Bab 76. Axel 5

1393 Kata
Axel Yudhistira Aku pasti sudah gila. Bisa-bisanya dalam waktu yang sesingkat ini ku katakan, kalau aku akan menikah dengan gadis itu. Gadis yang belum lama ini ku kenal, gadis yang belum lama ini mengubah cara pandangku pada segala sesuatu, juga gadis yang akhir-akhir ini membuatku senyum-senyum sendiri. Berkat dia, aku kini sudah move on. Pikiranku bukan lagi soal rasa sakit akan hubunganku yang telah kandas. Kini semua hanya tentang aku dan dia. Tentang aku yang ingin memulai hidup baru dengan membawanya turut serta dalam perjalanan itu. Bohong, kalau aku sudah 100 persen melupakan peristiwa yang menyakitkan itu. Tapi setidaknya, 98 persen dari hatiku sudah mengikhlaskan segalanya. Lalu sisa 2 persennya lagi, mungkin penyesalan karena aku telah menjaga jodoh orang lain selama bertahun-tahun. Wajahnya yang terkejut saat aku mengutarakan isi hati, masih terekam jelas dalam ingatanku. Jangankan dia, aku saja sempat terkejut. Semua perkataanku mengalir begitu saja tanpa rencana. Tapi tak apa, setidaknya, aku sudah memberikan sebuah gambaran tentang niat baikku yang tulus pada saat itu. Aku tidak ingin mengalami penyesalan yang sama dengan mengulur-ngulur waktu. Jadi akan lebih baik jika niat yang baik harus disegerakan. Lagipula tidak ada yang salah dari kami ini kan. Aku single dia juga single. Aku menyukainya dan dia ... Ehmm dia ... kurasa dia juga menyukaiku. Dia hanya belum sadar akan hal itu. Dan jikapun tidak, maka seiring waktu berjalan, aku yakin bisa membuatnya menyukaiku. Sial! Aku mulai tertawa-tawa sendiri lagi karena memikirkannya. Sudahlah Axel, sekarang lebih baik aku fokus menyetir terlebih dahulu. Tidak lucu jika kamu mengalami kecelakaan hanya karena sedang memikirkan seorang wanita. Untuk hari ini, aku absen dulu dari kegiatan rutin menjemput Shera. Entah sejak kapan, aku juga tidak mengerti. Tapi menjemput Shera di kampus lalu mengantarnya kemanapun seolah menjadi sebuah keharusan. Namun, untuk kali ini. Aku sedang berada di balik kemudi dengan tujuan pulang ke rumah. Rumah yang dimaksud kali ini, adalah rumah keluargaku sendiri. Setelah lulus kuliah dan memiliki usaha sendiri, aku membeli sebuah apartemen kecil dari hasil jerih payah keringatku. Menjadikannya tempat layak huni, yang nantinya akan ku isi dengan calon istriku kelak. Dulunya aku bermimpi kalau apartemen itu akan menjadi rumah impian bersama dengan Mawar. Untunglah, aku tidak kalap dan merubah nama kepemilikan, menjadi namanya. Mama sedang sakit, dan ingin bertemu denganku. Itu yang dikatakan oleh salah satu asisten rumah tangga yang menelponku tadi pagi. Sejak lulus kuliah, aku memang jarang sekali pulang ke rumah. Bukan tanpa sebab, hubunganku dengan Mama dan Papa, memang agak kurang baik. Terutama dengan Mama. Masa kecilku tidak terlalu menarik untuk diceritakan. Tapi aku bisa memastikan, kalau tidak semua orang dengan status tinggi atau bergelimang harta bisa merasakan kesempurnaan hidup. Setelah dua jam perjalanan, aku sampai di rumah masa kecil yang memuat begitu banyak kenangan. Halaman luas tempatku bermain dulu, kini dipenuhi berbagai macam tanaman hias koleksi Mama. Namun pohon mangga tempatku sering memanjat masih ada di sana. Berdiri dengan kokoh dan menyumbangkan sedikit kesejukan di Kota Jakarta yang gersang. Aneh, aku seperti telah bertahun-tahun meninggalkan rumah ini. Mungkin ini hanya perasaanku saja, karena setiap pulang, aku tak pernah menghabiskan waktu untuk berlama-lama di sini. Setelah memiliki rumah sendiri, hawa tempat ini terasa lain. Aku merasa lebih nyaman, saat berada jauh dari rumah ini. Saat aku datang, rumah dalam keadaan sepi. Papa sudah pasti sedang sibuk dengan bisnis property-nya yang setiap tahun kian berkembang. Usaha turun temurun, yang sukses menjadikan keluargaku salah satu keluarga terhormat yang cukup disegani. Bergegas aku menuju kamar Mama. Saat membuka pintu, tampak beliau sedang duduk bersandar di atas tempat tidur. Seorang suster terlihat sedang menyuapi beliau. Dua orang wanita itu menoleh bersamaan, begitu mendengar suara pintu terbuka. "Kamu keluar dulu ya. Ada anak saya, baru dateng," pinta Mama pada si Suster. Suster dengan seragam dress merah jambu itu mengangguk, kemudian beranjak. Ia menyapa dengan senyuman saat berjalan melewatiku untuk keluar. Segera ku tutup pintu, dan menghampiri Mamaku yang wajahnya tampak pucat. Mamaku adalah wanita yang cantik. Beliau pandai merawat diri juga ditunjang dengan keadaan financial Papaku yang juga lebih dari cukup. Terakhir bertemu, beberapa bulan yang lalu, Mama tampaknya baik-baik saja kok. "Axel pulang, Ma," ujarku seraya meraih tangan Mama, mencium punggung tangannya layaknya seorang anak yang memberikan salam. Ada apa denganku ini. Aku memang anaknyakan? "Baru inget pulang, kalau Mama sakit huh?" "Axel sibuk, Ma." "Iya-iya. Mama tahu, semua anak Mama itu sibuk. Nggak kamu, nggak Lisa. Semuanya sibuk!" Wah ... tumben Mama, mengungkit-ungkit nama Lisa dengan nada kekesalan. Adikku ini pasti habis membuat ulah. Lisa adalah adik perempuanku yang saat ini sedang kuliah. Umurnya hanya sedikit lebih muda dari Shera. Dia adalah anak perempuan kesayangan Mama yang sempurna. Cantik, pintar, penurut, sopan nyaris tak ada celah sedikitpun yang bisa terlihat. Kami berbeda gender, tapi aku kerap kali merasa iri padanya. Apapun permintaannya selalu dikabulkan tanpa harus susah payah. Dia terlalu baik dimata semua orang, terlalu menyedihkan untuk ditolak, tapi terlalu naif dimataku. Sejak dia lahir, semua perhatian memang tertuju padanya. Anak Mama ada dua, tapi aku kadang hanya merasa anak Mama adalah Lisa. Sejujurnya, bahkan mungkin baru kali ini Mama protes karena aku jarang pulang ke rumah. Karena itu, aku bergegas pulang begitu ada telpon. Ku pikir, di usiaku yang sudah tak muda lagi ini, mungkin Mama sudah mulai bisa bersikap adil. Tapi agaknya, aku dipanggil karena Mama ingin mengeluh, kalau putrinya yang sempurna itu, sudah tak lagi sempurna. Aku melihat ke arah piring di atas nakas samping tempat tidur, berisi makanan yang masih tersusun rapi. Agaknya, suster tadi baru menyuapi Mama sesendok atau dua sendok. Mama pasti langsung berhenti, begitu aku datang. "Cerita sambil makan ya, Ma," pintaku, seraya mengambil piring, kemudian menyendokkan makanan ke mulutnya. Syukurlah, Mama tidak membuat drama alay tentang penolakan makanan. Ia makan dengan lahap sambil kusuapi. "Sekarang Lisa itu susah diatur. Mama cuma mau jodohin dia sama anaknya temen Mama yang udah mapan." Hah ... kupikir ada apa. Ternyata soal perjodohan. Biar ku tebak, si Lisa ini pasti ngambek dan sudah nggak pulang ke rumah selama 3 hari. "Dia ngambek, udah tiga hari ini nggak mau pulang. Mama pengen lapor polisi, tapi apa nanti kata orang, kalau sampai tahu kelakukan Lisa kaya gitu cuma gara-gara nggak mau dijodohin." Dan benar saja tebakanku. Anak itu sudah tidak pulang selama tiga hari. Benar-benat akurat. "Lisa itu udah gede Ma. Dia juga nggak pulang bukan karena diculik. Itu kemauannya sendiri. Polisi mana mau terima laporan kaya gitu. Lagi pula, kok bisa sih Mama malah mau jodohin Lisa. Axel kan belom nikah, Ma," protesku. Lisa baru nggak pulang seminggu, Mama sampai sakit begini. Aku yang sudah berbulan-bulan batang hidungnya tak muncul, bahkan tidak ditanyai kabar. Salahku dimana sih? "Mama kan nggak minta dia nikah sekarang. Mama cuma mau dia kenal lebih dulu sama orang ini. Tapi kamu tahu nggak dia malah ngapain?" "Apa?" "Lisa malah ngenalin pacarnya. Nggak tahu kenal dimana itu anak. Pacarnya itu Mama yakin bukan anak baik-baik!" "Kok Mama bisa yakin gitu?" "Kamu nggak liat sih, Xel. Pacar adik kamu itu kaya preman. Mama aja sampe ngeri. Mama nggak mau punya menantu kaya gitu. Apa nanti kata orang-orang coba." Kurasa apa yang dilakukan oleh Lisa ini adalah salah satu bentuk protes karena dia sudah mulai muak. Hidupnya terlalu diatur oleh Mama. "Ma, Axel mau nikah," ucapku begitu saja. Aku ingin melihat reaksi Mama. Beliau terdengar amat antusias dengan masa depan Lisa, lantas bagaimana tanggapannya jika aku yang akan menikah. "Nikah? Sama siapa? Masalah adekmu ini aja belom beres. Kamu malah mau nikah segala." "Mama kok jawabnya gitu sih, Ma?" "Ya habisnya kamu malah bikin kaget. Kamu mau nikah sama siapa, atau kapan, itu terserah kamu, Mama nggak akan ngatur apa-apa. Tapi bujuk dulu adekmu itu buat pulang." Ahhh ... apa yang akan kau harapkan Axel. Di sini satu-satunya orang yang akan perduli dengan masa depanmu itu hanya Papa. Mama tidak akan melakukan hal apapun kecuali jika itu berhubungan dengan Lisa. Tapi ini lebih bagus. Aku sama sekali tidak bermaksud meremehkan status keluarga Shera. Hanya saja, jika Mama tidak mau ambil pusing, maka ini akan jauh lebih mudah. Mama hanya peduli dengan apa kata orang tentang Lisa. Beliau tidak akan ada masalah denganku. "Iya-iya. Nanti Axel coba ngomong sama Lisa," jawabku lagi. Aku tidak tahu apa perbedaan antara aku dan Lisa selain karena gender juga statusku yang anak pertama. Tapi kami, sama-sama anak Mama. Aku tahu setiap Ibu selalu menyayangi dan menginginkan yang terbaik untuknya. Tapi aku hanya merasa kalau terkadang, kenapa keinginanku selalu disepelekan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN