesan yang harus dibuka.
Tidak ada yang aneh. Pertanyaan Adrian semuanga tentang kenapa, dimana, kenapa, dimana dan sama siapa. Ya ... Standarnya orang kalau lagi cemburu-cemburu gitu lah. Harusnya, setelah aku pergi, Adrian menghabiskan waktu dengan Leanakan?
Tuhkan, kurang baik apa coba, aku ini. Pacarku malah dengan sengaja ku buat agar berpacaran dengan orang lain. Dia pasti kalang kabut, karena tidak menemukanku di kampus tadi.
Selanjutnya, ada pesan dari Axel. Jika, Adrian mengirimkan berbagai macam pesan yang isinya lebih mirip tukang begal minta share lock, Axel ini jauh lebih kalem. Pria itu hanya mengirim pesan sebatas jangan lupa makan, jangan lupa minum, thanks for today, semangat kerja, juga beberapa ucapan standarnya. Tapi ada satu pesan yang membuatku terdiam.
"Aku akan datang ke rumah orang tua kamu, dan melamar kamu. Bahkan sebelum kamu membayangkannya."
Sebenarnya, tak ada yang perlu aku khawatirkan. Toh, Axel tidak tahu rumahku dimana. Tapi dengan kemajuan teknologi, ditambah uangnya yang banyak. Bukanlah sebuah hal yang mustahil, kalau tiba-tiba saja ada berita, "Nak, tadi ada orang Jakarta yang mirip orang Cina, datang melamar kamu." Dapat dipastikan, aku akan langsung pingsan seketika.
Kebanyakan orang di kampungku, bahkan aku sendiri memang sudah terbiasa menggolongkan orang-orang berkulit putih dan bermata sipit sebagai orang Cina. Padahal, tidak semua orang dengan ciri-ciri seperti itu, berasal dari sana.
Pesan lainnya, kemudian berasal dari adik perempuanku. Hemm ... agak aneh juga sih dia mengirim pesan. Masalahnya, hubungan kami memang tidak terlalu baik. Maksudku, hanya standar-standar saja. Itulah kenapa, aku tidak pernah bercerita soal adikku. Umurnya 18tahun. Sekarang dia sudah kelas 3SMA.
"Kapan pulang? Aku bosen. Ibu sama Bapak yang ditanyain Mbak Shera terus. Bapak juga udah mulai sering batuk-batukan terus. Aku udah suruh Bapak buat jangan terlalu capek dan ambil libur. Tapi tahu sendirikan? Bapak itu cuma nurut sama Mbak Shera doank. Namanya juga anak kesayangan. Iya to? Makanya, cepetan pulang. Jangan jadi orang Jakarta terus!"
Hishh, dia memang sejutek itu. Dan agak sulit untuk bicara beramah tamah dengannya. Apa katanya, anak kesayangan? Jadi ... Dia masih saja belum bisa melupakan kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat aku akan ke Jakarta gadis itu berpikir kalau dia dipilihkasihkan. Anak kesayangan boleh pergi kuliah di Jakarta. Sementara ia masih tetap harus berada disana. Dia selalu bilang, kalau aku ini, adalah anak kesayangan Bapak dan Ibu. Bapak sudah mulai berumur. Beliau orang yang rajin. Wajar saja sih, kalau sekarang seharusnya sudah mulai menikmati hidup dengan istirahat.
Ini tugasku sebagai anak pertama. Harusnya aku tidak bersikeras pergi ke Jakarta dan meninggalkan mereka. Harusnya aku disana saja, dan mungkin bisa membantu Ibu juga Bapak. Entah bekerja sebagai apapun nantinya. Tapi ... tidak ada bedanya.
Bagaimana aku bisa mengangkat derajat keluarga, keluarga kalau pada akhirnya, aku tetap harus bekerja seperti Ibu. Menjadi asisten rumah tangga yang gajinya jelas tidak seberapa. Bukan aku meremehkan pekerjaan itu. Sungguh! Tapi, tentu saja setiap orang ingin memiliki peningkatan taraf hidup yang lebih baik.
"Shera, lo ngapain malah bengong begitu?"
Wawan telah membuyarkan lamunanku. Aku melihat pesan-pesan lain dan tak ada yang penting. Jadi segera ku masukkan ponsel ke dalam tas dan bersiap untuk pulang.
"Nggak kok. Lagi nggak enak hati aja gue," jawabku.
"Inget keluarga ya? Udah berapa lama nggak pulang?"
Berapa lama ya? Aku juga sudah lupa. Kapan terakhir kali aku pulang. Tapi, memang sudah sangat lama.
"Untung rumah gue deket. Gue emang cowok, tapi gue nggak mau merantau jauh-jauh. Gue berasa takut aja, pas nanti ada apa-apa sama keluarga gue, posisinya gue lagi jauh," ujar Wawan lagi.
"Hishh, jangan nakut-nakutin," keluhku sambil beranjak berdiri.
"Lagian kau ngapain merantau segala. Udah tinggal di Jakarta kan enak. Kerjaan dimana-mana. Orang jauh aja pada merantau kesini!"
"Sok tahu lo. Dikira nyari kerjaan gampang apa?"
Aku cengengesan sendiri. Benar sih kata Wawan. Jauh dari keluarga itu, memang amat menyiksa. Hidup itu memang penuh dengan pengorbanan. Aku sedang berkorban jarak dan waktu untuk memperbaiki hidup. Tapi sekarang pikiranku jadi nggak tenang. Kurasa, aku harus pulang secepatnya ke Semarang.