Bab 77. Shera 46

1537 Kata
Shera Fuji Lesmana Sudah kuduga, cepat atau lambat semua ini akan terjadi. Tapi yang masih tidak kusangka, kok bisa secepat ini sih? "Gue harus gimana donk, Sher. Gimana? Hiks," ujar Leana dengan suara isak tangis yang syukurnya sudah mulai mereda. Si cucunguk itu, alias Adrian baru saja memulai huru-hara baru karena memutuskan hubungannya dengan Leana melalui telpon. "Guekan udah ingetin lo, Lea. Tapi lonya yang dari awal nggak mau dengerin gue!" protesku. Sekarang sekitar pukul 13.00. Aku menerima telpon dari Leana sembari berbaring di atas ranjang, dan berlindung di bawah selimut. Sejujurnya, tubuhku agak menggigil kali ini. Padahal jelas-jelas cuaca di luar sedang panas. Aku dilema antara mematikan atau menyalakan kipas angin sekarang. "Lo kan sahabatnya Adrian, Sher. Coba lo ngomong baik-baik sama dia. Minta dia buat mikir ulang lagi. Kita pacaran belom lama, Sher. Masa dia udah mutusin gue gitu aja. Mana lewat telpon lagi. Kan sakit." Nah ... itu dia intinya. Bukankah itu sakit? Bagaimana ini, sekarang aku merasa jadi kawan yang begitu jahat. Aku kasihan padanya tapi juga merasa senang karena akhirnya dia bisa merasakan sakitnya. Maksudku, kemarin dia menjauhiku, mendiamkan aku, menghindari aku, demi pacar yang tidak mencintainya. Aku juga sudah menasehatinya kalau Adrian itu bukan tipikal laki-laki yang bisa memberikan cinta dengan tulus. Dan sekarang lihat hasilnya, setelah dia putus, dan menangis tersedu-sedu, aku juga yang menjadi tumpuan terakhirnya. "Kalau menurut gue. Mendingan lo udah deh, jangan ngarepin dia lagi." "Lo tuh gimana sih, Sher? Lo tuh sahabat gue apa sahabat dia hah?" "Gue ini sahabat kalian berdua. Dan nggak bisa milih salah satu dari kalian. Justru karena gue ini sahabat Adrian, makanya gue udah tahu kalau hubungan kalian ini nggak akan berjalan baik. Tolonglah Lea, gue kaya gini karena gue sayang sama lo." Dan aku seperti ini juga karena sayang pada Adrian. Tapi di luar itu semua, sungguh! Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk Leana. Cinta bertepuk sebelah tangan itu, bukan hal yang baik. Kenapa dia nggak paham juga kalau hubungannya tidak akan berhasil. "Gue capek, Sher. Gue butuh waktu buat sendiri!" Tanpa aba-aba, telpon mati begitu saja. Ayolah ... Leana, aku dan Adrian ini sudah dewasa. Bagaimana bisa, dia bersikap seperti ini. Aku juga merasakan sakit saat kehilangan Tama. Tapi aku tidak melibatkan orang lain di dalam kegagalan yang kualami. Sudahlah, membanding-bandingkan jalan hidupku dan Leana, tentu saja tidak akan berhasil. Aku sudah terbiasa menerima kegagalan dan perihnya dunia. Sedangkan Leana, terlahir dengan sendok emas dan segala macam keinginan yang bisa terwujud hanya dengan menjentikan jari. Tentu saja, sikap kami dalam menanggapi sesuatu, akan jelas berbeda. Aku meletakan ponselku ke sembarang arah, dan kembali masuk ke dalam selimut. Ya ampun, aku merasa tak enak badan sekarang. Orang sepertiku menyebutnya meriang, tapi orang kaya, mungkin menyebutnya demam. Di saat seperti ini, aku sungguh merindukan Ibu. Jika aku demam, Ibu sudah siap siaga dengan koin ajaibnya. Tidak perlu pergi ke Dokter atau kemanapun. Tapi sekarang, untuk memberitahukan kondisikupun, aku tidak akan berani. Jika Ibu dan Bapak tahu aku sakit, mereka akan khawatir. Kami sebagai anak perantau, harus selalu terlihat baik-baik saja apapun kondisinya di depan keluarga. Untunglah hari ini aku tidak ada kelas. Tapi ... bagaimana aku bisa bekerja. Akhir-akhir ini gajiku banyak terpotong karena sering mengambil cuti. Astaga ... Kapan aku bisa menjadi orang kaya jika terus begini. "Shera ... Sher!" Dan hal ini kembali terjadi. Di saat aku baru saja akan menutup mata atau ingin istirahat, jika bukan dari ponsel. Pasti ada saja kegaduhan dari luar. Tok-tok-tok ... "Woi Shera. Lo ada di dalem kan? Shera, buka pintunya, Sher." Suara pintu diketuk, ditambah teriakan seseorang diluar, damage-nya benar-benar wah banget. "Sshherraaaa ...!" "Astaga apa sih? Nggak bisa apa ya, sehari aja, jangan ada yang bertamu. Heran deh gue, kamar kecil begini tiap hari ada yang ngedatengin terus!" gerutuku setengah berteriak. Aku menyingkap selimut, bangkit dari tempat tidur, lantas dengan langkah tergopoh-gopoh, segera membuka pintu. "Ya ampun Shera! Lo baru bangun jam segini?" Rupanya yang sedari tadi membuat kegaduhan adalah Mbak Wina. Tumben banget dia datang kesini. "Mbak Wina ada apa nyariin Shera?" tanyaku langsung. "Gue keluar kamar, liat lampu luar di sini masih nyala. Tadinya gue pikir, mungkin lo lagi nggak ada. Eh tapi gue inget semalem lo pulang dianterin temen lo itu, siapa-siapa, lupa gue namanya. Ehmm ...?" "Adrian?" "Iya, iya, si Iyan itu." Saking lemasnya, aku memang tidak beranjak dari tempat tidur sejak semalam. Ke kamar mandipun, harus berpegangan pada dinding. Aku sampai lupa untuk mematikan lampu. "Ya Mbak langsung takut, lo mungkin kenapa-kenapa Sher. Eh, muka lo pucet gitu sih?" Mbak Wina mengangkat tangannya, kemudian memegang dahiku dengan punggung tangannya. "Ya ampun. Panas banget, ini lo demam ya. Ngapain malah berdiri disini, ayo buruan masuk-masuk." Mbak Wina buru-buru meraih bahuku, memaksaku untuk berbalik lalu mendorongku menuju tempat tidur. Aneh banget sih, aku mana mungkin berdiri disana kalau bukan karena Mbak Wina yang terus saja membuat kegaduhan. Mbak Wina lantas membantuku untuk naik ke tempat tidur, dan menyelimuti tubuhku yang kembali menggigil. "Aduhh, lo tuh ya. Kalau sakit begini kenapa nggak telpon gue aja sih. Untung gue peka gara-gara lampu diluar kamar lo masih nyala. Coba kalau nggak, lo di dalem kamar, dikunci, sendirian pula. Kalau ada apa-apa mana ada orang yang tahu," cerocos Mbak Wina. Ah ... kepalaku sedang pusing begini, Mbak Wina malah ngomel terus. Rasanya ingin melawan, tapi nggak ada tenaga. "Diem di sini ya, gue bikin kompresan buat lo dulu sebentar." Mbak Wina lantas pergi ke belakang setelah mematikan saklar lampu terlebih dahulu. Setelah beberapa saat, wanita itu kemudian kembali dengan wadah kecil berisi air dan kain. "Ck ... Lo pasti kerajinan kerja sama ngintilin cowok-cowok nih. Makanya bisa sampe demam." Sembari meletakan kain basah yang hangat di atas dahiku, Mbak Wina masih terus saja memberikan ceramah. Tapi aku senang, aku merasa tidak sendirian dan ada yang memperhatikanku sekarang. "Lo udah makan belom? Ahh ngapain pula gue pake nanya ya. Lo nggak keluar kamar dari pagi. Pasti belom makan kan?" "Shera udah makan kok. Tadi malem sebelom tidur," tunjukku pada sisa makanan semalam yang sempat diantarkan Adrian. "Ya berarti sarapannya belom kan? Ya udah deh, Mbak beli bubur dulu ke depan. Kamu diem jangan kemana-mana." "Mau kemana-kemana gimana sih, Mbak. Aneh-aneh aja!" "Ya kamukan orangnya bandel. Ini mau Mbak beliin obat atau kita mau periksa ke Dokter aja sekalian?" "Obat aja deh, Mbak. Shera cuma demam biasa kok." "Ya udah kalau gitu. Kamu tunggu disini sebentar ya." Aku bernafas lega, begitu Mbak Wina menghilang dan kemudian menutup pintu. Mbak Wina memang baik sekali. Tapi aku butuh istirahat, sedangkan suara Mbak Wina terus saja berputar-putar di kepalaku. Sepertinya, aku akan kena potongan gaji lagi hari ini. Tadi saat ku lihat ponsel, tidak ada pesan dari Axel maupun Adrian. Mereka berdua kompak sekali menghilang bersamaan. Tapi ini jauh lebih baik. Aku berharap, mereka berdua tidak hanya menghilang dari ponsel, tapi juga dari hidupku beberapa saat dan jangan sampai kedua bocah itu datang tiba-tiba kesini. Masalahnya, Adrian sedang memiliki problem dengan Leana. Dan Axel juga sedang memiliki problem dengan rencana menikahnya denganku. Lihatlah Bu, anakmu ini ternyata jadi bahan rebutan cowok-cowok keren dan kaya di Jakarta. Selang tak berapa lama. Mbak Wina kembali. Jarak apotek dan tempat membeli bubur memang dekat dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tapi kalau secepat ini, aku yakin Mbak Wina tadi pergi menggunakan motor dan menyingkirkan semua rintangan yang menghadang. "Nih buruan dimakan. Mau Mbak paksa, atau mau makan sendiri nih?" Aku bangun pelan-pelan, lalu duduk setengah bersandar dan menerima bubur di dalam kotak sterofom putih yang disodorkannya. "Galak banget sih, Mbak. Sabar dulu, sabar," ucapku. Tapi yang disuruh sabar, sekarang malah tertawa cekikikan. "Ha-ha-ha. Emang Mbak dari tadi keliatan galak ya?" Aku mengangguk dengan cepat. Pake nanya lagi. Dari tadi itu, Mbak Wina galak banget. "Ya, gue itu kasian sama lo, Sher. Jauh dari keluarga, sakit, nggak ada yang merhatiin. Mbak juga sering ngerasain sendiri, kalau lagi sakit, nggak ada yang ngurusin. Untungnya Shera nurut dari tadi. Nggak menja-menje sok kuat. Kalau nggak, Mbak pasti udah gergetan pengen nampol." "Ihhh anak orang, mau maen tampol-tampol aja nih, Mbak." Aku makan bubur ayam yang dibawa Mbak Wina dengan lahap. Meski demam, rupanya indra perasaku tak ikut hilang. Syukurlah, aku masih bisa menikmati makan layaknya orang sehat. "Nanti, abis minum obat lo istirahat ya. Mbak, mesti kerja, nggak bisa nemenin. Atau nggak, lo mau gue telponin temen lo si Iyan itu. Gue punya kok nomernya!" "Eh nggak usah, nggak usah," cegahku buru-buru. "Loh kenapa?" "Nggak apa-apa. Shera cuma nggak bisa istirahat aja kalau ada dia, Mbak. Sama kaya Mbak Wina. Dia itu bawel!" jawabku diselingi cengiran geli. "Ehh ... Dasar lo ya. Awas aja kalau nanti sakit lagi. Nggak bakal Mbak tolongin." "Beres, Mbak. Tenang aja, lain kali Shera nggak bakal sakit lagi." Ada beberapa hal yang hanya bisa dimengerti oleh diri sendiri. Kita tidak bisa menilai sikap juga pribadi seseorang hanya dari penampilan luar dan mata telanjang. Mbak Wina yang selalu tampil Sexy dan tampak sangar sebenarnya mungkin lebih baik daripada wanita-wanita di luaran sana yang tampilannya lebih sopan. Buka berarti aku menyamaratakan tampilan semua orang. Ini hanya mungkin saja. Seperti yang pernah ku katakan dulu, akan selalu ada pengorbanan dalam segala hal yang mesti kita raih. Dan Mbak Wina sedang mengorbankan reputasi juga harga dirinya sebagai wanita, demi menyongsong kelangsungan hidup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN