Bab 10. Adrian 4

1321 Kata
Adrian Maulana Agak lama aku terdiam, hingga akhirnya pintu kelas Shera terbuka. Satu persatu Mahasiswa dan Mahasiswi keluar melewati pintu. Aku memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Beberapa detik kemudian, Shera keluar bersama dua orang kawannya. Aku lupa siapa nama mereka, tapi aku tahu mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan Shera di kampus. Setelah saling berpamitan pada mereka berdua, Shera langsung menghampiriku. "Anak pertanian ngapain disini?" ejeknya. "Lah emangnya nggak boleh? biasanya juga disini. Mau langsung pulang kan? Ya udah ayo!" ajakku dan langsung menarik tangannya paksa. Tapi Shera justru diam di tempat dan melepaskan tanganku. "Bentar-bentar. Kenapa buru-buru gini sih? Biasanya kamu itu kalau aku ngajak pulang malah sengaja di lama-lamain?" tanya Shera sembari melipat kedua tangannya di depan dadaa. "Aku nanti udah janji mau nganterin Nadia. Malem juga ada latihan Band sama anak-anak. Jadi waktuku cuma ada sekarang," jelasku. "Ya its ok. Kalau gitu kamu sekarang lebih baik tungguin Nadia. Aku bisa pulang sendiri." "Konsepnya nggak gitu Sher." "Tapi aku nggak enak sama Nadia. Dan ... sama mantan-mantan mu yang lain juga. Aku juga bosen di tuduh jadi perusak hubungan kamu dengan semua orang. Hanya karena kamu membuat aku jadi prioritas." "Aku cuma mau anter kamu pulang. Udah itu aja!" "Dan saat kamu anterin aku pulang, Nadia bakal keluar dari kelas. Lalu dia akan nyariin kamu. Dia akan tanya ke orang-orang. Where is my boy friend? Ohh, biasa. Dia lagi sama Shera. Lalu kalian berantem, dan bla-bla-bla. Putus!" Aku mengernyitkan dahi, mendengar rentetan kalimat yang keluar dari bibir Shera dan hampir tanpa jeda. Sejak kapan dia jadi begitu perduli dengan perasaan pacar-pacarku. "Wait ... ini terlalu berlebihan oke! Kita temenan bukan cuma seminggu, sebulan, atau setahun," ujarku. Sebenarnya nggak ada hubungannya juga aku mengatakan berapa lama hubungan pertemanan kami berlangsung, dengan apa yang kami bahas. Aku sendiri saja heran, Shera bahkan memandangku dengan tatapan aneh. Tapi aku memang belum ahli dalam melawan Shera. Jadi sesaat kemudian aku harus mengalah. "Oke, aku akan tetep tungguin Nadia!" "Great! Aku pergi dulu kalau gitu. Bye," ucap Shera sebelum akhirnya berlari, kemudian mengejar kedua temannya yang sudah pergi lebih dulu. Sialnya, aku nggak tahu harus berbuat apa, untuk menghilangan rasa jenuh dan bosan karena menunggu Nadia pasti akan memakan waktu setengah hingga satu jam. Tio dan Ricky biasanya akan nongkrong di kantin atau parkiran sebelum pulang. Kurasa mereka pasti masih ada disana. Sepertinya aku harus bergegas menyusul , daripada mati gaya dan menjadi penghuni kelas kosong disini. Kantin kampus kami, terletak di sisi parkiran juga gerbang masuk. Dari kejauhan, bisa ku lihat Tio dan Ricky ada di sana. Duduk pada salah satu kursi, bersamaan dengan Ricky yang sedang memegang gitar. Syukurlah ... dengan santai, langkah membawaku untuk menghampiri mereka. "Lo nggak nungguin Citra?" Ricky bertanya dengan raut wajah heran. By the way ... harusnya disini gue yang heran, kenapa dia malah menyebutkan nama mantan pacarku yang lain? "Citra yang mana? Maksud lo Nadia?" Aku menoyor kepalanya dengan kesal. Dan mereka berdua tertawa cekikikan. "Ya lagian sih! Kebanyakan gonta-ganti cewek. Gue kan jadi lupa!" jawab Ricky. Aku memutar bola mata, lalu menyeruput salah satu minuman mereka begitu saja. "Gue males nungguin di depan kelasnya. Berasa kaya artis. Semuaaaaa ... pada ngeliatin!" "Lu aja yang kepedean nyet!" sahut Tio, sembari melemparkan kacang dari tangannya. "Nah mumpung lo disini, gimana kalau kita ngomongin baju buat pentas nanti," ujar Tio tiba-tiba. Raut wajah Tio yang semula konyol, kini berubah serius. Aku dan Ricky saling memandang dan mengerdikan bahu. Ide yang bagus. Kadang sesuatu yang tidak direncanakan, justru akan memberikan hasil yang memuaskan. Kami sama sekali tidak berencana untuk berkumpul di kantin dan membahas kostum untuk pentas pada awalnya bukan? "Jadi ... lo punya ide apa?" tanyaku pada Tio. Dia mengangkat tangannya, dan mulai menjelaskan. Jadi si Tio ini tidak bisa membicarakan sesuatu hanya dengan mulut. Dalam mode serius, bocah ini akan turut serta menggerakan tangannya. Memberikan tutor pada setiap orang yang memperhatikan. "Kita pake baju ala-ala mafia gimana? Pake jas, celana, topi, dasi, kemeja warna item. Kan keren tuh, gue yakin cewek-cewek bakal teriak-teriak histeris. Apalagi liat lu, Yan. Playboy kampret yang mendadak sok misterius gitu," jelas Tio. "Lu nggak ada ide lain hah? Apanya yang misterius? Siapa yang bakal teriak-teriak segala? Kita ini mau tampil di acara pentas seni. Nah ... pentas seni itu harusnya penuh warna dan ... iiiimmmaaajjjiiinnnaaasssii ...." ujar Ricky dengan menirukan gerakan tangan ala-ala kartun film spongebob yang fenomenal. "Jadi maksud lo, kita musti pake baju warna warni kaya anak tk gitu? Iuuhhh gue sih ogah." "Ya nggak gitu juga pe'a. Lu tuh dompet doank tebel! Otaknya kampret. Ini tuh fashion, tau nggak? Fashion!" "Fashion ... fashion gundulmu!" Sudah kuduga, perbincangan ini akan berujung pada keributan yang konyol. Aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Karena itu jarang sekali pendapatku keluar, jika memang menurutku itu tidak terlalu penting. Apalagi hanya masalah kostum. Ayolah .... ada yang lebih penting dari itu. Kualitas musik, suara, kesetaraan segalanya, kekompakan kami, juga kecocokan lagu yang akan di cover. Masih banyak hal yang harus di perhatikan. Daripada memperhatikan mereka, fokusku lebih tertuju pada gadis-gadis yang sedang lewat. Setiap tatapan mereka bertemu denganku, ada semburat rona merah yang muncul di wajah mereka. Wanita itu, makhluk yang sulit di tebak, tapi juga menakjubkan. Pernahkan kalian mendengar, dibalik kesuksesan setiap laki-laki, selalu ada wanita hebat di belakangnya. Dan itu benar sekali. Ayahku juga memiliki wanita hebat yang selama ini ku panggil Ibu. Lalu kemudian, seharusnya sosok wanita seperti apa yang kiranya harus ada di belakangku? Ahhh tidak! Mungkin ada satu perbedaan dalam pendapat ini. Jika mereka membutuhkan wanita untuk berada di belakang? Maka aku lebih membutuh wanita untuk berada di sampingku. Berjalan beriringan, meraih kesuksesan bersama-sama. "Yan ... yan. Itu bukannya Shera?" Tangan Ricky menunjuk pada sesosok gadis yang saat ini tengah berdiri di sisi gerbang kampus. "Itu siapa yang nyamperin. Kayanya gue baru liat?" Pertanyaan Tio, seolah mengutarakan isi kepalaku saat ini. Di depan Shera saat ini, ada seorang pria dengan rambut yang diikat. Di mataku sebagai sesama pria, sosok yang saat ini bersama Shera bisa di katakan lumayan keren. Tapi siapa? Apa dia adalah kenalan baru Shera? Dia nggak pernah cerita sebelumnya. Oke ... tentu saja dia nggak pernah cerita sesuatu soal laki-laki karena saat itu, Shera sudah memiliki Tama. Hah ... bodohnya gadis itu, mengira bahwa saat ia setia dan memberikan cinta yang tulus, maka akan dibalas dengan kesetaraan yang sama pula. Jadi mungkin, ini kali pertama aku melihatnya dengan laki-laki lain selain Tama. Lucu sekali! Apa dia sudah sembuh dari segala sakit hati dan trauma yang membuatnya menangis tiga hari tiga malam tanpa berhenti? "Lo kenal Yan?" tanya Tio membuyarkan lamunanku. "Nggak tahu, bukan urusan gue juga lagian. Bagus juga sih, gue pusing dengerin dia mewek terus saban hari sama si Tama," ujarku. Shera memang harus mulai membuka hatinya untuk orang lain. Dia perlu tahu, kalau hanya kehilangan satu orang laki-laki breng-sek. Tidak akan membuatnya jadi mati mendadak. "Si Tama tuh pemula yang lagi kena sial. Kasian juga tuh si Shera. Dia tuh orangnya baik. Gue jadi pengen ngasih bahu deh, ama tu anak," celetuk Ricky dengan nada sok melankolis yang membuatku dan Tio sontak saja ingin muntah. "Bahu lo udah nggak penting. Shera udah punya bahu yang lebih keren noh. Nggak usah kebanyakan ngehayal!" Tapi tunggu sebentar. Jadi ini alasan sebenarnya, kenapa Shera tidak ingin aku mengantarkannya pulang? Rupanya dia sudah memiliki janji dengan yang lain. Kenapa harus bohong segala sih? Padahal aku tidak pernah membatasi dia bergaul dengan siapapun. Ya ... maksudku, hampir tidak pernah. Dan mulai saat ini, aku harus lebih membatasi pergaulannya lagi. Sebelum dia, kembali mendapatkan masalah. Dan kalau sampai Shera membantah, tunggu saja hingga Ayah dan Ibunya di Semarang memberikan kabar baik. "Sialan! Malah pada bengong gara-gara si Shera. Ini gimana soal kostumnya woi ... gimana!" teriak Tio. Sumpah ya! Kadang-kadang si Tio ini mudah sekali membuatku naik darah. Ricky menatapku dengan raut wajah yang sama kesalnya. Sebuah kekompakan tercipta begitu saja saat secara bersamaan kami mengatakan "Bodo amat!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN