Shera Fuji Lesmana Aku tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Axel. Ku pejamkan mata, lalu menarik nafas sedalam-dalamnya yang ku bisa dan mengembuskannya dengan amat panjang. Adrian baru saja pergi dan memberikan aku ruang untuk bernafas sekarang malah giliran Axel yang membuat jantungku terasa ingin copot. Setiap kali ada sesuatu yang terjadi pada ku dan Adrian, selanjutnya selalu ada Axel yang menambah cerita lain. Entah itu sebuah kebetulan ataukah benar-benar takdir. Seolah, masalahku kebanyakan hanya berputar di sekitaran mereka berdua saja. "Axel, aku minta maaf untuk yang tadi. Tapi aku nggak benar-benar serius untuk soal lamaran dan pernikahan. Aku cuma cari-cari alasan. Ya ... ada satu problem sama Adrian yang mengharuskan aku bikin alasan kaya gitu," jelasku dengan tega

