Bab 42. Adrian 18

1266 Kata
Adrian Maulana "Shera ... Kalau itu mau lo, ya udah. Mulai sekarang kita nggak akan jadi sahabat lagi. Persahabatan kita putus!" Astaga! Apa yang baru saja aku katakan? Kenapa juga mendadak aku berkata demikian. Semua itu reflek terjadi begitu saja. Orang-orang berada di dalam angkutan umum itu sekarang tengah melihat ke arahku. Mereka pasti bertanya-tanya serta mencemooh. Apa yang terjadi pada sepasang muda-mudi ini. Namun setelah aku berkata seperti itupun, Shera masih tetap saja naik dan tidak memperdulikanku. Apakah, pilihan yang kuajukan ini terlalu berat. Aku menunggunya sejak tadi, mengkhawatirkannya, mencarinya kemana-mana. Tapi hatinya nggak tergerak sedikitpun. Aku melakukan satu kesalahah kecil, dan dia memberikan satu hukuman besar dimana pertemanan kami menjadi taruhannya. Ini tidak adil, dia memiliki segalanya dan mau meninggalkanku yang tidak memiliki apa-apa selain dirinya. Secara financial, mungkin keberuntungan membuatku jauh berada diatasnya. Tapi semua impian, semangat dan kasih sayang jelaslah jauh berbeda. Dia memiliki mimpi yang besar, dengan kepintaran otak yang juga melebihi diriku. Dia memiliki dukungan untuk mengambil keputusan apapun berdasarkan keinginannya sendiri. Sedangkan aku, aku hanya ingin bernyanyi. Dan itupun sulit. Aku tidak mau kehilangan dia. Angkutan umum yang dikendarainya semakin menjauh. Ia duduk di bangku paling belakang, tapi tak sedikitpun menoleh. Heh ... Aku ngga percaya. Kita lihat apa dia masih akan tetap bertahan dengan egonya dan mengacuhkanku. Pertemanan kami selama bertahun-tahun ini tidak akan oleng hanya karena satu masalah sepele sajakan? Kita lihat apa yang terjadi. Shera pasti mengira aku akan menyerahkan? Dia salah! Aku bergegas menggenakan helm, kemudian menyalakan motor. Aku akan menyusul Shera sejauh yang ku mampu. Padahal tujuannya kan pasti hanya pulang. Jadi nggak jauh lah. Setelah beberapa saat, aku menemukan anggkutan umum yang ditumpangi Shera. Tampak gadis itu sedang bersandar pada kaca belakang, dan belum juga menengok. Aku bisa saja menyusul agar melajukan kendaraan beriringan. Tapi sepertinya, ini agak kurang menarik. Jadi, kubiarkan saja dulu sampai dia sadar sendiri. Ku buat ini menjadi taruhan. Jika dia menengok ke belakang, itu artinya dia masih peduli padaku. Tapi jika dia masih bersikeras tak menengok, itu artinya dia hanya sedang menahan ego dan tetap masih peduli padaku. Tentu saja taruhan itu tidak masuk akal. Tapi aku tidak mau membuat pilihan yang sulit apalagi asumsi buruk, dan terjebak di dalamnya. Sampai pada akhirnya, dia berbalik dan tampak terkejut begitu melihat ke arahku. Ha-ha-ha sudah kuduga. Shera pastilah masih peduli padaku. Itu sebabnya dia berbalik. Dia tidak akan bisa melihat senyum bahagiaku di balik helm ini. Shera kemudian kembali melihat ke depan. Ia mengacuhkanku lagi, hingga anggkutan umum itu berhenti tepat di depan gerbang kosannya, begitu juga denganku. Tapi aku tidak mau buru-buru menghampirinya. Meningat ceritanya soal Tama yang datang tempo hari. Jika aku memaksa dan membuatnya marah, maka seluruh penghuni kosan itu akan menghajarku. Aku akan kehilangan akses untuk pergi ke tempat ini lagi. Aku menghentikan laju motor di sebrang jalan, dengan mesin yang masih menyala. Aku dan Shera saling melihat satu sama lain begitu mobil kembali melaju. Tidak ada pergerakan, hanya sebuah tatapan yang tidak bisa ku mengerti. Tapi raut wajahnya masih saja tidak bersahabat. Bahka kali ini, lebih garang. Di dahinya seolah ada bannee besar tertulis "Jangan dekat-dekat. Aku membencimu!" Shera tidak mungkin benar-benar membenciku kan. Lama kami terdiam. Sepertinya kami sama-sama menunggu. Dia menungguku untuk bergerak, dan aku juga menunggunya untuk memberikan respon. Aku terlalu takut membuat keributan sampai akhirnya dia pergi tanpa menghampiriku lebih dulu, ataupun memberikan ekspresi yang lain. Aku kecewa, melihatnya, tapi juga tak bisa protes karena semua bermula dariku. Shera ... Sepertinya menganggap serius soal aku yang ingin memutuskan hubungan persahabatan ini. Padahal aku tidak bersungguh-sungguh. Semakin malam, suasana disini semakin ramai. Jika tidak pergi, mereka akan mengira aku adalah salah pelanggan dan pasti akan mendekat, meski sebagian adalah orang yang ku kenal karena mereka adalah kawan dari Shera. Maka kuputuskankan pulang. Toh ... Shera juga sepertinya lelah. Biarkan malam ini dia istirahat dulu. Masih ada hari esokkan? Aku tidak yakin jika dia masih keras hati dan nggak luluh kalau aku berusaha lebih keras. Aku kenal dia lebih baik dari siapapun, Shera nggak akan tegas melihatku kusut apalagi menderita. Betul kan? Hanya untuk malam ini Adrian. Mengalahlah dulu. Aneh sekali, aku tidak pernah merasa seperti sebelumnya saat menghadapi Nadia atau yang marah. Sebagai pacar yang baik, jika pasanganku sedang marah, aku memang akan membujuknya setulus hati. Tapi jika mereka bersikeras, ya kubiarkan saja. Kenapa harus repot. Berbeda dengan Shera, aku benar- benar layaknya suami yang tengah menghadapi istri merajuk. Pikiran ini mulai melantur karena sudah malam. *** Yang menyebalkan dari kelas pagi adalah ... Tentu saja karena aku harus bangun pagi. Aku bisa saja bolos. Toh Kampus ini juga menganut paham orang berduit adalah yang berkuasa. Aku bisa sedikit mengedipkan mata pada dosen atau Dewan kampus agar bisa mengatur segalanya. Tapi jika Shera tahu tentang semua ini, maka habislah aku. Dia akan mengomel, memberikan perintah bagaikan Ibu Negara. Sayangnya, dia tak lagi disini. Hari ini ku dengar dia tak ada kelas. Tapi meski begitu, aku seolah bisa mendengar dia yang marah-marah, memintaku untuk segera berangkat ke kampus. Suaranya terngiang-ngiang dan membuat pengaruh yang cukup besar. Ricky dan Tio belum datang. Kelas juga belum dimulai, suasana lumayan belum ramai, cenderung sepi sih. Agak seram juga kalau menghabiskan waktu ngobrol dengan angin di kelas. Jadi, aku lebih suka untuk diam dikantin, ditemani secangkir kopi pahit, yang untungnya tidak lebih pahit dari hidupku sekarang. Aku sedang streaming film melalui ponsel, saat mendadak layarnya berubah. Nama Bapakku tiba-tiba saja muncul. Astaga di saat seperti ini, Bapak mengajakku video call. Ada untungnya aku pagi-pagi sudah datang ke kampus. Setidaknya, absenku di mata Bapak tidak seburuk kemarin-kemarin. "Assalamuallaikum Pak," sapaku pada pria paruh baya yang wajahnya kini ada di layar ponsel. "Wallaikumsalam. Lagi dimana kamu, Yan. Gimana kabarmu sehat?" "Alhamdulillah baik. Ini kebetulan Iyan lagi di kampus. Masuk kelas pagi. Nih ... Bapak bisa lihat," ujarnya seraya menyorot beberapa tempat. "Bagus kalau begitu. Yang rajin kuliahnya. Tadi Bapak juga sempat telpon Shera." Mampuslah aku. Shera denganku sedang tidak bersahabat. Jangan-jangan dia ngadu hal yang macam-macam. "Anak Bapak ini Shera atau Iyan sih? Masa Shera duluan yang ditelpon." "Kalau Bapak telpon kamu duluan. Pasti kamu bakal minta Shera buat nutup-nutupin kelakuan kamu di Jakarta." Ya ... Bapak memang lebih pintar dariku. Aku memang seringkali menyamakan ceritaku pada Bapak dengan perintahku pada Shera. Dan gadis itu akan menurut, menceritakan hal-hal baik tentangku setelah di traktir bakso atau batagor di kantin. "Tapi ... Tadi dia bilang nggak tahu. Katanya jarang ketemu sekarang-sekarang." Shera pasti bingung mau menjawab apa pada Bapak. Padahal tadi malam jelas-jelas kami baru saja bertemu. "Iya, Shera sama Iyan ka beda jurusan, Pak. Apalagi sekarang, makin sibuk," ujarku. "Kamu jangan suka bikin masalah sama anak itu. Kasian dia!" "Shera itu sahabatku, Pak. Bapak sama Ibu juga udah anggap dia kaya anak sendiri. Mana berani aku macem-macem. Bisa-bisa namaku di Kartu Keluarga malah diganti sama dia." Shera itu juga lumayan jadi kesayangannya Bapak dan Ibu. Aku punya adik perempuan yang hanya beda beberapa tahun denganku. Tapi dia meninggal diusia yang masih sangat muda. Karena itu, kehadiran Shera seolah menjadi obat bagi mereka. Dan kebetulan, Shera juga pandai mengambil hati kedua orang tuaku. Aku dan Bapak akhirnya mengobrol ringan. Bertanya seputar keadaan di Semarang, kesehatan Ibu dan keluarga. Juga hal-hal standar lainnya. Hingga akhirnya, pertanyaan terakhir Bapak membuatku semakin bingung. "Nanti kamu pulang sama Shera ya. Bapak sama Ibu kangen. Orang tua Shera juga pasti kangen disini." Aku mengiyakan permintaan Bapak, beberapa detik kemudian panggilan kami berdua terputus. Aku tidak bisa pulang dengan keadaan seperti ini dengan Shera. Bapak dan Ibu mungkin akan mengira aku yang membuat masalah. Sepertinya hari ini aku masih harus tetap memaksanya untuk bicara berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN