Shera Fuji Lesmana
Leherku sakit, punggung pegal, tanganku juga terasa kebas. Aku berhasil masuk ke dalam mimpi dalam waktu beberapa menit saat menjadi penumpang di motor Adrian. Sekarang aku bisa merasakan motornya sudah berhenti. Kurasa kami sudah sampai di tempat tujuan, yaitu tempat kosku.
"Sher ... Shera bangun Sher. Kita udah sampe, Shera ayo bangun."
Adrian terasa sedang menggerak-gerakan tubuhnya. Saat ini, mataku memang masih terpejam, kepalaku juga masih menjadikan punggung Adrian sebagai sandaran. Tapi mataku terlalu berat untuk terbuka. Selain itu, ada apa dengan si Adrian ini. Dia membangunkanku dengan lembut. Nggak lembut-lembut amat, tapi termasuk yang tidak seperti biasanya.
Biasanya dia akan berteriak dan mengganggu hingga kesadaranku kembali. Dan dalam posisi seperti ini, biasanya Adrian akan dengan sengaja turun dari motor, membuatku terjatuh. Sebab, ini bukan kali pertama aku tertidur di belakang sini. Apa ini ya rasanya, atau ini perbedaannya, saat kami masih menjadi kawan dengan saat kami telah menjadi ...
"Pacar ... bangun heh. Ini orang kagak bangun-bangun. Apa gua gubrakin aja kaya biasa gitu? Pules banget tidurnya. Di motor juga. Untung aja sepanjang jalan kagak ngegubrak ni anak!"
Ahh, dasar! Tidak ada yang berubah ternyata. Niat buruknya untuk menggubrakkan aku dari motor akan terus ku ingat-ingat sepanjang masa. Baru juga dipuji, sifat aslinya sudah keluar duluan.
"Berisik banget sih lo!" umpatku sembari memaksakan untuk bangun. Pernah lihat film atau iklan di tv? Yang bangun tidur ceweknya pada cantik-cantik. Please! Jangan percaya akan hal itu. Orang bangun tidur tidak ada yang sesempurna itu.
"Alhamdulillah, masih hidup kamu, Sher."
"Lo pikir gue mati?"
"Ya abisan kamu nggak bangun-bangun!"
"Nggak bangun-bangun apa? Lo kan bangunin gue baru sekali!"
"Lah kok tahu? Jadi kamu udah bangun dari tadi?"
"Tau ah!" gerutuku. Di saat seperti inilah kesabaranku diuji. Bangun tidur, masih ngantuk, harus turun dari motor susah payah pula. Setelah berhasil turun, aku menyerahkan helmku pada Adrian. Keadaan sekitarku terbilang cukup ramai juga sih. Biasalah, disini namanya dunia terbalik. Siang jadi malam dan malam jadi siang.
"Udah ngambeknya. Jelek banget sih. Nyawanya udah kumpul semua belum? Jangan sampe kamu nanti nyasar di kamar orang, terus malah ikut maen," celetuk Adrian.
"Maen apaan? Uler tangga?"
"Dasar bocah. Belum waktunya ku jelasin. Nanti tunggu dewasa dulu," ujar Adrian. Maksudnya apa sih orang ini, aku benar-benar tidak paham.
"Ya udah, kamu buruan masuk sana. Aku liatin dari sini."
"Lo nggak ikut masuk?" tanyaku agak heran.
"Nggak usah. Besok-besok aja ya. Nanti kalau aku ikut, kamu jadi nggak bisa istirahat. Sana balik badan, buruan pulang."
"Ya udah deh. Gue ... gue balik dulu."
Adrian mengangguk pelan, ia mengangkat tangannya lalu melambaikan tangan sambil tersenyum. Padahal aku belum bergerak dan masih berada di hadapannya. Aneh banget nggak sih anak ini? Tapi terserahlah. Ini juga sudah malam. Terlalu lama berada diluar sini, aku bisa menjadi incaran pria p****************g.
Aku membalas lambaian tangannya, kemudian berbalik dan pergi tanpa kembali menengok ke belakang. Aku juga tidak tahu, apakah Adrian masih melihatku hingga aku menghilang dari tempat yang terjangkau oleh penglihatannya.
Lampu dalam juga luar kamarku masih gelap. Aku tidak pulang dulu tadi, jadi tidak sempat menyalakannya sebelum berangkat kerja tadi. Dan kebiasaan ini kembali muncul. Seharusnya aku mencuci wajah, kaki, mengganti pakaian, juga melakukan ritual malam seperti menggunakan serum, night cream, toner dan segala macam tektek bengek milik perempuan lainnya.
Namun, jangankan mencuci wajah. Melepas sepatupun, aku sudah hampir tak sanggup. Alhasil, tubuhku langsung jatuh di atas tempat tidur dengan posisi telungkup. Wahh, nyamannya bukan main. Rasanya sungguh berbeda dengan perasaan waktu aku tertidur di atas motor.
Kapan aku jadi orang kaya dan punya mobil sendiri. Kapan juga, aku punya rumah nyaman yang kalau mau makan hanya tinggal memanggil orang. Dan kapan, semua mimpi itu akan terwujud, jika aku belum juga lulus kuliah. Padahal hanya satu tahun lagi. Tapi rasanya aku sudah berabad-abad tinggal di kota yang penuh dengan polusi ini.
Sejak dia datang ke Hotel, hingga terakhir kami bertemu tadi, ia tidak menyinggung-nyinggung soal kebohonganku yang tadi mengatakan sedang lembur. Agaknya, dia tidak meniliti lebih jauh, atau bertanya pada karyawan lain. Syukurlah, aku malas jika harus repot repot menjelaskan alasan kenapa aku berbohong.
Dan yang lebih baik lagi, dia juga tidak perlu tahu soal pertemuanku dan Axel. Bahaya banget kalau sampai dia tahu. Bisa ngamuk-ngamuk dia.
Ada yang kurang di sini. Saat Adrian bilang tidak akan mampir, sejujurnya aku agak kecewa. Padahal dia benar. Kehadirannya, mungkin hanya akan membuatku tak bisa tidur. Tapi entah kenapa, aku berharap sekali dia ada di sini.
Aku ingin tidur, beralaskan lengannya sebagai bantal seperti kemarin. Aku ingin aroma tubuhnya membantuku untuk kembali rilex juga membawaku dalam alam mimpi. Aku juga ingin, tangannya membelai setiap helai rambutku dengan lembut seperti kemarin.
Entah kenapa, kurasa ada begitu banyak keinginan yang ingin tersampaikan padanya. Akan tetapi, aku begitu malu untuk mengakuinya. Dimana harga diriku, jika tadi aku memohon pada Adrian agar dirinya menginap. Kisah sepasang sahabat yang berubah jadi cinta ini, rupanya menarik juga. Tak kusangka, kalau aku benar-benar mengalaminya sekarang.
Dalam waktu beberapa detik lagi, hembusan nafas ini seharusnya sudah berada di alam lain. Maksudku alam lain itu adalah alam mimpi, bukannya meninggal. Tapi beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu yang lumayan keras, membuat kesadaranku bingung. Ia mengambang diantara keinginan untuk tidur, tapi juga harus bangun.
Setelah kubiarkan, suara itu bukannya semakin melemah tapi malah kian mengeras. Aku menggaruk-garuk kepala dengan risih.
"Addduhhhh ... Siapa sih yang ketok-ketok mulu. Kagak tahu, gue udah mau tidur apa ya? Nanggung banget ini. Otak gue berasa ngambang!" gerutuku sambil berteriak dengan sengaja. Supaya orang yang berada di luar sana bisa tahu dan sadar, kalau kehadirannya itu sungguh amat sangat mengganggu. Tapi itu tidak berhasil.
Dengan terpaksa, aku bangun. Pandanganku yang setengah kabur ini memnuntunku menuju pintu perlahan-lahan. Tidak penting lagi siapa yang mengetuk pintu. Aku ingin sekali memarahinya karena sudah mengganggu waktu istirahatku yang berharga. Karena itu, tak perlu lagi mengintip dari jendela. Segera ku buka pintu dan langsung saja ku maki siapapun yang saat ini sedang berdiri di luar.
"Haddehhhh, siapa sih yang dari tadi ngetok pintu. Ngerti nggak sih kalau gue tuh udah ..."
Keningku berkerut, kalimatku terhenti seketika, kepalaku terangkat, menengadah, menatap sosok yang saat ini tengah berdiri dengan deretan gigi putih rapi yang sengaja ditunjukkan. Tangan kanannya terangkat menggenggam kantong kresek berwarna hitam. Astaga ini orang? Kenapa dia masih ada di sini dan bukanya segera pulang. Mengerti akan tatapan keanehanku, pria yang baru satu hari ini menjadi pacarku langsung saja berkata.
"Ini tadi ketinggalan. Aku lupa mau ngasih. Masakan Mamanya Ricky. Kamu ingetkan? Enak banget ini. Masih bagus kok, tinggal diangetin aja sebentar," jelasnya panjang lebar.
Dia mengetuk pintu seperti orang panik menghadapi kebakaran hanya karena lupa memberikan bungkusan yang dibawanya sejak tadi. Wah ... respon macam apa yang harus ku berikan saat ini. Senangkah? Banggakah? Terharu? Atau harus tetap marah. Aku menghela nafas bingung, tapi tetap menerima bungkusan yang ia bawa.
"Ya udah aku pamit dulu deh. Sorry banget ya sayang udah bikin istirahat kamu keganggu. Aku pulang ya!"
"Loh, tapi, Yan?"
"Udah cepet sana tidur. Bye."
Tanpa menggubris suaraku Adrian tetap pergi. Padahal aku sudah agak senang, dan mengira dia akan menginap. Tapi ya sudahlah, ada baiknya juga dia pergi. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi saat laki-laki dan perempuan ada di dalam satu ruangan. Jika kami selamat kemarin, belum tentu hari-hari berikutnya bisa beruntung juga. Lebih baik, ku eksekusi dulu makanan yang baru saja Adrian bawa sebelum besok menjadi basi.