Bab 74. Adrian 26

1180 Kata
Adrian Maulana Serba salah banget sih apa yang kulakukan? Jika ponsel ini ku matikan, aku takut tiba-tiba saja Shera akan menghubungiku dalam keadaan tak aktif. Tapi jika dibiarkan, Leana terus saja menelpon dan mengirimkan spam chat melalui aplikasi si hijau. Sementara pesanku pada Shera, belum menunjukan tanda-tanda keaktifan. Aku berada tak jauh dari hotel Berlian tempat Shera bekerja. Lebih tepatnya di warung kopi yang letaknya cukup strategis untuk melihat pergerakan orang yang masuk dan keluar hotel. Jadi kali ini, jika Shera berniat menghindar lagi seperti saat di Kampus tadi, maka ku pastikan niatnya tak akan berhasil. Secangkir teh tawar panas, dan beberapa batang rokok, menemaniku melakukan pengintaian. Perutku masih amat sangat kenyang setelah dimanjakan oleh masakan Ibu Tirinya Ricky tadi. Bukan hanya porsinya saja yang banyak, tapi rasanya emang enak banget. Bahkan tanpa malu-malu, sengaja ku bungkus juga beberapa untuk Shera. Sebab, aku yakin setelah pulang kerja, dia akan kelaparan, selain itu masakan Ibunya Ricky sedikit banyak, bisalah mengurangi rasa rindu kami pada makanan kampung halaman. Ada dua orang laki-laki yang juga tengah mengobrol santai, ditemani kopi hitam. Sang pemilik warung yang sudah kenal akrab denganku, juga beberapa kali mengajak bicara. Sama seperti aku dan Shera, beliau juga perantau dari daerah. Karena itu, aku dan Shera terkadang bisa sedikit berbagi suka dan duka sebagai sesama orang asing dengan pemilik warung. Tak jauh dari sini, berbagai macam kuliner malam berjajar di sepanjang pinggir jalan. Dan di sana jugalah, ada satu makanan favorit Shera yang selalu ramai dikunjungi pembeli. Martabak telor yang legendaris banget, porsinya gede, tebel, dagingnya juga banyak banget. Shera biasa meminta sambel dan acar extra, juga kerap menghabiskannya sendiri, tanpa ingat untuk berbagi denganku. Jahat memang! Lama sekali aku berkawan dengan angin malam. Berkali-kali juga aku mengecek jam, juga notifikasi kalau-kalau ada pesan dari Shera, atau mungkin pesan-pesanku sudah berubah dari centang satu, menjadi dua ceklis biru yang artinya sudah dibaca. Tapi hasilnya nihil, tidak ada perubahan. Bahkan masih ada yang membuatku semakin heran, ini sudah melewati batas jam pulang seperti biasa. Tapi belum ada satupun karyawan yang keluar, dari divisi yang sama dengan Shera. Ini agak aneh bro. Apa Shera masih lembur. Ingin rasanya aku masuk kesana untuk memastikan. Namun, hatiku merasa amat sungkan karena sudah tak lagi bekerja disana. Aiisshh ... jika saja aku tahu, kalau hubungan kami akan berkembang, aku tidak akan mengajukan resign agar bisa tetap bersama dengan Shera setiap harinya. Kembali ku lihat ponsel dan kali ini ada kabar baik. Syukurlah, pesan pesanku sudah berganti tanda menjadi dua ceklis biru. Ponsel Shera pasti sudah aktif. Awas saja, saat bertemu nanti, aku akan memarahinya karena sudah membuatku bingung tak karuan. Satu persatu karyawan mulai keluar. Aku memperhatikan dengan jeli, pada setiap orang yang lewat. Takut kalau nanti kecolongan lagi. Meski terus mengirim pesan pada Shera, aku juga tidak memberitahu padanya soal keberadaanku disini. Takutnya, jika dia tahu, maka dia akan mencoba kabur lagi dariku. Setelah waktu yang cukup lama, dengan sisa-sisa kesabaran yang sudah habis akhirnya gadis itu muncul juga. Ia tampak jalan berbarengan dengan si Wawan. Aku tidak akan menaruh curiga. Karena Wawan sendiripun tahu, bagaimana dekatnya aku dan Shera. Mereka saling berpamitan, Wawan pergi dan hanya tinggal tersisa Shera sendiri. Dia berdiri di sana pasti dengan tujuan untuk menyetop angkot, atau menunggu ojeg online. Ya ampun, kadang Shera ini memang kurang waspada. Malam-malam seperti ini daripada mempertaruhkan keselamatan, dia bisa memilih untuk menghubungikukan? Dasar kepala batu. Dia selalu merasa sok berani dan bisa melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain. Setelah membayar dan berpamitan pada pemilik warung, aku bergegas pergi menuju ke tempat Shera berpijak, sebelum dia berhasil menemukan angkutan umum. Dia tidak menyadari keberadaanku yang kian dekat, hingga saat aku bermaksud untuk mengejutkannya, dia malah menoleh. "Heh ... Adrian!" pekiknya kaget. Mau dikagetin, tapi malah kaget duluan ternyata. Dodol banget sih! "Hadeehh, baru juga mau dikagetin. Ngapain sih pake nengok segala." "Ya orang pengen nengok, masa dilarang-larang. Ini kamu ngapain sih ada di sini malem-malem?" "Ya jemput kamu lah. Ngapain lagi? Sekarang aku tanya baik-baik. Tadi siang kenapa kamu kabur dari kampus?" tanyaku langsung pada inti. "Kabur?" "Iya kabur. Kelasku udah beres lebih dulu. Jadi aku diem di kantin nungguin kamu. Tapi bukannya kamu yang datang, malah Leana lagi!" "Ah ... Itu, kan aku udah bilang. Ada lembur hari ini. Jadi tadi aku buru-buru." Aku tidak begitu yakin dengan jawaban Shera. Dia lebih terdengar sedang mengada-ngada sekarang ini. "Kamu serius?" ujarku meyakinkan. "Ck ... aku lagi males ribut lah, Yan. Capek banget ini gara-gara ada yang bikin kerjaan nambah banyak. Lihatkan, aturan aku udah pulang dari tadi, tapi sekarang malah baru keluar." Untuk bagian yang ini, Shera memang terlihat yakin. Wajah lelah juga jam kerja yang sudah lewat ini, memang sulit untuk disembunyikan. Kasian juga dia kalau aku memperpanjang segalanya. "Ya udah, ya udah. Kita pulang sekarang ya. Aku ambil motor dulu. Kamu tunggu disini sebentar." Shera menganngguk, aku lantas kembali lagi ke warung tadi, untuk mengambil motor karena benda itu ku parkir tepat di depannya. Aku lalu menghampiri Shera, dan memintanya untuk naik, dengan segera. Untunglah, cuaca kali ini cukup bersahabat. Di tengah perjalanan pulang, aku bisa merasakan kepala Shera yang bersandar di punggungku. Pelukannya yang semula begitu erat, sekarang juga mulai mengendur. Gadis ini sepertinya tertidur di belakang. Aku jadi serba salah, mau ngebut takut dia terlempar. Kalau pelan-pelan, juga takut dia tiba-tiba berguling dan jatuh, selain itu ... kapan kami bisa sampai. Namun, pada akhirnya, pilihanku jatuh pada opsi kedua. Aku melajukan motor dengan agak lambat, agar Shera tidak terganggu juga. Kasihan anak ini, mungkin aku sudah terlalu berpikir berlebihan. Seharusnya, setelah Shera memiliki hubungan denganku, dia tak perlu lagi bekerja. Uang jajanku sudah lebih dari cukup untuk menyongkong kehidupan kami selama di Jakarta. Aku juga bisa memintanya untuk pindah dari tempat kosnya yang kecil itu, lalu tinggal bersamaku di tempat yang lebih besar dan nyaman. Ah ... tapi aku tahu, Shera pasti akan lebih keras kepala. Dia terlalu mandiri untuk menyerah pada kenyataan. Jika ingin bertanggung jawab pada kehidupan Shera maka aku harus ... "Ehm ... nikah?" Hah? Samar-samar sepertinya Shera sedang mengigau di belakang. Apa tadi katanya? Nikah? Haisshh, kenapa pikirannya bisa jadi begitu pintar dan nyambung begini. Tapi dia benar, satu-satunya hal yang bisa membuatnya terikat denganku memang hanya menikah. Entah kenapa dengan anak ini hal-hal yang tak mungkin ku lakukan pada gadis lain, menjadi serba mungkin ku lakukan padanya. Seberapapun aku menyukai para mantan pacarku. Aku belum pernah ada niatan untuk bertanggung jawab atau menikahi mereka. Tapi pada Shera, hati dan pikiranku seolah menggebu-gebu ingin memastikan kalau dia adalah milikku. Besok, aku akan memutuskan Leana. Sepertinya tidak baik, jika aku terus-terusan memberikan gadis itu harapan, sementara pacarku harus menelan pahit dan mengalah. Siang tadi Shera menghindar pasti karena Leanakan? Ia dengan sengaja membuatkan waktu khusus untukku dan sahabatnya. Kebiasaan Shera ini sulit sekali diubah. Dia selalu memikirkan kebahagian orang lain lebih dulu daripada dirinya sendiri. Padahal sebelum kita membahagiakan orang lain, kita juga harus memastikan kebahagiaan diri sendiri lebih dulu. Jangan khawatir Shera, aku akan membuat kejutan nanti. Aku akan melamarmu tiba-tiba. Tanpa kamu tahu kapan dan kenapa, maka petualanganku untuk mencari cinta, selesai sudah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN