Bab 44. Shera 26

1103 Kata
Shera Fuji Lesmana Tok ... Tok ... Tok Suara ketukan pintu membuat aku dan Axel yang tengah berbincang terhenti seketika. Kami menengok bersamaan ke arah pintu, dimana seorang pria kini berdiri mematung tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia menatap ke arah ku dan Axel secara bergantian. Mendadak suasana jadi sunyi. Dari awal sejak Axel datang, aku memang sengaja tidak menutup pintu. Masalahnya Axel ini masih asing bagiku. Aku tidak berani langsung berduaan dengan pintu tertutup didalam kamar ini. Itu agak berbahaya bro. Aku yang awalnya sedang duduk bersila di lantai bersama Axel, segera beranjak dan berdiri. "Sorry gue nggak maksud ganggu. Bisa gue ngobrol sama sahabat gue ini ... Sebentar?" seru Adrian. Axel ikut berdiri di sampingku dengan perasaan yang pastinya bingung. Pria itu adalah Adrian. Panjang umur banget orang itu. Baru saja dibicarakan, dia sudah datang tanpa diundang. Katanya, saat kita membicarakan seseoang lalu tiba-tiba orang yang dimaksud muncul, berarti umurnya panjang. "Just me and Shera ..." jelas pria itu lagi. Tatapannya jelas mengarah pada Axel. Ya ampun, Adrian datang di waktu dan mood yang sama sekali nggak tepat. "Gue harus buru-buru ke Cafe nih, Sher. Sorry nggak bisa lama-lama," pamit Axel. Aku yakin dia merasa terganggu. Tapi juga canggung dengan keadaan. Aku sangat yakin itu hanya alasan. Tapi memohon agar dia tetap disini juga bukanlah hal yang baik. "Axel, gue minta maaf ya?" bisikku. Dia hanya tersenyum kemudian pergi begitu saja. Axel sempat berhenti sesaat begitu berpapasan dengan Adrian. Keduanya tak mengeluarkan ekspresi. Hanya saling tatap, kemudian berpisah begitu Axel melewatinya. Kini hanya tersisa aku dan Adrian. Pria itu masuk lalu menghampiriku yang masih berdiri dengan nafas amat berat. Baru saja aku tertawa dan melepaskan penat bersama Axel, titisan demit ini muncul dengan tiba-tiba. Membuat tawaku hilang dalam sekejap. "Waaww, sekarang lo udah berani bawa laki-laki lain kesini ya? Hebat banget." Benarkah? Itu kalimat pertama yang diutarakan oleh Adrian setelah kami bertengkar? Bukannya minta maaf atau menanyakan kabar, dia justru mencibirku. Terlalu kepo, atau nggak punya otak kah orang ini? "Lu gonta ganti cewek, di bawa ke kamar, apa gue pernah protes?" balasku lagi. Adrian diam tak bergeming. Mungkin karena sindiranku lebih mengena. Bisa dibayangkan ada berapa banyak Nadia lain yang sudah masuk ke dalam kamarnya, dan selama itu juga aku nggak peduli. Itu adalah privasi yang tidak boleh dianggu. "Lo mau berdiri terus kaya gitu? Kalau gue sih ogah. Capek! Mendingan duduk." Aku mengambil posisi duduk kembali ditempat semula, dihadapanku masih ada sisa makanan dan cemilan tadi. Daripada mubazir, lebih baik ku lanjut makan lagi. Adrian kemudian ikut turun. Ia duduk tepat di atas tempat bekas Axel tadi. "Tadi ... Bapak telpon," ujarnya tiba-tiba. "Ya terus?" "Makasih, kamu nggak nyeritain hal yang aneh-aneh soal aku ke Bapak." Cerita apa? Ini maksud Adrian Bapaknya dia itu telpon padaku atau padanya. "Sebentar, ini maksudnya Bapakmu yang telpon aku?" tanyaku agak heran. "Iya tadi pagi Bapak telpon kamukan?" Aku mengernyit heran. Kapan Bapaknya si kampret ini nelpon. Aku sudah tidur sejak tadi malam dan tidak terbangun sampai ... Tunggu sebentar. Seperti kasus Axel yang menelponku, jangan-jangan Bapaknya Adrian juga menelponku tadi pagi. Tapi aku tidak sadar lagi. Astaga penyakit ngelindurku semakin parah. Bagaimana ini? Aku tidak bisa mengingat hal apapun yang sudah ku lakukan tadi pagi. Jangan-jangan ada nomor lain juga yang ku ajak ngobrol via telepon. Dan Adrian bilang apa tadi? Ah ... Iya. Dia bilang aku tidak mengadukan apapun. Sial! Padahal ini adalah kesempatan bagus, untuk memberitahu pada Bapaknya Adrian, kalau anak kesayangannya ini berkelakuan sangat menyebalkan. "Oh ... Iya. Tadi Bapak memang telpon. Aku lagi nggak mood buat ngaduin kelakukan jelek orang lain. Jadi santai saja." Padahal aku tidak ingat sama sekali. Tapi biarlah, anggap saja kalau Adrian memiliki satu lagi hutang budi padaku. Meski hutang budinya tentu saja lebih banyak dari perkiraan. "Sher ... Soal tadi malem ..." Aku masih bersikap tak acuh pada Adrian. Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Baru kali ini, Adrian tampak begitu gugup. Padahal biasanya, dia memiliki tingkat kepercayaan diri yang setinggi langit. "Soal tadi malem apa?" lanjutku. Ngomong setengah-setengah itu bukanlah gayanya. Jadi ini terdengar agak menyebalkan. "Soal tadi malem yang bilang persahabatan kita putus ... Gue minta maaf. Gue nggak bermaksud kaya gitu Sher." Seharusnya kami memang tidak boleh bertemu dalam keadaan seperti ini. Hatiku mendadak tersentuh dan ingin luluh. Bagaimana ini? "Lo mau minta apapun. Pasti bakal gue turutin selama gue mampu dan ehmmp ..." Aku memasukan kentang goreng ke dalam mulut Adrian agar dia berhenti bicara. Mood ku sedang tidak bagus. Membicarakan segala hal yang memalukan kemarin hanya akan membuatku semakin kesal. "Makan dulu. Jangan ngomong terus. Berisik!" keluhku. Ah ... shera lihat betapa lemahnya dirimu. Kau mempermalukan dirimu sendiri sekarang. Siapa yang sejak malam selalu membuat kata-kata yang memotivasi diri untuk menjauh dari Adrian. What the hell. Adrian cepat-cepat mengunyah makanannya lalu menelannya dalam sekali gerakan. Aku hampir nggak percaya kalau dia baik-baik saja dan tidak tersendak. "Jadi lo maafin gue kan Sher? Kita sahabatan lagi kan?" Aku menarik nafas panjang. Pertahanan diriku luluh juga. Apalagi mendengar Bapaknya sudah mulai menelpon. Lantas apa hubungannya? Jelas ada. Bapaknya itu bos Bapakku. Kalau aku membuat masalah dengan Adrian, maka Bapakku bisa saja terkena masalah karena Bapaknya. Masalah Bapak-Bapak ini sekarang jadi sensitif ya. "Bakso, siomay, batagor, dimsum, seblak, gorengan, burger, kebab, mie ayam, pempek, boba, teh thailand, teh tarik, s**u, jus strawberry, chese cake dan bla-bla-bla." "Stop, stop. Gue tahu, gue tahu. Kantin di kampus, sebulan full." "Semua yang gue mau?" tawarku lagi untuk meyakinkan. Sebenarnya aku hanya bercanda. Tapi kalau jadi kenyaataan lumayan juga. Sebulan full makan di kantin kampus dengan gratis. Bagaimana aku bisa menolak. "Iya, semua yang lo mau! Ssuueerrr," ujarnya lagi sembari mengangkat jari-jari, menunjukan gaya peace. Aku menyunggingkan seutas senyum, yang lumayan tulus. Ternyata kami memang tidak bisa marah dalam waktu yang lama. Baik aku maupun Adrian tidak akan tahan. "Sekarang lo jelasin. Itu cowok, siapa yang tadi dari sini? Cowok itu juga kan yang sekarang ini jadi rajin ke kampus buat jemput lo?" "Kita baru aja baikan, dan yang pertama kali lo tanyain, soal Axel? Wahh ... Temen macam apa lo?" cecarku. "Well, jadi namanya Axel. Anak mana? Kenal dimana? Mending lo jauhin deh dia dari sekarang. Gue tuh, kaya bisa ngerasain aura-aura negatif pas liat dia lewat tadi." "Yang negatif tuh elu, Bambang! Ngada-ngada aja sih. Axel itu baik, nggak kaya lo. Dasar stress!" ujarku. Adrian kembali pada sifat aslinya yang sok protektif padaku. Harus ku akui, sehari saja kami bertengkar, rasanya menyebalkan dan aneh. Sebenarnya hubungan apa yang terjadi diantara kami. Apa benar, ini hanyalah perasaan yang kami sebut sebagai teman. Bagaimana kalau sebenarnya, salah satu dari kami memang memendam rasa, tapi kami, sama-sama tidak menyadarinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN