Adrian Maulana "Tenang saja, Yan. Kami akan menemani kamu mabuk malam ini. Sampai pagi kalau perlu. Setuju ndak, teman-teman?" "Setuju!" Satu kalimat pertanyaan yang telah dilontarkan oleh salah satu kawanku ini mendapat sorakan dari kawan yang lain. Aku jadi ikut tertawa tak jelas sendiri dengan keadaan ini. Bersama dengan para pemuda kampung yang dulu adalah kawanku semasa Sekolah, ku habiskan berbotol-botol minuman keras di salah satu warung remang-remang oplosan yang cukup tersohor di Kampung ini. Tak ayal aku sendiri ikut bersuara, meneriakkan nama Shera yang telah membuat hatiku hancur. Tapi, apa-apaan ini, bahkan setelah kesadaranku hampir hilang bayangan gadis itu masih saja membuatku sakit hati. Aku kembali duduk dengan tangan bersandar di atas meja, dengan hanya sesekali m

