Shera Fuji Lesmana
Aku membuka kantung belanja yang dibawa oleh Axel. Wah ... Ada kentang goreng, nasi, ayam goreng juga burger, belum termasuk cemilan juga 2 botol minuman bersoda. Aku sih ngiler banget sumpah! Pagi-pagi begini ada yang nganterin sarapan gratis, yang anter ganteng pula. Benar-benar kombinasi yang klop banget.
Tapi buat apa dia membawa makanan sebanyak ini untuk kami berdua? Axel nggak bermaksud untuk menetap disini kan?
"Gue mandi dulu deh kalau gitu," ujarku seraya mengambil handuk.
"Eh jangan. Kita makan dulu aja ya!" pintanya, lalu dengan sigap menarik tanganku untuk duduk.
Apa? Mana bisa begini, keadaanku yang masih semerawut ini akan sangat terasa asing bersanding dengan Axel yang sudah begitu wangi dan menyilaukan. Ini tidak adil! Aku bahkan nggak tahu, apakah di setiap sudut mata ini masih ada kotoran yang menempel karena terlalu buru-buru saat membasuh muka tadi.
"Aduh, jangan kaya gini deh. Gue nggak enak. Lo udah rapi gitu, masa guenya gini?" ujarku tak enak hati, atau mungkin tak enak body.
"Kenapa sih? Nggak ada orang yang liat juga padahal. Ayo buruan, kita makan sekarang!"
Nggak ada orang yang liat? Lalu dia ini orang atau sejenis apa? Setelah mencepol rambut ke atas, mau tak mau aku mengikuti perintah Axel. Kami duduk bersebelahan di atas lantai. Jujur aku sangat insecure saat ini. Kemarin kami makan di Cafenya yang bersih, nyaman dan estetik banget. Tapi sekarang dia ada di lantai kotor, dengan kondisi kamarku yang masih berantakan. Ah ... lagipula siapa suruh dia datang sepagi ini. Eh ... Maksudku sesiang ini ehh ... Tunggu-tunggu. Kenapa jadi serba salah begini sih?
Kamar ini sepertinya memiliki daya tarik tersendiri. Sebelumnya, Tama dan Adrian juga betah untuk bertahan dalam ruangan sempit yang ku sebut tempat tinggal. Padahal mereka memiliki tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali. Kamar ini rupanya memiliki daya tarik yang tidak terduga.
"Eh ... Kok lo tahu gue disini. Maksud gue, emangnya lo nggak nyari gue ke kampus dulu?" Ya ... Seharusnya Axel tidak tahu kalau hari ini aku nggak kuliah.
"Kan lo sendiri yang ngomong. Tadi gue telpon kok," jawabnya santai.
"Hah, gue yang ngomong? Lo telpon gue? Kapan?" Apa pria ini sedang mengada-ngada. Aku tidur sejak tadi malam dan baru bangun sekarang ini. Bagaimana bisa, menjawab telpon.
"Beneran kok. Kalau ngga percaya coba cek aja deh. Pasti masih ada riwayat panggilan masuk dari gue tadi pagi."
Kedua mataku menyipit pada Axel. Seolah tak percaya dengan apa yang dia katakan. Setelah mengambil ponsel di atas tempat tidur, aku mengecek riwayat panggilan seperti yang dikatakannya tadi. Dan ternyata memang benar, ada panggilan masuk dari pria di sampingku ini. Aku pasti ngelindur tadi pagi.
"Gue tadi pasti ngelindur sampe nggak inget udah angkat telpon," jelasku.
Axel hanya tertawa kecil, untuk menanggpinya. Aku dan dia mulai makan sambil sesekali bercanda. Asumsiku soal dia yang mengobati luka hatinya denganku, kini perlahan memudar. Nyatanya kekakuan yang sempat menghantui kami karena belum lama mengenal, mulai terpatahkan. Dia bisa tertawa lepas juga. Sesekali tangannya yang jahil mengambil makananku yang baru akan masuk mulut, atau membuka ikatan rambutku dan membuatnya tergerai.
Rasa kesalku pada Adrian yang semalam juga mulai berangsur-angsur menghilang. Mungkin seharusnya dari dulu aku begini membuka hati dan tidak terus membatasi diri dari orang-orang disekitar.
"Itu siapa, Sher?"
Aku menoleh pada benda yang menempel pada dinding, sesuai arah yang ditunjuk oleh Axel. Rupanya, dia tengah penasaran dengan sebuah figura foto berisikan aku dan Adrian.
"Oh ... Itu Adrian. Sahabat gue, dari SMA. Sampe sekarang. Kebetulan kita kuliah di Universitas yang sama. Cuma beda jurusan aja," jelasku.
"Ow ... Cowok yang kemarin sore ada di depan hotel itu ya?" tanyanya lagi.
Ah ... Sekali bertemu saja Axel sudah bisa mengenali kalau orang itu adalah Adrian. Padahal, foto itu diambil tiga tahun yang lalu. Berarti, tidak ada banyak perubahan yang berarti padaku apalagi pada Adrian.
"Betul banget. Wah, sekali liat lo udah bisa ngenalin dia ya? Eh gimana gue di foto itu? Ya ampun culun banget kan ya?" tanyaku.
Ini adalah pertanyaan sungguh-sungguh. Aku penasaran karena sosok yang ada di dalam foto itu adalah gadis desa yang baru menyesuaikan kehidupan di Kota.
"Nggak juga sih. Cantik ... Lebih cantik yang di foto malah, kalau yang ini ... Jangan jangan yang difoto bukan Shera."
"Enak aja. Udah mula berani godain gue ya sekarang," protesku sembari memalingkan wajah dengan bibir cemberut. Aku hanya ingin bercanda saja dengannya, sungguh. Tapi kemudian, kurasakan ada seberkas sentuhan lembut berada di atas kepalaku. Naik turun perlahan, membelainya dengan sayang. Eh apa? Sayang?
"Udah, jangan ngambek. Gue cuma bercanda kok. Ayo di lanjut makannya, gue bentar lagi harus ke Cafe."
"Oh ... Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Cuma ada perlu aja. Maaf hari ini nggak bisa nganterin lo kerja."
Loh ... Kenapa dia malah terdengar lesu, dan kenapa juga harus minta maaf. Mengantarku bekerja, bukanlah kewajibannya. Apa otaknya sedang koslet?
"No ... Kenapa malah minta maaf. Gue yang minta maaf. Lo lagi ada urusan, malah sempet sempetnya nganterin gue makanan. Mana enak-enak banget lagi?"
Iya, harusnya aku yang merasa tak enak hati. Kalau dipikir-pikir Axel ini perhatian juga kok. Apa penilaianku selama ini tentangnya salah. Apa si Mawar berduri itu juga nggak bisa melihat perhatian dari Axel.
"Nggak apa-apa. Santai aja, lagian gue nggak berangkat sekarang. Ya ... Sekitar sejam atau dua jam lagi. Jadi nggak usah buru-buru bilang nggak enak atau kangen sama gue."
"Astagfirullah, lo kebanyakan makan kentang goreng ini."
Firasatku mulai buruk. Jangan-jangan si Axel ini adalah tipe pria yang kalau sudah kenal dekat, bakalan nyablak kaya Adrian.
"Tapi ... Itu beneran sahabat lo Sher? Nggak lebih? Selama kalian sahabatan, yakin kalian nggak ada hubungan apa-apa atau perasaan yang agak intim mungkin?"
Haisshh pertanyaan ini lagi. Ku pikir Axel tidak akan kepo, hanya karena sebuah foto. Tapi ternyata, dia menanyakan pertanyaan yang sudah seringkali ku dengar.
"Nggak ada. Kita ini dari dulu cuma temen. Nggak akan lebih dari itu juga kayanya."
"Gue iri sama orang-orang yang memang murni berteman tanpa melibatkan perasaan lain. Karena jujur, gue nggak akan bisa. Kalau bukan gue yang punya perasaan, seenggaknya pasti temen gue yang akhirnya kena panah cinta. Menurut gue pertemanan murni antara laki-laki dan perempuan itu mustahil. Soo gue salut sama kalian kalau gitu."
"Kesambet apaan lo, pidato panjang lebar kaya gitu? Ayam goreng ya?"
"Astaga, Shera?"
Aku tertawa melihatnya yang mulai putus asa karena aku tidak bisa diajak serius. Pertemanan murni? Iyakah? Aku memang tidak memiliki perasaan apapun pada Adrian. Itula sebabnya ku biarkan dia berganti pasangan sesuka hati. Pacaran di depanku, bermesraan denganku, apapun yang Adrian lakukan dengan pacarnya, tidak pernah membuatku cemburu.
Lagipula, aku tahu tipe cewek macam apa yang diinginkan Adrian. Berhubung menurutnya, aku adalah setengah lelaki, maka dia tentu tidak akan tertarik pada saudara sendiri bukan. Jadi ... Apakah kami bisa disebut sebagai pemecah rekor karena telah berteman dengan tulus selama bertahun-tahun.