Axel Yudhistira
Baiklah, sekarang sudah menjelang tengah malam. Aku dalam perjalanan, menuju salah satu club malam yang cukup tersohor dikalangan anak muda saat ini dengan tujuan untuk menjemput adikku yang sempurna itu. Sumber terpercaya alias kawannya yang sudah ku ancam sedemikian rupa, memberitahu kalau Lisa kerap kali berada di tempat itu beberapa waktu belakangan ini.
Aku tidak terkejut, bahkan saat dia seringkali merokok di kamarku, tak pernah ku larang apalagi mengadukannya pada Mama dan Papa. Kenapa harus di kamarku? Tentu saja, karena aku adalah laki-laki. Tidak akan ada yang curiga jika tercium aroma asap rokok di dalam kamarku. Lagipula, selain asisten rumah tangga yang membersihkan kamar dan Papa, Mama juga jarang sekali masuk ke kamar, kalau nggak ada yang penting-penting amat.
Beda dengan kamar anak kesayangannya, yang harus terlihat rapi dan wangi. Merokok di dalam sana, tentunya sangat beresiko. Karena itu, semua bentuk perlawanan Lisa terhadap peraturan Mama yang menginginkan kesempurnaannya, hanya aku yang tahu dan tidak ku bagi dengan siapapun. Perasaan Mama dan Papa bagiku, terlalu berharga untuk dirusak. Makanya ku bilang, Lisa itu nyaris sempurna.
Setelah dua hari aku menginap di rumah, Lisa tak juga pulang ke rumah. Jika ditotal, berarti sudah lima hari dia pergi. Aku sudah coba menghubunginya. Tapi Lisa menolak, dan tetap tidak ingin pulang. Hah ... kadang dunia ini memang tak adil. Aku berusaha menjadi anak kesayangan, tapi malah orang lain yang disayang. Jadi mari kita lihat, sejauh apa pergaulan si anak bungsu ini bermain.
Letaknya lumayan jauh dari rumah. Aku harus menjaga keseimbangan rasa kantuk ini, agar tidak timbul kecelakaan. Apalagi, aku hanya sendirian. Tidak ada kawan, juga tidak ada Shera di sisiku. Aku mulai merindukan suaranya. Tapi juga takut semakin rindu dan tak tahan untuk pulang jika menghubunginya. Biarlah, aku selesaikan dulu masalah di sini, agar aku bisa melanjutkan rencanaku menikah dengan tenang.
Parkiran sudah mulai penuh saat aku sampai. Aku disambut dengan dentuman suara musik keras dalam cahaya gelap remang-remang yang dipenuhi manusia pencari kesenangan. Apalagi tujuan mereka datang ke tempat ini kalau bukan untuk senang-senang. Nggak mungkin kalau cuma buat numpang tidurkan?
Ini bukan pertama kali kakiku melangkah ke dalam tempat seperti ini. Tapi aku memang tidak terlalu menyukainya juga. Jadi baiklah, kita mulai dari mana ya. Ada begitu banyak orang. Siapa yang harus ku tanyai?
Kenapa aku begitu payah? Orang pertama yang biasanya disapa oleh costumer tentu saja bartender. Tanpa berlama-lama lagi, aku lantas pergi menuju bar minuman. Dibalik meja itu, seorang bartender pria sedang membuat minuman. Gerakan tangannya yang lihai dan begitu luwes, menandakan kalau dia pasti sudah lama bekerja di bidangnya.
Aku duduk di salah satu kursi tinggi yang kosong, mematik api dan menyalakan gulungan nikotin. Seseorang menghampiriku dan menanyakan aku ingin minum apa. Tapi langsung saja ku kutakan pada intinya.
"Gue lagi cari orang. Bisa lo bantu?" tanyaku.
"Ehmm ... ada fotonya?" tanya seorang pria yang kurasa salah satu bartender juga di sini. Aku mengeluarkan ponsel, lalu menunjukan foto terbaru Lisa yang ku ambil dari i********:. Kami jarang sekali bertemu, jadi dari mana aku bisa mendapatkan foto Lisa jika bukan dari akun media sosialnya.
Kening pria di hadapanku ini, tampak agak mengkerut. Raut wajahnya ini seolah menyiratkan kalau dia pernah melihat, atau mungkin memang mengenalnya. Hanya saja, dia tak yakin.
"Lo kenal sama dia?" tanyaku penuh selidik.
"Ehm ... lo siapanya emang?"
Nah tepat seperti dugaanku. Dia mengenal Lisa tapi tidak mengenalku. Harusnya aku mengaku sebagai siapa ya? Jika ku bilang aku adalah Kakaknya, bisa saja dia akan menutupi keberadaan Lisa. Mungkin ada baiknnya jika kali ini aku berbohong dan mengaku saja sebagai ...
"Gue pacarnya. Ini cewek gue. Namanya Lisa," ujarku dengan santai. Tapi mendadak raut wajah pria itu berubah. Matanya menatapku tajam, tangannya terangkat, bergerak dengan cepat, lalu meraih bagian depan bajuku, menariknya tiba-tiba. Gulungan nikotin yang terselip diantara jemariku terjatuh.
"Anjir lo! Lo cowoknya! Dia ini cewek gua!"
Oh waw ... sulit ku percaya. Pantas saja Mama berkata kalau pacar Lisa yang dibawa ke rumah itu menyeramkan dan seperti preman. Jadi orang itu adalah dia. Sungguh kebetulan yang mengasikkan ya sobat. Aku berani jamin, Lisa tidak mungkin bercerita pada Mama kalau pacarnya ini adalah seorang pembuat minuman di club malam.
"Sejak kapan lo hah. Sejak kapan!" teriaknya padaku.
Hadeehhh, bagaimana kalau dia tahu aku ini Kakaknya. Apa masih berani dia berteriak seperti ini. Beberapa orang di belakangnya datang, melerai, membujuknya agar melepasku. Aku tersenyum sinis, begitu tangannya terlepas dari baju yang dia tarik. Pria itu lantas berjalan memutar, untuk keluar dari dalam bar dan menghampiriku yang kini duduk lagi dengan tenang. Sedangkan dia masih bertahan dengan kemarahan dan muka sangarnya.
"Kalau lu laki, mending kita buktiin di luar deh!" tantangnya. Wah, tidak kusangka kekasih adikku ini punya nyali yang besar. Tapi sayang sekali, emosinya masih terlalu labil. Dia mudah ditipu, dan mengedepankan otot daripada otak. Apa pula yang mau dia buktikan di luar sana? Tapi aku jadi penasaran.
Lisa berpacaran dengan orang penghuni dunia malam seperti ini, apa saja yang sebenarnya pernah dia lakukan? Bagaimana kondisi Lisa sebenarnya, bagaimanapun juga Lisa itu adikku. Sekarang aku jadi takut, jangan-jangan Lisa sudah berkembang lebih dewasa dari yang aku kira.
"Lo beneran pacarnya Lisa?" Dan sekali lagi, kini aku berusaha meyakinkan diri sendiri.
"Jangan bilang, kalau Lisa ngaku nggak punya pacar, makanya lo bisa jadi cowoknya!" jawab pria itu kemudian.
Sudah cukup, jawabannya meyakinkan. Dia pastilah pacarnya Lisa. Apa lagi yang perlu ku buktikan. Aku harus memasang wajah kaget dan tak percaya, juga mengorek informasi lebih dalam lagi dari orang ini.
"Gue sama Lisa ini udah janji mau nikah!" ucapku.
"Lo nggak bisa nikah sama Lisa. Karena Lisa itu milik gue!" sanggahnya penuh emosi.
"Oya? Apa yang bikin lo yakin. Apa kalian udah tunangan? Apa lo udah ngelamar dia? Atau?"
"Lisa udah nyerahin satu-satunya milik dia yang berharga ke gue!"
"Apa?" pekikku dengan kaget. Apa aku tidak salah dengar.
"Paham lo sekarang?" tanyanya lagi.
Laki-laki yang namanya tidak ku ketahui ini telah mengambil sesuatu yang paling berharga dari Lisa. Dan dengan entengnya dia mengakui itu semua. Astaga Lisa, apa yang sudah dilakukan oleh anak ini. Dimana pikirannya?
"Gue nggak percaya. Gue harus denger langsung dari Lisa, kalau memang itu semua bener. Sekarang panggil dia sekarang. Buktiin kalau memang lo bener."
Aku berharap kalau laki-laki ini tidak berani. Aku berharap dia bohong. Tapi sepertinya tidak. Pria ini berbisik pada kawan di sebelahnya. Lalu kawannya pergi entah kemana. Aku tahu kalau aku juga bukan pria yang baik. Aku pernah hampir mencelakakan Shera, dan berniat mengambil miliknya yang berharga. Tapi itu semua tidak kulakukan, berkat dia yang saat itu menyadarkan aku.
Tapi sekarang, kenapa semua ini malah terjadi pada adikku. Bagaimana jika Mama tahu, kalau Lisa ternyata sudah bergaul melebih batas. Kepalaku rasanya ingin pecah saja.
Pria itu melihatku dari atas sampai bawah dengan teliti. Aku tidak tahu apa yang membuatnya tertarik, tapi tatapan mata yang tajam itu, berhenti tepat di arah wajahku. Keningnya mengkerut, seperti sedang berpikir. Atau jangan-jangan dia mulai menyadari sesuatu.
"Lo yakin pacarnya Lisa juga? Kok kalau diperhatiin baik-baik, lo agak mirip sama cewek gue."
Astaga, setelah marah-marah tak karuan, dia baru sadar kalau aku ini mirip dengan Lisa. Sepertinya, pekerjaannya sebagai bartender, membuatnya harus terpaksa terus menerus mencicipi alkohol yang membuatnya tak sadar.
Aku malas menjawab. Ku alihkan pandangan pada keadaan sekitar yang lebih menarik. Aku lebih suka di tempat karaoke. Makanya ku buat tempat karaoke sendiri. Setidaknya, di dalam ruangan itu privasi setiap orang lebih terjaga. Tidak seperti disini. Semua pergerakan dan aktifitas bisa dilihat oleh setiap orang. Meski ada ruang vip, tetap saja rasanya aneh bagiku. Ku pikir, aku tidak akan pernah menginjakan kaki di tempat seperti ini lagi. Hah ... rupanya aku salah.
"Bang Axel!"
Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya yang kucari datang juga. Mataku menyipit tajam pada seorang gadis yang sekarang menghampiriku dan pria tanpa nama itu. Apa yang harus ku jelaskan soal penampilan adikku ini ya ampun. Tidak ada orang yang menggunakan gamis untuk datang ke club malam bukan? Tapi jika dibanding yang lain, kurasa pakaian Lisa ini masih terbilang lebih sopan.
"Abang udah nggak tahu harus ngomong apalagi sama kamu, De. Alisya Kirana Putri!" ujarku sambil memijit kepala yang pening.
"Tunggu-tunggu sebentar. Bang Axel? Sayang, ini jangan-jangan, dia itu?" Kasihan sekali, pria itu kebingungan berada diantara sepasang Kakak beradik yang sedang bersiteru.
"Iya, gue Abangnya. Kenapa lo hah? Masih mau ngajak ribut di luar?" gertakku dengan kesal.
"Jadi Abang yang ngaku-ngaku jadi pacar Lisa. Bang Axel ngapain kesini sih Bang?" Lisa terlihat amat kesal dengan kedatanganku. Tidak, harusnya aku yang merasa kesal. Lima hari dia tidak pulang, dan aku malah menemukannya di tempat seperti ini. Yang benar saja sih.
"Otak kamu dimana sih. Yang harusnya marah di sini itu Abang De! Mama lagi sakit di rumah. Dia pengen kamu pulang. Tapi kamu bukannya pulang malah ..." aku melihat ke sekeliling.
Lisa terdiam, semua orang di sini cuek saja dan tidak peduli dengan pertengkaran kami. Tapi tetap saja, aku tidak tega memarahi Lisa di depan orang banyak. Aku menarik nafas panjang setelah tidak melanjutkan makianku. Untunglah hewan-hewan dari kebun binatang belum sempat ikut keluar.
Namun, ada satu hal lain yang harus ku perjelas lagi saat ini. Aku harap, apa yang dikatakan pria itu tadi salah besar dan hanya bentuk pembelaan diri, karena aku sudah mengaku-ngaku jadi pacar Lisa.
"Oke. Soal itu, kita bisa bahas di rumah nanti. Tapi sekarang Abang mau tanya sama kamu!" tunjukku pada Lisa.
"Dan lo!" Dan kini berganti pada pacarnya.
"Jadi, pacar kamu ini bilang, dia sudah mendapatkan satu-satunya hal yang paling berharga dari kamu. Tolong kalian berdua sekarang jelaskan di sini. Alisya, Abang butuh penjelasan kamu. Sekarang!" pekikku tajam. Sepasang kekasih itu tampak saling bertukar pandang dengan raut wajah yang tampak khawatir. Melihat pemandangan ini, aku jadi yakin. Kalau ternyata ...