Bab 9. Adrian 3

1092 Kata
Adrian Maulana Aku duduk di kelas sembari menatap jendela yang menghadap langsung pada langit. Cuaca sedang cerah dan asik banget buat main basket. Tapi khusus untuk Shera, dia pasti akan mengeluh karena kulitku akan menghitam jika bermain di bawah terik matahari. Sementara gadis lain, akan ikut berpanas-panasan menyorakkan namaku, apalagi saat aku berhasil memasukan bola basket ke dalam ring. Sayang sekali, sekarang aku sedang ada kelas. Shera biasanya yang paling betah untuk belajar di kelas dengan dosen. Sementara aku memang lebih suka aktifitas di luar ruangan. Menurut jadwal, aku akan selesai mengikuti kelas lebih dulu daripada Shera. Dan Shera akan lebih dulu keluar daripada Nadia. Well ... masih ada kesempatan untuk aku memberitahu Shera kalau malam ini, dia mungkin harus berangkat sendiri ke Hotel Berlian. Memang terdengar agak berlebihan. Tapi sejak gadis itu putus dengan Tama, aku jadi terbiasa menjadi kawan baik yang siap sedia mengantarnya langsung ke manapaun tujuannya. Meski orang tua Shera bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluargku, mereka itu sangat baik. Mereka juga secara tidak langsung menitipkan anak gadisnya padaku, karena bagi orang-orang di kampungku, Jakarta itu mengerikan. Ibu Kota Jakarta yang katanya lebih kejam daripada Ibu Tiri. Belum lagi, pergaulannya yang aduhai. Padahal, dimanapun kita berada, meski itu bukan di Kota Jakarta atau kota manapun, semua tergantung pada sikap kita masing-masing. Tergantung bagaimana kita bisa menyesuaikan diri. Di Jakarta juga ada banyak sekali orang-orang baik. Selain itu, akhir-akhir ini setelah Shera putus, dia benar-benar terlihat layaknya orang frustasi. Aku takut dia akan salah jalan dan malah bunuh diri. Memutuskan untuk kuliah di temat yang sama, dan di kota yang sama, ternyata memang agak menjadi beban. Untungnya, kami tidak berada di satu tempat kost yang sama. Pada awalnya, aku bahkan bersikeras agar Shera bisa tinggal di salah satu kamar yang bersebelahan dengan milikku. Aku juga rela untuk membayar sepenuhnya. Karena ku pikir, dengan jarak kami yang dekat. maka segalanya justru akan lebih mudah. Tapi ternyata tidak. Ini jauh lebih baik, aku jadi punya tujuan untuk pergi saat keluar kamar, yaitu menuju ke tempat tinggalnya yang tidak begitu jauh dengan tempat tinggalku. Selain itu, aku juga bisa lebih bebas membawa siapapun untuk masuk ke kamar. Karena jika Shera tahu, mungkin berita itu akan langsung menyebar pada keluarga di Semarang. Dan yang lebih menakutkan, aku takut sekali akan kelepasan. Kami memang sahabat. Tapi dia perempuan dan aku laki-laki. Meski dia bukan tipeku, tapi Shera juga memliki semua hal yang dimiliki perempuan pada umumnya. Gayanya memang berbeda, dia tidak terlalu feminim, dan tidak suka berdandan. Tutur katanya juga kadang jauh dari kelembutan. Tapi dia punya sepasang mata yang indah, sepasang buah dadaa yang lumayan besar, tubuh ramping yang tertutupi kaos besar, 2 bongkahan p****t sexy, juga kaki mungil yang ... aku tidak bisa memungkiri, sebagai perempuan, Shera juga memiliki kelebihan yang akan membuat segalanya berbahaya untukku sebagai seorang laki-laki dan untuknya sebagai seorang perempuan. Meski aku bisa dengan bebas keluar masuk atau bahkan tidur di dalam kamarnya. Aku bernafas dengan amat lega setelah Dosen berkata ... "Baik, untuk hari ini kelas selesai ..." Aku membereskan alat tulis juga buku yang tetap kosong, meski Dosen meminta seisi kelas untuk mencatat hal-hal penting dari apa yang beliau jelaskan. Saking pentingnya, aku sampai tidak sempat untuk menuangkan semua perkataannya didalam buku. Jadi cukup ku rekam saja dalam pendengaran dan otak. Berharap kalau ingatan itu akan muncul di saat tes, quiz, ujian, serta saat-saat penting lainnya. Dosen sudah lebih dulu keluar, juga beberapa mahasiswa dan mahasiswi lain. Semantara itu Tio dan Ricky menghampiriku. "Lo nggak lupa kan hari ini jadwal kita latian?" ujar Tio. Aku meraih tas dan menggendongnya. Ricky kemudian merangkul bahuku. Kami lantas berjalan keluar dari kelas berbarengan. "Iya, gue inget. Cuma kita alih jadwal ya. Malem aja gimana?" usulku. "Ini nggak bagus Yan. Kita nggak boleh sering-sering mangkir dari jadwal latian!" keluh Tio. Kami bertiga menapaki jalan melewati koridor gedung. Tio dan Ricky bisa dikatakan mungkin satu-satunya kawan terbaik yang ku miliki selain Shera. Ya ... aku agak pemilih untuk membuat geng atau teman dekat lainnya. Berbeda denganku, mereka berdua berasal dari Jakarta. Aku, Tio, dan Ricky memiliki satu mimpi yang sama. Memiliki Grup Band terkenal yang akan menghasilkan banyak uang. Berharap ada label musik yang mau mengsponsori project-project kami. "Nggak sering kok. Kita cuma mundurin jadwal. Bukannya nggak latian. Gue juga sore ini ada perlu sih. Kita latihan nanti malem ya!" tambah Ricky. Syukurlah, dia mengerti keadaan. Akhir-akhir ini Tio memang agak lebih mendominasi. Tak lama lagi, kami akan mengisi acara kampus. Mungkin ini bisa menjadi awal yang bagus. Pertama tampil di depan kawan-kawan sendiri, selanjutnya kami akan tampil di layar tv. "Males gue kalau udah kaya gini. Kalian itu mangkir terus kalau kita mau latihan," protes Tio lagi. Wajahnya tampak masam. Meski kami memiliki mimpi yang sama, Tio memanglah yang paling berambisi. Dan aku? Mungkin adalah orang yang paling santai. "Santai sedikit lah. Jangan tegang gitu. Kan yang penting tetep latihan. Gue mau ke kelas Shera dulu ya. Nanti malem kita ketemu di studio," kataku. Seraya melepaskan rangkulan Ricky. "Shera lagi ... Shera lagi. Lo beneran cuma temenan sama Shera? Gue sama Ricky kok liatnya lain sih?" "Ya bener lah. Masa bohongan!" gerutuku. Pertanyaan macam apa lagi ini. Mereka ini sudah sering sekali mempertanyakan hal yang sama dengan jawaban yang sama pula. "Oke, kalau bener lo sama Shera itu cuma temenan. Boleh donk gue deketin dia?" Tio mengangkat naik turun sebelah alisnya. "Emang kapan gue larang? Asal tu anak mau ya terserah. Kalau dulu, dia kan emang punya pacar. Dan lo tau sendiri, dia tergila-gila sama pacarnya itu. But now, she is single. Sekarang atur-atur aja dah. Siapa yang mau deketin Shera. Gue cabut dulu." Aku mengambil ancang-ancang, kemudian melesat pergi meninggalkan kedua curut yang akhirnya melongo. Aku tahu mereka hanya sedang menggodaku. Ya ... kalaupun memang benar mereka mau mendekati Shera, itu adalah hak mereka. Aku tidak bisa melarang. Tapi aku tahu pasti, Tio dan Ricky bukanlah tipe pria yang Shera idamkan. Shera itu menyukai tipe pria perfect yang nggak banyak tingkah seperti Tama. Atau mungkin Tama terlalu perfect hingga membuat Shera buta. Dan bagaimanapun juga. Aku tidak akan membiarkan Shera tersakiti lagi. Paling tidak, sampai aku benar-benar menemukan orang yang seharusnya tepat untuk gadis itu. Aku bersandar pada dinding sembari memainkan ponsel. Beberapa orang lewat dan menyapa. Sebagai warga negara yang baik, tentu saja aku hanya bisa melempar senyum dan membalas sapaan mereka. Mereka mengenalku sebagai mahasiswa yang cukup populer, sedangkan aku? Ya ada beberapa yang ku kenal, ada juga yang hanya ku hafal lewat wajah tanpa tahu nama. Catat ... ini bukanlah suatu bentuk kesombongan. Ini kenyataan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN